Categories
Uncategorized

Towards Rearticulating the Principles of Digital Comm Ethics based on Information Ethics

Topik di atas disampaikan oleh Hendar Putranto [Ph. D. (Cand.) dalam Program Doktoral Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia]
dalam ajang Directions & Destinations Research Symposium 2022 yang diselenggarakan oleh
School of Media, Creative Arts and Social Inquiry, Curtin University, Perth, Australia
pada hari Jumat, 9 September 2022, pukul 09.00 – 16.00 AWST

Berikut flyer untuk Call for Paper (CfP) nya yg tersirkulasi sejak akhir Juli (kalo ndak salah inget)

Mbak Dr. Indah S. Pratidina (saya memanggilnya mbak Dina), Sekprodi Pasca Komunikasi UI, yang menggawangi project ini sekaligus menghubungkan kami dengan pihak Curtin University, mengusulkan title berikut untuk sesi panelis 1: Digital Communication in Indonesia: Revisiting Ethics and Practices

Saya tentu saja menyetujui dan senang dengan usulan di atas (karena ada Etika-nya 🙂

Berikut abstrak yang saya ajukan untuk membahas topik di atas:
The current digital disruption changes the patterns of communication interaction across generations and consequently creates some moral problems and ethical tensions. In these contexts, there is a growing need to re-articulate current ethical principles—seemingly rooted in “dominant Western approaches to communication study and practice,” which prioritize some values and marginalize others—by formulating Digital Communication Ethics (DCE) based on Information Ethics. Here, the author will critically examine them in the context of Indonesia’s rich cultural diversity. The novelty of the DCE is to reaffirm the legacy of culturally sensitive moral patients and to deepen the ethical agent’s moral responsivity amidst challenges.

Keywords: digital disruption; moral problems and ethical tensions; Digital Communication Ethics; Information Ethics; culturally sensitive moral patients

Berikut snapshot momen ketika saya dan rekan2 panelis dari UI (mbak Kicky dosen Ilmu Komunikasi UI, S3 Angk. 2016, dan Andari Karina Anom, dosen Binus, S3 Angk. 2021) melakukan presentasi secara daring menggunakan apps Webex. Urutan majunya, mbak Kicky dulu, saya baru Karin. Karin berbaik hati karena menggabungkan jadi satu file keseluruhan salindia pemaparan yang sudah kami siapkan masing2 dan juga berperan selaku juru screenshare (makasih banyak ya utk totalitas bantuannya, Karin!). Berkat bantuannya tersebut, kami jadi tidak tergopoh2 utk switch sharescreen dari laptop masing2 (which will certainly take time in-between).

MCASI 2022, (c) Curtin University

Kesan setelah mengikuti kegiatan ini adalah:
1) Senang dan bangga karena boleh “mewakili” Universitas Indonesia, khususnya Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi untuk berdialog keilmuan dan tukar pikiran terkait state of the art keilmuan Komunikasi dan Riset Media dengan kolega2 di SMCASI, Curtin University
2) Agak gundah dengan kualitas koneksi internet (mungkin juga kualitas presentasi daring menggunakan Webex, padahal kami terbiasanya menggunakan Zoom dan GMeet selama PJJ dua-tiga tahun kemarin di Indonesia.. hehe) yang tidak dapat dikatakan optimal sehingga masukan dan tanggapan dari floor (termasuk dari Dr. Thor Kerr yang menjadi chair panel sesi kami untuk presentasiku) tidak terlalu jelas terdengar.
3) Rasanya waktu yang disediakan selama 50 menit saja tidak terlalu leluasa bagi kami untuk menyampaikan pemaparan, mengeksplorasi gagasan apalagi sampai ke perdebatan teoritis yang berujung pada kontribusi kebaruan utk keilmuan/riset disertasi kami.

Yah, mudah2an tahun depan kami masih bisa berkontribusi dalam ajang ini secara LANGSUNG alias tatap muka, pergi ke Perth! (sekalian halan-halan tentunya 😀 )

cheers, mate!

Hendar

Categories
Uncategorized

Disertasi sebagai Jalan Sunyi sarat Agoni

PhDs: the tortuous truth (Woolston, 2019)
Nature’s survey of more than 6,000 graduate students reveals the turbulent nature of doctoral research.
Retrieved from: https://media.nature.com/original/magazine-assets/d41586-019-03459-7/d41586-019-03459-7.pdf
Nature, Vol 575, 14 November 2019, pp. 403-406

Semangat ya para pejuang disertasi!
Jangan ragu dan gentar memasuki pematang sunyi perenungan teori, metodologi dan akhirnya, jati diri, yang tidak jarang kualami, dia, mereka juga mengalami, sarat agoni.
Semoga logos ethos dan pathos kita terus terasah dalam menempuh perjalanan sunyi di pematang agoni ini.
I pray for you, brethren.

Hendar

Categories
Uncategorized

Amok Ignorance (a poem)

Who says that “Ignorance is bliss”?
In another context, ignorance is a curse and we must fight on two frontiers: “being ignorant” and the impact of ignorance on daily social lives.

To aggravate further the latter, the “ignorantes” wreak havoc on their surroundings using brute force and necessary tools while claiming to profess their stubbornness in upholding their so-called “faith.”

Categories
Uncategorized

On Machine Translation (MT)

Definisi standar (dari lingohub.com):
“Machine Translation is computer generated translation, based on specific algorithm sets. Usually fast and simple to use, MT engines represent a quick and easy, although not always the best solution for translation.”

Acuan yang dipakai MT biasanya ada tiga atau empat: rule based, atau statistikal, atau neural; bisa juga hybrid (campuran) dari satu atau beberapa sistem ini.

MT yang mungkin paling dikenal dan digunakan luas oleh khalayak pengguna adalah Google Translate.

Nah, sekarang mari kita lihat hasil MT ini dalam beberapa contoh pengerjaan terjemahan yang pernah saya gunakan (dan sudah saya cek akurasi hasilnya).

Jadi, ada tiga kekurangan mencolok yg saya perhatikan dari observasi dan eksperimen terbatas menguji efikasi MT ini:
1) MT tidak bekerja optimal ketika ada suara (sources) yang bertumpuk, atau multiple voices case
2) MT juga tidak bekerja secara optimal ketika dia tidak memiliki reliable source database, biasanya dari source origin yang tidak terlalu dikenal luas, misalnya bahasa daerah tertentu
3) MT juga tidak dapat bekerja secara optimal ketika pengguna melakukan code switching atau gonta-ganti bahasa rujukan dalam satu kalimat tutur (misalnya bahasa Jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris)

Adakah teman2 sekalian yang mengalami hal serupa di atas?

Categories
Uncategorized

Menyoal Biaya Pendidikan Anak yang Semakin Tinggi: Fair-kah jika hanya dilihat secara _ekonomis_

Berikut kutipan screenshot dari status WA saya di akhir Juli 2022 yang lalu sebagai tanggapan kritis singkat untuk JURNALISME Data Kompas yang mengangkat topik “Biaya Pendidikan untuk anak yang semakin tinggi dan memberatkan ortu”

Dari percakapan saya dengan seorang pengamat dan pakar pendidikan (kurikulum) sekaligus seorang dosen pengampu Matkul Critical and Creative Thinking pada sebuah universitas swasta terkemuka di bilangan LLDIKTI 3, saya mendapati bahwa data yang disajikan oleh KOMPAS kurang mengakomodasi baik perspektif maupun data tandingan yang dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Contoh:
“yang return-nya cepat itu (alih-alih Ilmu Pendidikan) kedokteran dah hukum malahan”
“karena kita tahu dokter dan pengacara dapat pasang tarif praktik atau imbal jasa yang tinggi dibanding guru SD/SMP/SMA yang ada di kisaran 3-7 juta saja per bulannya di Jabodetabek” >> (ternyata gaji guru yang ada di kisaran ini guru PNS)
“jadi pembandingnya beda. Kalau honorer ya jauh”
“data guru honorer bahkan jauh lebih besar daripada guru tetap PNS atau sekolah swasta yg bonafide ya mas? artinya, guru yang dibayar di bawah 3 juta per bulan jauh lebih banyak? >> jutaan mas. ada lebih dari satu juta guru yang seperti ini (honorer)”
“riset di Belanda bahkan menunjukkan secara umum return of investment pendidikan itu 20 tahunan”
“selama kebijakan guru seperti ini yang masuk jadi calon guru sudah dipastikan nganggur mas”
“karena supply dan demand-nya jauh”
“Setiap tahun yang pensiun pns plus tambahan sekolah baru dan perlu guru baru ada 80 ribuan. yang wisuda prodi keguruan 250 ribuan setiap tahun.
Jadi, pasti nganggurlah atau bekerja yang di luar jalur (bukan sebagai guru di sekolah)”

