Categories
Uncategorized

Religio Duplex: Melacak sejarah dualitas moda beragama kini dan dulu [alamiah dan pewahyuan]

[Deskripsi singkat ini merupakan olahan Hendar Putranto dari buku Religio Duplex: Comment les Lumières ont réinventé la religion des Égyptiens—diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Perancis oleh Jean-Marc Tétaz—yang ditulis seorang ahli sejarah Mesir Purba dan antropolog agama dari Jerman, Jan Assmann (kelahiran 1938). Jan Assmann pernah dipercaya memegang kursi Profesor Egyptology di Universitas Heidelberg, Jerman sejak 1976-2003 dan sejak 2003 sampai sekarang beliau didapuk menjadi Profesor kehormatan untuk bidang Kajian Budaya di The University of Konstanz, Jerman.]

Berikut book cover dari Religio Duplex:

Sudah cukup lama kultus agama asli (natural religion) masyarakat Mesir purba memesona para pemikir Pencerahan (les Lumières).

Dengan mengolah sumber rujukan tertulis peninggalan peradaban Yunani akhir, sejumlah pakar sejarawan dan antropologi agama mendeteksi adanya jejak “agama ganda” pada masyarakat Mesir purba: di satu sisi suburnya agama politesitik yang memuja banyak dewa, di sisi lain hidupnya agama monoteistik yang dianut sejumlah elit.

Pada abad ke-18, masyarakat rahasia, khususnya Freemasons—yang gaya hidup pengkultusan akalbudinya terjepit di tengah-tengah iklim politik monarki absolut dan kekristenan ortodoks—menimba inspirasi dari kultus agama asli Mesir purba ini untuk diterapkan dalam organisasi mereka sendiri.

Dengan memusatkan analisisnya pada konsep agama yang berada pada dua moda dan tatanan, RELIGIO DUPLEX, Prof. Assmann menunjukkan kepiawaiannya menghubungkan jejak2 sejarah yang terus bertahan sampai sekarang.

Prof. Assman juga berhasil merajut kemungkinan untuk mengartikulasikan agama dalam dua modanya: tradisi2 religius yang partikular dengan seruan agama yang universal.

Dalam Religio Duplex, Prof. Assman scr terampil dan mendalam merefleksikan akar budaya modern Barat yang dalam banyak cara dan scr tdk langsung merujuk jauh sampai ke peradaban Mesir purba.

Pada salah satu adegan kunci dalam sejarah “Pencerahan Barat,” tercatat bahwa Blaise Pascal, ahli Matematika sekaligus rohaniwan Katolik terkemuka, akhirnya menyerah kalah dalam “pertaruhan” (Le Pari): ia akhirnya memilih untuk menyerahkan dirinya ke dalam pelukan Bapa (konsep Trinitas dalam agama Katolik Roma) alih-alih meneruskan telaah rasionalnya dan (dapat berdampak pada) mengiyakan Tuhan para filsuf dan cendekia Abad Pencerahan.

Adegan kedua terjadi 126 tahun kemudian pada Juli 1870 di Wolfenbüttel, bertempat di rumah Gotthold Ephraim Lessing, seorang penganut Freemason.

Suatu hari Lessing dikunjungi Friedrich Heinrich Jacobi, pedagang muda dan penulis berhaluan Freemason.

Lessing menyodorkan puisi Goethe, “Prometheus” *) kepada Jacobi untuk dibaca.

Penasaran dengan isinya, Jacobi mencoba berdialog dengan Lessing tentang topik “ketuhanan” di Abad Pencerahan.

Lessing mengakui bahwa “Konsep ketuhanan ortodoks tidak lagi dapat kupegang dan kupercayai. Hen kai Pan (Ἓν καὶ Πᾶν)! [Satu dan Semua] Setelah kubaca puisi Goethe ini aku menyukainya dan isinya menyiratkan apa yang sekarang kupercaya.”

Jacobi menukas, “Kalau begitu dirimu setuju dengan (pandangan tentang ketuhanan yang diajukan) Spinoza, dong?”

Lessing berkata, “Jika ada satu orang yang pandangannya kusetujui tentang ketuhanan, Spinozalah orangnya.”

Dari penggalan percakapan ini, tampak bahwa Lessing menolak ide “Tuhan sebagai Bapa” sejauh kita dapat mengidentifikasi dan menafsirkan ucapan “konsep ketuhanan ortodoks”-nya sebagai sama dan sebangun dengan ide Tuhan (kekristenan) dan, karenanya, dirinya mendaku sebagai pengikut pandangan Tuhan para Filsuf.

Konflik batin dan tegangan disposisional sensus religiosus yang dialami para tokoh Pencerahan di atas, yang diruap dengan pandangan dikotomis “ini-atau-itu” tentang Ketuhanan, antara agama alamiah dan agama pewahyuan, meninggalkan bekas yang mendalam sepanjang bergulirnya sejarah pemahaman agama versi Barat Pencerahan.

*) Salah satu bait dari puisi Prometheus karya Goethe tersebut berbunyi sbb.:
Ich dich ehren? Wofür? [Aku menghormati-Mu dan mengapa?]
Hast du die Schmerzen gelindert [Pernahkah Engkau meringankan kesedihan]
Je des Beladenen? [mereka yang berbeban berat?]
Hast du die Tränen gestillet [Pernahkah Engkau menyeka]
Je des Geängsteten? [tangis mereka yang berduka?]
Hat nicht mich zum Manne geschmiedet [Tidakkah aku dilahirkan dan dibentuk menjadi manusia]
Die allmächtige Zeit [dalam tempaan Waktu abadi]
Und das ewige Schicksal, [dan oleh Nasib yang juga abadi]
Meine Herrn und deine? [menjadi Tu(h)an atas diriku dan Engkau?]

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.