Catatan Fenomenologis Schutzian dari Seorang Dosen Pembimbing
Dr. Hendar Putranto, M. Hum.
Dosen Pembimbing Skripsi Ilmu Komunikasi, Semester Genap 2025-2026
Pada penghujung semester Genap 2025-2026, persisnya di akhir minggu pertama Juni 2026, saya membuka kembali folder digital milik 13 mahasiswa skripsi yang saya bimbing di sebuah program studi ilmu komunikasi di kampus swasta di Tangerang. Secara administratif, folder-folder tersebut tidak lebih dari kumpulan dokumen: proposal penelitian, revisi bab, checklist administrasi, transkrip wawancara, hingga laporan kemajuan. Namun ketika diperhatikan lebih saksama, folder-folder itu ternyata menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar arsip akademik. Ia merekam jejak tindakan manusia dalam menghadapi sebuah proyek intelektual bernama skripsi.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada pemikiran Alfred Schutz mengenai lifeworld atau dunia kehidupan. Bersama Thomas Luckmann, Schutz menulis bahwa “the world of everyday life is man’s fundamental and paramount reality” (Schutz & Luckmann, 1973, p. 3). Dunia kehidupan adalah dunia yang kita jalani sehari-hari sebelum direduksi menjadi angka, kategori administratif, atau indikator kinerja.
Dalam konteks ini, dunia kehidupan yang saya amati bukanlah dunia kehidupan mahasiswa secara keseluruhan, melainkan dunia kehidupan yang sangat terbatas: pengalaman membimbing mahasiswa yang mengerjakan skripsi dalam satu program studi, satu angkatan, dan satu kelompok kecil mahasiswa yang kebetulan berada dalam horizon pengamatan saya sebagai pembimbing. Karena itu, refleksi ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai generalisasi tentang mahasiswa Indonesia. Tulisan ini merupakan catatan fenomenologis bernada Schutzian dari sebuah relasi pembimbingan yang berlangsung selama satu semester.
Menariknya, ketika melihat kembali rekam jejak folder-folder tersebut, saya mulai mengenali pola-pola yang berulang. Schutz menyebut proses ini sebagai typification. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak memahami setiap situasi sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru. Kita menggunakan stok pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya untuk mengenali tipe-tipe tindakan dan pola perilaku tertentu.
Dalam bentang tumpukan folder skripsi itu, saya menemukan berbagai lintasan penyelesaian yang berbeda. Ada mahasiswa yang bergerak cepat dan hampir selalu menjadi yang pertama merespon surel dan menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Ada yang lambat namun konsisten terus mengerjakan. Ada yang kritis dan idealis sehingga acap kali terjebak dalam standar intelektual yang dibangunnya sendiri dan akhirnya lambat selesainya. Ada pula yang mengalami stagnasi panjang (stalled) sebelum akhirnya kembali beringsut menjelang batas akhir.
Tipifikasi semacam ini bukanlah penilaian moral (moral judgment), apalagi vonis akademik (academic grading). Yang sedang ditipifikasi bukan individu sebagai pribadi, melainkan pola keterlibatannya dalam proyek penyusunan skripsi. Dengan kata lain, yang muncul bukan kategori “mahasiswa pintar” atau “mahasiswa kurang pintar”, melainkan tipe-tipe partisipasi dalam dunia kehidupan akademik: penyelesai (the finisher), pejuang yang tertatih (the struggler), pekerja yang stabil (the steady worker), atau idealis yang terus-menerus mempertanyakan asumsi teoritisnya sendiri.
Barangkali di situlah nilai reflektif dari folder-folder digital tersebut. Di balik fungsi administratifnya, ia menyimpan sedimentasi pengalaman yang memungkinkan seorang pembimbing mengenali pola-pola tertentu dalam penyelesaian skripsi. Apa yang tampak sebagai kumpulan berkas revisi sesungguhnya merupakan jejak relevansi, keputusan, keraguan, penundaan, dan orientasi tindakan yang berbeda-beda pada setiap mahasiswa.
Pembacaan ulang Besnik Pula (2024) atas fenomenologi sosial Schutz (1962; with Luckmann, 1973), sebagaimana dibahas oleh Coenen (2026), membantu memperjelas persoalan ini. Pengetahuan tidak terutama dipahami sebagai kumpulan proposisi yang benar atau salah, melainkan sebagai kompetensi praktis yang terendapkan dalam pengalaman hidup dan digunakan untuk menavigasi dunia sosial. Pengetahuan bahkan mencakup batas-batas kompetensi dan kemungkinan kegagalannya sendiri. Dengan demikian, apa yang dipelajari seorang dosen pembimbing dari rekam jejak skripsi mahasiswa bukan hanya kualitas produk akademik yang dihasilkan, melainkan juga berbagai bentuk keterlibatan manusia dalam menghadapi tuntutan dunia akademik.
Dalam terang pengertian tersebut, folder skripsi bukan sekadar arsip lembar monokrom digital. Ia merupakan objektivasi kecil dari apa yang oleh Schutz disebut sebagai stock of knowledge at hand: akumulasi pengalaman yang memungkinkan seorang aktor memahami dunia sosialnya secara praktis (lih. Berger & Luckmann, 1966). Setiap revisi yang terlambat, setiap respons yang cepat, setiap perubahan topik, setiap kemajuan yang stabil, dan setiap periode stagnasi perlahan-lahan mengendap menjadi pengetahuan supervisi yang tidak tertulis.

Melalui proses itulah tipifikasi terbentuk. Tidak secara langsung dan instan, juga hampir tidak mungkin direplikasi secara sama persis oleh dosen pembimbing lain, tapi secara perlahan, organik, dan berjenjang. Melalui tipifikasi itulah belasan mahasiswa yang saya bimbing dan saya sebagai pembimbing skripsi sama-sama belajar memahami bukan hanya bagaimana skripsi dirapikan, ditinjau ulang, dan diselesaikan, tetapi juga bagaimana manusia menjalani dunia kehidupan (lifeworld) akademiknya.
Pada titik ini, refleksi fenomenologis tidak berhenti sebagai perhatian reflektif (reflective attention) terhadap pengalaman yang sebelumnya diterima begitu saja dalam rutinitas sehari-hari. Ia berpotensi berkembang menjadi praktik reflektif (reflective practice) yang menghasilkan bentuk pengetahuan tersendiri. Sebagaimana dikemukakan oleh S. Schutz (2026) dalam konteks pengembangan praktik reflektif, pengetahuan yang lahir dari praktik reflektif sering kali kurang dihargai dibandingkan pengetahuan yang dihasilkan melalui prosedur penelitian formal. Padahal justru melalui refleksi atas pengalaman konkret, para praktisi dapat menemukan makna, tujuan, dan nilai dari pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari. Otherwise, they’ll get buried haplessly somehow.
Dalam konteks supervisi skripsi, membuka kembali folder-folder mahasiswa pada akhir semester ternyata bukan hanya aktivitas administratif atau monitoring-evaluatif (MonEv). Praktik ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyadari bagaimana pengalaman-pengalaman yang tersedimentasi dalam praktik pembimbingan perlahan berubah menjadi pengetahuan reflektif yang membantu saya memahami makna pekerjaan akademik itu sendiri. Jika skripsi adalah proses belajar liminal bagi mahasiswa, refleksi atas proses membimbing skripsi adalah bentuk pembelajaran yang tidak kalah seminal bagi dosennya.
Daftar Pustaka
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.
Coenen, E. (2026). Rethinking interpretive social science from a Schutzian perspective. Symbolic Interaction. Advance online publication. https://doi.org/10.1002/symb.70058
Pula, B. (2024). Alfred Schutz, phenomenology, and the renewal of interpretive social science. Routledge.
Schutz, A. (1962). Collected papers I: The problem of social reality. Martinus Nijhoff.
Schutz, A., & Luckmann, T. (1973). The structures of the life-world (R. M. Zaner & H. T. Engelhardt Jr., Trans.). Northwestern University Press.
Schutz, S. (2026). Reflection, reflective practice and reflective knowledge in nursing: Where are we? A perspective. Journal of Research in Nursing. Advance online publication. https://doi.org/10.1177/17449871251407833







