Sebuah Refleksi tentang Semiosis dalam Bimbingan Skripsi
Direnungkan dan dituliskan oleh Dr. Hendar Putranto, M. Hum.
Dosen Pembimbing Skripsi Ilmu Komunikasi Semester Genap 2025-2026
Pada semester ini saya membimbing seorang mahasiswa, sebut saja SAZ, yang meneliti representasi toxic relationship dalam sebuah film komersil yang rilis tahun 2014 dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Film ini menuai pujian dari banyak pihak dan berhasil memenangkan sejumlah film awards; bukan film ecek-ecek. Setelah membaca dan membandingkan dengan draf sebelumnya, saya memberikan sejumlah komentar yang cukup panjang pada Bab III, bab IV, dan bab V draf skripsinya. Komentar itu tidak sekadar berisi koreksi tata bahasa (typos) atau perbaikan format penulisan yang belum sesuai templat acuan institusi.
Yang saya soroti justru sebuah persoalan metodologis: di Bab II SAZ menjanjikan enam bentuk dysfunctional family communication sebagai kerangka konseptual penelitian, tetapi pada Bab III ia hanya menyiapkan tabel klasifikasi tanda Peirce berupa ikon, indeks, dan simbol. Ringkasnya, konsep yang dijanjikan di landasan teori tidak cukup dioperasionalkan sebagai instrumen analisis.
Bagi saya, komentar tersebut adalah sebuah upaya menjelaskan celah logika penelitian. Namun bagi mahasiswa, komentar itu bisa dimaknai secara berbeda. Ia bisa dibaca sebagai kritik keras, tanda bahwa penelitian masih bermasalah, atau justru petunjuk yang membuka jalan keluar dari kebuntuan analisis. Di sinilah saya mulai menyadari bahwa proses bimbingan skripsi sebenarnya merupakan ruang semiosis yang sangat kaya.
Dalam perspektif semiotika Peirce (1931-1958), tanda tidak pernah berdiri sendiri sebagai objek yang selesai. Setiap tanda selalu memicu proses interpretasi lanjutan yang menghasilkan interpretant baru. Chandler (2017) menyebut proses ini sebagai semiosis yang pada prinsipnya tidak pernah benar-benar berhenti. Jika gagasan tersebut dibawa ke dalam ruang bimbingan skripsi, komentar margin, catatan revisi, maupun korespondensi akademik dapat dipahami sebagai tanda-tanda pedagogis yang terus menghasilkan pemaknaan baru dalam diri mahasiswa. Karenanya, bimbingan skripsi bukan hanya sarana transfer pengetahuan, melainkan juga arena produksi makna yang berlangsung secara berkelanjutan.
Misalnya, ketika saya menuliskan bahwa SAZ membutuhkan “matriks operasionalisasi konsep”, tujuan saya sebenarnya sederhana: membantu menjembatani hubungan antara teori komunikasi disfungsional dan analisis semiotik yang akan dilakukan pada data film. Akan tetapi, tanpa penjelasan yang cukup visual, komentar tersebut berpotensi dipahami sebagai tuntutan tambahan yang rumit dan membingungkan.
Karena itu saya kemudian mengubah bentuk masukan menjadi diagram alur dan matriks visual yang memperlihatkan bagaimana konsep gaslighting atau passive-aggressive dapat ditelusuri melalui representamen, objek, dan interpretant. Menariknya, setelah tanda diubah bentuknya, interpretasinya pun berubah. Yang semula tampak abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
Contoh lain muncul ketika saya membaca bagian saran praktis dari skripsi SAZ. Setelah menganalisis film 2014 tersebut dengan menggunakan pisau analisis semiotika Peirce, ia menuliskan rekomendasi agar pasangan yang mengalami konflik rumah tangga lebih terbuka secara emosional dan tidak ragu memanfaatkan layanan konseling pernikahan profesional.
Sekilas, saran tersebut terdengar masuk akal. Namun ketika dibaca lebih cermat, saya menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada baik atau buruknya saran itu. Persoalan yang lebih mendasar adalah: dari mana otoritas pengetahuan untuk membuat klaim rekomendasi tersebut berasal dan apakah ini sebentuk pseudo-authority yang trespassing boundaries?
