Memaknai Natal Bersama Keluarga Kudus dan Para Gembala
Saudara-saudari terkasih,
Stille Nacht, heilige Nacht,
Alles schläft; einsam wacht.
Malam kudus, sunyi senyap,
Semua terlelap; satu berjaga.
Malam Natal selalu menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan sederhana tetapi menentukan: apakah Natal yang kita rayakan sungguh menjadi tuntunan, atau berhenti hanya sebagai tontonan? Kita hidup di zaman ketika dekorasi Natal begitu memukau dan wow. Lihatlah dekorasi Natal yang menghiasi Mall Pacific Place, Jakarta Pusat https://www.instagram.com/p/DSB87eJE5BO/, Mall Central Park, Jakarta Barat (lih. https://megapolitan.kompas.com/read/2025/12/17/11500751/di-bawah-gemerlap-pohon-natal-33-meter-tribeca-park-central-park-jadi), juga Christmas Carol Colossal di Bundaran Hotel Indonesia (lih. https://www.instagram.com/reel/DSJLoG5l8vn/).
Apa yang kita saksikan di Jakarta dan di banyak kota besar lainnya, bisa di Indonesia, bisa juga di Eropa, mengindikasikan kecenderungan yang sama: Perayaan Natal dengan mudah berubah dari peristiwa batin (interiority) menjadi pengalaman visual (visualization), dari tuntunan iman yang mempribadi menjadi tontonan khalayak yang menghibur.
Menanggapi fenomena semacam ini, Pastor Freday Badianto Sihombing, OSC selaku Pastor Kepala Paroki St. Helena, Curug, Tangerang, mengingatkan umat yang berkumpul merayakan Misa Vigili Natal pada Rabu, 24 Desember 2025. Dalam homilinya, Pastor Freday menggarisbawahi keyakinan teologis bahwasanya iman Kristiani tidak berhenti pada apa yang dilihat mata jasmaniah (esse est percipi dalam logika visualisme modern), melainkan pada mata hati yang berubah; hati yang mengalami sentuhan ilahi sehingga menjadi lebih hidup dan peduli. Untuk menguatkan landasan teologis dari pesan ini, Pastor Freday mengutip surat apostolik yang ditulis Paus Fransiskus pada 2019 yang lalu, Admirabile Signum. (Lih. https://www.vatican.va/content/francesco/en/apost_letters/documents/papa-francesco-lettera-ap_20191201_admirabile-signum.html)
Warisan Greccio: Palungan sebagai Injil Hidup
Kesadaran akan pentingnya “palungan” (bahasa Italinya presepe, dari bahasa Latin praesepium, dan bahasa Inggrisnya, manger) sebagai simbol perjumpaan akrab antara Yang Ilahi dengan yang insani telah dimulai sejak tahun 1223, ketika Santo Fransiskus Asisi menginisiasi kandang Natal pertama di Greccio, sebuah dusun kecil di wilayah Lazio, Italia. Dalam Admirabile Signum, Paus Fransiskus menegaskan bahwa: “Penggambaran kelahiran Yesus sendiri adalah pewartaan sederhana dan sukacita akan misteri Inkarnasi Putra Allah. Gambaran kelahiran itu seperti sebuah Injil hidup yang muncul dari halaman-halaman Kitab Suci.”
Santo Fransiskus Asisi bahkan berpesan agar lewat palungan, kita dapat see as much as possible with my own bodily eyes the discomfort of his infant needs, how he lay in a manger, and how, with an ox and an ass standing by, he was laid upon a bed of hay (melihat dengan mata jasmani ketidaknyamanan yang dialami Bayi Yesus yang dibaringkan dengan alas jerami). Tujuannya agar kita dapat “merasakan langsung” dan “bersentuhan” dengan kemiskinan yang dialami Allah yang menjadi manusia. Bukan kemiskinan yang nista, tapi ketiadaan dekorasi dan hingar-bingar yang lazimnya mengiringi kelahiran seorang bayi manusia.
Maria dan Yusuf: Ruang Batin dan Ketaatan Sunyi
Natal pertama-tama terjadi sebagai peristiwa batin dalam Keluarga Kudus, sebuah contemplatio in silenzio. Bunda Maria adalah “palungan pertama” yang menanggapi pesan Allah dengan ketaatan penuh atau fiat. Lewat kidung Magnificat, Bunda Maria secara syahdu (solemn) hendak menunjukkan bahwa Natal adalah tanda kuasa Allah yang sedang membalikkan logika dunia: merendahkan yang berkuasa dan meninggikan yang hina dina. Di sampingnya, berdiri Santo Yusuf, penjaga yang tanpa lelah melindungi keluarganya. Yusuf memerankan ketaatan sunyi; ia tidak banyak bicara, namun selalu percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi dan melaksanakan kehendak Allah. Keagungan ilahi justru menyingkapkan diri dalam “keheningan batin” Santo Yusuf: kedewasaan iman yang tidak reaktif tapi reseptif.
Fenomenologi Pengalaman Para Gembala: Dari Ketakutan Menuju Keberanian Bersaksi
Di luar keheningan gua, kita mendengarkan suara para gembala. Secara fenomenologis, mereka mengalami Natal pertama-tama sebagai ketakutan eksistensial di tengah kegelapan malam. Namun, mereka tidak berhenti pada ketakutan. Mereka memilih bergerak: “Marilah kita pergi ke Betlehem”. Keputusan ini menandai keputusan batin yang penting dan transisional: dari subjek yang pasif dan takut, menjadi saksi yang terbuka dan bersukacita. Paus Fransiskus mencatat bahwa orang yang rendah hati dan miskinlah yang pertama kali menyambut peristiwa Inkarnasi. Di sanalah iman lahir: ketika manusia berani hadir apa adanya di hadapan Allah yang juga memilih hadir dalam rupa seorang bayi yang lemah dan rapuh.
Penutup: Menjadi Palungan yang Hidup
Pertanyaan terdalam Natal akhirnya kembali kepada kita: apakah palungan itu hanya menjadi hiasan, atau sungguh hidup dalam diri kita? Paus Fransiskus mengingatkan: “Yang penting adalah bahwa gambaran kelahiran Yesus itu berbicara kepada hidup kita… agar kita tahu seberapa dekatnya Dia dengan setiap laki-laki, perempuan, dan anak, terlepas dari apa pun kondisi mereka”.
Natal menjadi pewartaan sejati ketika hidup kita, orang-orang biasa seperti Maria, Yusuf, dan para gembala, menjadi palungan yang hangat bagi kehadiran Bayi Yesus, Sang Juru Selamat. Mari kita biarkan hidup kita disusun dan dibentuk Allah sendiri seturut kehendak-Nya (fiat), agar kita tidak lagi dikuasai ketakutan, melainkan dipenuhi kebenaran agung yang fascinosum et tremendum, yang memampukan kita berseru: Immanuel, Allah beserta kita.
Seperti para gembala, malam ini kita pun diajak untuk beranjak (Transeamus) melintasi jarak distraktif antara tontonan dan tuntunan, menziarahi Betlehem ‘terdekat’ yang acap tersembunyi di balik ketertarikan kita pada yang viral dan gemebyar. Bukan sekadar melihat, melainkan mengalami Sabda yang menjadi peristiwa: Allah yang hadir dalam kesederhanaan Maria, ketaatan Yusuf, dan kerapuhan Bayi di palungan.
Gloria in excelsis Deo et in terra pax hominibus!
