Categories
Uncategorized

Ngeri-ngeri Sedap: Gatekeeping Pasca Sidang Magang, TA, dan Skripsi (S1)

Refleksi Dr. Hendar Putranto atas pelaksanaan epistemic gatekeeping pasca sidang Magang, TA dan Skripsi periode Semester Gasal 2025-2026 (circa 10-20 Januari 2026)

Ada satu fase dalam pendidikan tinggi yang sering terasa sunyi tapi menentukan: masa pasca sidang. Secara administratif, sidang telah selesai. Nilai sudah di ambang penetapan, lulus atau tidak lulus, gradasi nilai C sampai A. Namun, secara akademik, justru dalam fase inilah kerja dosen pembimbing dan penguji mencapai bentuknya yang paling demanding: gatekeeping. Bukan gatekeeping dalam arti menahan atau menggagalkan, melainkan menjaga agar hasil produksi pengetahuan mahasiswa yang akhirnya dilepas ke ruang akademik benar-benar layak disebut pengetahuan ilmiah.

Tidak sedikit mahasiswa level S1 yang mengira bahwa (dan senyatanya melakukan) revisi pasca sidang hanyalah ritual formal: administratif, teknis, prosedural. Padahal, praktik yang saya jalankan sebagai pembimbing dan penguji justru memposisikan fase ini sebagai epistemic checkpoint. Pada fase inilah diuji apakah mahasiswa sungguh memahami apa yang ditulisnya dan bukan sekadar berhasil melewati fase sidang presentasi lisan. Revisi memang bukan hukuman, melainkan mekanisme klarifikasi: antara klaim dan bukti, antara niat dan bentuk, antara isi dan etika penyajiannya.

Dalam praktik bimbingan pasca sidang magang, tugas akhir, maupun skripsi, saya sengaja memberi umpan balik yang sangat detail, bahkan pada aspek yang sering dianggap remeh, misalnya, kronologi tahun (semester gasal, dibanding semester genap, menandai adanya pergantian tahun dari submit berkas ke jalannya sidang; hal ini cukup sering memunculkan masalah incoherent chronology), kontributor dalam pengerjaan (pada Kata Pengantar), konsistensi istilah, tata kelola referensi, hingga presisi DOI dan/atau URL sesuai format acuan APA 7. Bagi sidang pembaca ekternal, tingkat presisi revisi pasca sidang seperti ini bisa jadi tampak “ngeri”. Tetapi justru di situlah letak nilai pedagogisnya: Ngeri-ngeri sedap.

Detail masukan bukanlah bedak pupur atau band-aid penutup jerawat. Saran masukan yang mendetail dari dosen pembimbing/penguji merupakan bukti kompetensi teknis yang berakar pada tanggungjawab moral dan etis. Cara pengetahuan direpresentasikan dalam saran dan masukan tersebut dapat dipandang sebagai hal-ihwal akademis yang sah, dapat diverifikasi, dan akuntabel.

Yang penting ditegaskan di sini adalah bahwa ketelitian pasca sidang bukan standar yang muncul tiba-tiba seperti jumpscare dalam film horor Insidious. Ketelitian masukan tertulis merupakan kelanjutan langsung dari masukan lisan dalam ruang sidang. Pertanyaan-pertanyaan tentang kejelasan konsep, operasionalisasi istilah, konsistensi argumen, koherensi bab 1 dengan bab 4 atau 5, dan legitimasi adanya refleksi personal sudah didorong dan ditegakkan tim penguji sejak dialog tatap muka dalam ruang sidang.

Koreksi tertulis melalui korespondensi email bukan upaya post-factum untuk “menaikkan standar”, juga bukan sejenis post hoc, ergo propter hoc fallacy yang implisit, alias mencari-cari kesalahan, (maka) jangan diluluskan, melainkan tuntutan konsistensi wajar atas standar epistemik yang sejak awal sudah dinyatakan secara eksplisit. Kesinambungan saran masukan lisan–tertulis dari tim penguji bukan bermaksud memindah-mindahkan tiang gawang bagi mahasiswa yang sedang berusaha mencetak gol (lulus), melainkan upaya memfokuskan bidikan bola agar masuk dalam gawang yang telah ditunjukkan sejak awal proses evaluasi (sesi bimbingan).

