Categories
Uncategorized

[Day 133] The Believing Brain: menggugat operasionalisasi prinsip di balik terbentuknya kepercayaan yg tidak ilmiah

Catatan kecil yg dapat saya petik dan renungkan setelah membaca buku The Believing Brain karya M. Shermer (2011) ini adalah:

(1) Ketika membaca buku ini untuk pertama kalinya, saya tercengang (kaget) dengan paparan data yang disampaikan Shermer pada bagian prolog bukunya, sub-section “The Demographics of Belief.” Dalam sebuah polling yang diadakan lembaga Harris pada 2009 yang lalu terhadap 2.303 orang dewasa Amerika (Yes, Amerika lho ini, salah satu negara maju dan terkemuka dalam kemajuan Sains-nya, bukan negara Sudan atau Afghanistan, atau negara-negara kecil dan developing lainnya), ditunjukkan bahwa lebih dari 50% partisipan polling percaya adanya “God, Miracles, Heaven, Jesus is God or the Son of God, Angels, Survival of the Soul after Death, The Resurrection of Jesus Christ, Hell, The virgin birth (of Jesus) dan Devil.” Lihat screenshot dari buku tsb di bawah ini untuk data lengkap hasil pollingnya.

Mengutip keheranan dari Shermer, “lebih banyak orang yang percaya akan keberadaan Malaikat dan Si Jahat daripada Teori Evolusi yang digagas Darwin.” Tentu saja keheranan Shermer ini tidak hanya didasarkan pada satu dua polling saja, tapi ada beberapa (mungkin ada belasan) polling sejenis yang dilakukan lintas negara (maju, seperti Inggris, dicontohkan dalam bukunya).

Adapun kesimpulan yang ditariknya dari sejumlah polling yang mengukur “kadar kepercayaan orang tentang entitas supernatural” ini adalah bahwa mayoritas orang percaya (berpegang pada) adanya fenomena paranormal atau supernatural, satu dan lain hal. Shermer tidak mau secara gampangan menyalahkan media (massa) [dalam konteks setelah 2010, kemungkinan besar Shermer juga akan menyebut “media sosial”] yang ikut membantu menyebarluaskan gugus kepercayaan terhadap fenomena paranormal atau supernatural ini sekaligus (pada sisi lain) lemah dalam mengkomunikasikan temuan-temuan sains.

Menurutnya, 70% orang Amerika yang percaya pada hal-hal paranormal/supernatural tsb kemungkinan tidak sungguh memahami cara bekerja sains (yang bertumpu pada metode eksperimental, prinsip2 pembuktian ilmiah, teori kementakan, dan uji hipotesis termasuk adanya prinsip falsifikasi dan bukan melulu verifikasi) dan (mereka) lebih terpaku pada apa-apa saja temuan (memukau) sains, sehingga mereka tidak sanggup untuk mengevaluasi benar tidaknya klaim-klaim sains semu (pseudoscientific) yang menjamur di sekeliling taman kehidupan mereka. Berikut coret-coretan saya dari pemikiran Shermer ttg proses terbentuknya prinsip kepercayaan yg dinamainya “belief dependent realism” tsb, dengan bertumpu pada dua proses yaitu patternicity dan agenticity.

(2) Ketika saya tarik ke aspek Metodologinya, saya menemukan dua hal refreshing yg ditawarkan Shermer agar saya dapat memahami dengan lebih akurat aspek “metode ilmiah” untuk disertasi yang sedang saya susun.

Pertama, belief-dependent realism is more real than cognition-dependent realism, for most people out there. Karena itu, tidak mengherankan jika yang namanya hoax, kabar bohong, misinformation, disinformation begitu mudah tersebar di ruang-ruang digital yang kita akses, gulati dan hidupi selama ini, entah itu bernama ruang media sosial (FB, Twitter, misalnya), ruang percakapan yang termediasi aplikasi (WhatsApp, misalnya), maupun ruang digital bertujuan pencarian informasi atau hiburan lainnya (digital broadcasting Over The Top seperti Netflix, podcast, dll.). Dalam ruang-ruang digital yang dihayati tersebut, sulit sekali untuk mengacu pada apalagi menegakkan prinsip-prinsip berpikir kritis dan ilmiah seperti yang dianjurkan Shermer di sini (dan yang sudah saya ajarkan kepada para mahasiswa saya sejak 2007 yang lalu dalam perkuliahan bertajuk Dasar-dasar Logika/Critical & Creative Thinking).

Kedua, Science and the burden of proof. Sekali lagi, pokok epilog dari Shermer ini menunjukkan bahwa, berbeda dengan cara orang “awam” mendukung keyakinannya, Sains justru tidak boleh dengan gegabah mengatakan bahwa hal yang belum dapat dijelaskannya (karena kurangnya data penunjang misalnya, atau belum tersedianya peralatan yang canggih untuk memverifikasi temuan-temuan sementara yang masih diperdebatkan para ahli) berarti keliru dan hal yang dapat dijelaskan (dengan gejala-gejala alamiah saja) berarti benar. Sila disimak screenshot berikut ini untuk penjelasan the burden of proof yang seringkali ditembakkan kepada para ilmuwan (padahal ini seharusnya dilakukan oleh mereka yang melemparkan klaim/mendaku).

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.