Categories
Uncategorized

Fenomenologi tidak mengenal ada ini, ada itu, lalu habis perkara

Penjelasan yang sederhana tentang Fenomenologi sebagai Metode dan Epistemologi sebagaimana dipaparkan oleh Romo Thomas Hidya Tjaya, SJ dosen tetap di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (Jakarta) dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas EUREKA. Komunitas ini menghadirkan diskursus terkait pengembangan pemikiran kritis bagi publik Indonesia. Dibentuk 2018 dengan nama CCTD (Center for Critical Thinking Development) untuk mengkultivasi pemikiran kritis di lingkungan UKSW dan untuk masyarakat luas.

Videonya sendiri dapat diakses di sini:
https://youtu.be/sYqw0iuwTjA?si=SY3S_bXNnTcAvBbi

Berikut dua tangkapan layar yang menunjukkan momen ketika Romo Thomas menjelaskan secara cukup ekstensif dan intensif tentang Epistemologi dan Metodologi Fenomenologi.

[Spoiler alert] Blog ini hanya menyoroti pemaparan Romo Thomas dari menit ke-38 sampai menit ke-45 yang membahas apa bedanya cara berpikir, bertanya, dan menyatakan sesuatu secara Fenomenologis dengan cara berpikir, bertanya, dan menyatakan sesuatu secara Ontologis.

Menurut Romo Thomas, ada pergeseran fokus dalam Fenomenologi: dari dunia sebagaimana adanya (the world as it is) menuju dunia sebagaimana dialami (the world as experienced). Lewat kesadaranlah kita dapat mengalami dunia. Jadi yang ditekankan di sini adalah bahwa kita tidak mungkin mengalami dunia, tanpa kesadaran. Nah, pertanyaan mengenai dunia sebagaimana adanya itu tidak akan habis-habisnya kita bicarakan. Lantas, apa tidak lebih baik kita memusatkan perhatian pada hal ini, pada dunia sebagaimana dialami itu, bagaimana objek tertentu atau fenomena tertentu menampakkan diri pada kesadaran kita.

Jadi, Fenomenologi memusatkan perhatian pada hal ini maka analisisnya adalah tentang kesadaran manusia, tentang subjektivitas, tentang lebih pada diri kita dan dunia itu bagaimana dialaminya. Maka satu hal yang penting yang nanti jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam fenomenologi itu, tidaklah penting apakah memang ada objek yang demikian, tapi yang lebih penting adalah bagaimana apapun itu namanya (objek, fenomen) itu menampakkan diri pada kesadaran kita.

Contoh konkretnya sebagai berikut: Ada seorang teman yang bercerita pada saya. Aduh, belakangan itu saya merasa ada yang membuntuti saya, gitu. Saya nggak nyaman, jadi ketakutan. Malam hari gak bisa tidur, dan seterusnya. Itu kayak ada hantu atau apa gitu. Kalau kita menjadi teman sharing orang itu dan kita itu lebih fokus pada realitas sebagaimana adanya, uh lebih fokus pada realitas sebagaimana adanya (ini pandangan ontologis ya begitu), kita akan mengatakan misalnya “Ah, hantu itu gak ada. Itu cuman halusinasi.”

Nah ini kita menjawab secara ontologis. Ini ada atau nggak ada. Sementara, kalau kita mau menjawab secara fenomenologis, kita tidak akan menjawab dengan cara itu. Kita tidak akan menjawab bahwa “hantu itu tidak ada.” Kita akan mencoba mengajak dia berpikir begini. “Sebetulnya, apa yang kamu persepsikan dengan itu? apa yang kamu rasakan? Apakah ada bayang-bayang, apakah ada rasa takut yang menyertai” seperti itu. Jadi kita semacam mengurung dulu apakah objek atau fenomena yang dirasa membuntuti orang ini ada atau tidak.

Jadi ini dua pendekatan yang berbeda, kita bisa menjawab secara ontologis dalam arti apakah ‘benda’ ini ada atau tidak, lalu seolah perkara beres begitu ya.

Nah, dalam fenomenologi, yang mempengaruhi kesadaran kita ada atau tidak, itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana pengalaman itu (dialami, dirasakan, dipersepsikan). Karena itulah mengapa fenomenologi berkembang dalam (keilmuan) psikologi, yang namanya fenomenologi psikologis, begitu.

Dalam filsafat kan selalu ada kecenderungan kuat untuk menyatakan bahwa ini ada atau tidak ada, ini cara pandang ontologi, begitu. Apalagi kita juga secara alamiah memiliki kecenderungan untuk tidak mau buang-buang waktu membicarakan hal-hal yang umumnya dianggap tidak ada (seperti contoh ‘hantu’ di atas tadi). Itu halusinasi. Nah, (kalau cara bicaranya menggunakan sudut pandang ontologi) kita udah potong langsung di akarnya.

Nah, dalam fenomenologi, sikap dan cara ‘memotong’ seperti ini sangat tidak dianjurkan karena kita bicara soal fenomena yang menampakkan diri pada kesadaran.

Kalau kita kaitkan dengan misalnya hidup rohani, orang kan ‘senang’ bicara begini: apakah Tuhan ada atau tidak.

Mari kita lihat (pembuktiannya) lewat lima jalan Thomas Aquinas
[biasanya disebut sebagai Quinquae Viae. Lihat penjelasan singkatnya di sini https://www.oxfordreference.com/display/10.1093/oi/authority.20110803100359288 atau di sini https://home.csulb.edu/~cwallis/100/aquinas.html. Untuk penjelasan yang lebih ekstensif, pembaca dapat mendalami sendiri lewat artikel jurnal ini: “Aquinas’ Quinque Viae: Fools, Evil, and the Hiddenness of God” (Marcar, 2014) yang dapat diakses di sini https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/heyj.12137#]

lalu ada juga debat dan argumen yang lebih kontemporer yang berupaya membuktikan tidak adanya Tuhan, seperti ditulis Richard Dawkins dalam The God Delusion (2006) [lihat ringkasan dari buku ini yang ditulis oleh Niklas Göke pada 18 Oktober 2023 di https://fourminutebooks.com/the-god-delusion-summary/#:~:text=1%2DSentence%2DSummary%3A%20The,moral%2C%20and%20fulfilled%20without%20it ]

kalau dari cara berpikir Fenomenologi, pertanyaan tentang Tuhan ada atau tidak itu tidak terlalu penting. Kurung dululah! (epoché atau bracketing).

Lihatlah bagaimana pengalaman tentang Tuhan atau Tuhan yang menampakkan diri pada kesadaran kita, atau bagaimana kita sendiri mengalami Tuhan. Ini yang lebih penting. Jadi, dikurung dululah pertanyaan dan perdebatan soal Tuhan itu ada atau tidak, begitu. Karena, nah ini dari subjektivitas, masalahnya pada saat ini bukan soal Tuhan ada atau tidak tetapi soal bagaimana kalau Tuhan ada itu memengaruhi saya sebagaimana dialami. Mungkin contoh ini agak terlalu abstrak. Saya akan berikan contoh yang lebih konkrit.

Misalnya, ada orang lain, contoh: gurumu, yang bertanya “bapak ibu ada di rumah tidak?” atau “bagaimana kabar bapak ibumu sekarang?” Pertanyaan yang sebenarnya diajukan guru tersebut bukanlah apakah bapak ibu memang (secara fisik) ada di rumah atau tidak, atau dalam keadaan hidup (atau sudah meninggal), tapi soal bagaimana Bapak Ibu ini berpengaruh terhadap anak ini, atau persepsi (tentang) hubungan orangtua dengan itu, dan sebagainya, itu ya. Jadi kita kan sering melompat (dalam pengambilan kesimpulan dan membuat pernyataan), kalau sudah ada bapak ibu, maka pasti anaknya di-take care, sudah diurus dengan baik, sudah disayang.

Padahal, yang namanya eksistensi atau keberadaan, itu tidak serta merta berarti (hal ideal) inilah yang akan terjadi seperti bagaimana diharapkan (yang umumnya atau lazimnya) bahwa orangtua pasti ngurus anaknya, sayang pada anaknya. Teorinya begitu ya. Karena bisa saja anak-anak, dalam pengalamannya berelasi dengan orangtua, mereka bisa melihat bahwa figur orangtuanya itu sebagai orang yang mengancam. Begitu.

Jadi pertanyaan dalam fenomenologi bukan soal apa kabar bapak ibu di rumah tapi lebih ke “Bagaimana kamu mengalami bapak ibumu?” Di sini, “bapak ibumu sebagai fenomen.” Begitu ya. Jadi itu dulu contoh yang lebih konkret terkait cara bertanya Fenomenologi, dan yang (konkret) seperti ini diharapkan dapat lebih membantu orang untuk mengenali perbedaan (antara Fenomenologi dengan Ontologi).

Karena, kalau tidak begini, kata Husserl, orang akan dengan gampang selalu melompat ke pernyataan yang dianggap sudah ‘benar dengan sendirinya.’ Contohnya, ketika ada anak yang mengalami masalah (di sekolah berperilaku nakal dan melukai temannya, misalnya), lalu responnya, kan ada orangtua, bapak ibunya. Lalu selesai perkara. Tidak. Bukan seperti ini kalau pakai Fenomenologi.

Semoga pemaparan singkat di atas dapat membantu sidang pembaca untuk lebih mengenali Fenomenologi sebagai Metode berpikir, bertanya dan menyatakan sesuatu yang khas yang jelas sekali berbeda dengan cara berpikir, bertanya dan menyatakan sesuatu secara ontologis yang ‘kalau ada ini ada itu, sudah jelas, lalu habis perkara.’

Categories
Uncategorized

Article-Reviewing as An Invitation to Open Dialogue with Other

A critical review of Dialogic Editing in Academic and Professional Writing: Engaging the Trace of the Other
Edited by Üçok-Sayrak, Fritz & Majocha (Routledge, 2023)

(to be continued)

Categories
Uncategorized

Lima Pondasi bagi terbangunnya Teori Komunikasi

Resume bacaan dan tanggapan kritis atas monograf Theories of Human Communication, Twelfth Edition , karya Tim Penulis: Stephen W. Littlejohn, Karen A. Foss, John G. Oetzel.
Penerbit: Waveland Press, Inc.
Tahun terbitan: 2021
Informasi tentang buku ini dapat diakses di https://waveland.com/browse.php?t=270

Berikut coret-coretannya,

menyusul 3 poin tanggapan kritis berikut ini.
Pertama: evolution atau devolution?
Kedua: emergentism atau reductionism?
Ketiga: gugus makna ditimba dari relasi atau dari informasi?

Categories
Uncategorized

adakah Pengantar Ilmu Komunikasi yang ‘sederhana’?

Salah satu tantangan menjadi seorang Doktor dalam disiplin keilmuan tertentu adalah MAMPU menyederhanakan persoalan-persoalan yang rumit, juga problematika yang kompleks dalam disiplin keilmuan yang dipelajari, menjadi “sesuatu” yang lebih SIMPLE untuk dipahami pembaca awam.

Hal ini berulang-ulang disampaikan oleh para dosen saya dalam kuliah-kuliah pengantar Ilmu Komunikasi yang saya tempuh pada 3 semester pertama perkuliahan tatap muka (2019-2021) dan kemudian ditegaskan lagi oleh para pembimbing (Tim Promotor) maupun tim penguji dari laporan hasil penelitian disertasi yang sudah saya pertahankan pada Jumat, 30 November 2023 yang lalu.

Saking seringnya “adagium” ini saya dengar, tidak jarang saya lalu menerima ‘kebenaran’ yang dikandung dalam pernyataan ini secara begitu saja, taken-for-granted.

Maksudnya, saya tidak lagi ‘mencari tahu lebih jauh’ (menggali) apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “merumuskan persoalan yang COMPLEX menjadi SIMPLE” atau ‘menyederhanakan hasil temuan penelitian sehingga jadi lebih mudah dipahami pembaca awam’ di dalam disiplin keilmuan yang sekarang sedang saya tekuni, yaitu Communication Science.

Dalam masa pencarian akan pengertian yang sederhana dan less complex tentang keilmuan Komunikasi, ‘kebetulan’ saya menemukan buku In Search of a Simple Introduction to Communication (Penerbit Springer, 2016) yang ditulis oleh Nimrod Bar-Am, seorang ahli Komunikasi dari Sapir Academic College, School of Communication, Israel.

Ketika pertama kali membaca ToC buku tersebut—yang terdiri dari 3 bagian, yaitu Bagian I: Getting Acquainted (4 bab); Bagian II: Toward a Philosophy of Communication (11 bab) dan Bagian III Toward the Simple Introduction to Communication (3 bab)—juga paragraf-paragraf awal dari bab I buku tersebut (h. 1-2), saya terhenyak. Kok begini ya bahasanya? Terasa sederhana tapi menyimpan daya laten kerumitan; terasa to the point tapi kok sepertinya “ngawang-awang.” Saya merasa terusik untuk menuliskan kesan-kesan tersebut di blog ini.

Kesan pribadi tersebut menjadi semakin dikuatkan setelah saya membaca resensi panjang dan mendalam untuk buku ini yang dituliskan Dr. Itay Shani dari Departmen Filsafat, Kyung Hee University, Seoul, Korea Selatan bertajuk “A Far from Simple Introduction to Communication” (free access at https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0048393116677705).

Anehnya, resensi atas buku In Search of (2016) justru memberi kesan bahwa buku ini jauh dari ‘sederhana’ artinya ada yang tidak selaras antara janji yang tercantum dalam judul buku yang diresensi, yaitu “Simple Introduction to Communication” dengan realisasinya (ketika sudah dibaca). How come?

Sebagai seorang penekun keilmuan Komunikasi yang tumbuh dari dan berkembang pemikirannya dalam tradisi Filsafat mazhab Jembatan Serong, saya terpesona dengan tesis yang diajukan Nimrod Bar-Am dlm buku ini, yang secara sederhana dapat dirumuskan dengan ringkas sebagai berikut:
“dorongan paling dasar untuk berkomunikasi adalah kemampuan untuk mengarahkan atau ‘orientasi diri’ pada lingkungan dan memiliki semangat untuk berbagi lingkungan.”

Persisnya, dituliskan oleh Bar-Am (2016: 1-2) sebagai berikut: “this wondrous ability—to orient ourselves in the environment—is the most basic phenomenon that communication researchers seek to understand (and) how this orientation successfully occurs is the vital element of the many varied attempts to understand communication in the conventional sense of this term—that is, our ability to share narratives and challenges with individuals who are similar to us biologically, culturally, biographically and so on. To use terms that we will gradually come to apply here in a highly specific sense, my claim is that communication scholars study the ability of various systems to share environments.”

Membaca kata-kata di atas, saya jadi keinget masa-masa OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) yang pernah saya ikuti doeloe di STF Driyarkara (tahun 2000), dan ketika dipercaya menjadi Ketua Pelaksana OMB di UMN (2009). Masa OMB merupakan masa singkat (biasanya dalam kurun 3-5 hari) untuk mengorientasi diri di dalam sebuah lingkungan baru yang dimasuki. ‘Lingkungan’ di sini bukan hanya dimengerti secara fisik/jasmaniah dan teritorial/geografis , tapi juga lingkungan dalam arti ‘kebiasaan, praktik, dan manifestasi2 mentalitas yang dianggap normal berlaku serta dapat diterima secara sosial.’

Kembali ke buku, pertanyaan dasar yang diajukan Bar-Am dalam bukunya adalah sbb.:
“Is there a theoretical basis distinctive of communication studies as such?”
Atau, jika dirumuskan secara lebih ontologis, pertanyaan tersebut berbunyi sbb.:
“Is there a (non-trivial) common denominator to all communication phenomena, and, if so, could it serve as the ground for a conceptually unified field of study?”

(to be continued)

Categories
Uncategorized

Menyoal Kepengarangan Majemuk, Otentisitas, dan Kendali Penulisan Ilmiah untuk Publikasi

Selama proses penulisan laporan disertasi (pertengahan 2022 s/d awal Nov. 2023), sidang hasil pertama (30 Nov 2023) dan tahap revisi setelahnya, termasuk dalam sesi bimbingan dengan Tim Promotor disertasi saya, acapkali saya menjumpai munculnya diskusi terkait fenomena dilema moral dan etis dari authorship (kepengarangan).

Isu dilema moral-etis terkait kepengarangan ini “tadinya” bukanlah objek analisis yang jadi perhatian utama saya dalam penulisan bab laporan hasil penelitian disertasi, karena yang pertama-tama saya cari dalam disertasi saya adalah bagaimana merumuskan (prinsip, prosedur, gugus nilai) Etika Komunikasi pada Era Digital dengan bertolak dari pengalaman dan praktik penulisan ilmiah kolaboratif para dosen dan peneliti keilmuan Komunikasi yang bekerja di lembaga pendidikan tinggi (Universitas) yang ada di Indonesia.

Dalam sejumlah riset disiplin keilmuan yang berhaluan empiris (keilmuan Komunikasi salah satunya), persoalan
authorship tidak dapat dilepaskan dari tiga kajian corollary issues berikut ini: metrics [atau, persisnya, quantitative/metrics-centric assessment, lih. Forsberg, dkk., 2022], scientific misconduct and unethical practices untuk menyiasati aneka kepentingan di balik klaim atas kepengarangan (salah satunya adalah soal plagiarisme, lih. Balve, 2014; tapi juga soal honorary/guest and ghost authorship; lih. Teixeira da Silva & Dobránszki, 2016) dan persoalan manajerial peningkatan karir akademis berbasis publikasi (lih. Ponomariov & Boardman, 2016; Thatje, 2016; Altomare, 2019)

Sementara itu, dalam disiplin keilmuan yang lebih condong berhaluan reflektif-filosofis, persoalan authorship pada umumnya lebih sering dikaitkan dengan pertanyaan dan dibahas dalam perdebatan soal orisinalitas (gagasan) dan otentisitas [lih. Berthold, 2022; Berardi, Filosa, & Massimo, 2021: 2)], agency atau kepelakuan (misalnya soal power, responsibility, and creation, lih. Hick, 2014), dan collective intentionality, khususnya dalam kajian Fenomenologi dan Filsafat Kesadaran (lih. Schweikard & Schmid, 2021).

Dua ranah yang berbeda di atas (ada yang lebih berbasis empiris-teknis-manajerial; ada juga yang lebih berbasis mental/psikologis/fenomenologis dan reflektif-filosofis) menjadi latar kontekstual yang menghasilkan foci serta pendekatan untuk melihat persoalan secara berbeda pula. Sejumlah penulis yang saya rujuk di atas (khususnya yang pro pendekatan empiris-teknis-manajerial) lebih condong mempersoalkan bagaimana meningkatkan akuntabilitas peran dan kontribusi dari masing-masing pengarang pada hasil karya ilmiah yang dipublikasikan sehingga lebih menjamin prinsip keadilan berdasarkan distribusi peran dan tanggungjawab (fairness); sementara, sejumlah penulis lain lebih menyoal bagaimana di tengah ledakan informasi pada era digital ini, otentisitas dan orisinalitas gagasan yang tertuang dalam tulisan ilmiah dapat lebih disoroti dan diapresiasi, terlepas dari apa medium penulisannya dan siapa yang berkontribusi dalam tim penulis.

(to be continued soon)

Categories
Uncategorized

Finding early institutionalized research problems of Communication Studies

Ujar-ujar dari orang tua dan pepatah lawas mengatakan bahwa jadi orang itu “jangan suka cari masalah.”

Kalau ‘suka mencari masalah,’ nanti kamu dijauhi orang lain, lingkup pergaulanmu jadi terbatas, dan bahkan bisa-bisa ‘berhadapan dengan otoritas’ (hukum, tradisi, agama, keilmuan, dll.) Jika ini yang terjadi, akan ada banyak sanksi menantimu (sanksi sosial, legal, dan jenis2 sanksi lainnya).

Akan tetapi, sebagai seorang mahasiswa program Doktoral (S3) yang dituntut untuk ‘menghasilkan kebaruan teoritis dan metodologis’ serta mencapai KKNI level 9 dengan “learning outcomes”: “mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji; mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner; dan mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan pengetahuan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapatkan pengakuan nasional dan internasional,” saya justru didorong para dosen saya untuk ‘berani mencari dan merumuskan masalah penelitian,’ terkhusus, masalah penelitian yang sesuai dengan disiplin keilmuan yang sedang saya tekuni sekarang ini, yaitu ‘masalah penelitian (bagi) Keilmuan Komunikasi’ atau, dalam bahasa Inggrisnya, research problems of Communication Studies.

Penelusuran awal atas ikhtiar di atas membawa saya untuk melakukan napak tilas ke masa lalu, persisnya, napak tilas ke wilayah dokumen-dokumen ‘otoritatif’ dari masa lalu yang menjadi, katakanlah, pilar-pilar bagi bangunan keilmuan Komunikasi yang ada sekarang.

Tentu bukan sembarang dokumen otoritatif dapat saya jadikan pegangan dan pijakan re-konstruktif untuk menyusun postulat state of the art for the contemporary research problems of Communication Studies.

Sumber dokumen otoritatif tersebut di antaranya, dan termasuk yang paling legitimate untuk dirujuk dan disitasi, adalah artikel-artikel ilmiah yang dimuat atau terpublikasi dalam volume-volume awal dari Jurnal ‘Media/Komunikasi/Publizistik'(nomenklatur-nya masih belum ajeg karena alasan historis dan trayektoris) yang paling tua (berdasarkan edisi tahun terbit perdana), yaitu:

(1) Journalism Bulletin (1924) >> sekarang bernama Journalism and Mass Communication Quarterly
(2) Public Opinion Quarterly (1937),
(3) Journal of Communication (Mei 1951),
(4) Journal of Applied Communication Research (1973),
(5) Communication Research (Januari 1974)
(6) Human Communication Research (September 1974)
(7) Communication Yearbook 1 (1977) >> sekarang bernama Annals of The International Communication Association

Berikut daftar lima (sampai tujuh) frasa kunci ‘permasalahan riset dari Keilmuan Komunikasi’ sebagaimana tecermin lewat “judul artikel” yang terpublikasi pada volume perdana dari masing-masing jurnal tertua tersebut.

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari Journalism and Mass Communication Quarterly yang awalnya bernama Journalism Bulletin.
1) The Journalistic Type of Mind (Eric W. Allen, 1924)
2) The Professional Spirit (R. Justin Miller, 1924)
3) Practice Vs. Ph. D. (Leslie Higginbotham, 1924)
4) Research Problems and Newspaper Analysis (Willard G. Bleyer, 1924)
5) Newspaper Study in the Schools (Editorials, 1924, h. 24-25) yang memuat kalimat berikut ini:
Schools of journalism must take the responsibility of preparing terachers to teach school children to read and study the newspapers…General adoption of such a plan, which is already in operation in many cities, would be a step toward better preparation of the pupil for advanced study and for life.”

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari jurnal Public Opinion Quarterly (1937)
1) TOWARD A SCIENCE OF PUBLIC OPINION (Floyd H. Allport, 1937), h. 7–23;
2) STRAW POLLS IN 1936 (Archibald M. Crossley, 1937), h. 24–35;
3) PRESIDENT ROOSEVELT AND THE WASHINGTON CORRESPONDENTS (Leo C. Rosten, 1937), h. 36–52;
4) BRITISH PUBLIC OPINION AND FOREIGN POLICY (Harold Nicolson, 1937), h. 53–63,
5) EDITORIAL POLICIES OF BROADCASTING COMPANIES (Merrill Denison, 1937), h. 64–82.

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari Journal of Communication (Mei 1951)
1) Development and Growth of NSSC: A Progress Report (Ralph G. Nichols, 1951)
2) Human Relations-Key to a New Era (W. Howard Chase, 1951)
3) The Need for Effective Speech in a Technological Society (W. E. Bennett, 1951)
4) The Role of Communications in the Training and Public Relations Activities of a Life Insurance Company (H. G. Kenagy, 1951)
5) Communication Courses in Selected Colleges and Universities (Wesley Wiksell, 1951)
*) What Are the Problems of Communication in Human Relations? (Elwood Murray, 1951)

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari Journal of Applied Communication Research (1973)

1) Applied communications research: A beginning point for social relevance (Mark Hickson III, 1973), h. 1-5.
2) Books received (Paul Westbrook, 1973), h. 6
Book/Media Reviews Editor
3) Informal human communication systems in a large organization (Evan E. Rudolph, 1973), h. 7-23
4) Richard Nixon and presidential mythology (Ruth M. Gonchar & Dan F. Hahn, 1973), h. 25-48
5) Applied communications in broadcasting: Documenting the documentary (Gerald V. Flannery, 1973), h. 49-59

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari jurnal Communication Research (Januari 1974)

1) Television News and Political Advertising: The Impact of Exposure on Voter Beliefs (Robert D. McClure & Thomas E. Patterson, 1974), h. 3–31;
2) Film Preferences Following a Murder (Ehor O. Boyanowsky, Darren Newtson & Elaine Walster, 1974), h. 32-43
3) An Information Theory Measure for Television Programming (James H. Watt, JR & Robert Krull, 1974), h. 44–68
4) A Cognitive Developmental Study of Children’s Attention To Television Commercials (Ellen Wartella & James S. Ettema, 1974), h. 69–88
5) The Emergence of Source-Message Orientation as a Communication Variable
(Vernon A. Stone & James L. Hoyt, 1974), h. 89–109

Tujuh frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari jurnal Human Communication Research (Sept. 1974)
1) Affection and Reciprocity in Self-Disclosing Communication (W. Barnett Pearce, dkk., 1974), h. 5-14
2) An Exploration of Deception as a Communication Construct (Mark L. Knapp, dkk., 1974), h. 15-29
3) The Mediation of Resistance to Persuasion Strategies by Language Variables and Active-Passive Participation (Michael Burgoon & Lyle B. King, 1974), h. 30-41
4) The Effect of Interaction Behavior on Source Credibility, Homophily, and Interpersonal Attraction (James C. McCroskey, dkk., 1974), h. 42-52
5) Cognitive Tuning and Differentiation of Arguments in Communication (Fredric A. Powell, 1974), h. 53-61
6) Role-Taking and Role-Playing in Human Communication (Robert L. Kelley, dkk., 1974), h. 62-72.
7) Communication and Conflict: A Review of New Material (Thomas M. Steinfatt, 1974), h. 81-89.

Lima frasa kunci keilmuan Komunikasi berdasarkan tulisan yang terbit dalam edisi perdana dari jurnal Annals of The International Communication Association atau yang dulunya biasa disebut sebagai Communication Yearbook 1 (1977) adalah:
1) Communication as Process (Berlo, 1977)
2) Perspectives on a Discipline (Budd, 1977)
3) Research Methodology in Communication (Cappella, 1977)
4) Communication Effects (Nan Lin, 1977)
5) The Taxonomy of Communication (Smith, 1977)

Dalam postingan di blog yang serba terbatas ini, tidaklah memungkinkan untuk membahas secara terperinci dan mengategorisasi lebih dari 35 “permasalahan riset Keilmuan Komunikasi” sebagaimana tertulis di atas, tapi izinkan saya mengutip satu paragraf saja dari artikel yang ditulis Elwood Murray bertajuk What Are the Problems of Communication in Human Relations? yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi edisi perdana (terbitan Mei 1951)

“The great problems of our time are problems of the relationship of person to person, of mind meeting mind, of the release of human energies, abilities and skills in the unification and progress of our enterprises. At the same time these same problems turn out to be complicated messes of communication disorders. In the family which is breaking up, the industry which is beset with low morals and productivity, the classroom which is not progressing, the community in which there is crime, and among the nations who are going to war there are communication blockages, confusions, misunderstandings, and misevaluations. There is an inability to look, to listen, to speak and to write according to that which is real and which is important. There is inability to make contact without offending the sensibilities. The most important product which the mental and physical iron curtains keep out are the facts, the truth and good-will; the most important results of this are error and misunderstanding, fear, antagonism, guilt, and eventual conflict.”

Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa “permasalahan riset keilmuan Komunikasi’ berpusat pada soal terganggunya hubungan antarmanusia, baik hubungan antarpribadi, antarkelompok, maupun antarmasyarakat/antarbangsa, dikarenakan satu dan lain bentuk ketidakmampuan (inability).

Semoga daftar ‘rumusan masalah bagi riset keilmuan Komunikasi’ dan paparan deskriptif singkat di atas dapat menjadi prekursor bagi serta menginspirasi tumbuh dan berkembangnya riset-riset keilmuan Komunikasi pada masa kini yang lebih kreatif, transformatif, heuristic, dan interdisipliner.

Categories
Uncategorized

Mencari “makna” yang tidak esensial dan tidak fenomenologis tentang Gugus Relasi Kekuasaan (cara Foucault)

Ketika membaca buku Thinking with Theory in Qualitative Research, Second edition karya Alecia Y. Jackson & Lisa A. Mazzei (Penerbit ROUTLEDGE, 2023), saya lumayan terhenyak pada bagaimana Jackson dan Mazzei berusaha untuk mendedah makna “relasi kekuasaan” dengan menggunakan cara “Arkeologis Kuasa/Pengetahuan” dari Michel Foucault.

Pada hal. 58, misalnya, tersebutlah nama Cassandra, yang berupaya untuk “memberikan makna” (make sense) pada pengalaman akan gugus relasi kekuasaan yang melingkupi dirinya, para murid dan koleganya, sejauh terkait aktivitas pengajaran dan bimbingan yang ia lakukan.

Menurut Cassandra, “saya kurang tahu persis apakah relasi kuasa yang terjadi pada diri saya itu karena saya seorang berkulit hitam atau karena saya seorang perempuan, atau karena keduanya…ada sejumlah kajian Feminis, khususnya Black feminist, yang menyebut hal ini sebagai pukulan ganda, double whammy, jadi, pada kasus yang saya alami, saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi … Seringkali saya bertanya-tanya apakah hal yang sama mereka lakukan juga pada kolega2 saya (yang tidak semuanya berkulit hitam dan perempuan)”

Kalau Anda mau menggunakan cara Foucault untuk memeriksa dan menganalisis pernyataan di atas, lupakan makna inheren yang terkandung di dalam praktik. Kita lihat bahwa Cassandra saja bingung untuk menemukan makna atau menyebutkan penyebab dari peristiwa yang dialaminya: kita tidak pernah tahu apa yang menjadi intensi seseorang/sekelompok orang, dan intensi justru melampaui praktik para subjek dalam hal dampaknya, effects. Meskipun praktik pengajaran dan bimbingan itu dapat direncanakan dan dikordinasikan dengan tujuan dan capaian spesifik tertentu (misalnya, sebagaimana tercantum dalam RPKPS, dst.) dampak keseluruhan dari praktik pengajaran dan bimbingan jelas-jelas melampaui intensi apapun dari subjek yang mengalami.

Dengan kata lain, jika kita mengadopsi “Arkeologi Kuasa/Pengetahuan” dari Foucault utk memeriksa dan menarik pemaknaan dari kasus di atas, akan terlihat ada kelindan triadik antara
(1) ketiadaan subjek rasional yang bertanggungjawab penuh atau memegang kendali atas praktik yang ‘sudah kadung’ terjadi;
(2) letak rasionaltias dari praktik yang ada ditemukan dalam gugus relasi yang di dalamnya praktik2 tersebut tertanam, inscribed ;
(3) Karenanya, signifikansi dari praktik tidak meletak pada nilai kebenaran inheren yang ada pada praktik tersebut melainkan pada cara-cara yang di dalamnya praktik tersebut mendisrupsi atau mempertahankan gugus relasi kekuasaan sekaligus memajukan pengetahuan.

Menganalisis gugus praktik pengajaran, bimbingan, penelitian, penulisan hasil penelitian, diseminasi hasil penelitian dalam bentuk tulisan ilmiah (artikel) format jurnal dan aspek-aspek aktivitas profesional lainnya dari dosen dengan menggunakan lensa ‘Arkeologis Kuasa/Pengetahuan’ semakin memperjelas keberadaan jejaring kekuasaan yang memampukan sejumlah praktik tertentu (dan menegasi atau menghambat terjadinya praktik lainnya) sekaligus menjamin signifikansinya. Gampangnya, praktik pengajaran berbasis RPKPS (sebagai salah satu bentuk outcome-based education) cenderung memampukan dan menghargai input pemberian dan penilaian tugas (assesment) secara prosedural dan taat-azas alih-alih ‘pemberian tugas secara spontan dan penilaian karena kasihan’

Dari penjelasaan di atas, semakin terlihat juga bagaimana praktik-praktik material dan budaya tertentu merupakan penafsiran responsif atas situasi dan konteks yang dekat . Artinya, penafsiran pelaku atas situasi yang dihadapi bukan hanya pembacaan pasif untuk mengakomodasi unsur-unsur statis tapi sekaligus pembacaan dinamis yang bertujuan untuk mendisrupsi, kontestasi, dan memaknai kembali situasi status quo. Dengan kata lain, cara membaca secara ‘arkeologis kuasa/pengetahuan’ dari Foucault memampukan subjek penghayat sekaligus penafsir untuk melampaui ‘makna esensial yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa/kejadian/pengalaman yang spesifik’ karena praktik material dan budaya yang di dalamnya subjek terlibat sudah selalu mengandaikan keberadaan cakrawala penafsiran yang tidak bebas-nilai. Pembacaan arkeologis kuasa/pengetahuan sudah selalu melibatkan adanya penafsiran atas gugus penafsiran, hal yang ditemukan dalam signifikansi praktik-praktik budaya.

Categories
Uncategorized

Pembukaan yang selalu kita cari tapi …

Tidak pernah kita temukan dalam kepenuhan dan ketuntasannya yang melegakan.

Inilah tantangan bagi kita yang hidup dalam masyarakat pengetahuan yang berlebihan volume pengetahuannya tapi terlihat minim pemahamannya.

Boro-boro minim pemahaman, dibaca aja nggak traktat-traktat pengetahuan yang sudah dihasilkan dan dapat dengan mudah diakses (oke, sebagiannya memang harus berbayar untuk bisa mengakses alias paywall, tapi bagaimana dgn traktat2 yang sifatnya open access dan gretongan dengan sedikit usaha alias copyleft?)

Sekedar reminder bahwa tugas kecendekiaan masih jauh dari usai meskipun bab disertasi sudah menuju closing chapters (bab VIII dan bab IX).

semangat yukkkz!

Categories
Uncategorized

Am trying to understand these sharing things-activities (June-Sept 2023)

Semoga aktivitas berbagi wawasan dan pengetahuan yang kumiliki ini menjadi keberkahan bagi semua saja yang pernah menghadiri sesi-sesi pelatihan (dan draf manuskrip) yang di dalamnya aku diundang (dan hadir) menjadi pembicara/pemateri/pemrasaran/Narasumber/Reviewer.

Terimakasih kuucapkan kepada pihak-pihak yang mengundangku berikut ini:
1) Perkumpulan STRADA Pusat (24 Juni 2023)
2) Fakultas Desain dan Seni Kreatif, Universitas Mercu Buana (6 Juli 2023)
3) Jurnal Social Sciences & Humanities Open (bagian dari grup penerbitan besar, Elsevier): periode Agustus 2023
4) Perkumpulan KAPAL Perempuan (31 Agustus 2023)
5) Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara, khususnya Kaprodi Ilkom, Kordinator Mata Kuliah Seminar Proposal Kualitatif dan Dosen Pengampu Kelas Sempro (21 September 2023)
6) SMAK Penabur Bintaro Jaya dan Tim Marketing UMN (27 September 2023)

Tabik!

Hendar Putranto

Categories
Uncategorized

akses pengetahuan bermutu tinggi harus bayar mihil? Think again!

Sebuah investasi pengetahuan yg murah tapi gak murahan, justru amat sgt berkualitas, dgn hanya bayar 75 ribu lebih sedikit utk biaya berlangganan setahun, saya dapat mengakses ribuan entry Ensiklopedi bergengsi ini dgn cara mengunduh filenya dlm format pdf ukuran kertas A4 [dibatasi 5 unduhan per hari].

Dan ini LEGAL bin registered lho, bukan copy left atawa link sembunyi2 pake VPN.

Artinya, setiap harinya saya cuman bayar Rp. 206 utk mengunduh 5 file full.

Per file yg diunduh “dihargai” cuman Rp. 41.

Kebangetan gak sih murahnya ini mah?

Jadi, apa masih ada orang di luar sana yg bilang “harus mahal bayarnya kalo mau dapat akses ke pengetahuan yang berkualitas plus dgn cara perolehan yg legal”?

Duh klo msh ada yg bilang kayak begini sini saya timpuk jidatnya pake tahu serpong .. wkwkwkw … (peace yach)