Categories
Uncategorized

Dekonstruksi Imortalitas dalam kerangka Kritik terhadap Modernitas dan Pascamodernitas: Telaah Zygmunt Bauman

Tulisan ini sudah dimuat dalam jurnal filsafat Dekonstruksi, Vol. 7(1), halaman 53-92 (Juli – September 2022).

Abstract:
The fear of death and the longing for immortality have long been discussed in religion and philosophy.

Unfortunately, there are still very few cross-disciplinary and multi-perspective social sciences that examine both mortality and immortality in a single book (monograph).

Reflecting the views of Zygmunt Bauman in Mortality, Immortality, and Other Life Strategies (1992), the author offers a reconstruction of
Bauman’s thinking about the concept of modernity in relation to the issue of mortality and the concept of postmodernity in relation to the issue of immortality.

As modernity deconstructs the big issue of mortality into a number of problems that can be handled, so postmodernity deconstructs the issue of immortality into six problem-based models, such as the problem of fluid identity as a self-constitutional project, fame in fashion and celebrity, the idea of repetition and representation, games and spectacle, the ultimate chain of momentary pleasures, as a strategy of social stratification, and as an affirmation of identity and authority in the community.

The strategy of deconstruction of immortality emancipates the subject from the shackles of space-time (history, discourse, ideology, etc.), enables people to achieve what in principle impossible to reach here and now, but at the same time creates a new kind of for injustice, highlights the primacy of an ontic entity over an ethical one, and produces new group of victims.

In a more contemporary context, new ways to deconstruct immortality have shifted from the world of entertainment to the realm of technology, but the idea of immortality has been stripped of its sacred aura and is constantly being made profane and commodified.

Immortality is one of a number of objects of desire available in the market and can be purchased with money.

However, the desire to be immortal continues to be craved and strived to be realized here and now, whether with the help of an anti-aging serum, by uploading traces of identity and consciousness in a smart machine driven by personalized artificial intelligence, to record and digitize, or with cryonics technology, the opportunities and oppositions persist.

Keywords: deconstruction, modernity, postmodernity, mortality, immortality, history, identity, social theory.

Categories
Uncategorized

On Rising above the Seemingly Nice but not Really (“PHP”)

Seorang rekan pejuang studi lanjut curhat ke aku berikut ini:
“Si kakting yg kmrn itu janji2 ke aku mw baca proposalku jg,tp lama2 aku malas,Php,kykna dia emang pelit ilmu,better aku diskusi sm XYZ, ada dosen [Prodi lain] yg alumni S3 kita (juga). Mungkin krn dia lulus dgn gemilang sih,jd agak gmn ya dimintain bantuan,antara sibuk dan gak mw bantu.”

Kemudian kutanggapi begini: “Iya mbak ya udah biarin aja mbak. Dia yg di atas angin, kita cari angin lain lagi aja. 😀 Situasi ketertekanan (stress) krn studi lanjut memang bagi bbrp orang membuat mereka malahan jadi sempit terkurung kayak masuk dalam clam shell lalu menutup diri utk berbagi dirinya dgn orang lain, apalagi membantu orang lain. Aku juga pernah ngalamin di-PHP-in gini tahun lalu pas mau sidang proposal. Ketika kuminta baca dan kasih masukan utk draf proposalku, eh dia menunda2 dan akhirnya tidak pernah kasih masukan apapun. di situlah aku kecewa berat sama dia dan aku berjanji sama diriku sendiri jika someday ada adik tingkat/teman angkatan/kakak tingkat yg meminta aku utk baca draf papernya / proposalnya / laporan hasil disertasinya, aku tidak akan pernah mengecewakannya dgn berlaku hal yg sama sperti yg dilakukan KaTing itu tadi. aku mau jadi lebih baik daripada dia dlm hal ini. menjadi sosok yg lebih etis gitu lah kurang lebih … lha iya dong, judul disertasiku aja ada ETIKA-nya mosok aku ndak berperilaku etis… hehe .. I wish waktu itu dia bilang terus terang gini ‘aku ndak mau / ndak sanggup / ndak bisa / ndak bersedia / ndak ada waktu utk membaca dan kasih masukan utk draf proposal mas Hendar’ mungkin aku tdk akan sekecewa ini skrg ini. tdk dalem2 kecewanya. But now I have transformed the disappointment of the past into a positive attitude to help others who ask me. Semakin ke sini aku semakin sadar bahwa studi lanjut itu suatu shared destination lebih daripada fierce competition, sharing vision and embodied practices alih-alih saling jegal dan sikut, enriching experiences rather than I don’t care about your plight.”

Categories
Uncategorized

Religio Duplex: Melacak sejarah dualitas moda beragama kini dan dulu [alamiah dan pewahyuan]

[Deskripsi singkat ini merupakan olahan Hendar Putranto dari buku Religio Duplex: Comment les Lumières ont réinventé la religion des Égyptiens—diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Perancis oleh Jean-Marc Tétaz—yang ditulis seorang ahli sejarah Mesir Purba dan antropolog agama dari Jerman, Jan Assmann (kelahiran 1938). Jan Assmann pernah dipercaya memegang kursi Profesor Egyptology di Universitas Heidelberg, Jerman sejak 1976-2003 dan sejak 2003 sampai sekarang beliau didapuk menjadi Profesor kehormatan untuk bidang Kajian Budaya di The University of Konstanz, Jerman.]

Berikut book cover dari Religio Duplex:

Sudah cukup lama kultus agama asli (natural religion) masyarakat Mesir purba memesona para pemikir Pencerahan (les Lumières).

Dengan mengolah sumber rujukan tertulis peninggalan peradaban Yunani akhir, sejumlah pakar sejarawan dan antropologi agama mendeteksi adanya jejak “agama ganda” pada masyarakat Mesir purba: di satu sisi suburnya agama politesitik yang memuja banyak dewa, di sisi lain hidupnya agama monoteistik yang dianut sejumlah elit.

Pada abad ke-18, masyarakat rahasia, khususnya Freemasons—yang gaya hidup pengkultusan akalbudinya terjepit di tengah-tengah iklim politik monarki absolut dan kekristenan ortodoks—menimba inspirasi dari kultus agama asli Mesir purba ini untuk diterapkan dalam organisasi mereka sendiri.

Dengan memusatkan analisisnya pada konsep agama yang berada pada dua moda dan tatanan, RELIGIO DUPLEX, Prof. Assmann menunjukkan kepiawaiannya menghubungkan jejak2 sejarah yang terus bertahan sampai sekarang.

Prof. Assman juga berhasil merajut kemungkinan untuk mengartikulasikan agama dalam dua modanya: tradisi2 religius yang partikular dengan seruan agama yang universal.

Dalam Religio Duplex, Prof. Assman scr terampil dan mendalam merefleksikan akar budaya modern Barat yang dalam banyak cara dan scr tdk langsung merujuk jauh sampai ke peradaban Mesir purba.

Pada salah satu adegan kunci dalam sejarah “Pencerahan Barat,” tercatat bahwa Blaise Pascal, ahli Matematika sekaligus rohaniwan Katolik terkemuka, akhirnya menyerah kalah dalam “pertaruhan” (Le Pari): ia akhirnya memilih untuk menyerahkan dirinya ke dalam pelukan Bapa (konsep Trinitas dalam agama Katolik Roma) alih-alih meneruskan telaah rasionalnya dan (dapat berdampak pada) mengiyakan Tuhan para filsuf dan cendekia Abad Pencerahan.

Adegan kedua terjadi 126 tahun kemudian pada Juli 1870 di Wolfenbüttel, bertempat di rumah Gotthold Ephraim Lessing, seorang penganut Freemason.

Suatu hari Lessing dikunjungi Friedrich Heinrich Jacobi, pedagang muda dan penulis berhaluan Freemason.

Lessing menyodorkan puisi Goethe, “Prometheus” *) kepada Jacobi untuk dibaca.

