Categories
Uncategorized

[Seri 01 dari 15] Ada dan Sekitarnya: Jejak Pembacaan atas karya filsuf Gianni Vattimo bertajuk “Being and Its Surroundings” (2021)

60 jejak pembacaan & penafsiran + 60 kutipan dari karya terbaru filsuf Italia, Gianni Vattimo,
berjudul: “Being and Its Surroundings”
(secara paralel, tulisan ini juga dimuat di situs web Ikatan Alumni STFT Driyarkara,
dengan alamat pemuatan artikel di: https://ikadriyarkara.org/2022/01/06/being-its-surroundings-60-jejak-pembacaan-dan-penafsiran-karya-gianni-vattimo/

Tim Penyunting: Giuseppe Iannantuono, Alberto Martinengo, dan Santiago Zabala,
Diterjemahkan dari bahasa Italia ke dalam bahasa Inggris oleh Corrado Federici,
dari teks aslinya yang berjudul Essere e dintorni © 2018
Penerbit dalam bahasa Italia: La nave di Teseo Editore, Milano
Penerbit dalam bahasa Inggris: McGill-Queen’s University Press , © 2021

Pembacaan ditandai dengan angka Arab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dst.
Quotes ditandai dengan angka numerik Romawi i, ii, iii iv v vi vii viii. ix. x. xi. xii. xiii. xiv. xv, dst.

Being and Its Surroundings: A Theological-Philosophical Breviary, Rather than a Treatise (h. 1-4)

1) Dalam kumpulan esei ini, Vattimo mengembangkan sebuah Filsafat Peristiwa “A philosophy of occasions” yang bercirikan tiga hal berikut:
(*) FORMA: filsafat yang (ber-)terwujud dalam tulisan berbentuk kumpulan esei yang lebih cenderung menyerupai percakapan alih-alih argumentasi yang koheren dengan dipandu logika yang ketat.
(*) MATERIA: bahan mentah yang terbuka untuk diolah dan dinikmati, tanpa berpretensi lengkap dan paripurna (“sampai”)
(*) TELOS: tulisan yang bertujuan untuk membuat hidup pembacanya jadi terasa (sedikit) lebih baik tanpa gembar-gembor untuk menjadi “(traktat) filsafat yang mengubah dunia”; model kumpulan esei ini lebih mirip dengan pengalaman “estetik” (experiencing the truth of art, menurut Gadamer), si pembaca sekaligus penikmat mengalami sesuatu: suatu perubahan wawasan, suatu awal untuk memulai. Intinya, pembaca “mulai” mengalami relasi dengan Ada: tahu-tahu kita berjumpa dengan pembukaan tanpa ada kejelasan mana bagian tengahnya, apalagi ujungnya.

2) Sebuah tanggapan terhadap krisis yang bercorak Heideggerian sekaligus melampaui tafsir ontologis radikal ala Heidegger (“Heideggerianism”) yang dipicu oleh terbitnya “Black Notebooks” karya Heidegger (anumerta) dan Kongres yang membahas pemikiran Heidegger dalam “Black Notebooks” tersebut bertajuk “I ‘quaderni neri’ di Heidegger 1931–1948” yang berlangsung di kota Roma pada 23–25 November 2015.

(i) “Kita tidak ‘sampai’ ke manapun, kita sudah selalu mengembara di sekitar dan selalu tinggal dalam cakrawala yang terbatas. Bagaimanapun juga, inilah ciri relasi kita dengan Sang Ada; kita menemukan diri kita di sebuah hamparan keterbukaan, yang sama sekali tidak terstruktur secara sistematis dengan ditandai Pendahuluan, Tengah, dan Akhir” (Vattimo, 2021).

Bab 1: What Need, What Metaphysics? (h. 5-10)

3) Dalam dunia yang semakin ditandai kecenderungan untuk menguasai kehidupan para warganegara dengan beragam mekanisme kontrol—seperti tampak dalam politik HAM, politik rasa aman global, dll.—kita perlu mempertanyakan perlunya pendasaran metafisis (dalam pengertian tradisional) untuk aneka kebijakan publik yang ada. Contoh: isu global soal penerapan versi demokrasi (Barat) untuk menumbangkan diktator (seperti Khadafi dan Assad) atau untuk mengintervensi politik sebuah negara demi penegakan HAM dan koreksi terhadap pemerintahan anti-demokrasi tidak jarang dipakai sebagai topeng pembenaran untuk kepentingan ideologis (sempit) sejumlah pihak. Klaim kebenaran metafisis seharusnya lebih ditekankan pada pengertian dasariah (Yunani kuno)-nya yaitu meta (μετὰ): artinya (rasa) kebutuhan akan sesuatu yang melampaui hal-hal fisikawi, dengan kata lain, yang melampaui kepastian saintifik.

Padahal, kita ingat jelas bahwa sejarah peradaban Barat ditandai oleh pertarungan dua klaim metafisis yaitu metafisika transenden Gerejani (berupa kuasa absolut Ajaran dan Tradisi Kepausan Roma) dan metafisika Sekuler pencerahan (yang kemudian diteruskan oleh Sains Modern). Mentas dan mapannya Sains Modern tidak dapat dilepaskan dari perebutan kekuasaan pada tataran metafisis dari tangan para pejabat Gereja (Katolik Roma) ke tangan para saintis. Lima ratus tahun terakhir ini (di Dunia Barat) semakin terlihat tren bahwa pelbagai klaim metafisis, baik yang disampaikan para petugas dari agama terlembaga yang mendaku menyuarakan Kehendak Tuhan maupun para pemikir ilmiah yang dengan bangga menepuk dada dan menyatakan diri sebagai ‘bebas nilai,’ ternyata hanyalah selubung ideologis yang menyembunyikan pertarungan kekuasaan yang acapkali tidak seimbang baik amunisinya maupun lapangan bermainnya.

4) Metafisika sekarang lebih tepat dipahami dalam kelindan dualitas arti: “entah sebagai kebenaran yang melampaui dunia yang tampak dan pengetahuan umum, yang pentung pengukurnya dipegang barisan otoritas lawas, the auctoritates, atau kebenaran yang diproyeksikan yang tidak berlandaskan pada fakta dan data namun melulu pada kekuasaan yang didaku oleh dan berpihak pada proyek kaum marjinal.” Dalam rentang pilihan antara Metafisika auctoritates dan Metafisika Kaum Terpinggir, saya, Vattimo, di dalam kumpulan esei ini, lebih mengakui, memilih, dan mengundang Sidang Pembaca untuk mendukungnya sebagai ‘Metafisika yang Baik,’ bukan hanya karena alasan cinta atau belaskasihan pada Kaum Proletar (term metafisis dari Marx) yang karena sudah ditelanjangi habis-habisan kepemilikannya, maka mereka tidak punya selubung ideologis, sehingga justru dapat melihat kebenaran sesungguhnya. Di jantung preferensi pilihan pada Metafisis Kaum Marjinal ini meletak kedekatan emosional dan ontologis Vattimo pada karya Heidegger, Sein und Zeit, yang jelas-jelas menantang ide bahwa Ada adalah struktur yang terberi dan stabil yang tentangnya pikiran kita seyogianya dapat mencerminkan dan yang kepadanya kita perlu perlakukan secara hormat sebagai norma.

Dalam pandangan Heidegger muda, Metafisika objektivis yang digagas semacam inilah yang
(a) pada gilirannya mengeksklusi kebebasan, historisitas, dan struktur terbuka eksistensi, dan
b) menghasilkan objektivikasi universal tentang manusia sekaligus membuka jalan bagi terbentuknya masyarakat yang total Verwaltung alias masyarakat yang terdominasi paradigma rasionalistik totaliter—sebagaimana didaulat demikian oleh para pemikir dari Mazhab Frankfurt.

(ii) “Dalam dunia yang di dalamnya kendali atas hidup para warganegara dan politik rasa aman jadi semakin opresif, kebenaran yang diklaim metafisika tradisional bukanlah pokok yang kita perlukan lagi. Justru yang lebih kita butuhkan adalah sikap kritis yang menyingkap borok-borok absolut dari masa lalu dan semua implikasi sosial tragisnya…Sains dapat dilihat sebagai inkarnasi dari kekuasaan sekuler yang dulunya menantang kekuasaan tradisional Gereja dan auctoritates, kekuasaan yang mendasarkan dirinya pada ide transenden…sains modern lahir dan tumbuh berdampingan dengan mentasnya kekuatan ekonomi dan politik: para ilmuwan sekarang membutuhkan mesin yang terlampau rumit dan laboratorium yang teramat mahal yang memaksa mereka (jadi) tergantung pada pendanaan privat maupun publik, yang entah bagaimana caranya harus bisa mereka justifikasi” (Vattimo, 2021)

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.