Categories
Uncategorized

Nudging sebagai praktik pedagogis dalam kelas multilingual

Sebuah catatan fenomenologis tentang perspektif Sustainability Communication Ethics

Dr. Hendar Putranto, M. Hum.
Dosen Pengampu Kelas Strategic Communication Ethics, Program Magister Ilmu Komunikasi UMN

Selasa, 17 Maret 2026, 18.30 – 21.00 WIB, sebelum memasuki libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 H., saya masih sempat mengampu mata kuliah Strategic Communication Ethics di Prodi MIKOM UMN, secara daring, menggunakan Zoom apps. Perkuliahan terakhir sebelum masa UTS ini membuat saya semakin yakin bahwa ruang Zoom bukan sekadar medium teknis, melainkan ruang praksis etika komunikasi. Seperti yang pernah saya refleksikan dalam percakapan ini: “ini bukan lagi soal ‘apa yang dikatakan’, tetapi bagaimana tone, sequencing, dan micro-intervention bekerja sebagai nudging epistemik.” Pernyataan ini bukan retorika, tetapi deskripsi fenomenologis atas apa yang senyatanya terjadi di kelas.

Tiga orang mahasiswa dari Timor Leste (berinisial MA, XI, NO) yang mempresentasikan studi kasus mega proyek Tasi-Mane di Timor Leste bagian selatan yang ditengarai mengancam kelestarian ekologis pesisir Suai dan kehidupan masyarakat adat di sekitar garis pantai (lih. Crespi & Guillaud, 2018; Bovensiepen, 2020; Neves, 2023; Pourlioti, 2025) menghadapi beban ganda: kompleksitas konsep sustainability communication ethics dan keterbatasan bahasa Indonesia sebagai non-mother tongue. Secara substansi kasus, proyek ekstraktif seperti Tasi-Mane tidak hanya menghasilkan dampak material, tetapi juga membentuk kondisi “wilful blindness” dalam relasi antara negara, investor, dan komunitas lokal (Bovensiepen, 2020). Dalam situasi semacam ini, hambatan utama dari pemaparan kelompok bukanlah defisit kategori pemahaman, tetapi keterbatasan kecakapan artikulasi problematisasi etis dari sebuah fenomena yang laten-disruptif. Di sinilah konsep nudging menjadi relevan—bukan dalam arti teknologis semata, tetapi sebagai praktik pedagogis.

Secara klasik, digital nudging didefinisikan sebagai “the use of design, information presentation, and interaction elements in a deliberate and subtle manner to guide user behavior in online environments” (Demir & Akbıyık, 2025, p. 20880) . Namun dalam kelas ini, “design” tersebut tidak hadir dalam bentuk antarmuka (UX), melainkan dalam bentuk intonasi, jeda, dan pilihan kata dosen. Ketika saya, sebagai dosen pengampu kelas, menghimbau mahasiswa presenter dengan mengatakan “coba menurut kalian, apakah …” atau “tidak apa-apa, pelan-pelan saja,” hadirlah rekayasa halus atas ruang kemungkinan berbicara.

Dalam alur analisis atas transkrip kuliah, saya menegaskan bahwa “(dalam beberapa salindia pemaparan) mereka terlihat lompat logika… padahal struktur berpikirnya ada, tetapi tidak fully expressible dalam bahasa Indonesia.” Hal ini pantas digarisbawahi karena dalam kerangka studi perilaku (behavioral science), kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk decision inertia, yaitu kecenderungan untuk tidak bertindak ketika biaya kognitif terlalu tinggi. Hettler et al. (2025) menjelaskan bahwa inertia adalah kecenderungan individu untuk mempertahankan keputusan atau bahkan tidak mengambil keputusan, meskipun bertentangan dengan preferensi rasional mereka.