Penasaran dengan isinya, Jacobi mencoba berdialog dengan Lessing tentang topik “ketuhanan” di Abad Pencerahan.

Lessing mengakui bahwa “Konsep ketuhanan ortodoks tidak lagi dapat kupegang dan kupercayai. Hen kai Pan (Ἓν καὶ Πᾶν)! [Satu dan Semua] Setelah kubaca puisi Goethe ini aku menyukainya dan isinya menyiratkan apa yang sekarang kupercaya.”

Jacobi menukas, “Kalau begitu dirimu setuju dengan (pandangan tentang ketuhanan yang diajukan) Spinoza, dong?”

Lessing berkata, “Jika ada satu orang yang pandangannya kusetujui tentang ketuhanan, Spinozalah orangnya.”

Dari penggalan percakapan ini, tampak bahwa Lessing menolak ide “Tuhan sebagai Bapa” sejauh kita dapat mengidentifikasi dan menafsirkan ucapan “konsep ketuhanan ortodoks”-nya sebagai sama dan sebangun dengan ide Tuhan (kekristenan) dan, karenanya, dirinya mendaku sebagai pengikut pandangan Tuhan para Filsuf.

Konflik batin dan tegangan disposisional sensus religiosus yang dialami para tokoh Pencerahan di atas, yang diruap dengan pandangan dikotomis “ini-atau-itu” tentang Ketuhanan, antara agama alamiah dan agama pewahyuan, meninggalkan bekas yang mendalam sepanjang bergulirnya sejarah pemahaman agama versi Barat Pencerahan.

*) Salah satu bait dari puisi Prometheus karya Goethe tersebut berbunyi sbb.:
Ich dich ehren? Wofür? [Aku menghormati-Mu dan mengapa?]
Hast du die Schmerzen gelindert [Pernahkah Engkau meringankan kesedihan]
Je des Beladenen? [mereka yang berbeban berat?]
Hast du die Tränen gestillet [Pernahkah Engkau menyeka]
Je des Geängsteten? [tangis mereka yang berduka?]
Hat nicht mich zum Manne geschmiedet [Tidakkah aku dilahirkan dan dibentuk menjadi manusia]
Die allmächtige Zeit [dalam tempaan Waktu abadi]
Und das ewige Schicksal, [dan oleh Nasib yang juga abadi]
Meine Herrn und deine? [menjadi Tu(h)an atas diriku dan Engkau?]

Categories
Uncategorized

Namanya bukan provokator, tapi tukang berpolemik

Belakangan ini “ruang publik” [dalam arti Res Publica sekaligus political affairs] di Indonesia kembali diramaikan oleh sejumlah isu politik yg mengerucut pada soal “bagi-bagi kue,” “pemanjangan periode kekuasaan,” dan “ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berunjuk rasa.”

Ada tokoh-tokoh yg menjadi center of gravity terkait isu politik di atas, sebagian sudah kita kenali sebagai politisi (praktisi), sebagian lagi aktivis (HAM, sosial, dan lainnya), sebagian lainnya merupakan pengamat/komentator politik (akademisi). Ada segelintir yg boundaries-crossing: akademisi cum aktivis (media) sosial, misalnya.

Dari sejumlah berita yg saya baca dan cermati, termasuk komentar2 yg dimuat utk menanggapi berita2 tersebut, saya menangkap kesan bahwa khalayak pembaca, khususnya netizen, cenderung passing judgment “tukang membuat gaduh” bagi siapapun yg terlibat dan dimuat media massa/media sosial/menjadi viral berkenaan dgn isu politik di atas.

Khalayak tampaknya mengalami kesulitan utk membedakan antara provokator (qua demagogue) dengan tukang berpolemik. Bagi sebagian besar netizen, tukang membuat gaduh sama dengan provokator. That’s it. Tidak ada elaborasi distingtif tentang dua kategori ini. Mungkin karena isunya sudah jenuh dan polarisasi semakin terasa menebal (lagi).

Bagi saya, yang lebih sering tinggal di menara gading studi alih-alih turun langsung ke jalan utk berdemonstrasi dan menyuarakan aksi-aksi perubahan, ini suatu hal yg menarik utk direfleksikan. Dari pembacaan ringkas saya atas situasi dan rujukan teks, provokator mungkin lebih berkonotasi negatif (dan destruktif) daripada tukang berpolemik. Polemik lebih menyiratkan makna diskursus yg serius dan terbatas (secara spasial maupun jumlah partisipannya) alih-alih provokator yang dipersepsi sebagai teriak-teriak yang tidak jelas juntrungannya, yang memancing emosi massa-posting dan massa-aksi utk melakukan perisakan (dlm arti daring) maupun perusakan (dalam arti luring).

Upon further reflection, benarkah pandangan ini?

Berikut saya ajukan satu pemikiran yg mengkarakterisasi tukang berpolemik. Mudah2an pandangan ini dapat menjernihkan satu bilik berpikir dan tidak sekadar menjadi “echo chamber” sbg dampaknya. Saya memberikan tajuk pemikiran di bawah ini sebagai “Apa itu polemik dan siapakah tukang berpolemik (polemicist)?”

Menurut Prof. Paul Rabinow dari University of California at Berkeley—yang membaca dan membuat scathing review atas Postmodernism, Reason & Religion karya Ernest Gellner (1992)—kita dapat mengartikan polemik sebagai perbantahan yang tidak fair tapi terus menggelinding tanpa ujung-pangkal.

Menyitir pandangan Michel Foucault, Rabinow menggarisbawahi karakteristik tukang berpolemik sebagai berikut:

“Tukang berpolemik adalah mereka yang senengnya memandang diri secara istimewa/privilese dan mengajukan pokok-pokok kasus/isu di awal namun menolak untuk dipertanyakan. Pada prinsipnya, si tukang berpolemik merasa punya hak untuk memulai perang dan menjadi petarung sebagai alasan yang dapat dibenarkan; orang-orang yang diserang si tukang berpolemik ini tidak dianggapnya sebagai mitra pencari kebenaran, namun musuh bebuyutan yang keliru, berbahaya dan mengancam. Bagi si tukang berpolemik, arena permainan tidak menyertakan syarat untuk mengakui lawannya sebagai subjek yang memiliki hak untuk berbicara, namun musuh yang harus ditaklukkan dengan segala cara, interlokutor yang harus dibasmi dan jangan sampai dia berkesempatan memulai dialog. Tujuan akhir pertarungannya bukanlah sampai pada kebenaran sedekat mungkin, betapapun sulit jalan menuju ke sana, namun bersorak-sorai atas kemenangan yang premis dasar dan alasan pembenarnya sudah ia ajukan sejak awal mula … Berurusan dengan si tukang polemik tidak memunculkan ide baru bagi kita.”

Dalam terang pengertian di atas, demikian Rabinow, tidak mengherankan jika tukang berpolemik acapkali disebut sebagai barisan Enlightenment Fundamentalists yang gemar membuat kutipan-kutipan ciamik untuk meyakinkan lawan bicaranya, namun dirinya emoh terlibat dalam argumentasi rasional.

(to be continued)

Categories
Uncategorized

[Kolokium MFI 4 April 2022] Filsafat Komunikasi Pendidikan di Masa PJJ: Peluang atau Ancaman?

Materi disampaikan oleh Dr. Ririt Yuniar, S. Sos., M. Hum., seorang dosen Prodi Ilmu Komunikasi di Universitas Pancasila yang mengampu mata kuliah (di antaranya) Filsafat dan Etika Komunikasi. Mbak Ririt, demikian beliau biasa dipanggil, merupakan alumnus Program S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2011 dengan disertasi yang dipertahankan berjudul “REPRODUKSI REALITAS POLITIK DALAM FOTO JURNALISTIK PADA KAMPANYE PEMILIHAN PRESIDEN 2009 DI INDONESIA.” Promotor disertasi mbak Ririt adalah Prof. Dr. Irwan Abdullah. Mbak Ririt juga seorang alumnus PPRA 48 Lemhannas RI 2012.

Dalam kolokium ini, saya berperan sebagai Moderator dan rekan diskusi dari Narasumber beberapa hari sebelum hari-H pelaksanaan Kolokium.

Berikut flyer dan deskripsi singkat topik yang dibawakan Narasumber:

Filsafat Komunikasi Pendidikan di Masa PJJ: Peluang atau Ancaman?

Dunia pendidikan global diguncang digitalisasi dan Pandemi Covid-19. PJJ dan belajar daring menjadi mantra baru proses belajar-mengajar menggantikan tatap-muka dan interaksi langsung di ruang kelas. Pendidik (guru dan orangtua) dan peserta didik mau tidak mau harus beradaptasi dengan situasi ‘kelaziman baru’ ini dengan susah-payah dan penuh perjuangan. Dalam bukunya yang terbaru Race, Politics, and Pandemic Pedagogy: Education in a Time of Crisis (Bloomsbury Academic, 2021), tokoh pendidikan kritis terkemuka Henry A. Giroux menyatakan bahwa munculnya krisis Covid-19 berarti krisis pendidikan di mana orang mulai memikirkan kembali sifat dasar politik dan kekuasaan sekaligus menandakan keruntuhan ekonomi yang mengungkapkan tingkat kemiskinan dan penderitaan massal yang sebelumnya tersembunyi di bawah retorika kapitalisme liberal. Pendidikan jadi tersandera karena para guru diminta untuk mempertaruhkan nyawa mereka dan nyawa siswa mereka untuk menjaga roda ekonomi tetap bergulir dengan menafikan peringatan dari para ahli kesehatan.

Pandemi Covid-19 menghasilkan zaman ketidakpastian, fragmentasi, keputusasaan, dan firasat buruk tentang masa depan. Kepastian telah digantikan oleh ketakutan bersama. Jika salah satu tujuan pendidikan adalah membebaskan manusia dari kelindan tri-matra belenggu ketakutan, kebodohan, dan kemiskinan, Covid-19 membawa gerbong pendidikan semakin mendekati jurang keputusasaan. Pedagogi pandemi bekerja secara tidak sadar sebagai mode afektif dari sabotase diri yang melegitimasi bahasa kebencian dalam percakapan sehari-hari, merendahkan orang kulit berwarna, mempromosikan kesembronoan melalui budaya selebritas di mana-mana, dan menghasilkan serangkaian praktik pedagogis otoriter yang berfungsi untuk mengeksploitasi, mendominasi, dan mendepolitisasi kita.

Pedagogi pandemi yang berlandaskan ketakutan dan kebencian seyogianya ditangkal dengan pedagogi kritis yang menjembatani interaksi sosial, keterlibatan dalam ruang publik, sekaligus praktik politik untuk memahami lebih jauh hubungan antara bagaimana belajar dan bagaimana bertindak sebagai agen individu dan sosial. Ini berarti merefleksikan secara tajam bukan hanya bagaimana individu belajar berpikir kritis tetapi juga bagaimana mereka menegaskan rasa tanggung jawab individu dan sosial sehingga litani ratapan dapat menjadi tabur harapan.

Dengan demikian, pedagogi kritis tidak hanya berhenti pada analisis tentang keadaan pikiran status quo dan inventarisasi masalah melainkan gugus praktik pemberdayaan yang berkelanjutan: suatu conditio sine qua non bagi perubahan sosial dan upaya transformatif tentang cara orang memandang diri mereka sendiri dan orang lain untuk kepentingan yang lebih besar, menjadi generasi yang cerdas berkarakter.

Dalam kolokium MFI kali ini, Dr. Ririt Yuniar menyulam analisis teoritis tentang pedagogi kritis sekaligus mengomunikasikan sejumlah rancang Kebijakan, Strategi, dan Upaya yang kontekstual guna menunjukkan arah Optimalisasi PJJ pada Era Kelaziman Baru untuk mencapai Hasil Didik yang Berkarakter. Selamat menyimak dan berpartisipasi!

(credit for flyer goes to Edward Daniel Simamora, Medical Interpreter at Propio Language Services & tutor at EF English First Makasar)

Berikut disampaikan tiga buah tangkapan layar saat mbak Ririt presentasi:

Adapun rekaman Kolokium di atas dapat ditonton kembali pada akun YouTube Masyarakat Filsafat Indonesia berikut ini:

Semoga Kolokium ini boleh menginspirasi para pembaca & pemirsa semua untuk menjadi Pendidik yang berani, bertanggungjawab, kritis dan kreatif!

Tabik!

Hendar Putranto