Categories
Uncategorized

Penelitian Ilmu Sosial itu seperti Mengebor Sumber Minyak

Berikut merupakan teaser dari buku panduan Riset Ilmu2 Sosial menurut tim peneliti ilmu sosial dari Perancis, yang namanya tidak terlalu dikenal oleh kaum cerdik-cendekia keilmuan Sosial di Indonesia, selain dari mereka yang diajar oleh Dr. Haryatmoko, SJ di Program S3 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan mungkin juga mereka yang belajar ilmu2 sosial di kampus Universitas Sanata Dharma.

Van Campenhoudt, L., & Quivy, R. (2011). Research in the Social Sciences (4th ed.). Paris: Dunod.

Daftar Isi (sebagian)

teaser halaman pertama buku ini yang membahas tentang tujuan umum adanya buku

Hasil terjemahan saya dari bahasa Perancis ke bahasa Indonesia untuk 300 kata pertama buku ini:

1.1. Tujuan Umum

Melakukan penelitian dalam ilmu-ilmu sosial mengikuti pendekatan yang analog dengan pencarian dan pengeboran minyak.
Bukan dengan ngebor di sembarang tempat dia akan menemukan yang dicarinya. Sebaliknya, kesuksesan dari sebuah upaya pencarian sumber minyak tergantung dari pendekatan yang diambil. Pelajari dulu tanahnya, soal mengebor kemudian.
Pendekatan ini menuntut adanya kolaborasi dari banyak kecakapan yang berbeda-beda. Ahli geologi akan menentukan wilayah geografis yang memiliki kemungkinan terbesar untuk mendapatkan minyak, sementara para insinyur mendesain teknik-teknik pengeboran yang paling tepat dan para teknisi akan mengimplementasikan ini semua di lapangan.

Kita tentu saja tidak mungkin berharap bahwa manajer proyek pengeboran minyak menguasai secara mendetil semua teknik yang dipersyaratkan. Tugas spesifiknya adalah mendesain keseluruhan proyek dan mengordinasikan berbagai operasi yang diperlukan secara konsisten dan efisien semaksimal mungkin. Tanggungjawab utamanya adalah memimpin keseluruhan sistem investigasi/penelitian.

Proses pencarian sumber minyak dan pengeborannya ini dapat dibandingkan dengan riset ilmu sosial. Yang terpenting adalah bahwa si peneliti dapat mendesain dan mengimplementasikan perangkat guna menerangi realitas, atau, dengan kata lain, mengembangkan suatu metode kerja untuk meneliti. Tugas semacam ini tidak secara sederhana dipahami sebagai hanya menambahkan satu teknik di atas yang lainnya, juga bukan sekadar menerapkan teknik-teknik yang sudah diketahui, tapi lebih pada bagaimana menyetel dan menyelaraskan pikiran dengan setiap jenis penelitian yang diperlukan.

Categories
Uncategorized

The Rise & Hype of Friendly Chatbots: ChatGPT by Open AI

Siang ini, 25Jan2023, saya berkesempatan menjajal sebuah inovasi teknologi yang sedang menjadi hype di kalangan netizen global—termasuk di Indonesia tentu saja, you know lah :)— namanya ChatGPT.

Klaimnya, sebagaimana terpapmpang di situs webnya,
https://openai.com/blog/chatgpt/,
“ChatGPT: Optimizing Language Models for Dialogue”

Kemampuan pembelajaran mesin (machine learning) ini memasuki babak baru, tanpa harus digadang-gadang melewati uji Turing, yaitu dapat berinteraksi dengan user/pengguna in a conversational way.

Jadi, kita manusia pengguna layanan ini gak berasa kayak lagi ngobrol sama “robot.” Ciye ciye. Keren amat yak 😀

Terlepas dari segala kontroversi yg ditimbulkan dengan kehadirannya, mulai dari Google yang katanya ‘kebakaran jenggot’ sampe CEO-nya Sundar Pichai memanggil balik Larry Page dan Sergey Brin dari tapa-semedinya guna mendiskusikan rival baru satu ini dan memikirkan langkah strategis utk meng-upgrade kemampuan Google sebagai mesin pencari dan “teman ngobrol virtual” yg “asyik” :))
[beritanya di sini: https://www.nytimes.com/2023/01/20/technology/google-chatgpt-artificial-intelligence.html]

sampai dengan Reviewer di jurnal Springer Nature yg cemas mules dgn potensi gelondongan submisi dari para intelektual karbitan yg males mikir dan pake jasa ML eh ChatGPT ini (lihat link nya di sini: https://www.facebook.com/groups/reviewer2/permalink/10160134922480469/?mibextid=Nif5oz; thanks Edward Simamora for supplying me with this critical issue).

Nah, setelah berhasil buat akun dan login (harus banget geh!), awalnya saya menjajal kemampuan si ChatGPT ini untuk menjelaskan suatu term akademis yg “standar” meskipun masih “highly disputed” yaitu, jreng jreng, Etika Komunikasi Digital. Lho? Itu kan topik disertasi lo bro? Iye, makanya gw jajal dia tahu apa ttg term/topik ini.

by using ChatGPT on Wednesday, January 25, 2022 (10.15-10.18 WIB), i type “elaborate the digital communication ethics” and the response generated are these:

“Digital communication ethics refers to the principles and guidelines that govern the responsible use of digital technology for communication. This includes issues related to privacy, security, accuracy, and fairness in the use of digital communication tools and platforms. Some specific areas of concern include:

Privacy: Ensuring that personal information is collected, stored, and used in a manner that respects an individual’s right to privacy. This includes issues related to data collection, data retention, and data sharing.

Security: Protecting digital communications from unauthorized access or tampering. This includes issues related to encryption, authentication, and threat detection.

Accuracy: Ensuring that digital communications are truthful and accurate. This includes issues related to misinformation, disinformation, and propaganda.

Fairness: Ensuring that digital communications are accessible and inclusive for all individuals, regardless of their background or abilities. This includes issues related to accessibility, digital literacy, and digital divide.

Overall, digital communication ethics is about ensuring that digital technology is used in a way that is responsible, respectful, and beneficial for society as a whole.” [end of quote from ChatGPT]

What lacking from these answers is threefold (and this is my opinion, not ChatGPT series of answers, why yes):
1) First, no supporting citation(s) from respected scholars on the field (such as Rafael Capurro, Luciano Floridi or Charles Ess, or you name it who) to authorize the plausibility of the answer.
2) Second, there is no “cultural” context for why is it the case that digital communication ethics should be related to issues such as privacy, etc. No examples too! Well, this particular answer is more Western-typical answer, mind you. Kalau kata Nico Grant (2023) yg nulis artikel di New York Times di atas tadi, “Google, OpenAI and others develop their A.I. with so-called large language models that rely on online information, so they can sometimes share false statements and show racist, sexist and other biased attitudes.” Nah lho!
3) The conclusion (“Overall, bla bla bla”) offers no alternative or conflicting paradigms/opinions regarding the term. At least, no words at all on the disputed term.

Setelah menjajal versi “ngobrol akademis” nya mulailah saya iseng dan berpetualang menjajal aspek2 lain yg masih bolong dari mesin LLM (Large Language Models) ini, bahasa kerennya, to exploit the security flaw. Ceile :X

Tes pertama.

ChatGPT gak ngeh siapa itu Benjamin Crowe .. wkwkwkw.. kurang baca & input dari user soal topik & tokoh ini.

Padahal Benjamin Crowe seorang ahli Fenomenologi yg cukup terkemuka dari Boston University, yg menulis cukup banyak karya seputar topik kajian Fenomenologi dan Hermeneutika (khususnya Heidegger dan Gadamer), Filsafat Agama, dan Idealisme Jerman, termasuk book chapter berikut ini:

Untuk tes pertama ini, Edward bantuin saya memperjelas konteks pertanyaan dan asupan “feedback” yang perlu ditambahkan supaya ChatGPT dapat “generate more accurate & relevant response.” Lucunya, Edward membuat sejumlah twist yg lalu akan saya tiru di contoh tes kedua di bawah nanti.

Kata Edward ke saya, “[ChatGPT] Belum punya integritas juga pak utk validitas data2nya, jadi sering asal iya2in user aja 😅”

Tes kedua, terkait jawaban atas rumusan pertanyaan yg ambigu.

Kesan saya, tipe pertanyaan yg ambigu seperti ini sanggup dia (ChatGPT) handle dgn gracious meskipun sebenernya ada banyak kemungkinan jawaban .. hehe.. yg jelas, saya menduga bahwa salah satu insinyur yg ikut mendesain ChatGPT ini orang Jepang atau penyuka hal2 yg berbau Jepang. Nah, sekarang masuklah twist (iseng) nya saya di tes yang ketiga di bawah ini.

Ketika sharing “tes ketiga” yg bernada kelucuan ini dengan seorang rekan sesama penyuka Filsafat, bukan Edward ya, yg lain lagi, berikut responnya:
[dia] buat tes atau lucu lucu ajah?
[saya] Lucu2 aja, ngetes liminalitas algoritmik nya dia😆
[dia] hasilnya?
[saya] santun minta maaf segala
[dia] itu lucu banget chatnya
[saya] Udah jelas yg nanya humoris
[dia] iyah
[saya] Iya aku td yg ngetes gitu. Algoritma mesin sulit memprediksi humor krn sifatnya unpatternable, banyak twist nya. Apalagi membalas dgn ironi, sarkastis, dst
[dia] iyah tuh, lucu
[saya] Jadi salah satu profesi yg relatif masih aman dari serbuan machine learning adalah standup comedian 🤣🤭
[dia] lucuk itu 😂

Terakhir, tes keempat, masih rumusan pertanyaan yg ambigu, tapi poetic arahnya.

langsung eror mesinnya, males ngedebat begini2an..wkwkwkwkw

Eh, pertanyaan saya ini masih dilanjutin sama Edward dan diradikalkan jadi kayak begini (terusin deh bacanya, asli lucuk bangetzzxx)

and, it’s getting worse 🤣🤣

Well, really amusing kind of experience I had earlier today.

And I hope this non-human agency aka INFORGS (Floridi, please deh) doesn’t get hurt too deeply (eww, soppy) and vows to take revenge later (soon?) in a kind of “Terminator mixed with Planet of The Apes” scenario 😆

Cheers, chatty bots!

Categories
Uncategorized

Pentingnya mengarusutamakan Pendidikan Keutamaan-siber dan Kebijaksanaan-siber

Tulisan singkat ini bertolak dari sharing pengalaman seorang rekan yang putrinya menjadi korban perundungan verbal (“verbal bullying”) dari teman sekolahnya belum lama ini. Putri rekan saya tersebut mengaku dikata-katai oleh beberapa teman cowoknya dengan julukan “lesbi,” “item” dan “nigga/nigger,” baik ketika berinteraksi secara daring (di grup WhatsApp) maupun interaksi tatap muka (KBM) dalam lingkungan sekolah. Masih menurut rekan saya tersebut, bukti dan saksi atas peristiwa perundungan ini sudah dikumpulkan seperlunya (misalnya skrinsyut WA yang berisi kata-kata bullying, bahkan yang tidak senonoh seperti alat kelamin pria, yang di-posting teman-teman cowoknya itu di grup WA bermain putrinya dengan teman-teman sekolahnya) seperlunya dan dia sudah melaporkan hal ini kepada pihak sekolah lewat walikelas putrinya.

Sebagai orang tua yang sayang anaknya dan tentu saja berharap jangan sampai lingkungan sekolah menjadi toxic bagi perkembangan karakter putrinya, tentu saja hatinya menjadi masygul. Pada sesi pertemuan tatap muka ortu murid dengan wali kelas sebelum tahun 2022 berakhir kemarin, dirinya sudah menyampaikan kejadian ini secara terbuka kepada wali kelasnya, dengan didengarkan juga oleh para ortu murid lain yang hadir di ruang kelas, supaya menjadi lesson to learn bersama.

Sebagai tindak lanjut dari pengaduannya tersebut, demikian dia berkata kepada saya, wali kelas putrinya sudah memanggil dan menegur anak-anak yang menjadi pelaku perundungan verbal tersebut beberapa hari kemudian, juga mengingatkan berulangkali agar jangan sampai kejadian ini berulang di lingkungan sekolah, yang relatif masih berada dalam kontrol mereka, maupun lingkungan bermain anak-anak, baik secara luring maupun daring, yang relatif jauh dari kontrol mereka. Pada lingkungan bermain di luar kontrol pihak sekolah inilah peran orangtua menjadi sentral untuk mengawasi dan memoderasi konten percakapan putra dan putri mereka pada berbagai apps grup interaksi daring seperti grup WA, Discord, Telegram, chat/komen di akun YouTube, IG, TikTok, dll.

Dia kemudian merefleksikan bahwa bertolak belakang dengan cita-cita pengembangan karakter berbasis nilai keagamaan tertentu yang didengung-dengungkan oleh pihak sekolah putrinya, kenyataannya jauh panggang dari api, paling tidak dari kacamatanya sebagai ortu murid yang merasa prihatin bahwasanya putrinya turut menjadi korban. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, respek terhadap perbedaan dan cintakasih, yang notabene masih dianggap lingkungan yang relatif lebih aman untuk putrinya tumbuh berkembang menjadi pribadi yang wajar dan sehat, ternyata malahan menjadi momok baginya ketika perundungan ini terjadi. Belakangan dia mengetahui bahwa ternyata bukan hanya putrinya yang jadi korban perundungan. Teman putrinya bahkan menjadi korban perundungan fisik sampai ke, maaf, ditowel “dada dan pantatnya.” Yang lebih mengenaskan lagi, peristiwa perundungan fisik ini justru sudah terjadi satu dua bulan sebelum berlangsungnya pertemuan ortu murid dengan pihak sekolah secara tatap muka di akhir 2022 tadi dan sebelum akhirnya mendapat perhatian serius dari pihak sekolah—meskipun juga sudah diadukan oleh pihak ortu murid yang putrinya dirundung sesaat setelah perundungan itu terjadi.

Yang lebih menjadi keprihatinannya adalah ternyata pihak sekolah belum mendesain mekanisme pencegahan dan penanganan yang proper, yang tertulis dan disosialisasikan secara terbuka dan terus-menerus, terkait perundungan verbal, fisik, maupun seksual yang dilakukan baik oleh sesama pelajar maupun oleh pihak staf/guru terhadap murid. Dirinya berharap pihak sekolah dapat SEGERA menyusun mekanisme penanganan KS maupun bullying yang jelas, tegas dan terkordinasi dengan baik, bahkan jika perlu bekerjasama dengan pihak penegak hukum setempat supaya memudahkan penanganan kasus-kasus yang mungkin terjadi lewat jalur hukum, jika “pendekatan kekeluargaan” gagal memediasi pihak-pihak yang bertikai. Tukasnya, jangan sampai kelulusan putrinya dari sekolah justru malahan ditemani “ijazah” trauma yang mendalam karena menjadi korban perundungan.

Dalam terang pengalaman konkrit yang disampaikan rekan saya inilah saya melihat pentingnya membaca esei karya Dennis dan Harrison (2020) yang dimuat dalam jurnal Pendidikan Moral. Tim penulis memberikan pandangan menarik tentang urgensi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keutamaan, dus, pendidikan etika, di tengah-tengah tantangan BARU yang dihadirkan lingkungan teknologi digital (daring). Meskipun beberapa belas tahun yang lalu tantangan ini belum mendapatkan perhatian khusus dan penelitian serius dari para ahli etika dan filsuf moral, tapi, belakangan ini mereka dan para ahli psikologi serta peneliti sosial mulai tertarik membahas character-related concerns dalam kajian STS dan filsafat teknologi.

Sayangnya, masih teramat sedikit sarjana yang mengeksplikasi secara lengkap dan lugas pentingnya pendidikan untuk mencapai kesejahteraan digital (digital well-being & cyber-wisdom) yang berbasis pendekatan pendidikan karakter serta berakar pada tradisi Etika Keutamaan (virtue ethics). Hanya dengan memahami kesejahteraan digital sebagai seperangkat konsen yang berpengaruh pada karakter manusialah, demikian hal yang dipercaya para pemikir di jalur ini, kita dapat mengkonter tantangan-tantangan etis mendesak yang dimunculkan oleh keberadaan ‘teknologi baru’ (emerging technologies) yang menuntut kita untuk menghadapi dan menyikapinya.

Meskipun luas dipercaya bahwa pada dasarnya karakter adalah hal yang ditanamkan (terasimilasi) sejak dini secara pasif, sejumlah ahli lebih percaya bahwa aktivitas pendidikan perlu secara sadar dan terarah menyediakan anak dengan bahasa dan pembiasaan dalam prinsip-prinsip etis keutamaan yang dasar. Anak seharusnya dapat belajar membedakan mana tindakan daring yang secara moral benar dan salah dari sekeliling mereka, secara khusus, dari orangtua dan rekan sebaya (peers) mereka. Mengingat bahasa dan prinsip-prinsip keutamaan bukan hal yang dominan dalam diskursus kehidupan daring anak, cukup meragukan bahwa anak akan menyerap nilai-nilai keutamaan ini—diibaratkan sebagai proses osmosis (proses penyerapan air dalam sel-sel makhluk hidup)—dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Dennis dan Harrison (2020) percaya bahwa pemikiran dari Cocking dan van den Hoven (2018) serta Vallor (2016) tentang kabut moral (moral fog) dan kegelapan teknososial (technosocial opacity) dapat berkontribusi positif untuk memecahkan masalah ini. Jika kita tidak dapat mengandalkan anak-anak sendiri untuk menumbuh-kembangkan keutamaan-siber dan kebijaksanaan-siber lewat lingkungan tempat mereka bertumbuh, maka kita sebagai orang dewasa, guru dan pendidik, perlu secara lebih sadar-terarah (intensional) mengupayakan dan mendesain model pendidikan yang akomodatif terhadap gagasan ini.

Dalam terang pengertian inilah karakter yang diajarkan dapat memuat satu atau lebih pelajaran yang berbasis-ruang kelas tentang konsep kebijaksanaan-siber. Contoh upaya yang terisolasi “di ruang kelas” ini memang dapat membawa sejumlah manfaat bagi anak-anak (peserta didik) tapi kurang memadai jika hanya ini saja yang diupayakan. Pendekatan pengajaran nilai-nilai keutamaan juga perlu memberi ruang pada sejumlah kegiatan yang terencana, sadar, eksperiensial, dan reflektif yang saling berkaitan yang ditujukan untuk menanam dan/atau memoles keutamaan-siber dan kebijaksanaan-siber. Kesemua gugus kegiatan yang saling terkait ini dapat diajarkan baik di dalam sekolah dan setiap unit pendidikan, kegiatan lintas-kurikulum dan ekstra-kurikulum serta dilakukan di rumah dan juga di dalam komunitas-komunitas tempat anak-anak hidup dan bermain, termasuk ketika mereka bermain online games yang ngetren beberapa tahun terakhir ini seperti Roblox, Minecraft, Dota 2, World of Warcraft, PUBG Mobile & League of Legends, dll. (!).

Lebih dari sekedar diajarkan, dalam arti disampaikan secara lisan di ruang kelas, keutamaan dan kebijaksanaan siber juga perlu dicontohkan para guru dan orangtua lewat moderasi perilaku daring dan tutur-kata anak-anak mereka di grup-grup percakapan daring seperti WA, Telegram, dll. Mereka perlu diingatkan bahwa “that’s not how civilized people talk and comment. You can be better than that, dst.” Mengingat begitu besarnya pengaruh “media sosial dan online games,”—saya menyebutnya sebagai “sosok orang tua ketiga di era digital yang digerakkan bukan oleh tata nilai keutamaan tradisional dan local wisdom tapi oleh algoritma mesin pembelajar dan logika kapitalisme informasional”—terhadap proses pembentukan karakter anak-anak yang masih bertumbuh-kembang dan mencari role model yang tepat dalam proses bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggungjawab, kita sebagai guru, orang tua dan responsible adults tidak dapat menutup sebelah mata dan menganggap tantangan ini sebagai angin lalu.

Sejumlah bentuk nyata dari berkembangnya karakter secara sehat tersebut adalah anak menjadi semakin eling lan waspada (mindful) terhadap pikiran dan perasaannya; ia semakin dapat menjaga kesantunan dan menunjukkan respek kepada orang lain dalam berbahasa dan bertutur, baik dalam interaksi face-to-face maupun termediasi. Ia juga berani mengaku salah jika melanggar aturan, norma dan nilai yang dijunjung bersama, serta secara spontan dan tulus meminta maaf pada pihak-pihak yang dirugikan/dilukai karena kesalahan yang dilakukannya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Beware, parents and teachers. We must pay close attention on the ascending influence of the online surroundings towards the possible character diminution of our beloved children and take action accordingly!

Rujukan
Cocking, D., & van den Hoven, J. (2018). Evil Online. Wiley Blackwell. >> See the book here: https://www.jeroenvandenhoven.eu/2018/evil-online-new-book-why-the-design-of-our-digital-environment-matters/

Dennis, M. J. & Harrison, T. (2020). Unique ethical challenges for the 21st century: Online technology and virtue education. Journal of Moral Education, 50(3), 251-266. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/03057240.2020.1781071

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford University Press. >> see the snippets of the book here: https://academic.oup.com/book/25951?login=true

Categories
Uncategorized

On Becoming morally supportive for visible-college fellow Doctoral students

Beberapa bulan terakhir ini, biasanya dalam setahun ada dua periode “sibuk sidang” yaitu Mei-Juni dan Desember-Januari, ada satu kegiatan yang rutin saya lakukan dalam rangka self-enhancement sekaligus becoming morally supportive for fellow Doctoral students in Communication science, yaitu menghadiri sidang hasil penelitian (biasa disebut SHP) dan sidang promosi dari kakak tingkat (Angkatan 2016-2018), juga rekan seangkatan, Mbak RDP pada Mei 2022 lalu.

Mindfully aware of the consequences of attending the activities, both their upsides, and downsides, I come to observe some interesting phenomena and for these, I take some notes. Hopefully, these notes will be of interest to you who are currently enrolled as Doctoral students in Comm science or social science in general, or those who would be applying to attend one any time soon.

The upsides are listed below:
1) self-enhancement in terms of preparing myself to be examined as such in the near future, knowing in depth and in detail about some characteristics of the questions typically addressed to Promovendus, some pitfalls usually be given a warning (such as the incoherence of paragraphs and ideas; some pabalieut or messiness of arguments’ construction; lack of convincing data and data-types; etc.), and, luckily, some insights coming from the so-called examiners-as-experts.
2) becoming morally supportive of my fellow doctoral students to the point of they feel not left behind unnoticed, or, in a more positive tone, being appreciated for the hard work they have given in composing the dissertation reports and the possible novelty they offer to the body of knowledge proper.
3) in a rare moment of eureka, the philosophical wonder of wisdom, the thaumazein, erupts to the surface of my consciousness and takes hold of bridging the hitherto impossible thinking beyond imagination to the realm of measured ideas and tentative concepts. The differences in topics and methods do not obstruct the way the passionate pursuit of knowledge shown by my fellow colleagues (“the act of performativity”) reverberates and unlocks some confusion previously entrenched in my own locker of mind. Thinking in a similar “fate” and situation means venturing beyond the impassable to the familiar terrain to walk.
4) do ut des: when I give you mine, I hope in the near future you will give me yours (attention, help, etc.) Of course, the disappointment is there lurking in the shadow of “being forgotten” but at least the law of attraction still works for some.

The Downsides are not many but there are some, indeed:
1) the unbearable feeling of being tortured with scathing reviews and childlike treatment addressed to the promovendus sometimes seeps into the innermost feeling (the unconscious one, eh?) of myself as a spectator, fostering a suppressed feeling of built-up insecurity. This feeling would sway the solid foundation of having knowledge of the subject matter being researched and, to some extent, would corrode mental health and well-being.
2) lacking self-confidence would be contagious if no proper shield is prepared in advance.

Hopefully, these reflections would be beneficial for deepening your (our) understanding of the crux of the matter 😀

Categories
Uncategorized

Minggu, 1 Jan 2023: Selamat Tahun Baru 2023. Kuy jaga mental health!

Seperti inikah bentuk “perayaan” tahun barumu?

forget the past? really? why should you?

atau ini?

Penting juga utk memulai tahun baru dengan a small festive with nuclear family, to boost your spirit for the 365 days ahead

Tapi mungkin sedikit dari kita yg memilih utk melihat gambar ini dan merenungkannya dalam2: what does it take to enable me to reach the same destination as theirs? Living a long and (seemingly) happy life?

Dalam refleksi saya, perayaan tahun Baru berarti menegaskan komitmen akan pentingnya dan mengartikulasikan kembali resolusi utk menjaga kewarasan berpikir dan bertutur, serta menjaga kesehatan jasmani dan mental: let us enhance a more thorough happiness will you?

The Blue Zones of Happiness: Lessons from the World’s Happiest People karya Dan Buettner (2017) bisa menjadi titik berangkat refleksi yg menarik di awal tahun yg baru. Riset belasan tahun yg dilakukan Buettner, dan sudah menghasilkan beberapa buku seperti The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest; Thrive: Finding Happiness the Blue Zones Way; dan The Blue Zones Solution: Eating and Living Like the World’s Healthiest People, menunjukkan bahwa sejumlah orang di dunia ini, misalnya mereka yang hidup di kota Aalborg di Denmark, negara Singapore, dan wilayah Kartago di negara Kosta Rika, menjalani hidup secara “healthiest, happiest, & most long-lasting lives.”

Hidup yang memuaskan dan membahagiakan dapat didesain bersama dan bukan jatuh dari langit begitu saja. Berdasarkan riset empiris dan pendalamannya secara kualitatif, hidup yang membahagiakan bukanlah hidup yang bergelimang harta atau melulu mengejar cuan dan cuan. Buettner menyebut kawasan yang di dalamnya tinggal orang-orang yang paling bahagia ini sebagai “Blue zones.” Istilah ini merujuk pada daerah-daerah yang, dengan ritual dan desain tertentu untuk menjalani hidup, angka harapan hidup dan rata2 usia orang yang hidup di dalamnya relatif lebih panjang daripada di belahan bumi yg lain.

Kita dapat belajar dari mereka.

Misalnya, berikut saran Buettner (2017) untuk menjalani hidup bahagia seperti yang diamati di Kosta Rika:

1. Develop daily social rituals. Costa Ricans are good at creating happy moments every day, with no need for special occasions. Friends get together to watch soccer, play music, prepare carne asada—barbecue—with family or neighbors, drink beer, and tell lots of jokes.
Lessons: Live close to your friends or make friends of your neighbors. Organize impromptu happy hours, pot lucks, or backyard cookouts. Remember, people are happiest on the days when they socialize five to six hours. Being with others also enhances or prioritizes other activities, such as work, eating, watching TV, or doing housework.

2. Enjoy special “little” days. Women get together with girlfriends once a week to bond, laugh, and gossip on what they call martesitos, miercolitos, or juevecitos—little Tuesdays, little Wednesdays, or little Thursdays. For working women, it’s usually in the early evening. For stay-at-home moms, it’s often midday. Considered “their time,” such get-togethers keep relationships healthy and vibrant.
Lessons: Join a book club, walking club, or Bible study club—or create one. Set up one time a week when you invite over your best, most committed friends. Make it a ritual. Most of us don’t socialize enough to optimize our happiness.

3. Establish a weekly family ritual. Costa Rican families traditionally gather for meals on Saturdays or Sundays. They might get together for a late lunch, after which the kids will peel off to play while adults loll around the table for conversation. Or people might come early for Sunday dinner and stay late. The key is that they include grandparents, parents, sons, daughters, in-laws, cousins, and close family friends—so the conversations are intergenerational, lively, and often laced with humor.
Lessons: Set up a weekly family dinner and invite your extended family. If you don’t have many relatives nearby or if your family is boring, invite friends who will make the dinner interesting. Cook good food, be a good host, and make it fun so people will come back. A strongly connected family can serve as not only a social network but also a safety net for when times get tough.

4. Eat together at work. At the Cartago Market, vendors close their stands at noon to gather around La Marisquería, a seafood restaurant, to enjoy the famous fish soup, rice, and beans. There they blend shop talk, family news, soccer stories, and jokes. These guys are not only refueling their bodies but also their souls.
Lessons: Resist the temptation to eat at your desk. Invite your co-workers out to lunch or organize a brown bag group. Talk to your employer about a company policy that favors co-workers eating together.

5. Try a daily dose of humor. Although Costa Ricans suffer the same hardships as the rest of us, they use humor to get by. When news about a corrupt politician makes people angry, social media erupts in jokes within minutes.
Lessons: Read the comics as well as the op-ed pages. Watch a funny video on Facebook or YouTube. It can reduce stress as effectively as 20 minutes on a treadmill—and lift your spirits.

6. Practice your faith. The vast majority of Costa Ricans are Roman Catholics, especially in Cartago, which is home to the Virgen de los Angeles, the country’s patron saint. Locals will tell you that their faith provides them with a sense of purpose and helps to ease the impact of life’s hardships. For many, weekly mass is a chance to downshift and shed stress. Their best friends are church friends.
Lessons: If you have a religion, practice it. If you don’t, try out a few places of worship to see if any resonate with you.

7. Eat six servings of fruits and vegetables a day. The Cartago market glistens with fruits and vegetables, from papayas and mangoes to beets, cabbage, and yucca. Produce is fresh, cheap, delicious, and accessible year-round—a daily source of nutrition and pleasure.
Lessons: Eat at least six servings of fruits and vegetables daily. Not only will this improve your health, it will also boost your happiness. Research shows that people who go from no fruit or produce in their diets to eight servings a day experienced a bump in their well-being equivalent to getting a new job.

8. Shop for groceries daily. People don’t sit around in Cartago, waiting for Amazon to deliver their groceries. Most people walk to the market daily, where they exchange gossip and pleasantries with their favorite vendors and friends, returning home with the freshest foods possible.
Lessons: Get your daily fix of social interaction, physical activity, and fresh produce by walking to your local grocery store. All three of these are ingredients for day-by-day happiness.

9. Embrace generosity. Costa Ricans have a saying, Dios se lo paga, which means that what you give in this life, God will pay back in the next. Studies show that generosity pays off, no matter where you live. (Case in point: Researchers at the University of Oregon found that when they gave people $100, participants were happier when they gave it away than when they spent it on themselves.)
Lessons: Most of us will die with money, so share it now. Be the first to pick up the check at meals, give to charity, and overtip.

10. Boost happiness in the workplace: the Cartago Code. The 120 or so vendors at the central produce market in Cartago observe an unspoken code of conduct that makes for not only good business but also a happy workplace. These men and women spend their careers selling specialty produce—often right next to a stall selling the exact same thing, and they all abide by these implicit rules.

Akhirul kata, saran sederhana berikut merangkum hal2 yg dianggap dapat meningkatkan kebahagiaan individual (warga negara) dan kualitas pengambilan keputusan oleh para pemimpin komunitas, bangsa dan negara:
“Something to do, someone to love, something to give, and something to look forward to.”

Categories
Uncategorized

Refleksi 2022, Proyeksi 2023: Penyingkapan dan Pemaknaan

Sidang Pembaca yang budiman dan reflektif,

Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani, “The unexamined life is not worth living.” Betapa sering ujar-ujar bijak yang dikutip dari Sokrates di muka pengadilan Yunani klasik ini menjadi salah satu entry point bagi kita untuk merenungkan perjalanan hidup yang sudah dilalui dan memandang ke depan untuk proyeksi keberlanjutan hidup seterusnya.

Ziarah batin yang kaya dan mendalam atas gugus pengalaman yang sudah dilalui mungkin bagus juga jika dibingkai dengan suatu pola yang mudah diingat, dipahami dan ditiru, misalnya:

Menutup tahun 2022 dan menyambut 2023 dengan sebuah pola matematika lima bilangan prima pertama: 2, 3, 5, 7, 11

DUA, maksudnya adalah two game changers:
1) Covid-19 [vaksin, tertular, isoman, bergejala, sembuh, survivor] &
2) Disertasi [topic, process, promotor co-prom, research partners, presenting ideas & intellectual repertoire], periode Januari – Desember 2022

TIGA, maksudnya adalah three things to be most grateful for the year 2022: Family, Friendship, & Public engagement.

LIMA, maksudnya bukanlah lima hal yang disesali telah terjadi, tapi lebih ke lima hal yang dirasa masih ada ruang untuk berkembang karena selama setahun ini tampaknya masih cukup defisit, contohnya: Focus, Character, research collaboration, reading list & mental health.

TUJUH, maksudnya adalah tujuh hal yang mau dikejar sebagai resolusi di tahun yang baru (2023), misalnya:
1) well-being (bodily and mental health)
2) dissertation (complete)
3) new research collaboration and new partners in writing journal articles
4) house renovation
5) severe ties (from toxic ones), fix broken links (seeking redemption) & maintain already good relationships,
6) interdisciplinary public engagement & becoming a recognized public intellectual [via many institutions and organizations I that closely affiliated to]
7) financial security through investment

dan

SEBELAS, artinya sebelas hal yang benar-benar harus disiapkan secara teknis, materiil, maupun mental (misalnya dalam hidup keprofesionalan) di tahun yang akan segera datang, contohnya:
*) menyiapkan sidang hasil penelitian pada Februari/Maret(SHP 1) dan Mei (SHP 2) dilanjutkan dengan sidang promosi pada Juni
**) menulis di blog rutin minimal seminggu dua kali: diseminasi gagasan & networking (target hasil: minimal 100 tulisan pendek 300-500 kata per postingan) lalu disambungkan postingannya dengan akun LinkedIn saya.

Akhirul kata, sebagaimana kalender lama disobek dan disimpan (atau dibuang?) lembarannya dan kalender yang baru dibuka/disingkap lembarannya, [lihat gambar di bawah]

maka “Lingua universalis” yang kaya makna dan lapis-lapis penyingkapan jati-diri dan jati-semestaarti seyogianya tidak diboroskan hanya dengan gemebyar luar pesta-pesti minim arti dan hanya menambah perih hati ketika gugus citra itu kemudian pergi berlari nyaris tidak ada yang terpatri di dalam budi.

Mari kita untaikan “Sampai jumpa 2022, auf wiedersehen & Selamat datang, bienvenue 2023!”

Categories
Uncategorized

Panen Produksi Pengetahuan menjelang Tutup Tahun 2022

Sidang pembaca blog yang saya dampingi,

Terbitnya dua artikel berikut ini diharapkan dapat memperkaya diskursus perubahan sosial, terkhusus dalam rumpun keilmuan Komunikasi dan Interdisiplinernya semisal Komunikasi Antarbudaya, Etnografi Komunikasi Kritis, Feminisme dan Gender, Komunikasi Gender, dan Women’s Empowerment.

Bagi penulis yang sudah berproses selama belasan bulan untuk mengolah manuskrip yang akhirnya dimuat di jurnal Humaniora, vol. 34(2), persisnya sejak mengikuti lokakarya saringan naskah pada 17 Juli 2021 sampai dengan terbit resminya naskah ini di situs web jurnal Humaniora https://journal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/download/68097/34973 pada 20 Des. 2022 yang lalu,

dan

8 bulan untuk manuskrip yang dimuat di RJIC https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17475759.2022.2161003), bertepatan dengan perayaan Hari Ibu/Gerakan Perempuan di Indonesia pada 22 Des. 2022,

membutuhkan bukan hanya grit (kegigihan) tapi juga kecermatan dalam memeriksa kembali naskah yang sudah dikembalikan (dengan komentar dan masukan) oleh reviewer dan kerjasama yang apik dengan rekan penulis untuk naskah kolaboratif yang dimuat di RJIC, khususnya penulis pertama yang jadi mentor saya, ibu Dr. Bherta Sri Eko.

Ini adalah sebuah pencapaian yang layak dibanggakan, meskipun mungkin rasa bangganya akan berlalu dalam beberapa bulan ke depan, tapi legasi tertulisnya dan tumpahan idenya dapat terus hidup dan dicatat (syukur-syukur kalau dikritik, dikutip, disanggah, dimodifikasi, dst.) oleh generasi cendekia yang akan datang, saat (para) penulis karya ini sudah tiada dan tidak lagi dapat merespon masukan yang ada dan berkembang secara langsung.

Bagi kaum nyinyir di luar sana yang kesenengannya hanya nggosipin tingkah perilaku orang ataupun mager menghanyutkan diri dalam tindak konsumtif hiburan maupun hedonis (belanja daring, misalnya), yang mencemooh jalan sunyi yang kudu dilalui kaum cerdik cendekia untuk sampai pada produksi pengetahuan yang berkualitas, atau mengabaikan keberadaan kami karena tampaknya kami lebih sering disengaged dari “kenyataan” alih-alih imersif dalam “perayaan nan riuh-rendah,” mari kita saling menghormati dan mengakui ko-eksistensi dua atau tiga cara mengada yang tidak selalu berkelindan dengan santai/santuy nya. Moga-moga pengalaman berbeda yang kita jalani ini dapat saling memperkaya dan memperdalam cakrawala kecendekiaan yang ada alih-alih tumpuk sambyuk ala reduktif absurditis.

Akhirul kata, semoga terlihat jejak kebenaran dari kutipan psikolog besar Carl Jung berikut ini “What we see is blossom, which passes. The rhizome remains.” (Carl Jung, Memoirs, Dreams, Reflections, 1965, h. 4) dalam memahami dan memberi makna pada yang berlalu (the passing) dan yang tinggal menetap (the remains).

Cheers,

Hendar Putranto

Tanggapan dari sidang pembaca untuk manuskrip “Criticizing Female Genital Mutilation Practice…”
“Selamat sore pak Hendar.
Sebelumnya proficiat atas terbitnya jurnal pak Hendar dan saya sangat berterima kasih telah berkenan berbagi tulisan yang sangat bernas lagi inspiratif ini.
Jujur saya merasa ngeri dan miris dengan mereka yang menjadi korban kebiadaban orang-2 terdekat mereka spt keluarga dan masyarakat yg mendukung budaya seperti itu.
Berlebihankah bahwa alasan-2 religius dan “bermoral” untuk melanggengkan tirani dari hierarki itu justru merupakan “pembunuhan” paling manusiawi atau setidaknya “paling benar” untuk diwariskan?
Well, memang sih mungkin ngga sampe membunuh physically orang itu, tetapi ia telah membunuh “separuh” martabatnya di masa mendatang dengan tunduk pada dominasi patriarki dan religi yang sebenarnya sudah tidak murni.
Meski begitu, memang, sebenarnya letak kesalahan juga gak sepenuhnya di pundak laki-2 aja sih.
Bukan juga melulu agama meski dia salah satu fondasi paling toxic untuk melegitimasi hal-2 semacam gini.
Seperti halnya sejarah dari FST, fenomena ini menantang para perempuan, atau lebih luas lagi masyarakat untuk menggunakan pikirannya. Karena “opposing all forms of domination” baru dimungkinkan kalau orang mulai berpikir.
Dan memang itulah tugas filsafat, yakni memperingatkan atau setidaknya berteriak “tidak” di tengah-2 mereka yang bersuara “ya”.
Tulisan ini sangat edukatif dan inspiratif bagi semua, utamanya bagi kaum perempuan untuk mematahkan atau setidaknya menunda pelanggengan kekeliruan atau kecacatan berpikir.
Semangat menulis untuk pak Hendar, kiranya Tuhan memberkati dengan hikmat-Nya dan diberkati pengabdiannya sebagai dosen, penulis, untuk mencerdaskan anak bangsa dan membebaskan mereka dari jerat dogmatik serta mencipta budaya yang lebih rasional, adil, dan manusiawi.
Tentang saran dari saya pak, tulisan ini dikemas dalam bahasa yang lebih sederhana untuk kemudian dimuat di media yang mudah dijangkau masyarakat umum dan awam, karena kan target dari tulisan ini adalah mereka bukan?
Supaya tulisan ini tidak hanya berhenti sebagai arsip keilmuan, lebih dari itu ialah benar-benar mencipta perubahan dalam masyarakat, dalam hal pandangan mereka terhadap agama, budaya, kebiasaan, tradisi.
Tuhan memberkati ✨”
[Jessica-Chan, Mahasiswa Fakultas Hukum UNNES, Penggiat Filsafat di komunitas Masyarakat Filsafat Indonesia dan beberapa komunitas filsafat lainnya]

Categories
Uncategorized

[kuliah tamu di Program MIK] tentang Konflik Kepentingan dan Tantangan Etisnya dari perspektif SC & Comm Ethics

Pada hari Rabu 2 November 2022 yg lalu, saya diundang oleh Dr. Daniel Susilo sebagai Kordinator Mata Kuliah Filsafat dan Etika Komunikasi pada program Magister Ilmu Komunikasi (MIK), FIKOM UMN untuk membagikan wawasan keilmuan saya terkait topik yg amat menarik dan relevan dengan studi disertasi saya, yaitu soal Konflik Kepentingan dan Tinjauan Etisnya. Audiens dari kuliah tamu secara daring adalah mahasiswa program MIK, Batch 3 semester 1, sejumlah 18 orang (yang hadir 15 orang saja pada malam itu).

Berikut tampilan cover salindia dari materi pemaparan yang saya sampaikan:

Dengan memerhatikan sejumlah arahan atau kisi-kisi (Silabus) perkuliahan yang diberikan mas Daniel, demikian saya memanggilnya, saya mengulas topik di atas dengan 3 langkah berikut ini: bertolak dari fenomena yg teramati, kemudian penegasan pisau analisis yg akan digunakan utk membedah fenomena tsb, dan akhirnya pemaparan hasil analisis serta rekomendasinya. Sederhana dan jelas bukan langkah2nya? 😀

Adapun, fenomena teramati yg masih sering terjadi terkait breach of ethics, khususnya academic ethics, tergambar pada skrinsyut2 berikut ini:

Sementara, untuk pisau analisisnya, saya membuat distingsi terlebih dahulu, baru menajamkannya dengan definisi operasional terkait focal concepts yg digunakan yaitu: Etika, Etika Komunikasi, Etika Strategic Communication dan Conflict of Interest itu sendiri.

Berikut sejumlah definisi operasional yg saya gunakan:
“Information ethics explores and evaluates: the development of moral values in the information field, the creation of new power structures in the information field, information myths, hidden contradictions and intentionalities in information theories and practices, the development of ethical conflicts in the information field.” (Capurro, 2005: 7)

“Strategic communication holds power to define issues, interactively create understanding, envision options for solutions, and implement policy at organizational and public policy levels. The ability to construct issues and policy creates a responsibility to communicate ethically. Ethics of strategic communication refers to that which is morally worthy in the communicative context. Right versus wrong communication, furthering an innate good, serving the greater good, and facilitating social discourse are all perspectives that can be used to define morally worthy communication.” (Bowen, 2018)

“Ethics govern and yet are distinct from law. That is, while laws encode values and customs that will be enforced by the power of the state, more generally ethics concern those values and beliefs (whether enforced by law or not) that a society or group or individual believe will most likely create goodness.” (Lipari, 2017)

“Communication ethics concerns the creation and evaluation of goodness in all aspects and manifestations of communicative interaction.” (Lipari, 2017)

“Moral dilemmas are a pervasive feature in organizational life, and the discipline of ethics offers principles, tools, and concepts to analyze them and reach a decision about what to do. A moral dilemma is typically a situation where the decision-maker must choose between two or more options that represent some moral requirement or duty.” (Kvalnes, 2019: 3)

Terkait pemaparan hasil dan rekomendasi, saya menjabarkannya ke dalam 6 slides berikut ini:
(1) Conflict of interests as a moral issue;
(2) Trolley Problem as a classic example of Ethical Dilemma;
(3) Contemporary cases of the “conflict of interest” (mengutip dari Plaisance, 2018: 10-11);
(4) The case of a fat man’s desire to feast on profiteroles (mengutip dari MacIntyre, 2016: 10);
(5) The case of gratification (mengutip dari Roberts, 2021); dan ditutup dengan
(6) “5 approaches to dealing with conflict of interests”

Rujukan:
Capurro, R. (2005). Information Ethics. Computer Society of India Communications, 7–10.
Floridi, L. (2013). The Ethics of Information. Oxford: Oxford University Press.
Fuchs, C. (2023). Digital Ethics: Media, communication and society; volume five. Abingdon, Oxon; New York, NY: Routledge.
Ikonen, P., Luoma-aho, V., & Bowen, S. A. (2016). Transparency for Sponsored Content: Analysing Codes of Ethics in Public Relations, Marketing, Advertising and Journalism. International Journal of Strategic Communication, 11(2), 165-178. DOI: 10.1080/1553118X.2016.1252917
Kvalnes, Ø. (2019). Moral Reasoning at Work: Rethinking Ethics in Organizations. Cham, Switzerland: Palgrave Pivot.
Lipari, L. A. (2017). Communication Ethics. Oxford Research Encyclopedias. Published online: 27 February 2017. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190228613.013.58.
MacIntyre, A. (2016). Ethics in the Conflicts of Modernity: An Essay on Desire, Practical Reasoning, and Narrative. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Plaisance, P. L. (2018). Defining the Field. In Patrick Lee Plaisance (ed.). Communication and Media Ethics (pp. 1-14). Boston/Berlin: De Gruyter Mouton.
Roberts, J. (2021). Conflict of Interest. LibreText Social Sciences.
https://socialsci.libretexts.org/Bookshelves/Communication/Intercultural_Communication/Book%3A_Writing_for_Strategic_Communication_Industries_(Roberts)/03%3A_Strategic_Communication_Ethics/3.04%3A_Conflict_of_Interest

sumber dari internet:
https://philosophynow.org/issues/116/Could_There_Be_A_Solution_To_The_Trolley_Problem
https://medium.com/curious/why-trolley-problems-are-the-least-interesting-ethical-dilemma-and-some-more-challenging-ones-c6dc2c1ca8e5

Categories
Uncategorized

[upcoming publication] Criticizing Female Genital Mutilation Practice from Feminist Standpoint Theory: A View from Communication Science Perspective

Author: Hendar Putranto
Doctoral Program of Communication Sciences, Universitas Indonesia

().

Abstract
This conceptual review examines Female Genital Mutilation (FGM) practice in Indonesia viewed from Feminist Standpoint Theory (FST). The current study uses a literature review to build an argumentative contribution from communication science perspective. FGM is a global phenomenon locally and culturally practiced in more than 29 countries, including Indonesia. Despite many state regulations and international treaties forbidding the practice because of its harmful consequences, FGM practice is persistently maintained by religion, culture, tradition, and other factors. The author proposes FST as a theoretical base to criticize FGM because it does not represent the lived experience of women, marginalizes women further to the brink of ideal democratic participation, and does not contribute towards the positive construction of female selfhood. The author will elaborate on these three objections using the communication science perspective within the Indonesian cultural context. The author proposes more action-oriented theorizing to overcome FST’s practical deficiency by providing insights from critical intercultural communication. Women’s collective agency based on situated knowledge will empower their communicative skills as enablers of transformation to eradicate FGM.

see: https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/pages/view/articleinpress (will be updated later when the article is officially published in Humaniora)

Categories
Uncategorized

Menyoal Eksplikasi dari Etika Komunikasi Digital (DCE)

Takeaways from the sharing session of Indonesia Postgraduate Network Seminar Series (IPN) Forum on Wednesday, October 26, 2022, delivered by Hendar Putranto [Ph.D. Candidate in Communication Science, Universitas Indonesia].

The Forum was initially and strategically maintained by Jonathan P Tehusijarana, Ph. D. candidate in History, The University of Melbourne. His research highlights the role of militarised student organizations in the development of post-independence Indonesia.

Here is the flyer for the session:

The opening question:
Is ethics merely passing judgment towards others regarding their so-called observable behavior? In some sense, yes, because, by passing judgment, ethicists clear the fog of ignorance and the veil of concomitant worries and pressing concerns of fellow human beings. Therefore, we need to address and redefine the principles of ethics in the digital milieu, or, in short, DCE–Digital Communication Ethics.

Are we ready yet?

Here’s the short manifesto of the explication process on the DCE:

Why Redefine? Why not use the old frameworks of Macro-ethics (virtue, deontology, consequentialism)?

1) Zeitgeist: digital era, ICT, disruption, etc.

2) Desperate Times Call for Desperate Measures: do we have to choose between awareness/mindfulness, ethics, or positive law? See GDPR in Europe; also Indonesia’s law of Pelindungan Data Pribadi (PDP) ratified on Sept. 20, 2022. This law is similar to GDPR in the European Union. We are still waiting for its implementations and derivative regulations.

3) Old wine in a new bottle: an existing concept or institution offered as though it were a new one. Could it be the case?

4) Digital Literacy Movement: necessary yes, but is it enough (sufficient)? >> the institutionalization of ethics and the diversity of codes of conduct

5) Digital Ethics is not identical to Communication Ethics: they are similar but different

6) Moral dilemma faced by many academics in (new) Higher Education landscape & challenges >> we need to hold on to something (more) solid in order to move forward with confidence

7) Are you, Hendar, the only one thinking about this?

Nope. See:
a) Prof. Francisco Budi Hardiman in his latest book Aku Klik maka Aku Ada. Manusia dalam Revolusi Digital (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2021) and was later emphasized in his Professoral Inauguration Speech on Dec. 8, 2021, at UPH. He said that there are three pressing concerns and tasks for Philosophy today, namely (i) to reveal the ambivalence of digital communications; (ii) to continue the ideology critique and rational reflection; and (iii) to provide a systematic and meaningful account of digital communication ethics.

[read some journalistic reportage on his speech here, https://www.kompas.id/baca/polhuk/2021/12/08/hoaks-ancam-demokrasi-filsafat-komunikasi-digital-bisa-menyelamatkan and here, https://www.kalderanews.com/2021/12/prof-dr-fransisco-budi-hardiman-inilah-3-tugas-filsafat-di-era-komunikasi-digital/]

b) Kominfo Republik Indonesia: https://aptika.kominfo.go.id/2021/01/empat-pilar-literasi-untuk-dukung-transformasi-digital/

c) https://www.techuk.org/shaping-policy/digital-ethics.html: see the definition of digital ethics as follows, “In an increasingly digital world, it’s important that technology is used to improve and enhance the quality of people’s everyday lives. Embedding ethical principles, such as transparency, accountability, and explainability, into the creation of products, tools and services is essential for building public trust and confidence in technology. techUK focuses on resolving some of the most difficult ethical challenges, to ensure tech works for people and responsible innovation can flourish.”

d) https://www.oecd.org/science/we-need-to-talk-about-digital-ethics.htm (de Broglie, C., 2016)
Charlotte de Broglie [CEO and Founder, For the Future]

de Broglie says that “There is an intrinsic duality to digital technology. Like the god Janus…It can result in the abuse of the powers of mass surveillance, and threaten democracies…But, equally, it also help liberate oppressed peoples. Digital technology is not neutral. Rather, it enshrines a vision and reflects a worldview…Indeed, technology does not exist outside reality, and that has never been more true than today. As a result, if we underestimate the reach of technology, we could wake up one day in a worldwide technocracy. Yet, and despite this threat, the education of digital thinkers and creators, mathematicians, engineers, computer scientists and so on rarely addresses the ethical issues facing these digital actors, nor their responsibilities. Instead, they are presented with a utilitarian and short-term vision of the digital domain that takes little account of the broader social, economic and cultural background against which digital innovation is happening nor of its impacts. The end result is super-specialist technocrats working in isolation on the research and the development of their applications.”

e) and many many others (citations needed)

I hope this short explication works as a repertoire for many more serious studies on DCE in the future.