Academic Responsiveness bukanlah isu yang mudah untuk dioperasionalkan apalagi dijadikan bahan analisis kritis berbasis praktik supervisi magang dan skripsi. Selama periode minggu UTS semester Genap 2025-2026, akhir Maret s/d 11 April 2026, saya sebagai dosen pembimbing skripsi dan magang mengirimkan sejumlah surat elektronik kepada 27 orang mahasiswa peserta skripsi dan magang, baik yang sifatnya kordinatif maupun reflektif. Dalam praktik bimbingan skripsi dan magang, masalah yang tampak sepele seperti mahasiswa tidak merespons email atau merespons secara tidak relevan, acap kali dianggap sebagai isu kedisiplinan atau pengabaian terhadap etiket korespondensi dasar.
Namun, pengalaman koordinasi yang melibatkan pihak ketiga (seperti supervisor dari industri tempat mahasiswa melakukan kerja magang) menunjukkan bahwa masalah ini lebih struktural: keterlambatan atau ketiadaan respons mahasiswa secara langsung menghambat proses evaluasi akademik. Dengan kata lain, lambat merespon bahkan tidak responsif bukan sekadar masalah sopan santun (etiket komunikasi), tetapi kegagalan dalam menjaga keberlanjutan sistem komunikasi akademik.
Pertanyaan penelitian mini yang kemudian muncul bukan lagi “mengapa mahasiswa tidak merespons?”, melainkan: bagaimana kegagalan respons mahasiswa mencerminkan defisit dalam kompetensi pragmatik dan koordinatif dalam komunikasi akademik yang terdistribusi? Di sinilah problematization bergerak dari level amatan atas perilaku ke theorizing level konseptual.
Secara klasik, fenomena ini dapat dibaca melalui prinsip kerja sama dari Herbert Paul Grice (1913-1988), khususnya pelanggaran terhadap maksim Quantity (tidak memberikan informasi) dan Relation (tidak relevan). Dalam konteks komunikasi termediasi seperti surat elektronik, persoalan makna menjadi lebih kompleks. Mengacu pada elaborasi Thompson (2007) atas distingsi Grice antara natural meaning dan non-natural meaning, komunikasi akademik melalui surat elektronik sepenuhnya beroperasi dalam ranah non-natural meaning, yakni makna yang bergantung pada pengenalan intensi komunikatif penulis oleh pembaca. Tidak seperti interaksi tatap muka yang kaya akan isyarat kontekstual, email menuntut kapasitas inferensial yang lebih tinggi dari mahasiswa untuk menangkap implicature yang tidak selalu dinyatakan secara eksplisit.
Dalam kasus yang saya angkat ini, instruksi untuk “melakukan follow-up kepada supervisor secara profesional” mengandung implicature normatif mengenai urgensi, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Kegagalan mahasiswa untuk merespons atau merespons secara tidak relevan dengan demikian bukan sekadar pelanggaran maksim, tetapi kegagalan dalam memproses non-natural meaning secara tepat dalam konteks komunikasi institusional.
Lebih jauh, implicature tersebut tidak bersifat individual semata, melainkan institutionally loaded implicature, yakni makna implisit yang dibentuk oleh struktur institusional tempat komunikasi berlangsung. Dalam konteks tulisan ini, urgensi untuk melakukan follow-up tidak hanya berasal dari intensi penulis surel, tetapi juga dari konfigurasi relasional antara advisor, mahasiswa, dan supervisor, tenggat waktu evaluasi, serta konsekuensi administratif yang menyertainya. Dengan demikian, kegagalan respons mahasiswa mencerminkan kegagalan dalam menginterpretasi bukan hanya maksud komunikatif, tetapi juga bobot normatif yang dilekatkan oleh sistem akademik itu sendiri.
Meski demikian, literatur terbaru menunjukkan bahwa model Grice bersifat terlalu statis, cenderung reduktif dari segi pemaknaan, dan kurang sensitif terhadap konteks institusional. Schwellenbach (2025) melalui kerangka TRICS memperluas maksim Grice dengan menambahkan dimensi seperti coordination dan transparency, yang krusial dalam sistem komunikasi yang melibatkan banyak aktor.
Sementara itu, Su dan Zhang (2025) menekankan bahwa implikatur bersifat diakronik. Artinya, kemampuan subjek pembelajar memahami makna secara implisit berkembang melalui pengalaman interaksi yang kompleks, bertahap (scaffolding), dan multi-layered. Kompetensi memahami makna bukan hal yang langsung dimiliki (given) melainkan terakumulasi secara iteratif dan reflektif.
Pendekatan yang digunakan dalam untai refleksi singkat ini bersifat kualitatif-reflektif berbasis praktik pedagogis, dengan fokus pada literasi pragmatik dan kompetensi komunikasi mahasiswa. Data diambil dari rekam jejak email bimbingan yang memperlihatkan variasi respons mahasiswa terhadap instruksi yang sama.
Analisis menunjukkan tiga pola utama. Pertama, non-response, yang dalam kerangka Grice merupakan pelanggaran Quantity, tetapi dalam TRICS lebih tepat dipahami sebagai kegagalan koordinasi. Kedua, misaligned response, yang mencakup aktivitas mahasiswa merespons tetapi tidak relevan dengan tujuan (pelanggaran Relation), seperti kasus mahasiswa yang membahas tugas lain dalam thread evaluasi. Ketiga, engaged but inefficient response, seperti mahasiswa yang mengajukan klarifikasi tanpa terlebih dahulu memaksimalkan sumber informasi yang tersedia. Poin ketiga ini menunjukkan kompetensi pragmatik yang sedang berkembang.
Analisis pendek di atas menegaskan bahwa kegagalan komunikasi mahasiswa tidak dapat direduksi menjadi persoalan gagap etiket. Yang terjadi justru mencerminkan tidak terbentuknya kompetensi pragmatik-koordinatif, yaitu kemampuan subjek pembelajar untuk memahami, merespons, dan menjaga alur komunikasi dalam sistem akademik yang kompleks. Pada simpul ini, kontribusi teoritis muncul: ada perluasan dari pragmatik linguistik yang cenderung individual menuju pragmatik institusional yang menekankan koordinasi dan modalitas linguistik secara kolektif sebagai dimensi kunci.
Sebagai kesimpulan sementara, respons mahasiswa dalam komunikasi akademik seyogianya dipahami sebagai indikator kompetensi yang lebih dalam, bukan sekadar kepatuhan administratif. Kompetensi komunikasi akademik tidak cukup dipahami sebagai kepatuhan terhadap norma atau kecepatan respons, tetapi, dalam bingkai konseptual Gricean, lebih tepat dipahami sebagai kemampuan untuk menginterpretasi dan menghasilkan non-natural meaning secara tepat dalam sistem komunikasi yang termediasi dan terdistribusi. Selain itu, pelanggaran terhadap maksim Grice dalam konteks terbatas ini tidak hanya bersifat pragmatik, tetapi juga etis, karena menunjukkan kegagalan subjek pembelajar dalam mengaktualisasikan tanggung jawab komunikatifnya dalam sistem institusional yang termediasi.
Arah penelitian selanjutnya dengan data set yang lebih luas dan purposive sampling yang lebih terfokus dapat mengembangkan model pedagogi linguistic propensity towards actionable meaning yang secara eksplisit melatih coordination literacy, serta menguji bagaimana intervensi tersebut memengaruhi efektivitas komunikasi dalam konteks akademik dan profesional, dengan mengambil setting dan praktik supervisi mahasiswa pada jenjang Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2), baik yang berbasis teks maupun arahan lisan.
Dr. Hendar Putranto, M. Hum.
Dosen Pembimbing Skripsi dan Magang Prodi Ilmu Komunikasi, UMN
References
Grice, H. P. (1975). Logic and conversation. In P. Cole & J. L. Morgan (Eds.), Syntax and semantics: Vol. 3. Speech acts (pp. 41–58). Academic Press.
Schwellenbach, S. (2025). Revising and extending Gricean maxims: The TRICS-Principles. Journal of Linguistics, 1–28. https://doi.org/10.1017/S0022226725100765
Su, R., & Zhang, Y. (2025). Conversational implicature: A diachronic cognitive pragmatic approach. Humanities and Social Sciences Communications, 12, 867. https://doi.org/10.1057/s41599-025-05248-2
Thompson, J. R. (2007). Still Relevant: H.P. Grice’s Legacy in Psycholinguistics and the Philosophy of Language. Teorema: Revista Internacional de Filosofía, 26(2), 77–109. http://www.jstor.org/stable/43046686






