Categories
Uncategorized

Pedagogical Tact dan Latihan Mengasah Collective Responsibility dalam Tugas Kelompok

Dalam praktik pengajaran, salah satu problem laten terkait penugasan kerja kelompok adalah ilusi tanggung jawab bersama yang pada kenyataannya sering terdistribusi secara timpang. Ketua kelompok menjadi titik tumpu, sementara anggota lain cenderung mengambil posisi pasif. Di sinilah pedagogical tact diuji: bagaimana merancang instruksi yang bukan hanya jelas secara teknis dan administratif (Friesen & Senkbeil, 2025), tetapi juga mendorong pembentukan habitus etis mahasiswa. Dengan kata lain, kecakapan pedagogis tidak boleh direduksi menjadi “teknik, program, atau learning outcomes, tetapi menyangkut dimensi relasional dan etis dalam praktik Pendidikan” (van Manen, 2016, h. 12-13).

Pengalaman saya dalam mengelola tugas presentasi dan makalah kelompok pada mata kuliah Etika Komunikasi semester ini (Genap 2025-2026) menunjukkan bahwa instruksi yang “cukup jelas” tidak pernah benar-benar cukup. Yang dibutuhkan adalah sistem instruksi yang misinterpretation-resistant: presisi dalam deadline, eksplisit dalam mekanisme, dan tegas dalam distribusi tanggung jawab.

Saya menggunakan peer-review form sebagai instrumen bukan sekadar evaluasi, tetapi sebagai medium pembelajaran etika komunikasi. Mahasiswa diminta menilai kontribusi riil dan partisipasi diskusi setiap anggota, termasuk diri mereka sendiri. Namun, kunci utamanya bukan pada form itu sendiri, melainkan pada bagaimana instruksi dikomunikasikan.

Pertama, saya memastikan adanya closed instruction loop: instruksi detail tersedia di LMS sebagai referensi normatif, sementara email berfungsi sebagai pemicu operasional yang mengaktifkan tindakan. Ini menghilangkan celah klasik respon “tidak tahu” atau “tidak jelas”.

Kedua, saya secara eksplisit mendistribusikan tanggung jawab. Ketua kelompok memang bertugas mengisi dan mengirimkan form, tetapi seluruh anggota diwajibkan memastikan proses itu berjalan. Klausul ini sederhana, namun secara konseptual penting: ia menggeser logika dari individual accountability menuju collective responsibility. Dalam konteks etika komunikasi, ini bukan sekadar latihan teknis-instrumental, melainkan praktik akademik yang bermuatan moral praktis.

Ketiga, saya mengunci ambiguitas temporal. Deadline tidak saya tulis sebagai “minggu depan” atau “maksimal sekian hari”, tetapi dalam format yang terukur dan pasti: tanggal, jam, dan bahkan ditegaskan sebagai fixed deadline. Pengalaman saya mengajar mata kuliah ini sejak tahun 2016 menunjukkan bahwa hal-ihwal tidak presisinya tenggat waktu pengumpulan menjadi sebuah noda ‘gagal patuh’ yang berujung pada tindakan saling lempar tanggung jawab.

Keempat, saya menetapkan kontrol administratif yang sering dianggap sepele: satu file, satu pengirim, dan format subjek email yang baku. Tanpa ini, evaluasi bisa terganggu oleh kekacauan teknis, bukan substansi.

Akhirnya, saya menambahkan konsekuensi secara eksplisit. Bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari transparansi sistem evaluasi. Dalam relasi konkret dengan mahasiswa (Friesen & Senkbeil, 2025), mereka perlu memahami bahwa tanggung jawab kolektif juga memiliki implikasi kecakapan pedagogis (pedagogical tact) yang mengikat.

Yang menarik, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan kepatuhan secara administratif, tetapi membuka ruang refleksi etis. Ketika mahasiswa harus menilai rekan mereka secara jujur—dan pada saat yang sama bertanggung jawab atas proses kolektif—mereka mulai berhadapan dengan dilema nyata: antara menjaga relasi dan menjaga integritas.

Pada simpul ini, pengajaran etika komunikasi tidak lagi berhenti pada penyampaian teori secara didaktik, tetapi bertransformasi menjadi lived practices. Bagi saya, di sinilah esensi pedagogical tact: tugas dosen pengampu Etika Komunikasi bukan sekadar menjelaskan apa itu etika, tetapi merancang modalitas etis yang memungkinkan prinsip etika komunikasi akademik berbasis tanggung jawab kolektif tidak hanya dipahami, tetapi dihayati, dipraktikkan, dan dievaluasi melalui mekanisme peer-review (van Manen, 2016).

References
Friesen, N., & Senkbeil, T. (Eds.). (2025). Pedagogical tact: Reconnecting theory and practice in education. Peter Lang.
van Manen, M. (2016). Pedagogical Tact: Knowing What to Do When You Don’t Know What to Do. Left Coast Press.

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *