Categories
Uncategorized

Eh kata siapa Media Theorists gak bicarain Ethics?

INTERMEZZO ADZA:

Saya gemes pas mendengar ada sejumlah dosen Ilmu Komunikasi & Media yg bilang klo Media Theorists itu gak ngurusin Ethics, gak membahasnya dalam karya2nya, apalagi sampai mengelaborasinya.

Eh, saya mau tunjukin satu dulu yah, klo mau ditambahin ntar bisa nyusul msh ada beberapa kok di kantong.

Let the image speak a thousand words.

Halooooo? Any comment(s)?

Categories
Uncategorized

ONLINE Course Masyarakat Filsafat Indonesia Periode September 2021: Kita versus Pandemi

One of my proud moments in 2021 is joining this group of well-known thinkers and participating to perform some timely reflections on the public discourse of Covid-19, (Mass) Death and its dire consequences. Facilitated by the creative work of Masyarakat Filsafat Indonesia, mas Agus, mas Arif and I would bring the audience to a higher level of consciousness on the complex social construction of Covid-19, (mass) death and public policies related to its particular context.

Here’s the flyer of the overall event!

Here’s the teaser for the first session delivered by me on Friday, Sept. 7, 2021.

Hey, we’ve got two more sessions coming up, today (Friday, Sept 24, 2021) [flyer below]

and next week on Friday, Oct. 1, 2021.

Please come and join us, gaess!

Categories
Uncategorized

Renungan tentang Masukan saat sidang Proposal: The Stimmungs’ Moment

Semoga rekan2 cendekia sekalian yang pernah menerima masukan dari Penguji/Pembimbing saat proses sidang proposal/hasil dapat melewati momen2 dan moods (Stimmung) seperti di bawah ini dan tidak stuck di satu momen/Stimmung saja tapi terus mengalir ke momen2 berikutnya yg lebih emansipatoris. Berikutnya, dalam proses revisi proposal/hasil temuan penelitiannya, si cendekia boleh mengalami resurgensi semangat yg berulang agar sampai pada momen kesepahaman berkat adanya fusi cakrawala2 (Gadamer).

Cheers,

Hendar

credit gambar (foto) kedua: Mbak Ikrima

Categories
Uncategorized

Tanggapan tentang Teori Interaksionisme Simbolis (TIS)

[berdasarkan salindia presentasi kelompok 4, nomor 8]
Dari tiga premis yang diajukan Herbert Blumer, murid dari G. Herbert Mead, tentang teori interaksionisme simbolis, yaitu:

1) “Manusia bersikap terhadap orang/benda lain berdasarkan makna yang mereka berikan kepada orang / benda tersebut” (makna)
2) “Makna muncul dari interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya.” (bahasa) [Meaning is negotiated through the use of language—hence the term symbolic interactionism], dan
3) “Interpretasi simbol dalam diri seseorang dimodifikasi oleh proses di dalam pikirannya.” (pikiran)

Maka, saya memberikan tiga butir tanggapan sebagai berikut:
1. Pada era informasi (ICT, tepatnya) seperti sekarang ini, ketika sikap, makna, dan interpretasi terhadap simbol maupun isi pikiran orang ‘sedikit banyak’ (dan ini lebih dominan terjadi pada generasi yang lahir tahun 2000 ke atas) dipengaruhi oleh media dan informasi dijital, maka sikap, makna, interpretasi dan isi pikiran kita sudah termediatisasi secara dijital, alih-alih interaksi sosial secara langsung face-to-face. Bahasa—yang di antaranya dipahami sebagai konvensi sosial yang terpahami secara kontekstual—yang digunakan oleh generasi sekarang pun relatif berbeda dari bahasa yang digunakan oleh, katakanlah, generasi pada masa hidup dan produksi pengetahuan yang dicetuskan Mead dan Blumer, yaitu rentang tahun 1930-1940-an di Amerika Serikat. Perbedaan bahasa yang menjadi rujukan masyarakat ini pada gilirannya akan membentuk isi kesadaran dan sikap pada serta interaksi yang terjadi antara individu-individu yang menggunakannya, yang juga berbeda.

2. Siapakah ‘aku’ pada saat lahir? Jika merujuk pada pandangan Mead (dalam Griffin, et.al., 2019, h. 59), “there is no ‘me’ at birth. The ‘me’ is formed only through continual symbolic interaction—first with family, next with playmates, then in institutions such as schools,” identitas ‘aku’ adalah konstruksi sosial yang dibatasi oleh konteks sosio-politis-bahasa-dst. Pertanyaan kritisnya, jika memang ‘konstruksi diri aku’ ini terbatasi oleh konteks sosio-politis-bahasa dan lainnya, mengapa tetap ada gagasan serta diskursus universal tentang ‘parenting’ (meskipun isi dan caranya berbeda-beda dari satu budaya ke budaya lainnya)? Bukankah dengan adanya universalitas pemahaman soal parenting ini kita dapat menemukan sejumlah pokok yang sama (sekurang-kurangnya: mirip) tentang parenting lintas budaya? Misalnya, bahwa orang tualah (entah single parent atau sepasang) pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pengasuhan anak mereka sampai ia cukup mandiri untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

3. Dalam tulisannya, Robinson (2007) menyoroti soal tren kajian pascamodern yang ‘hanya’ memotret persoalan internet self-ing berdasarkan permainan peran dalam Multi-User Domains (MUD) pada masa-masa awal lahir&berkembangnya internet saja (1990-an). Berbagai kajian tersebut ternyata didasarkan pada populasi pengguna internet (saat itu) yang sebagian besar terdiri dari young technically proficient males, yang di dunia luringnya mungkin saja mengalami stigma sosial, sehingga mereka terdorong untuk menciptakan ‘diri mereka yang lain’ di dunia daring. Profil pengguna internet seperti ini sudah tidak lagi menjadi mayoritas dari total populasi pengguna internet sekarang (2007, pada saat tulisan Robinson dipublikasikan). Karenanya, penjelasan pascamodern tentang fenomena cyberself-ing tidak lagi meyakinkan bagi para pengguna internet masa kini dikarenakan perubahan tren populasi pengguna internet dan kegiatan2 yang mereka lakukan selama terhubung (daring). Dari bukti-bukti yang dikumpulkannya, Robinson justru menguatkan kesimpulan soal tesis sebaliknya yaitu ‘socialized’ online selves yang mengambil insight dari perspektif interaksionisme simbolik Mead dan Blumer. Sebagaimana konsep diri luring terbentuk berdasarkan tahapan the ‘I,’ the ‘me’ and the ‘generalized other’ (Mead, 1934), maka diri daring juga ternyata menempuh tahapan yang sama, hanya saja konstruksi jati diri daring tersebut didefinisikan ulang dalam lingkungan daring (in online venues that preserve the dynamics of interactional cuing).
Kesimpulan Robinson, interaksi di ranah siber melanggengkan proses pembentukan jati diri daring yang sudah terlebih dulu ada di dunia luring.

[© Hendar Putranto, 2019]

Rujukan Utama:
Mead, G. H. (1934). Mind, Self & Society. Chicago: University of Chicago.

Rujukan Tambahan:
Robinson, L. (2007). The cyberself: the self-ing project goes online, symbolic interaction in the digital age. New Media & Society, 9(1), 93–110. DOI: 10.1177/1461444807072216

Categories
Uncategorized

Refleksi tentang Dialektika Bahasa menurut Walter Benjamin (1892-1940)

Pada pemikiran Walter Benjamin, bahasa dipahami sebagai momen generatif [dengan Nabi Adam sebagai Filsuf pertamanya], yang dalam perjalanan sejarah manusia, ketunggalan bahasa ini lalu tercerai-berai dalam peristiwa menara Babel (kejatuhan bahasa yang kedua kalinya yang merusak cita-cita manusia untuk menunggalkan bahasa) sehingga lalu tugas kita adalah di satu sisi menafsirkan keragaman bahasa itu, dengan tujuan membuat kita jadi saling memahami; di sisi lain mencari makna asalinya yang sudah “hilang ditelan waktu” (kairos)— sebagaimana pencarian Marcel Proust (1871-1922) dalam karya seminalnya À la recherche du temps perdu (1906-1922).

Menurut Husnan (2021), mengutip verbatim paper singkatnya yang disampaikan saat Webinar, “Benjamin menyatakan bahwa bahasa yang dianalisis berdasar pandangan arbitrer menandakan Kejatuhan (Fall). Benjamin meyakini adanya Ursprache atau bahasa asli dan murni. Ketika manusia tersingkir dari surga, bahasa juga mengalami suatu kejatuhan. Bahasa tercerai-berai ke dalam keanekaragaman bahasa yang tidak murni lagi dan menjadi tugas sang penerjemah untuk memurnikan atau mengemansipasikannya kembali. Dengan begitu, Benjamin mengkritik teori tanda dari bahasa, yang menjadi basis bagi filsafat bahasa Saussure, untuk kemudian dielaborasi ulang, didekonstruksi, seraya menganggapnya sebagai satu konstruksi borjuis. Tema mendasar dari filsafat bahasa Benjamin ialah bagaimana bahasa mengalami kehancuran dan tercerai-berai ke dalam aneka bahasa manusia, yang dianggapnya telah tercerabut dari asal-muasalnya yang bersifat ilahi.” Jadi, motif Dialektika Bahasa Benjamin adalah selain Genesis, juga Redemption (Penebusan).

Sementara, pada pemikiran Bourdieu dalam Outline of a Theory of Practice (terjemahan Richard Nice, 1977), bahasa ditegaskan dialectic moment-nya: antara constitutive powernya yg membentuk skemata-skemata berpikir, norms, grammars, etc & practices moment dlm habitus para pengguna/penuturnya.

Anehnya, Bourdieu tidak pernah merujuk satupun karya-karya Walter Benjamin terkait bahasa ini, melainkan merujuk ke konseptualisasi tentang bahasa dari pemikir strukturalis Ferdinand de Saussure (1857-1913) dalam Cours de linguistique générale (1916) maupun Fundamentals of Language (terjemahan Morris Halle, 1956) karya seorang pionir kajian bahasa struktural & polisemis, Roman Jakobson (1896-1982).

Terimakasih bung Khudori Husnan utk paparannya yang jenial tentang pemikiran Walter Benjamin bertajuk, “Dialektika di Halte; Mengusut Gaya Filsafat Walter Benjamin” dalam Webinar Diskusi “Jangan Lupa Selasa”, 7 September 2021, 7-9 PM, persembahan Alumni S2 STF Driyarkara.

Flyer menyusul ditampilkan di bawah ini.

Categories
Uncategorized

Studium Generale Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Selasa, 31 Agt 2021

Resume singkat Kuliah Umum dari Prof. Alwi Dahlan untuk membuka Masa Perkuliahan Semester Baru Gasal 2021-2022

Prof. Alwi Dahlan:
“Komunikasi tidak hanya utk mencaci orang, (menggunakan teknologi komunikasi, mereka) kerjanya mencaci, menyalahkan siapa2. (Komunikasi berfungsi ketika/di mana) org bisa mengembangkan pemikiran, inovasi shg masyarakat betul2 menggunakan teknologi utk melompat ke depan.” (jam 10.00 WIB)

Dr. Sunarto (FISIP UNDIP)
“(Ketika mengikuti Kuliah Umum ini, saya) mendengarkan yg lama tapi tetap terasa baru bagi saya.
Ketika belajar perspektif ini kita dibantu utk mendapatkan cara yg lebih mudah utk memahami fenomena komunikasi (yg tdk tunggal), lekat diskusi kita ttg Robert T Craig dgn 7 tradisinya itu.
Kita ikuti Littlejohn yg terbaru, saya dapat kenyataan bahwa Littlejohn dkk di edisi yg sekarang menyerahkan (tongkat penilaian) silakan jika Anda mau menggunakan perspektif Anda sendiri.
Jujur saja, saya msh dalam situasi yg mencoba utk memahami mengapa Littlejohn spt itu.
Saya ini contoh yg tdk bagus utk org Komunikasi, saya kesulitan utk bs tune in dgn perkembangan teknologi skrg ini, saya punya WA ini sdh luar biasa.
Saya mengalami persoalan Etika tiba2 skrg ini dgn perkembangan teknologi terbaru, (masalah yang dimunculkan perkembangan teknologi komunikasi sekarang ini) tapi jg tdk relevan dgn Etika yg baru.
Saya masih berusaha utk tune in, ada persoalan2 Etika yg menghambat saya bisa tune in dgn perkembangan teknologi komunikasi terkini.
Etika baru belum siap utk mewadahi apa yg menjadi aktivitas kita semua.”
>> tanggapan dari Prof. Lusi: Persoalan etika setuju pak Sunarto.

*) [tanggapan Hendar] Bgmn dgn “Etika Informasi” dari Luciano Floridi, apakah memadai sebagai kerangka “Etika baru”?

Dr. Ronny Adhikarya (closing statement)
“Perkembangan ilmu Komunikasi di USA & Eropa sdh kabur, berubah, ada pergeseran.
Persuasive communication yg digunakan di banyak di Asia dirasakan memanipulasi publik.
Sdh mulai tdk populer, Fakultas2 Komunikasi di Amerika sdh lain sama sekali kurikulanya,
dibajak knowledge management, business school, business management.
Skrg sudah berubah lg: di berbagai tempat di private sectors di perusahaan2 Pricewater House Coopers, dasarnya Komunikasi tapi tdk (dipraktikkan dan didalami dlm lingkaran akademisi).
(Saya diundang dan terdorong untuk) Daripada melakukan penelitian2 yg akademis, utk kerjasama dgn berbagai Univ., utk melakukan penelitian ttg perusahaan2 besar startup di berbagai negara yg luar biasa hebatnya, (kinerjanya) terbukti menguntungkan masyarakat juga, monetization itu dilakukan oleh perusahaan2 swasta, unicorn decacorn, teliti business modelnya, apa sih kiat2nya, apa strateginya.
stelah itu kompetensi skills nya apa yg diperlukan oleh SDM utk menangani perusahaan2 spt itu.
Kurikulum hrs berubah berdasarkan kebutuhan perusahaan2 spt itu.
Modal mereka satu: penerapan komunikasi yg efektif dan efisien.
Pendidikan >> perubahan kurikulum >> seberapa agresif fakultas2 komunikasi2 di Indonesia utk ambil alih knowledge brokery.”

Categories
Uncategorized

Menata Kesadaran setelah Disrupsi Pandemi: Untuk Papa yg dicinta dan kini sudah tiada

Papa, semoga diriku dapat mengikhlaskan kepergianmu dengan semangat cinta yg transendental. Amin.

Categories
Uncategorized

Down to Earth: Latour and his involvement in criticizing Climate Change Political Regime (2018)

Saya kok merasa tertarik ya dengan cara sosiolog kontemporer dari Perancis, Bruno Latour (atau penerjemahnya?), merumuskan judul sub-sub bab dalam bukunya yang terbaru berjudul Down to Earth: Politics in the New Climatic Regime (terjemahan dari versi aslinya berbahasa Perancis, Où atterir? Comment s’orienter en politique) (penerjemah: Catherine Porter)
© Éditions La Découverte, Paris, 2017; This English edition copyright © Bruno Latour, 2018
Cambridge (UK) & Medford, MA (USA): Polity Press


Berikut judul dari sub-sub bab tersebut (dipertahankan dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, sengaja tidak di-Indonesia-kan):

1. A hypothesis as political fiction: the explosion of inequalities and the denial of climate change are one and the same phenomenon
2. Thanks to America’s abandonment of the climate agreement, we now know clearly what war has been declared
3. The question of migrations now concerns everyone, offering a new and very wicked universality: finding oneself deprived of ground
4. One must take care not to confuse globalization-plus with globalization-minus
5. How the globalist ruling classes have decided to abandon all the burdens of solidarity, little by little
6. The abandonment of a common world leads to epistemological delirium
7. The appearance of a third pole undoes the classical organization of modernity torn between the first two poles, the Local and the Global
8. The invention of “Trumpism” makes it possible to identify a fourth attractor, the Out-of-This-World
9. In identifying the attractor we can call Terrestrial, we identify a new geopolitical organization
10. Why the successes of political ecology have never been commensurate with the stakes
11. Why political ecology has had so much trouble breaking away from the Right/Left opposition
12. How to ensure the relay between social struggles and ecological struggles
13. The class struggle becomes a struggle among geo-social positions
14. The detour by way of history makes it possible to understand how a certain notion of “nature” has immobilized political positions
15. We must succeed in breaking the spell of “nature” as it has been pinned down by the modern vision of the Left/Right opposition
16. A world composed of objects does not have the same type of resistance as a world composed of agents
17. The sciences of the Critical Zone do not have the same political functions as those of the other natural sciences
18. The contradiction between the system of production and the system of engendering is heating up
19. A new attempt at describing dwelling places – France’s ledgers of complaints as a possible model
20. A personal defense of the Old Continent

Tesis yang diusung Latour dalam buku ini berbunyi kurleb:
The hypothesis is that we can understand nothing about the politics of the last 50 years if we do not put the question of climate change and its denial front and center. Without the idea that we have entered into a New Climatic Regime, we cannot understand the explosion of inequalities, the scope of deregulation, the critique of globalization, or, most importantly, the panicky desire to return to the old protections of the nation-state – a desire that is identified, quite inaccurately, with the “rise of populism.”

To resist this loss of a common orientation, we shall have to come down to earth; we shall have to land somewhere. So, we shall have to learn how to get our bearings, how to orient ourselves. And to do this we need something like a map of the positions imposed by the new landscape within which not only the affects of public life but also its stakes are being redefined.

Secara jenaka (ironis), Latour menggarami lautan dengan berseru,
“Here is something that adds an unexpected meaning to the term “postcolonial,” as though there were a family resemblance between two feelings of loss: “You have lost your territory? We have taken it from you? Well, you should know that we are in the process of losing it in turn …” And thus, bizarrely, in the absence of a sense of fraternity that would be indecent, something like a new bond is displacing the classic conflict: “How have you managed to resist and survive? It would be good if we too could learn this from you.” Following the questions comes a muffled, ironic response: “Welcome to the club!””

Okey, ntar ya habis selesai sidang proposal disertasi kita garap bab per bab dari buku yg menarik ini (please respond in comments section if that would be “our case” to enlighten the avid readers 😀 )

Acknowledgment:
The image of the book is retrieved from
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR2b6MEZO1JV_dTL1cNwXb8ehvJmmpfInlVqIsQiTDKSQbsYD_P

Categories
Uncategorized

Mensyukuri minor & major achievements in publication/grammar/similarity test (2021)

More than I can say,

Hope these images will speak for themselves and exemplify the hard works I’ve put into for the last ten++ years or in pursuing this academic career, in becoming a more professional lecturer-researcher (scholar).

Vamos! がんばって (頑張ってください!)

regards,

Hendar

Categories
Uncategorized

Dari Teori menjadi ber-Teori (belajar dari Swedberg, 2014, 2016)

Secarik nukilan dari Theorizing in Social Science: The Context of Discovery yg disunting oleh Richard Swedberg (2014).
Penerbit: Stanford University Press.

Book cover-nya seperti ini (sumber gambar: https://www.sup.org/img/covers/large/pid_23078.jpg)

Konteks pentingnya apa sih kok “ujug2” Swedberg mengajukan usulan judul Antologi yg diawali dgn bab “dari Teori menjadi ber-Teori”?

(1) Munculnya sains kognitif, khususnya psikologi kognitif dan neuroscience, yang mengulik soal “kesadaran manusia” dengan cara meneliti proses-proses (internal) berpikir, yg berbeda dengan pendekatan logika (tradisional) yg selama ini dijadikan acuan membangun teori (ber-Teori).

(2) Semakin diakui fakta keragaman cara2 berpikir selain penalaran formal, misalnya, dengan gambar, analogi, metafor, juga, intuisi. Kreativitas berpikir (& berteori) ternyata melampaui ruang2 kaku “formal logic.”

(3) “a virtual standstill of theory in social science.” >> berbeda dengan ‘ledakan’ publikasi soal “metode penelitian ilmu2 sosial,” baik itu kuantitatif maupun kualitatif. Swedberg (2016) mengatakan, “Methods – qualitative as well as quantitative methods – have proven to be very useful in practical research (as opposed to theory); and as a result they dominate modern social science.” Apalagi dengan menguatnya rezim “Big Data” dan teknologisasi piranti pengukuran.

Bab pertama berjudul “From Theory to Theorizing.”
Pada bab ini dipaparkan bagaimana ber-teori itu berbeda dari teori; ber-teori seperti apa yg dibutuhkan agar menghasilkan inovasi; serta identifikasi unsur2 berbeda (sbg) penyusun ber-teori.

Ada dua tema besar yg disampaikan Swedberg pada bab 1 ini:
(1) hal2 apa saja yg membuat sejumlah tipe berteori disebut “kreatif” (sementara yg lainnya tidak/kurang kreatif), dan
(2) bagaimana mengendalikan dan menyetir-arahkan imajinasi si penahu secara kreatif ketika ber-Teori.

(to be continued)