Catatan Seorang Penguji Skripsi Ilmu Komunikasi tentang Theory-Driven Research dalam Penelitian Kualitatif
Salah satu kekuatan utama penelitian kualitatif bukanlah kemampuannya menghasilkan generalisasi, melainkan kemampuannya membuka ruang bagi kompleksitas pengalaman manusia. Robert E. Stake (2010) berulang kali mengingatkan bahwa penelitian kualitatif yang baik itu menghargai keragaman, honors diversity, lebih menghargai keunikan daripada keseragaman (uniqueness more than commonality), membuka kemungkinan hadirnya multiple realities, dan bahkan secara sengaja mencari interpretasi yang dapat membantah penafsiran penelitinya sendiri (deliberately disconfirm their own interpretations). Penelitian kualitatif bukanlah proses mengumpulkan bukti untuk mengukuhkan teori yang sudah diyakini, melainkan proses membiarkan realitas berbicara, termasuk ketika realitas tersebut tidak sejalan dengan dugaan awal peneliti.
Robert E. Stake (2010) places openness to multiple realities at the heart of qualitative inquiry. Rather than treating empirical data as confirmation of prior theoretical expectations, he argues that qualitative researchers should deliberately seek interpretations capable of disconfirming their own provisional understandings (pp. 15–16).
Prinsip tersebut melahirkan satu pertanyaan metodologis yang menurut saya penting diajukan kepada banyak penelitian kualitatif kontemporer: Apakah desain sampling yang digunakan benar-benar memberi kesempatan munculnya multiple realities dan disconfirming interpretations, atau justru sejak awal hanya membuka ruang bagi satu jenis pengalaman tertentu?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika peneliti menetapkan kriteria partisipan yang sangat spesifik, misalnya seluruh partisipan harus pernah mengalami virgin shaming atau backburner relationship atau menyandang stigma sosial tertentu, misalnya ADHD. Secara praktis, desain seperti ini memang memudahkan eksplorasi fenomena. Akan tetapi, secara metodologis muncul persoalan yang lebih mendasar.
Stake justru mendorong peneliti untuk secara sengaja mencari interpretasi yang dapat menggugurkan pemahamannya sendiri. Dalam bukunya Qualitative Research: Studying How Things Work (The Guilford Press, 2010), Stake menulis, “Before reporting, researchers try deliberately to disconfirm their own interpretations” (Stake, 2010, p. 16).
Artinya, penelitian kualitatif tidak hanya mengumpulkan pengalaman yang mendukung hipotesis implisit peneliti, tetapi juga aktif mencari pengalaman yang mungkin menunjukkan bahwa interpretasi awal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Jika seluruh informan dipilih karena memiliki pengalaman yang sama, peluang munculnya pengalaman yang bertentangan menjadi jauh lebih kecil. Peneliti memang memperoleh data yang konsisten, tetapi konsistensi tersebut bisa jadi merupakan konsekuensi dari desain sampling, bukan semata-mata (menggambarkan) karakter realitas sosial yang diteliti.
Stake juga berulang kali menekankan pentingnya multiple realities. Penelitian kualitatif, menurutnya, justru berusaha melawan stereotipe melalui perhatian terhadap konteks, pengalaman individual, dialog, dan keragaman makna. Thick description, interpretasi alternatif, serta keberadaan berbagai realitas merupakan bagian inheren dari penelitian kualitatif. Kompleksitas tersebut hanya dapat muncul apabila peneliti tetap membuka diri terhadap kemungkinan bahwa pengalaman para partisipan tidak seluruhnya bergerak ke arah yang sama.
Dalam konteks inilah saya mempertanyakan apakah desain penelitian yang sejak awal hanya mengakomodasi satu tipe pengalaman masih sepenuhnya sejalan dengan semangat studi kasus versi Stake.
Stake bahkan mengingatkan bahwa peneliti tidak boleh terlalu terpaku pada rencana penelitian maupun variabel-variabel yang telah ditetapkan sebelumnya. Peneliti kualitatif, menurutnya, tidak jarang menjadi “too committed to a plan” dan “too fixated upon using certain variables.” Lengkapnya, Stake menulis: “Still, the feeling among many qualitative researchers is that we often have been too committed to a plan, too fixated upon using certain variables, at the time we begin gathering data. We should be gradual, redesigning the study as we are doing it” (Stake, 2010, p. 129).
Studi kasus, menurutnya, berusaha tetap naturalistik; peneliti tidak mengintervensi ataupun mengatur realitas agar menghasilkan data yang sesuai dengan desain penelitian.
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Apabila peneliti sejak awal hanya menerima partisipan yang pernah mengalami virgin shaming, atau backburner relationship, apakah peneliti masih memberi kesempatan kepada realitas untuk muncul secara alamiah? Ataukah sejak awal peneliti telah arranging the field, sehingga hanya satu tipe pengalaman yang boleh masuk ke dalam penelitian?
Dengan kata lain, apakah keterbukaan terhadap pengalaman masih benar-benar dipertahankan, atau justru telah diseleksi sejak proses perekrutan partisipan?
Dapatkah data menjadi ilustrasi teori?
Persoalan tersebut kemudian tampak dalam proses analisis. Sepanjang pembahasan, skripsi yang menjadi fokus analisis saya berulang kali menyimpulkan bahwa standar maskulinitas menyebabkan praktik virgin shaming. Namun hubungan tersebut sering kali tampil sebagai hubungan kausal yang telah diasumsikan, bukan sebagai hubungan yang secara eksplisit diperlihatkan oleh data wawancara. Pertanyaan metodologis yang layak diajukan adalah: bagian mana dari data empiris yang benar-benar menunjukkan hubungan sebab-akibat tersebut, bukan sekadar menunjukkan bahwa kedua fenomena ‘hadir secara bersamaan’ (concurrent)?
Lebih menarik lagi, salah satu partisipan justru menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ia tampak lebih menerima dirinya, mengaitkan pilihannya dengan nilai-nilai agama, dan relatif tidak terlalu memedulikan penilaian sosial. Dalam perspektif Stake, pengalaman seperti ini seharusnya memperoleh perhatian khusus karena berpotensi menjadi counter-example yang memperkaya ataupun membatasi interpretasi peneliti.
Namun pengalaman tersebut tidak banyak dimanfaatkan untuk merevisi, memperhalus, atau sekurang-kurangnya membatasi klaim analitis yang telah dibangun sebelumnya. Akibatnya, data yang berpotensi menantang interpretasi justru berubah menjadi pengecualian yang kurang memperoleh tempat dalam argumentasi.
Ketika kesimpulan melampaui daya jangkau data
Persoalan berikutnya muncul pada Bab V. Salah satu kesimpulan menyatakan bahwa praktik virgin shaming merupakan bagian dari konstruksi sosial maskulinitas yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan semacam ini sebenarnya sudah bergerak ke tingkat teori sosial.
Masalahnya, penelitian hanya didasarkan pada tiga wawancara. Tidak ada observasi longitudinal, tidak ada etnografi, tidak ada analisis media, maupun data institusional yang memungkinkan peneliti menyimpulkan bagaimana suatu norma terus direproduksi dalam kehidupan sosial secara luas.
Demikian pula ketika kesimpulan menyebut bahwa fenomena tersebut memengaruhi identitas diri, hubungan sosial, dan cara “laki-laki Generasi Z” memahami maskulinitas. Pertanyaan yang muncul relatif sederhana: mengapa subjek kesimpulan berubah menjadi “laki-laki Generasi Z” secara umum, bukan “ketiga partisipan penelitian ini”?
Perubahan kecil dalam pilihan kata tersebut sebenarnya menunjukkan lompatan langkah penyimpulan (inference) yang cukup drastis.
Objek penelitian juga perlahan bergeser. Penelitian sejak awal menyatakan hendak mengkaji virgin shaming, tetapi pada bagian akhir justru lebih banyak membahas konstruksi maskulinitas secara umum. Pergeseran fokus ini membuat pembaca bertanya apakah penelitian sebenarnya sedang meneliti praktik virgin shaming, atau sedang menggunakan virgin shaming sebagai pintu masuk untuk membahas teori maskulinitas.
Dari deskripsi menuju intervensi normatif
Perubahan posisi epistemologis paling jelas terlihat pada bagian saran. Dengan basis data tiga orang partisipan, penelitian memberikan rekomendasi kepada laki-laki Generasi Z, keluarga, ayah, bahkan masyarakat secara luas. Misalnya, ayah disarankan menerapkan pola pengasuhan yang lebih terbuka dan tidak lagi menuntut anak laki-laki selalu tampil kuat dan dominan.
Pertanyaan kritisnya yang saya ajukan di sini adalah: kapan penelitian ini meneliti ayah? Kapan penelitian ini meneliti keluarga? Kapan penelitian ini meneliti masyarakat?
Rekomendasi tersebut tentu dapat saja masuk akal secara normatif. Namun secara metodologis, rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya lahir dari data yang dikumpulkan.
Ironinya cukup menarik. Sejak Bab I penelitian menggunakan paradigma konstruksionis yang menegaskan bahwa realitas merupakan konstruksi sosial. Akan tetapi ketika sampai pada Bab V, posisi peneliti berubah menjadi jauh lebih normatif, seolah ia (si peneliti) telah mengetahui bagaimana masyarakat seharusnya hidup.
Terjadi pergeseran dari descriptive inquiry menuju normative intervention, sementara basis empiris penelitian tidak mengalami perubahan.
Koheren, tetapi penelitian terlihat terlalu Theory-Driven
Di sinilah saya melihat kekuatan sekaligus keterbatasan laporan skripsi ini. Secara internal, penelitian memiliki koherensi yang cukup baik. Paradigma, teori, metode, analisis, hingga kesimpulan saling mendukung satu sama lain. Tidak ada kontradiksi besar di dalam bangunan argumentasinya.
Namun justru karena seluruh komponennya bergerak dalam arah yang sama, muncul kesan bahwa penelitian sejak awal lebih berfungsi mengonfirmasi teori daripada menguji atau memperkaya teori tersebut.
Data empiris akhirnya lebih sering menjadi ilustrasi atas konsep-konsep seperti patriarki, hegemonic masculinity, dan toxic masculinity, daripada menjadi ruang diskusi akademis yang di dalamnya teori-teori tersebut dapat dipertanyakan, dibatasi, atau bahkan dikoreksi.
Akibatnya muncul beberapa konsekuensi metodologis sekaligus: inferensi yang melampaui daya jangkau data, pergeseran objek penelitian, rekomendasi normatif yang kurang ditopang bukti empiris, serta dominasi satu kerangka konseptual tanpa memberi ruang yang cukup bagi penjelasan alternatif.
Daftar pustaka lumayan rapi, tetapi arsitektur epistemiknya rapuh
Kecenderungan tersebut ternyata juga tampak pada daftar pustaka. Secara teknis, format sitasi relatif rapi meskipun masih ditemukan sejumlah ketidaksesuaian. Beberapa referensi memperlihatkan pasangan metadata dan URL yang tidak konsisten, misalnya identitas buku yang justru mengarah ke laman media daring, atau artikel jurnal yang tautannya mengarah ke sumber lain sama sekali.
Selain itu, peneliti masih menggunakan sumber seperti Reddit, Quora, Medium, dan blog pribadi. Penggunaannya tentu tidak otomatis salah apabila diperlakukan sebagai data penelitian, tetapi memerlukan justifikasi yang jauh lebih kuat apabila dijadikan landasan argumentasi akademik.
Yang lebih menarik justru pola keseluruhannya. Literatur yang digunakan hampir seluruhnya bergerak dalam arah yang sama: mengafirmasi patriarki, toxic masculinity, dan kerangka konseptual yang telah dipilih sejak awal. Literatur yang menawarkan kritik, batas konseptual, atau penjelasan alternatif hampir tidak tampak.
Dengan demikian, daftar pustaka sebenarnya mencerminkan kecenderungan epistemik yang sama seperti keseluruhan penelitian: secara teknis cukup tertata, tetapi secara intelektual kurang membuka ruang bagi dialog dengan perspektif yang berbeda.
Di ujung refleksi metodologis ini, persoalan penelitian skripsi yang saya periksa bukan terletak pada konsistensinya. Penelitian ini justru terlalu konsisten, dalam pengertian too good to be true. Teori, data, analisis, hingga referensi bergerak ke arah yang sama sehingga hampir tidak menyisakan ruang bagi kejutan empiris. Padahal salah satu kekuatan terbesar penelitian kualitatif justru terletak pada adanya ruang metodologis bagi keragaman pengalaman manusia untuk mengoreksi asumsi-asumsi teoretis yang telah dibawa peneliti sejak awal.
Fenomena yang saya angkat di sini tentu tidak hanya ditemukan pada satu dua skripsi yang pernah saya periksa sebagai penguji. Dalam beberapa tahun terakhir, sekurang-kurangnya sejak saya dipercaya menjadi pembimbing dan penguji skripsi Ilmu Komunikasi UMN pada September 2024, cukup sering saya menjumpai penelitian kualitatif yang secara teknis semakin rapi, tetapi secara epistemologis semakin tertutup terhadap kejutan empiris. Data tidak lagi diperlakukan sebagai sumber penemuan, melainkan sebagai ilustrasi bagi teori yang telah dipilih sejak awal. Ketika hal itu terjadi, penelitian kualitatif perlahan kehilangan salah satu kekuatan terbesarnya, yaitu kemampuan membiarkan pengalaman manusia yang konkret memodifikasi teori yang abstrak.
Persoalan utama yang kita hadapi sekarang bukan terletak pada terlalu kuatnya teori, melainkan pada semakin sempitnya ruang yang kita berikan kepada pengalaman untuk berbicara. Padahal, bukankah penelitian kualitatif sejak awal lahir agar pengalaman manusia tetap memiliki kemungkinan menghadirkan kejutan empiris bagi teori, bukan sekadar menjadi ilustrasi atasnya?

AI Disclosure
This essay grew out of an actual undergraduate thesis examination conducted in July 2026 and reflects the author’s own reading, methodological assessment, and critical judgment in the course of serving as the thesis examiner. Generative AI (ChatGPT) was used only at the editorial stage, primarily to help organize the author’s original notes, improve grammatical clarity, and refine the coherence of the exposition. The case, observations, methodological critique, interpretations, and arguments presented here were developed by the author. AI was not used to generate empirical findings, construct the critique, or make the methodological judgments reported in this essay. The author retains full responsibility for the content and final form of the essay.
Daftar pustaka utama untuk metode skripsi yang saya periksa ini
Stake, R. E. (2010). Qualitative research: Studying how things work. Guilford Press.












