Refleksi DosPem atas sesi kedua bimbingan skripsi Smt. Genap 2025–2026
Rabu, 25 Februari 2026 (18.00-19.28 WIB)
Bimbingan kedua skripsi semester ini berlangsung lewat Zoom dari sebuah kamar hotel (Nivas hotel) di Parul University, Vaghodia, Gujarat, India. Saya sedang dinas di negeri orang, tapi tidak abai terhadap bakti untuk negeri. Jarak ribuan kilometer ternyata tidak terlalu berarti bagi berlangsungnya sebuah dialog akademik. Yang justru lebih menentukan adalah apakah percakapan itu sungguh bermakna atau lewat begitu saja.
Dalam sebuah kelompok berisi dua belas mahasiswa (seharusnya bertigabelas, tapi satu orang tidak hadir tanpa keterangan) yang sedang menempuh tahap akhir studi, saya justru menemukan kembali pertanyaan sederhana yang ternyata tidak sederhana sama sekali: emang nulis email nggak pakai effort? Pertanyaan ini muncul karena saya mengirimkan beberapa surel penting, tentang jadwal ujian, langkah revisi, dan beberapa hal penting lainnya, yang tidak mendapat balasan dari mahasiswa bimbingan saya. Padahal, balasan tidak perlu panjang-panjang sampai 1000 kata, seperti esei reflektif ini. Sebenarnya, satu kalimat saja cukup: “Terima kasih Pak, informasi dan arahan sudah saya terima.”
Akan tetapi, ketika surel tidak dibalas, saya tidak tahu apakah informasi itu sampai atau tidak. So many people expect mind reading, but we’re not into that, right? Saya kan bukan Professor X di film X-Men yang dapat membaca pikiran à la mind reader. Dalam dunia akademik, kehadiran intelektual sering kali sesederhana menunjukkan bahwa kita membaca dan merespons surat elektronik, pesan singkat, dan undangan rapat.
Menulis surel memang (sepertinya) pekerjaan kecil. Tetapi pekerjaan kecil tetap membutuhkan usaha: membuka laptop atau ponsel, membaca dengan teliti, memikirkan jawaban, lalu menuliskannya. Bahkan kalimat paling sederhana pun tidak muncul begitu saja. Mana ada kita menutup mata lalu tiba-tiba surelnya sudah jadi dan isinya proper? Ada perhatian di sana, ada kesediaan untuk terlibat. Attention is the new oil. Academic attention is the source of dialogal knowledge. Karena itu saya bertanya kepada mahasiswa saya: emang nulis email nggak pakai effort?
Di balik pertanyaan sederhana yang tertera sebagai judul tulisan ini, sebenarnya tersembunyi satu prinsip penting: skripsi bukan pekerjaan satu orang. Kelulusan adalah proyek bersama antara mahasiswa dan pembimbing. Secara teknis saja sudah jelas: tanpa adanya rekam jejak sesi bimbingan yang tercatat (dalam sistem LMS), mahasiswa tidak mungkin verified untuk maju sidang. Tetapi lebih dari itu, bimbingan adalah ruang untuk menyelaraskan pemahaman rasional (rationalistic attunement), karena tanpanya, dunia tidak dapat dipahami individu sebagaimana adanya dan tindakan pun jadi mana suka (arbitrary).
Hal di atas menegaskan keyakinan sejumlah ahli fenomenologi kontemporer tentang penyelarasan rasional, dalam tradisi Heidegerrian, seperti berikut ini: “a rationalistic attunement (which) fundamentally shapes the pre-reflective level of how individuals approach the world (Befindlichkeit) … (upon which, institutional structures are conceived as) transformative patterns guiding interactions and modes of being” (Schuetze & von Maur, 2022, h. 722).
Saya menggunakan metafor garputala dalam sesi bimbingan kedua ini: sebelum sebuah orkestra bermain, setiap alat musik harus disetel dulu nadanya, agar SELARAS. Tanpa penyelarasan itu, yang terdengar hanyalah suara yang sumbang. Begitu pula skripsi. Sebelum sampai pada ujian akhir, mahasiswa dan dosen pembimbing perlu melakukan fine tuning berkali-kali agar arah penelitian menjadi jelas dan artikulasi masalah penelitian pun terlihat kualitas ilmiahnya.
Dalam sesi kedua, saya memilih untuk memulai dari hal-hal yang kurang menyenangkan. Bukan untuk menakut-nakuti, fear monger type, tetapi sebagai langkah kewaspadaan (sense of alertness). Saya bercerita tentang mahasiswa yang tidak lulus karena referensi yang ternyata tidak ada (non-existing references), tentang jurnal yang namanya dibuat-buat (fake journals), atau tentang penggunaan AI yang tidak diperiksa kembali (unaccountable use of AI).
Hari ini, terlebih ketika sidang, sudah basi dan bau ketika mahasiswa mendulang excuse dengan mengatakan bahwa jurnal yang dirujuknya dalam skripsi “ketinggalan di rumah.” Referensi ilmiah harus dapat dilacak secara digital dan itulah pentingnya mencantumkan Digital Object Identifier (DOI), di akhir setiap entry artikel jurnal dalam Referensi. Jika DOI tidak ditemukan, keberadaan artikel jurnal yang jadi rujukan patut dipertanyakan. Contoh-contoh ini mungkin terdengar keras saat bimbingan, tetapi justru itulah realitas akademik yang akan dihadapi mahasiswa nanti di ruang ujian.
Saya juga mengakui bahwa saya menggunakan Generative AI bernama Chat GPT untuk membantu memberi masukan dengan cepat dan konsisten (berdasarkan standar yang sama: CP1 s/d CP5). Tetapi AI hanyalah alat. Sebagai DosPem, saya tetap membaca draf bab 1 mahasiswa terlebih dahulu, mencari bagian yang lemah dan perlu diberikan masukan, baru kemudian memberi arahan (prompt) kepada GenAI untuk membantu merumuskan komentar secara rapi dan terstruktur. Hasilnya tetap saya periksa ulang, tandai, dan perjelas (elaborasi). Teknologi tidak menggantikan tanggung jawab intelektual. Justru teknologi menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Menyunting masukan agar dapat dipahami bukan perkara receh.
Ada satu hal lain yang saya sadari dalam sesi kedua bimbingan: mahasiswa sering kali terlalu diam. Apakah karena termediasi (Zoom) lalu komunikasi jadi tidak seimbang? Ketika saya meminta tanggapan tentang masukan yang sudah diberikan, awalnya hanya satu dua orang yang berbicara. Saya sempat berkata setengah bercanda, “jadi yang terbantu (dengan masukan saya) cuma dua orang?” Setelah itu, barulah yang lain mulai menyampaikan pendapatnya. Itupun cenderung generic dan sebagiannya normatif saja. Learned passivity-kah ini? Bimbingan tidak bisa berjalan kalau hanya satu pihak yang berbicara. Percakapan akademik membutuhkan suara dari kedua sisi. Tidak ada yang dimarjinalkan.
Mungkin yang paling sederhana dari semua ini adalah soal perhatian. Saya mengoreksi naskah mahasiswa sampai larut malam di tengah kesibukan tugas saya di India. Ini bukan litani keluhan, melainkan pilihan sadar dilandasi rasa tanggungjawab. Tetapi pilihan itu hanya bermakna utuh jika mahasiswa juga menunjukkan kesungguhan yang sama. Kadang kesungguhan itu tidak terlihat dalam teori yang rumit atau metodologi yang canggih, melainkan dalam sepotong tindakan kecil: baca masukan dengan teliti, perbaiki tulisan sedikit demi sedikit, balas surel undangan tepat waktu, isi logbook sesi bimbingan segera setelah bimbingan berakhir, tidak ditunda-tunda sampai (harus) ditegur DosPemnya.
Karena pada akhirnya, skripsi bukan hanya latihan merancang dan menulis hasil penelitian. Skripsi adalah latihan menjadi pribadi akademik yang bertanggung jawab. A mature scholar. Tanggung jawab acap kali dimulai dari hal-hal kecil yang tampaknya sepele, seperti membalas surel. Eh tapi benar kan, emang nulis email nggak pakai effort?
References
Schuetze, P. & von Maur, I. (2022). Uncovering today’s rationalistic attunement. Phenomenology and the Cognitive Sciences, 21, 707–728. https://doi.org/10.1007/s11097-021-09728-z

