Categories
Uncategorized

[DAY135] Mengkomunikasikan Sains: Pegimane caranye?

Buku yg dirujuk:

[1] Daftar Isi

[2] Profil singkat penulis buku
Craig Cormick adalah seorang komunikator dan penulis buku-buku tentang Sains asal Australia. Sudah sekitar 30 buku fiksi dan non-fiksi dihasilkannya, dan belasan artikel di jurnal bereputasi. Terlibat aktif di the Canberra writing community, mengajar dan menyunting buku, beliau juga mengepalai Pusat Penulisan bernama the ACT Writers Centre sejak 2003 sampai 2008 dan pada 2006 diundang sebagai pengajar tamu di the University of Science (Penang, Malaysia).

[3] Bagaimana bunyi kutipan pendahuluan yang dianggap penting oleh sang penulis?
“…keseluruhan industri akademis mulai berkembang dan semestinya hasil dari kemajuan ini menginformasikan kepada para ilmuwan apa yang harus dikomunikasikan, bagaimana mengkomunikasikan dan atas alasan/landasan apa mengkomunikasikan (sains). Riset tentang isu ini sudah tersedia banyak, namun sayangnya hasil-hasilnya seringkali dipublikasikan di tempat yang tidak dikunjungi para ilmuwan serta menggunakan bahasa yang tidak dipahami para ilmuwan. Akibatnya, ada keterpisahan antara mereka yang mau terus mengkomunikasikan hasil2 temuan sains dan mereka yang mau memberitahukan kepada para ilmuwan bagaimana cara mengatakan hasil temuan2 sains tersebut untuk khalayak yang lebih luas.” (Professor Brigitte Nerlich dari Nottingham University, Inggris dalam tulisan di blognya yang berjudul ‘Science communication: What was it, what is it, and what should it be?’)

[4] Apa tesis yang mau dipertahankan dalam buku ini?
Masalah komunikasi sains sebenarnya bukan hanya terletak pada kontroversi isu yang diteliti dan potensi dampaknya bagi kehidupan orang banyak (misalnya, berapa lama bumi ini dapat bertahan sebelum berakhir atau yang biasa disebut ‘akhir zaman’), juga bukan soal kredibilitas sumber (pakar) yang dirujuk (yang tidak jarang saling mengkontradiksi pandangan satu sama lain ttg pokok isu yang sama), atau sederhana/tidaknya bahasa yang dipakai dalam komunikasi temuan sains tersebut agar mudah dipahami awam, namun lebih ke soal bagaimana para ilmuwan saintis dan ilmuwan praktisi dapat sama-sama berikhtiar mencari titik temu yang dapat menjembatani ketidaktahuan (‘prasangka’) dari masing-masing pihak tentang maksud kubu yang satunya sehingga dari perjumpaan (titik temu) tersebut, problem2 dan temuan2 sains dapat dikomunikasikan pada dan lalu dipahami oleh baik para pengambil kebijakan maupun khalayak luas (awam terdidik).

[5] Masalah-masalah apa yang diidentifikasi penulis dan bagaimana solusi atas masalah2 tersebut?
>> dapat dilihat di Daftar Isi
Bisa juga dilihat di screenshot berikut ini:

[6] Apa manfaat bagi mereka yang membaca buku ini?
Manfaat praktisnya ada dua, yaitu:
(6.1.) Penulis berhasil merumuskan secara sederhana tiga langkah untuk menjadi seorang komunikator sains yang efektif, yaitu:
• kenali audiensmu
• sampaikan pesan kunci dalam cerita (kisah) yang memikat
• miliki tujuan yang jelas

(6.2) Meskipun buku ini memuat cukup banyak informasi yang bermanfaat bagi pembaca (lihat daftar isi!) untuk digali lebih jauh, dan dapat dijadikan rujukan P3K bagi yang malas membaca traktat2 sains yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan halaman, tujuan penulisan buku ini sederhana dan jelas: Penulis mau menunjukkan kepada pembaca bahwa ada begitu banyak (luas) riset yang bagus yang dilakukan di luar sana yang (dalam buku ini) dikemas dalam format yang lebih sederhana untuk dipahami.

Manfaat teoritisnya juga ada dua, yaitu:
(6.3) Komunikasi Sains itu ilmu yang kompleks dan teknik untuk mengkomunikasikan data dan temuan-temuannya perlu terus-menerus diasah sehingga tajam dan “titis”. Semakin baik pemahaman si komunikator sains tentang jenis riset apa yang sedang dikerjakan, semakin baik juga si komunikator akan menyadari cakupan data dan instrumen yang digunakan untuk mengkomunikasikannya dengan lebih baik.

(6.4) Tanpa disadari, dimaui dan dilanggengkan, selalu terbentang rongak antara “those who live in
the world of science communication practice and those who live in the world of science communication theory.” Meskipun sudah ada upaya2 konkret dan sistematis untuk menjembatani rongak ini, misalnya dengan penerbitan seri jurnal ilmiah populer, atau buku2 Sains dengan ilustrasi, juga seminar2 yg mengundang baik praktisi maupun teoritisi untuk mendialogkan temuan-temuan mereka, tidak terlalu banyak juga yang akhirnya berbahasa dengan fasih di kedua ranah ini, atau bergerak bolak-balik dari ranah yang satu ke ranah satunya lagi. Orang cenderung berada dan menetap di salah satu kubu saja (dan merasa diterima dengan lebih baik di situ, ‘krasan,’ dan terdorong utk berkontribusi lebih). Arus informasi antara periset dan praktisi memang diharapkan selalu lancar alirannya, tapi lebih sering kita saksikan tidak demikian. Teori mendarat di jurnal2 sains yang memang teoritis sifatnya sehingga tidak mudah diakses mereka yang berbicara dalam kosa-kata science practice; begitu juga, para praktisi sains tidak mengumpulkan data yang oleh para periset dianggap berguna untuk digunakan dalam desain penelitian mereka.

Sedikit kutipan dengan nada anekdotal yang menarik terkait rongak ini, “Now don’t get me wrong, academic papers have their place in the world – but they are not the whole world. I have published research papers in several journals, including those that belong to Nature and Cell, two of the most esteemed journals, with very high impact factors. But to tell you the truth, the sky didn’t become bluer, and the kids didn’t stop looking at their phones when I talk to them, and my wife didn’t put me up on a pedestal – and in fact I didn’t even notice people paying much attention to the research before I published it in places like The Conversation.”

Terus, pelajarannya apa? Ya gak usah nunggu orang seperti Cormick ini utk datang dan mengalihbahasakan riset Anda menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami para praktisi Sains dan khalayak awam terdidik. Andalah yang harus berusaha menuliskan artikel-artikel ilmiah dalam format yang lebih sederhana dan bahasa yang lebih mudah dipahami, “write plain speak articles and blogs and tweets and any things else that science communication practitioners – and just anybody who cares about better communicating science – can read and understand.”

Berikut dicontohkan sejumlah bentuk/format untuk mengkomunikasikan Sains yang belum terlalu digarap Cormick dalam bukunya ini:
• visualisasi data dan (info-)grafis
• fotografi
• vidio dan animasi
• teknologi digital yang sedang berkembang (Podcast, misalnya)
• data mining
• teater dan performa panggung (fisikal maupun digital)
• seni instalasi (event staging)
• pembelajaran berbasis permainan
• jenis-jenis pendidikan informal dan non-formal (studio alam, misalnya)
• musium dan pusat2 pemajuan sains, seni dan budaya

Dalam arti yang terakhir ini, “terus pelajarannya apa?”, pokok-pokok yang disampaikan Cormick (2019) belum terlalu jauh berbeda dengan empat asumsi tentang komunikasi sains yang pernah disampaikan Silverstone (1991) dalam tulisannya berjudul “Communicating Science to the Public” yang dimuat di jurnal Science, Technology and Human Values (STHV) (V. 16, No. 1, h. 106-110) yang bertolak dari program riset tentang pemahaman publik akan sains, di Inggris, yang ternyata berbagi empat asumsi dasar berikut ini:

Pertama, tidak ada itu yang namanya THE communication of science. Baik sains maupun lingkungan media yang meliput dan memberitakannya bukanlah fenomena tunggal dan seragam. Para ilmuwan berbeda pendapat; beragam media menjelaskan dengan berbagai penjelasan; para penerima pesan (audiens) menafsirkan keragaman liputan tersebut secara berbeda-beda dan berujung pada ragam pemahaman yang “distinct, even disjointed.”

Kedua, tidak ada juga yang namanya the public. Ada banyak panggung/khalayak untuk sains, spesialis dan awam, yang berkepentingan dan tidak berkepentingan, yang berkuasa dan kurang berkuasa; muda dan tua; laki dan perempuan. Meskipun ada juga hal-hal bersama yang dibagikan segmen2 publik ini, mereka juga sama-sama dapat memahami atau salah paham, meningat atau lupa, dengan cara yg berbeda2.

Ketiga, dalam lingkungan komunikasi modern, sains tidak dapat mendaku status istimewa atau diistimewakan. Sains ya harus berebut perhatian dari macam-macam pihak, seperti produser acara, maupun penerima pesan (komunikasi) atau audiens, dengan keragaman dan (kontrol berupa remote control di tangan mereka). Juga dengan para pengiklan komersial. Klaim-klaim yang dibuat sains tidak selalu harus (kalau bukan karena kasus yg heboh banget atau kontroversial) muncul ke permukaan media dan menarik perhatian audiens, baik itu kalangan profesional maupun khalayak umum, karena masih ada pihak-pihak lain juga yang berkepentingan untuk memaknai peristiwa yang terjadi (kaum agamawan, misalnya).

4. Tesis kehadiran media yang ada di mana2 (the omnipresence of the media) tidak sejajar atau sebangun dengan tesis kekuasaan mereka yang ada di mana2 (omnipotence). Memang diakui bahwa media massa (harap diingat bahwa pada tahun 1991 belum ada media sosial atau SNS; penetrasi internet dalam kehidupan publik pun masih sangat terbatas) memiliki peranan yang besar untuk membawa hasil2 temuan sains ke khalayak luas. Tapi kan masih ada agensi berupa lembaga2 lain yang juga memperkenalkan pengetahuan sains pada audiens mereka, sekolah misalnya, dengan para guru dan pengajar, memperkenalkan wajah sains yg formal; atau TV dan musium, yang memperkenalkan pengetahuan (sains) informal. Mereka ini saling berkompetisi dan berebut pengaruh dalam memaknai versi sains yang mereka wartakan dan belum lagi ada sejumlah faktor lain yang juga melakukan fungsi menafsirkan, mengubah, atau menentang komunikasi saintifik, misalnya adat istiadat setempat (local wisdom, local knowledges), pemahaman praktis yg sifatnya turun-temurun maupun yg berbasis komunitas, atau wacana akal sehat.

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.