Penelitian yang dilakukan SAZ tidak melibatkan pasangan suami-istri. Ia tidak mewawancarai konselor keluarga. Ia tidak meneliti efektivitas terapi perkawinan. Yang ia analisis adalah sebuah film fiksi melalui lensa semiotika Peirce. Karena itu, ketika penelitian tersebut menghasilkan rekomendasi tentang bagaimana pasangan seharusnya mengelola konflik rumah tangga, muncul pertanyaan metodologis yang penting: apakah metode yang digunakan memang memberikan hak epistemik baginya untuk sampai pada kesimpulan tersebut?
Pada titik ini saya memberikan komentar margin yang mempertanyakan hubungan antara data, metode, dan klaim yang dihasilkan. Menariknya, komentar tersebut tidak sekadar memperbaiki kalimat. Ia mengubah cara mahasiswa memandang penelitiannya sendiri. Fokus pembicaraan bergeser dari persoalan format skripsi menuju persoalan yang lebih fundamental, yaitu batas-batas klaim pengetahuan.
Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa sebagian besar mahasiswa yang saya jumpai dan bimbing (mungkin juga mahasiswa lain yang tidak saya bimbing) sebenarnya tidak kesulitan mengumpulkan data atau menulis temuan. Kesulitan terbesar justru terletak pada memahami apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan oleh sebuah penelitian yang terbatas. Dalam rumusan yang lebih sederhana, mereka acap kali belum terbiasa membedakan antara apa yang mereka yakini benar secara pribadi dan apa yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data, temuan, dan metode yang digunakan.
Di sinilah sebuah komentar margin berfungsi lebih dari sekadar koreksi. Ia menjadi tanda pedagogis yang mengarahkan mahasiswa untuk memahami bahwa kualitas akademik suatu skripsi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya teori yang digunakan atau panjangnya pembahasan, melainkan oleh kemampuan menjaga kesesuaian antara objek penelitian, metode yang dipilih, dan klaim pengetahuan yang dihasilkan.
Pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa kualitas bimbingan skripsi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan substansi masukan, tetapi juga oleh bagaimana masukan tersebut dikomunikasikan. Dalam sejumlah kasus yang teramati dan tercatat, kegagalan mahasiswa memahami arahan dan feedback dosen bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan akademik mahasiswa ybs., melainkan tanda-tanda pedagogis yang diberikan belum cukup operasional untuk ditafsirkan secara produktif dan ditindaklanjuti secara prosesual.
Dari perspektif ini, bimbingan skripsi bukan sekadar aktivitas administratif untuk menghasilkan naskah yang layak sidang. Ia merupakan proses negosiasi makna yang berlangsung terus-menerus antara dosen dan mahasiswa. Setiap komentar, revisi, pertanyaan, email, bahkan jeda respons, dapat berfungsi sebagai tanda yang menghasilkan interpretasi tertentu (Schön, 1983; Nicol, 2010).
Jika Peirce membantu kita memahami feedback sebagai tanda yang menghasilkan interpretant baru, maka Schön membantu menjelaskan refleksi profesional yang muncul dari proses tersebut, Nicol menjelaskan feedback sebagai dialog, dan van Manen memberi landasan pedagogis mengenai tact dalam komunikasi pendidikan.

Dengan demikian, bimbingan skripsi——dan aneka bimbingan lain dalam ranah pendidikan tinggi seperti bimbingan magang, akademik, dan pengerjaan tugas terstruktur——pada hakikatnya adalah praktik semiosis yang hidup: sebuah proses yang di dalamnya jejak dan artefak pengetahuan tidak sekadar ditransfer, tetapi dibentuk, dinegosiasikan, diuji, diklarifikasi, ditentukan batas-batasnya mana yang secara epistemik boleh dan tidak boleh, sekaligus dimaknai bersama dalam kanvas pembelajaran didaktik, pedagogik, dan andragogik (bdk. van Manen, 1991).
Daftar Rujukan
Chandler, D. (2017). Semiotics: The Basics (3rd ed.). Routledge.
Nicol, D. (2010). From monologue to dialogue: improving written feedback processes in mass higher education. Assessment & Evaluation in Higher Education, 35(5), 501–517. https://doi.org/10.1080/02602931003786559
Peirce, C. S. (1931–1958). Collected Papers of Charles Sanders Peirce (Vols. 1–8). Harvard University Press.
Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.
van Manen, M. (1991). The Tact of Teaching: The Meaning of Pedagogical Thoughtfulness. SUNY Press.