Gatekeeping yang buruk bersifat kabur dan manasuka (arbitrary). Mahasiswa justru tidak tahu apa yang salah, hanya tahu bahwa ada yang “kurang pas, kurang cocok, dan kurang rapi.” Gatekeeping yang saya upayakan justru sebaliknya: spesifik, dapat dilacak, dapat dipelajari ulang dan bahkan dapat direplikasi untuk antisipasi sidang berikutnya (sidang magang yang kemudian berlanjut jadi sidang skripsi; atau sidang magang track 01 yang pada semester berikutnya dapat mewujud menjadi sidang magang track 02). Jika sebuah rujukan pada DaPus naskah akademik saya dapati keliru (misalnya, urutan authors tidak sesuai abjad A to Z, atau DOI artikel jurnal tidak disediakan, padahal diambil dari jurnal internasional bereputasi, atau judul artikel yang di-italic sementara nama jurnal tidak), saya tunjukkan di mana salahnya dan mengapa ia salah. Sebagian mahasiswa menuding Mendeley-lah pelakunya, yang membuat mereka salah dalam penyusunan DaPus, padahal ia hanya digital writing assistant tool, sebagaimana barisan GenAI bernama ChatGPT, Gemini, Grok, atau DeepSeek, yang tidak memiliki kapasitas agentik berkesadaran etis.

Selain itu, jika sebuah klaim terlalu longgar (overclaim), saya meminta mahasiswa untuk memperketatnya bukan karena selera, tetapi karena logika argumennya belum koheren. Dengan demikian, koreksi pasca sidang juga tidak (selalu) berhenti pada rumus “perbaiki”, tetapi lebih berupa “pahami mengapa ini perlu diperbaiki” (biar ke depannya kamu tidak salah lagi).

Pada simpul analisis ini, penting juga ditegaskan bahwa gatekeeping bukan soal mempertahankan relasi kuasa dosen atas mahasiswa yang asimetris. Ini persoalan menjaga makna kelulusan dan kualitas lulusan. Kelulusan yang diperoleh tanpa standar justru ‘mengosongkan maknanya sendiri.’ Saya jadi teringat pada baris terakhir novel Il nome della rosa, Stat rosa pristina nomine, nomina nuda tenemus, yang ditulis filsuf Umberto Eco (1983/1984). Sebaliknya, kelulusan yang melewati proses koreksi yang ketat memberi gambaran pada mahasiswa sekaligus menggarisbawahi pengalaman hidup kepenulisan ilmiah (authorship): bahwa menjadi seorang akademisi bukan sekadar memproduksi hasil akhir berupa naskah (skripsi, magang, TA), melainkan masuk dalam regime pendisiplinan berpikir dan menulis.

Menariknya, mahasiswa sering kali baru menyadari nilai keutamaan yang melekat dalam proses ini beberapa waktu setelah semuanya selesai, when all is said and done. Pada awalnya, saran yang mendetail terasa melelahkan untuk dikerjakan. Namun perlahan, mereka memahami bahwa yang mereka pelajari bukan hanya tentang topik penelitian dan elaborasi akademis atasnya, melainkan tentang cara berada sebagai subjek akademik: bertanggung jawab atas kata-kata sendiri, atas sumber yang dikutip, dan atas klaim yang dibuat. Ringkasnya, own your research and your writing! Di sinilah gatekeeping berubah dari pengalaman yang “menegangkan” menjadi pengalaman yang memampukan (enabling capacity experience).

Pada akhirnya, yang saya jaga bukan sekadar format atau standar teknis, melainkan relasi antara pengetahuan dan subjeknya. Pengetahuan akademik tidak boleh menjadi sesuatu yang terlepas dari pemiliknya, seolah ia berdiri sendiri sebagai artefak netral, bahkan ahistoris. Produksi pengetahuan selalu melekat pada subjek yang berpikir, memilih, mengutip, dan menyusun argumen. Dalam perspektif fenomenologis, khususnya fenomenologi praktik dari van Manen (2009, 2014, 2023), hal ini lebih menunjuk pada arti bahwa setiap teks akademik adalah jejak kesadaran: ia membawa intensionalitas, tanggung jawab, dan (dis-)posisi penulis di dunia. Umwelt tidak dapat dilepaskan dari Lebenswelt.

Gatekeeping pasca sidang, sejauh saya memahaminya, adalah upaya memastikan agar jejak itu jujur, terbaca, dan layak dipertanggungjawabkan. Karenanya, saran masukan dosen pasca sidang terasa “ngeri-ngeri sedap,” disruptive sekaligus constructive. Afirmatif tapi juga negatif (dalam terma dialektika). Jika pendidikan tinggi masih berkehendak untuk setia pada misinya (faithful to the cause), rasa tidak nyaman yang produktif ini justru harus dipelihara, bukan malah jadi materi gosip receh, dosennya galak, gak pengen ngelulusin kita yang lalu viral dan jadi bola liar. Tanpa gatekeeping yang berkelas, kita bukan sedang membimbing mahasiswa menjadi subjek pengetahuan, melainkan sekadar meloloskan berkas.

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *