Categories
Uncategorized

[DAY140] The Medium is The Meta-Message: Sebuah Analisis Wacana Kritis telaah pesan kenaikan angka kasus Covid-19

Seminggu dua minggu terakhir ini (Agustus akhir sampai 11 Sept 2020 sekarang) kita dipenuhi kecemasan, was-was, karena angka kasus Covid-19 naik lagi—terutama di DKI Jakarta dan daerah di sekitarnya—, moda penularan yg sudah dominan mengarah ke klaster keluarga dan antar-warga, juga gejala ketika banyak orang yang nekat dan sabodo teuing pake masker atau tidak ketika keluar rumah berkelana ke ruang-ruang publik.

Rencana penerapan PSBB ketat pada Senin 14 September 2020 minggu depan di DKI Jakarta sudah mulai meresahkan banyak pihak, terutama mereka yang selama beberapa bulan terakhir hidupnya (penghasilan dan penafkahan) empot-empotan.

Membaca pesan tersirat “angka kasus Covid-19 nasional” naik lagi [ada datanya, silakan cek di https://covid19.go.id/ atau di https://kawalcovid19.id/] perlu dipahami maknanya bukan hanya pada “pesan” (message) yang tersurat, yang dikatakan, dituliskan, atau ditayangkan (media), namun juga pada pesan yang tersirat, meta-messages.

Menurut Tannen (2013), ada sejumlah besar pengaruh budaya yang melatari/mengkontekskan pesan secara tersirat, namun ada lima faktor primer yang lebih berpengaruh, yaitu etnisitas, latar-belakang geografis, umur, klas, dan gender.

Selain kelima faktor primer budaya tersebut pun, dalam analisis terhadap ‘gaya percakapan,’ kita masih harus memperhatikan sejumlah fenomena linguistik yang terkait dengan tuturan pesan, misalnya “pitch, amplitude, length of pauses, rate of speech, intonational contours, relative directness versus indirectness, discourse structure, and humor,” juga orientasi seksual dan profesi.

Jika kombinasi dari kedua kategori besar (faktor budaya dan faktor fenomena linguistik) ini digabungkan, akan terlihat bahwa pesan tidak bermakna tunggal, melainkan sarat nuansa dan terbuka untuk ditafsirkan (pendengar/audiens) tergantung aspek mana yang lebih ditonjolkan (salient) dan aspek mana yang lebih dikesampingkan.

Contoh, jika pihak yang menyampaikan “angka kasus Covid-19 naik lagi” ini seorang pejabat publik seperti Gubernur atau Bupati, tentu akan berbeda gaya, nuansa, konteks maupun dampak dari penyampaian pesannya daripada jika yang menyampaikannya seorang dokter dari sebuah Rumah Sakit Pemerintah.

Sayangnya, pemahaman tentang kekayaan nuansa yang tersirat yang mengkontekskan suatu pesan ini acapkali diabaikan dan audiens hanya terpaku pada atau makna (tunggal dari) pesan yang tersurat atau salah satu/dua aspek saja dari faktor budaya dan/atau fenomena linguistik yang tersirat.

Ketakutan dan kecemasan audiens yang berlebih (dalam suatu setting kedaruratan) memang dapat mereduksi kekayaan penafsirannya atau penafsiran mereka terhadap pesan yang disampaikan sehingga alih-alih membawa kelegaan dan menawarkan solusi, justru nambah-nambahi beban pikiran tak terperi (“bikin kusut hati”).

Rujukan: Tannen, D. (2013). The Medium Is the Metamessage: Conversational Style in New Media Interaction. In Deborah Tannen and Anna Marie Trester, Editors. DISCOURSE 2.0: Language and New Media(pp. 99-117). Washington, DC: Georgetown University Press.

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.