Dalam konteks perkuliahan malam ini, inertia muncul sebagai diam, ragu, atau berhenti pada klaim normatif seperti “ini tidak etis” tanpa elaborasi lebih lanjut. Maka, nudging pedagogis yang saya inisiasi bekerja sebagai intervensi minimal yang memungkinkan transisi dari keheningan yang terasa suwung menjadi artikulasi akademis dengan didasari penalaran berbasis teks rujukan bacaan yang sudah dikurasi dan direkomendasikan oleh dosen pengampu untuk dicerna dan disampaikan tim mahasiswa presenter di depan teman-teman sekelasnya sebagai kerangka analisis atas studi kasus, isu, serta fenomena yang menarik perhatian untuk diteliti. Namun di titik ini, problem etis muncul: apakah nudging semacam ini manipulatif?

Ruehle (2023) mengingatkan bahwa nudging berpotensi “infringe on their autonomy through manipulation and indoctrination” (p. 502) . Risiko ini nyata, terutama dalam relasi kuasa dosen–mahasiswa. Akan tetapi, praktik yang terjadi di kelas ini justru memperlihatkan arah sebaliknya. Nudging tidak digunakan untuk mengarahkan kesimpulan, melainkan untuk membuka kemungkinan artikulasi.

Dalam relung permenungan saya, terlihat bahwasanya prinsip “fortiter in re, suaviter in modo,” atau, dalam artikulasi yang lebih kontekstual sesuai topik bahasan perkuliahan, “luwes dalam mendorong akurasi dan presisi berbahasa, (tapi) ketat pada struktur berpikir secara bertahap” merupakan intervensi pedagogis yang dapat dibenarkan secara epistemik. Prinsip ini menjadi batas etis yang penting. Bahasa, dengan segala aksen dan patahan-patahan incommensurability-nya (dalam pengertian Rorty-an) boleh dinegosiasikan, tetapi struktur berpikir yang logis, runut, dan koheren harus tetap dijaga. Dengan demikian, nudging tidak mengurangi otonomi, tetapi justru memungkinkan munculnya meta-autonomy (Ruehle, 2023), yaitu kemampuan individu untuk merefleksikan dan mengartikulasikan pilihan mereka secara sadar.

Viale (2022) dalam diskusinya tentang nudging menekankan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk “bolster individual autonomy and deliberative decision making.” Dalam praktik pedagogis, hal ini dapat berarti dosen bukan sekadar bertugas sebagai penyampai materi, tetapi arsitek kondisi deliberatif atas berlangsungnya diskusi. Menariknya, temuan Demir dan Akbıyık (2025) menunjukkan bahwa digital nudging dalam pembelajaran jarak jauh “enhanced their [sic. students] engagement and motivation” (p. 20879) . Dalam pengalaman kelas ini, peningkatan engagement tidak datang dari sistem digital per se, tetapi lahir dari interaksi dialogis yang dirancang secara etis.

Momen penutup perkuliahan, ketika nilai (score/grading) diumumkan oleh dosen dan mahasiswa non-presenter diminta untuk memberikan apresiasi secara digital dengan menekan tombol applause, secara telak menunjukkan dimensi lain dari nudging yaitu nudging afektif dan sosial. Digital applause menutup ketegangan epistemik dengan pengakuan kolektif, sehingga mahasiswa tidak keluar dari kelas dengan terpukul, dipermalukan, atau sekelumit gagal, tetapi dengan rekognisi. Karenanya, nudging dalam pembelajaran jarak jauh tidak dapat direduksi menjadi melulu teknik digital. Nudging menjadi praktik relasional yang meletak dalam dan mendinamisasi spektrum ketegangan antara rigoritas dan empati, bahasa dan pemikiran, kritik dan pengakuan.

Pemaparan, pemerian, dan diskusi yang terjadi di kelas Etika Komunikasi Strategis atas topik sustainability communication ethics dengan mengintegrasikan kerangka konseptual “tiga badai etis” (global, intergenerasional, teoretis) yang dipetakan Gardiner (2011) dengan bingkai konseptual komunikasi keberlanjutan dari Golob et al. (2023), Newig et al. (2013), dan Fischer et al. (2016) memperlihatkan bahwa nudging, ketika dijalankan secara reflektif, bukanlah manipulasi, melainkan praktik etika komunikasi yang memungkinkan munculnya suara yang sebelumnya terhambat, tersendat, dan termampatkan. Ibaratnya, nafas yang tersengal polusi ‘korupsi moral’ standar kebijakan iklim global (misalnya target Paris Agreement dengan peluang 50–66%) (Gardiner, 2023) jadi plong berkat inhaler etis yang dihirup dan dikampanyekan para penggiat keberlanjutan.

Pada simpul pengertian semacam ini, sampailah kita pada benang merah kirmizi pemahaman yang semakin fenomenologis: bahwasanya rona dan aroma etika komunikasi bukan pertama-tama bertolak dari harumnya difusi norma-norma sosio-kultural dalam praktik akademis di ruang kelas graduate students (S2), tetapi soal bagaimana jendela ruang artikulasi dilema moral-etis itu dibuka, dijaga, dan dirawat dengan tlaten agar urat nadi lestari terus berdenyut secara relaksatif dan performatif.

Referensi
Bovensiepen, J. (2020). On the banality of wilful blindness: Ignorance and affect in extractive encounters. Critique of Anthropology, 40(4), 490-507. https://doi.org/10.1177/0308275X20959426
Crespi, B., & Guillaud, D. (2018). Oil and Custom: Impacts of the Tasi Mane Oil Project on Local Communities in Suai, Timor-Leste. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 19(5), 432–449. https://doi.org/10.1080/14442213.2018.1514066
Demir, E., & Akbıyık, A. (2025). Examining the impact of digital nudging on user interaction with e-platforms: A study of working professionals in distance learning. Education and Information Technologies, 30, 20879–20910. https://doi.org/10.1007/s10639-025-13600-x
Fischer, D., Lüdecke, G., Godemann, J., Michelsen, G., Newig, J., Rieckmann, M., & Schulz, D. (2016). Sustainability communication. In H. Heinrichs, P. Martens, G. Michelsen, & A. Wiek (Eds.), Sustainability science (pp. 139–154). Springer. https://doi.org/10.1007/978-94-017-7242-6_12
Gardiner, S. M. (2004). Ethics and global climate change. Ethics, 114(3), 555–600. https://doi.org/10.1086/382247
Gardiner, S. M. (2011). A perfect moral storm: The ethical tragedy of climate change. Oxford University Press.
Gardiner, S. M. (2013). Reflecting on A perfect moral storm. Philosophy and Public Issues, 3(1), 89–135. https://philarchive.org/archive/GARROA-2
Gardiner, S. M. (2023, April 10). Climate targets and moral corruption. Blog of the APA. https://blog.apaonline.org/2023/04/10/climate-targets-and-moral-corruption/
Golob, U., Podnar, K., & Zabkar, V. (2023). Sustainability communication. International Journal of Advertising, 42(1), 42–51. https://doi.org/10.1080/02650487.2022.2144035
Hettler, F. M., Schumacher, J.-P., Hammer, J., & Teuteberg, F. (2025). Understanding digital nudging for overcoming inertia related to sustainable investment decisions: An experimental study. Journal of the Knowledge Economy. https://doi.org/10.1007/s13132-025-02797-4
Neves, G. (2023). Timor-Leste: Breaking free from temptation of easy money. Lowyinstitute.org. https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/timor-leste-breaking-free-temptation-easy-money
Newig, J., Schulz, D., Fischer, D., Hetze, K., Laws, N., Lüdecke, G., & Rieckmann, M. (2013). Communication regarding sustainability: Conceptual perspectives and exploration of societal subsystems. Sustainability, 5(7), 2976–2990. https://doi.org/10.3390/su5072976
Pourlioti, V. (2025). Building Timor-Leste’s Future: How the Tasi Mane Project Is Changing the Game. The Energy Circle. https://www.energycircle.org/articles/building-timor-lestes-future-how-the-tasi-mane-project-is-changing-the-game
Ruehle, R. C. (2023). The moral permissibility of digital nudging in the workplace: Reconciling justification and legitimation. Business Ethics Quarterly, 33(3), 502–531. https://doi.org/10.1017/beq.2023.4
Viale, R. (2022). Nudging. MIT Press.

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *