Categories
Uncategorized

[Day_ONE]Apakah McLuhan seorang pemikir postmodernist?

Dalam tulisannya, Havers (2003) membangun argumen untuk menegaskan ‘pemahaman yang tidak biasa’ tentang haluan politik dari tokoh besar Teori Media dan Komunikasi, Marshall McLuhan. Meskipun McLuhan dalam tulisan2nya tidak terang-terangan menunjukkan posisi dan keberpihakan politiknya, namun Havers berhasil menyingkapkan letak sikap dan pandangan politik dari McLuhan. Tulisan Havers menyoroti pentingnya memahami makna pascamodern dalam pandangan politik McLuhan yang implisit. Berbeda dengan sebagian besar kritikus Kiri yang menganggap kritik McLuhan terhadap Kapitalisme sebagai ciri haluan-Kiri dalam politiknya, Havers justru melihat (dan menamai) politik McLuhan sebagai pasca-modern sayap kanan (right-wing postmodern).

Apa metode yang digunakan Havers untuk sampai pada kesimpulan ini?
Hermeneutika teks (“a close hermeneutical reading of McLuhan’s major writings reveals a type of conservatism“, dst)

Penjelasannya:
Sudah cukup luas diketahui (lih. Cooper, 2006; Wolfe, 2014; Feuerherd, 2017) bahwa dalam hidup pribadinya McLuhan, seorang cendekia Komunikasi beragama Katolik, cenderung pro pandangan politik yg sangat konservatif bahkan, dalam arti tertentu, Katolik versi pra-Vatican II. Tentu saja kekatolikan McLuhan ini tidak secara eksplisit ia nyatakan (integrasikan) dalam tulisan-tulisan akademisnya, tentang komunikasi dan media.

Pembacaan hermeneutis yg cermat atas karya-karya besar McLuhan menyingkapkan sebuah tipe konservatisme yang mengantisipasi munculnya sebuah era (postmodern) yang lebih tribalistik, berhaluan moralistik ketat dan canggih secara teknologi yang menggantikan era modernitas yang bercirikan liberal, modernis, dan individualis. Inilah yg disebut Havers sebagai “mitologi pasca-modernis sayap kanan.”

Jika McLuhan bukan seorang pemikir kiri, lalu apa peran dari pandangan politik sayap-kanannya dalam karya2nya?
Sudah sejak 1960-an McLuhan mengantisipasi berkembangnya masyarakat konservatif baru (sayap-kanan) yang dibangun di atas puing2 era cetak dan individualisme modern. Disebut dengan istilah konservatisme sayap-kanan karena pandangan ini bertumpu pada kekuatan paguyuban (tribalis), yang dikonstruksi secara teknologi, mengingatkan pada model Eropa lama atau rasa Amerika Serikat bagian Selatan karena pandangan ini menolak atau berupaya melampaui nilai2 individualistik-liberal lama yang, misalnya, hadir dalam bentuk era cetak.

Jika dibaca secara cermat tulisan2 McLuhan, ia mengasosiasikan mentalitas budaya cetak dengan keberjarakan dan objektivitas; hasil (budaya) cetak tidak mendorong orang untuk terlibat mendekat seperti pada ‘menonton TV.’ Budaya cetak mendorong majunya pikiran objektif yang lalu menggiring orang pada perilaku yang lebih privat dan terfragmentasi. Inilah topik yang dibahas McLuhan dalam bukunya The Gutenberg Galaxy (1962) yaitu bahwa budaya cetak (ditudingnya) menghancurkan rasa-dan-ikatan komunitas pra-modern dengan memuja keberjarakan dan ketidakterlibatan (pembaca pada dunia sekitarnya). Tidak heran bahwa McLuhan menyamakan pikiran-cetak (the print mind) dengan liberalisme.

Seperti dibela Holmes (1994: 190–7), yang dilakukan McLuhan ini tipikal strategi anti-liberalisme sayap-kanan untuk mengambinghitamkan liberalisme sebagai penyebab matinya keterlibatan psikis dan politis dari individu di dalam dan bersama komunitasnya (Havers, 2003, h. 517-518)

Kesimpulan (Havers, 2003, h. 523-524):

Menurut salah satu pendukungnya, McLuhan senang menegaskan pandangannya bahwa ‘dampak paling ultim dari media baru adalah membuat kita semua jadi konservatif’ (Nevitt dan McLuhan, 1994: 196).

Namun, letak paradoks dari pandangan politik sayap-kanannya justru karena (pandangan politik) ‘konservatif’-nya itu bukan dipahami dalam pengertian teori politik klasik. Konservatisme yang diusung McLuhan justru menjangkau jauh ke depan, bukan nostalgia, tapi antisipatif terhadap datangnya era kemajuan teknologi berbasis listrik yang pertama-tama akan menggoyang kemapanan era cetak bersendikan nilai liberal-individualis, kemudian menggantikan itu dengan komunitas yang retribalized.

McLuhan sadar bahwa tradisi lawas anti-liberal (seperti diwakili pandangan Lewis dan Selatan) harus diperbarui (reinvented) supaya tetap bertahan. Keyakinannya bersandarkan pada perubahan zaman di tahun 1960-an yaitu radikalisme perubahan teknologi sebagai proses yang menghidupkan ruang ini. Teknologi dipandang sebagai kekuatan yang paling kurang konservatif untuk mewujudkan mitologi lawas ‘sayap-kanan.’

Entah valid atau tidaknya mitologisasi ini, yang jelas visi semacam ini bukan pertama-tama untuk mengemansipasi manusia dari ‘Pencerahan sebagai Penipuan Massal’ (seperti yang dilakukan para pemikir dari Mazhab Frankfurt), tetapi seruan untuk berduyun-duyun membela panji-panji moralitas tribalistik yang ketat dan jejak individualisme.

Karena alasan-alasan di ataslah Havers menyebut McLuhan sebagai pemikir pascamodernis sayap-kanan.

Acuan Utama
Havers, G. (2003). The right-wing postmodernism of Marshall McLuhan. Media, Culture & Society, 25(4), 511–525. [0163-4437(200307)25:4;511–525;033787]

Acuan tambahan:

Cooper, T. W. (2006). The Medium Is the Mass: Marshall McLuhan’s Catholicism and catholicism. Journal of Media and Religion, 5(3), 161-173. Dipublikasi daring pada 13 November 2009 di https://doi.org/10.1207/s15328415jmr0503_3

Feuerherd, P. (2017, 15 Juni). The Mystical Side of Marshall McLuhan. JSTOR Daily. Diakses pada 25 April 2020, dari https://daily.jstor.org/the-mystical-side-of-marshall-mcluhan/

Wolfe, T. (2014). McLuhan’s New World. The Wilson Quarterly (1976-), 28(2), 18-25.

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.