Categories
Uncategorized

Ketika kerja magang bukan lulus ala kadarnya & kadar lulusnya bukan ala-ala (01)

Sebuah refleksi dari dalam ruang sidang sebagai penguji laporan magang mahasiswa Ilmu Komunikasi, program Social Impact Initiatives (SII)

Saya jarang menemukan tulisan reflektif tentang pendidikan tinggi yang benar-benar lahir dari rahim ruang sidang, baik sidang skripsi maupun sidang magang, di perguruan tinggi. Yang sering kita baca adalah refleksi setelah semuanya selesai: tips menulis skripsi, cara lolos sidang, atau cara mahasiswa meyakinkan penguji bahwa laporannya bagus dan layak mendapatkan A, atau bahkan, pengalaman deg-degan mahasiswa menunggu dipanggil masuk kembali ke ruang sidang dan mendengarkan putusan lulus/tidak lulus dari ketua sidang. Hampir tidak pernah ada refleksi bernas tentang bagaimana penilaian bekerja, apa yang dipertaruhkan dalam evaluasi, dan bagaimana penguji menimbang antara keadilan prosedural, standar penilaian, usaha menulis, dan tanggung jawab akademik.

Tulisan ini lahir dari sebuah ruang sidang magang yang berlangsung hari Kamis, 8 Januari 2026, bertolak dari kasus konkret laporan magang program Social Impact Initiatives (SII) seorang mahasiswa di sebuah NGO lingkungan yang ada di Bogor. Saya terlibat langsung sebagai penguji. Yang saya tawarkan di sini bukan membuka “rahasia sidang”, melainkan membaca ulang proses evaluasi sebagai praktik pedagogis.

Magang pun ada rezim epistemiknya
Salah satu kesalahpahaman paling umum di kalangan mahasiswa jenjang S1 adalah anggapan bahwa laporan magang lebih ringan dibanding skripsi. Anggapan ini mungkin masih berlaku untuk magang industri yang berorientasi pada adaptasi kerja dan keterampilan teknis. Namun, dalam skema Social Impact Initiatives (SII), yang menjadi program unggulan dari Prodi Strategic Communication, FIKOM Universitas Multimedia Nusantara, logika dan dinamikanya lumayan berbeda.

Sejak awal sidang, saya menegaskan bahwa laporan magang SII tidak bisa dinilai dengan kacamata magang industri. Bukan karena lebih “sulit”, tetapi karena rezim epistemiknya berbeda. Dalam pelaksanaan SII, mahasiswa tidak hanya bekerja; mereka mewakili nilai, dampak sosial, dan cara organisasi memaknai komunikasinya kepada publik.

Apresiasi yang tidak permisif
Sebagai penguji dalam ruang sidang laporan magang, saya justru membuka sesi catatan dan masukan dengan tone apresiatif. Laporan yang diajukan rapi, pekerjaannya nyata, artefak komunikasinya jelas. Bahkan saya mengatakan bahwa laporan ini berpotensi menjadi rujukan bagi adik tingkat. Namun justru di sinilah logika evaluasi bekerja terbalik.

“Karena ini cukup baik, maka ia tidak boleh dibiarkan berhenti di standar minimal.” (Hendar selaku dosen penguji)

Apresiasi tidak berfungsi untuk melonggarkan standar, melainkan menaikkan ekspektasi. Inilah dictum yang acapkali dikelirupahami mahasiswa. Mereka mengira pujian adalah tanda aman, alias lulus dengan nilai A. Dalam praktik pengujian, pujian sering kali adalah alarm untuk bertolak ke jantung refleksi yang lebih dalam. Duc in altum.

Ketelitian teknis sebagai etika akademik
Sebagian masukan saya mungkin terdengar “receh”: spasi tidak konsisten, gambar tidak terlihat jelas, istilah yang dikutip tidak presisi, sumber hanya ditulis “Pinterest” (mirip: google.com). Tetapi semua itu saya tekankan bukan sebagai kosmetik untuk keperluan revisi. Ketika laporan magang SII berpotensi besar dijadikan rujukan oleh adik tingkat di angkatan berikutnya, maka ketelitian teknis berubah menjadi tanggung jawab etis. Kesalahan kecil tidak lagi bersifat personal; ia menjadi preseden akademik.

Dalam ruang sidang, saya sempat mengatakan, “Kalau kekurangtepatan dan typos ini dibaca mahasiswa lain, kesalahan ini akan direproduksi. Di situ masalahnya.”

Konsep utama (sayangnya) tidak pernah self-evident
Istilah experiential learning muncul berulang kali dalam laporan. Namun istilah ini tidak pernah benar-benar didefinisikan atau dioperasionalisasikan. Bagi mahasiswa, istilah itu terasa “sudah jelas”. Bagi penguji, justru sebaliknya. Konsep tidak pernah self-evident. Ia harus dijelaskan, diposisikan, dan diturunkan ke praktik. Tanpa itu, konsep hanya menjadi label legitimasi, bukan pisau analisis atau alat refleksi. Menyebutkan konsep belum tentu memakainya secara proper. Kesadaran semacam ini jarang muncul dari kelas, tetapi sering mencuat dan tercetus dalam ruang sidang.

Refleksi yang tidak gugur pada “Saya begini, Saya begitu”
Bagian “kendala dan solusi” dalam laporan magang (bab IV) dibuat secara template agar nyambung. Namun, sayang bahwa refleksinya berhenti pada scope individual: saya mengatur waktu, saya lebih proaktif, saya beradaptasi. Dalam magang SII, refleksi seharusnya melangkah lebih jauh: apa implikasi kendala itu terhadap kualitas pesan komunikasi sosial? Apa risikonya jika komunikasi dampak disederhanakan karena waktu sempit? Apa pelajaran struktural yang dapat ditarik? Refleksi bukan sekadar menceritakan ulang pengalaman secara mendetail, melainkan upaya membaca ulang pengalaman itu di bawah kaidah nilai-nilai akademis (academic values) serta tuntutan tanggung jawab sosial dan akademik.

Magang SII bukan “memindahkan” locus magang industri
Saya menegaskan di ruang sidang bahwa magang SII bukan versi NGO dari magang industri. Ia membawa asumsi berbeda: tentang nilai, tentang audiens, tentang dampak. Jika laporan hanya berbicara efisiensi kerja dan penyelesaian tugas, maka mahasiswa saya nilai gagal menangkap etos SII. Di sinilah banyak mahasiswa kaget: standar yang mereka bawa, yaitu duplikasi dari membaca dan mengadopsi laporan magang industri yang sudah disidang dan dinyatakan lulus, ternyata tidak cukup.

Keunggulan yang berbuah ekspektasi “lebih” (excellentia)
Model laporan magang seperti ini sebenarnya unggul. Mahasiswa bekerja langsung dengan isu sosial nyata, multi-aktor, dan konteks yang kompleks. Tetapi setiap keunggulan membawa konsekuensi. “Privilege akademik lulus dalam 7 semester, alih-alih ‘normal’ 8 semester, selalu datang satu paket bersama beban standar yang lebih tinggi.” (Hendar selaku dosen penguji). Ini mungkin rumusan kalimat paling tidak populer di ruang sidang magang dan TA dari program SII. Tetapi ia perlu diucapkan. Bukan sebagai mantra untuk menakut-nakuti, tapi sebagai acuan epistemik yang wajar dan dapat diaudit.

Ruang sidang sebagai ruang belajar mengorganisasi diri secara profesional
Yang sering dilupakan: sidang bukan hanya alat seleksi, tetapi ruang belajar terakhir. Dalam kasus ini, presentasi mahasiswa justru melengkapi kekurangan laporan tertulis. Di situlah saya memutuskan bahwa nilai tidak boleh hanya membaca dokumen, tetapi juga mempertimbangkan artikulasi reflektif yang muncul secara lisan. Ada mahasiswa yang pernah saya dengar berkomentar demikian di luar ruang sidang, “Wah, ternyata sidang itu bukan buat dijatuhin, tapi buat diuji cara berpikirnya.” Saya menduga refleksi seperti inilah yang jarang ditulis di ruang publik.

Padahal, justru dari dalam ruang sidang, kita dapat mulai mendiskusikan pendidikan tinggi secara lebih jujur: tentang standar, tentang ketegangan, dan tentang tanggung jawab kita, sebagai dosen, penguji, dan pembimbing, dalam menjaga makna akademik agar tidak runtuh menjadi sekadar penjaga gerbang administrasi kelulusan.

Merujuk pada istilah yang dicetuskan pedagog Gert Biesta (2020), https://www.gertbiesta.com/, pendidikan yang berkualitas tidak berhenti pada qualification atau socialization, melainkan membuka ruang bagi subjectification, yakni momen ketika seseorang dihadapkan pada kebebasannya untuk bertindak atau tidak bertindak di dunia. Subjectification bukanlah pengajaran moral satu arah atau penanaman tanggung jawab lewat kotbah moral didaktik, tetapi terjadi ketika subjek mengalami perjumpaan dengan tanggung jawab dan secara bebas menentukan bagaimana ia meresponsnya. Dalam pengalaman saya, ruang sidang acap menjadi momen subjectification.

ruang sidang subjectification

image source: https://chatgpt.com/s/m_6965069e20208191a54f5273cae3166b

(to be continued)

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *