Categories
Uncategorized

Kerja belum enak, gaji belum full, tapi magangmu sudah setengah jalan

Banyak mahasiswa merasa minggu pertama magang adalah fase paling membingungkan. Padahal justru di situlah setengah pekerjaan sudah dimulai. Mereka masih mencari ritme kerja, berupaya memahami ekspektasi atasan, dan sering kali mengerjakan aneka tugas yang belum sepenuhnya mereka pahami maksud tujuannya serta bagaimana nyambunginnya dengan disiplin keilmuan (major) yang mereka ambil. Masalahnya, sebagian besar mahasiswa mengira fase ini adalah tanda bahwa mereka belum siap, padahal justru di situlah proses menjadi profesional dimulai.

Dalam kerangka reflektif, pengalaman ini sebenarnya telah lama dirumuskan dalam adagium klasik dari Horatius (Quintus Horatius Flaccus), penyair Romawi abad pertama sebelum Masehi, yang tercantum dalam karyanya, Epistulae. Bunyinya: dimidium facti qui coepit habet. Artinya, mereka yang telah memulai, telah menyelesaikan separuh pekerjaannya. Dalam konteks refleksi DosPem atas magang wajib track 01 yang ditempuh mahasiswa Semester 6 Prodi Ilmu Komunikasi UMN, adagium dari Horatius bukan sekadar ornamen sok kutipan klasik, tetapi memiliki relevansi pedagogis yang konkret dan membesarkan hati.

Mahasiswa yang telah melewati dua minggu pertama magang, dan mengikuti dua sesi bimbingan awal, sesungguhnya telah melampaui fase paling krusial, yaitu fase orientasi. Mereka mulai memahami ritme kerja, ekspektasi organisasi, serta posisi mereka dalam struktur profesional. Dengan kata lain, mereka tidak lagi sekadar “menjalani magang”, tetapi mulai mengalami kerja sebagai praksis.

Dalam sesi bimbingan magang kedua (13 Maret 2026), saya sendiri menggarisbawahi sebuah pendekatan yang tidak sepenuhnya konvensional: “Saya belajar sesuatu yang menarik (dari senior saya, pak Calvin Eko) … penyusunan laporan magang (justru) dimulai dari bab 3 terlebih dulu.” Pendekatan ini berangkat dari realitas empiris yang sering dihadapi mahasiswa, “Acap kali mahasiswa diberikan tugas lain-lain… yang tidak memuat keilmuan komunikasi sama sekali.” Artinya, pengalaman kerja mendahului refleksi konseptual. Laporan magang bab 3, yang bersumber dari logbook berisikan aktivitas kerja, menjadi fondasi awal sebelum mahasiswa menyusun Bab 1 yang lebih abstrak dan reflektif.

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, gagasan ini dapat dikaitkan dengan pemikiran Chris Guillebeau, seorang penulis dan entrepreneur asal Amerika yang dikenal melalui bukunya Born for This (2016). Ia mengemukakan bahwa pekerjaan ideal berada pada pertemuan antara joy (kesenangan), money (penghasilan), dan flow (keterlibatan mendalam dalam aktivitas kerja). Namun dalam konteks magang, ketiga unsur ini jarang hadir secara bersamaan. Mahasiswa sering kali bekerja tanpa kompensasi optimal, mengalami fluktuasi motivasi, dan baru mulai mengenali ritme kerja yang memungkinkan flow terjadi.

Di sinilah perspektif yang lebih konseptual menjadi penting. Amy Wrzesniewski, profesor di Yale School of Management yang dikenal dalam kajian meaning of work, menunjukkan bahwa makna kerja tidak inheren dalam jenis pekerjaan, tetapi dibentuk melalui cara individu memaknai aktivitas tersebut. Melalui kerangka job, career, dan calling orientation, Prof. Wrzesniewski menegaskan bahwa bahkan pekerjaan yang sederhana sekalipun dapat menjadi bermakna jika dipahami dalam kerangka kontribusi dan relasi yang lebih luas.

Pucuk dicinta, eh ulam gak kunjung tiba. Ada satu dimensi yang acapkali diabaikan mahasiswa dalam menempuh proses bimbingan magang yang dikelola DosPem, yaitu etika profesional dalam komunikasi. Dalam sesi bimbingan yang sama, saya menegaskan: “Tidak membalas email undangan mengikuti sesi bimbingan magang … itu bagian dari evaluasi professional business ethics.”

Pernyataan saya menempatkan komunikasi bukan sebagai aspek administratif, tetapi sebagai bagian dari kompetensi profesional yang akan terus dibawa mahasiswa ke dunia kerja.

Dengan demikian, “separuh selesai” dalam adagium Horatius bukanlah klaim kuantitatif, melainkan indikator bahwa mahasiswa telah melewati ambang batas penting: dari kebingungan menuju orientasi, dari aktivitas menuju refleksi. Sisa perjalanan magang bukan lagi sekadar menjalani tugas, tetapi memperdalam pemahaman, menyusun makna, dan mengartikulasikan pengalaman menjadi pengetahuan praktis dalam format laporan magang.

Pada akhirnya, magang bukan pertama-tama soal menemukan pekerjaan ideal dan bertekun di dalamnya sampai menjadi tenaga profesional di akhir periode magang, #eh kalian masih mahasiswa lho, tetapi tentang upaya mengenali bagaimana makna kerja dan studi sambil bekerja mulai terbentuk di tengah keterbatasan, rutinitas, dan dinamika kerja yang kompleks dan mungkin juga volatile.

References
Guillebeau, C. (2016). Born for this: How to find the work you were meant to do. Crown Currency.
Horace. (2002). Epistles (D. Ferry, Trans.). Farrar, Straus and Giroux. (Original work published ca. 20 BCE)
Wrzesniewski, A. (2003). Finding positive meaning in work. In K. S. Cameron, J. E. Dutton, & R. E. Quinn (Eds.), Positive organizational scholarship: Foundations of a new discipline (pp. 296–308). Berrett-Koehler.
Wrzesniewski, A., McCauley, C., Rozin, P., & Schwartz, B. (1997). Jobs, careers, and callings: People’s relations to their work. Journal of Research in Personality, 31(1), 21–33. https://doi.org/10.1006/jrpe.1997.2162

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *