Blog post series on “Sculpting happiness and Live happily”
Pelajaran dari Blue Zones dan napak tilas catatan awal tahun 2024
Akhir bulan Juni 2025 yang lalu, akhirnya saya menyelesaikan studi Doktoral Ilmu Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia. Berikut sejumlah liputan atas sidang promosi yang saya tempuh, baik yang formil dan ditayangkan dalam situs web FISIP UI dan PascaKomunikasi FISIP UI, yaitu
https://fisip.ui.ac.id/doktor-ilmu-komunikasi-ui-meneliti-etika-komunikasi-dalam-produksi-pengetahuan/
dan
https://pascakomunikasi.fisip.ui.ac.id/program-doktor/mengulik-etika-komunikasi-produksi-pengetahuan-bonifacius-hendar-putranto-raih-gelar-doktor/
maupun informil dan ditulis sebagai refleksi “laporan pandangan mata” dalam format jurnalistik di sini
https://www.kompasiana.com/mathildaamwbirowo6595/685e1fd034777c5d356bbe82/bagaimana-mengembalikan-martabat-akademik
dan di sini
https://ikadriyarkara.org/2025/06/26/etika-sebagai-jalan-ziarah-akademik-bonifacius-hendar-putranto-resmi-raih-gelar-doktor-di-ui/
Banyak terima kasih saya ucapkan kepada keluarga kandung (ibu, istri dan putri), panitia kecil sidang promosi, pimpinan, rekan dan kolega dari UMN, UI, dan kampus lain yang sudah hadir mendukung saya pada Viva vocet, baik yang hadir langsung di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP-UI, maupun secara daring via Zoom. Ucapan terima kasih yang spesial saya ucapkan pada mas Abdi Susanto yang sudah menuliskan kesan dan refleksinya pada situs web Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara serta bu Mathilda AMW Birowo, kolega dosen Ilmu Komunikasi UMN, di kompasiana.
Secara singkat, perjalanan studi doktoral selama enam tahun itu sungguh-sungguh melelahkan dan mengaduk-aduk emosi saya. Bukan karena saya tidak mencintai belajar, the love of learning, tapi lebih karena faktor XYZ yang membuat studi saya berlangsung lebih lama daripada tempo penyelesaian “ideal” (yaitu 3,5 tahun saja) yang doeloe (2019) saya rencanakan ketika mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Alih-alih menggelegak tidak keruan dan malah meracau, saya sekarang justru jadi teringat catatan yang pernah saya buat pada awal 2024 yang saya rasa baik untuk dibagikan di sini, dalam blog saya. Semoga tulisan pendek ini dapat menginspirasimu ya!
Awal tahun selalu membawa semacam energi baru—meski kadang lebih banyak berbentuk postingan resolusi di story Instagram daripada ketetapan hati untuk mengubah perilaku yang kurang sehat jadi lebih sehat. Namun, pada 1 Januari 2024 kemarin, saya benar-benar duduk diam dan merenungkan hal yang mungkin terdengar sepele: bagaimana menjaga kewarasan berpikir dan kesehatan jasmani, sambil tidak kehilangan rasa gembira dalam menjalani rutinitas keseharian?
Kebetulan, saya membaca kembali riset Dan Buettner tentang Blue Zones—wilayah di dunia di mana orang-orang hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia. Salah satunya adalah Cartago di Kosta Rika. Menurut Buettner, kebahagiaan di sana bukan hadiah dari langit, melainkan hasil desain hidup yang sadar dan konsisten.
Misalnya, mereka punya ritual sosial harian: menonton sepak bola bersama, masak carne asada, atau sekadar minum kopi sambil bercanda dengan tetangga. Perempuan di sana rutin bertemu sahabatnya tiap minggu untuk “hari kecil” seperti martesitos (Selasa kecil) atau juevecitos (Kamis kecil)—momen tertawa dan bergosip sehat. Ada pula makan bersama keluarga besar setiap akhir pekan yang melibatkan lintas generasi dalam obrolan hangat dan menyenangkan.
Buettner juga menemukan kebiasaan lain yang sederhana tapi berdampak: makan enam porsi buah dan sayur segar setiap hari, berbelanja bahan makanan langsung di pasar sambil ngobrol dengan penjual, menggabungkan kerja dengan makan siang bersama rekan, hingga membumbui hidup dengan humor harian. Bahkan dalam menghadapi masalah, mereka memilih bercanda lebih dulu sebelum marah.
Pelajaran dari Cartago ini membuat saya berpikir: mungkin kita sering salah kaprah soal kebahagiaan. Kita kira kebahagiaan datang setelah target besar tercapai—lulus S3, dapat kerja idaman, menikah, atau punya rumah tapak. Padahal, mereka membuktikan kebahagiaan lahir dari rutinitas kecil yang memberi rasa terhubung, berarti, dan sehat setiap hari.
Saya mulai mencoba beberapa di antaranya: mengajak keluarga makan malam tanpa gawai, tergabung dalam WA group chat teman dekat khusus untuk kirim meme lucu atau kata-kata motivasi setiap pagi (nama grupnya: Melek Terus), dan meluangkan waktu untuk belanja langsung ke pasar, bukan hanya klik “checkout” di aplikasi TokPed & Shopee. Hasilnya? Saya merasa lebih ringan, lebih dekat dengan orang-orang di sekitar, dan ini anehnya, malah lebih produktif di pekerjaan.
Mungkin kuncinya ada pada satu kalimat yang Buettner sebut di akhir bukunya: something to do, someone to love, something to give, and something to look forward to. Punya kegiatan berarti, orang yang kita cintai, kebiasaan memberi, dan hal yang kita nantikan—itulah paket kebahagiaan yang dapat kita desain, bahkan tanpa harus menyiapkan paspor ke Kosta Rika.
Tapi tentu saja, mendesain kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa tantangan. Akan ada masa bosan, lelah, dan godaan untuk menyerah. Pertanyaannya, bagaimana kita tetap bertahan di saat-saat seperti itu? Besok Jumat, 15 Agustus 2025, saya akan membahas rahasia para juara yang gigih (gritty champion). Dengan grit, mereka mampu bertahan dan terus melangkah, bahkan ketika semangat sudah nyaris terkuras habis.
Rujukan utama
Buettner, D. (2008). The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest. National Geographic Books.