Categories
Uncategorized

Religio Duplex: Melacak sejarah dualitas moda beragama kini dan dulu [alamiah dan pewahyuan]

[Deskripsi singkat ini merupakan olahan Hendar Putranto dari buku Religio Duplex: Comment les Lumières ont réinventé la religion des Égyptiens—diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Perancis oleh Jean-Marc Tétaz—yang ditulis seorang ahli sejarah Mesir Purba dan antropolog agama dari Jerman, Jan Assmann (kelahiran 1938). Jan Assmann pernah dipercaya memegang kursi Profesor Egyptology di Universitas Heidelberg, Jerman sejak 1976-2003 dan sejak 2003 sampai sekarang beliau didapuk menjadi Profesor kehormatan untuk bidang Kajian Budaya di The University of Konstanz, Jerman.]

Berikut book cover dari Religio Duplex:

Sudah cukup lama kultus agama asli (natural religion) masyarakat Mesir purba memesona para pemikir Pencerahan (les Lumières).

Dengan mengolah sumber rujukan tertulis peninggalan peradaban Yunani akhir, sejumlah pakar sejarawan dan antropologi agama mendeteksi adanya jejak “agama ganda” pada masyarakat Mesir purba: di satu sisi suburnya agama politesitik yang memuja banyak dewa, di sisi lain hidupnya agama monoteistik yang dianut sejumlah elit.

Pada abad ke-18, masyarakat rahasia, khususnya Freemasons—yang gaya hidup pengkultusan akalbudinya terjepit di tengah-tengah iklim politik monarki absolut dan kekristenan ortodoks—menimba inspirasi dari kultus agama asli Mesir purba ini untuk diterapkan dalam organisasi mereka sendiri.

Dengan memusatkan analisisnya pada konsep agama yang berada pada dua moda dan tatanan, RELIGIO DUPLEX, Prof. Assmann menunjukkan kepiawaiannya menghubungkan jejak2 sejarah yang terus bertahan sampai sekarang.

Prof. Assman juga berhasil merajut kemungkinan untuk mengartikulasikan agama dalam dua modanya: tradisi2 religius yang partikular dengan seruan agama yang universal.

Dalam Religio Duplex, Prof. Assman scr terampil dan mendalam merefleksikan akar budaya modern Barat yang dalam banyak cara dan scr tdk langsung merujuk jauh sampai ke peradaban Mesir purba.

Pada salah satu adegan kunci dalam sejarah “Pencerahan Barat,” tercatat bahwa Blaise Pascal, ahli Matematika sekaligus rohaniwan Katolik terkemuka, akhirnya menyerah kalah dalam “pertaruhan” (Le Pari): ia akhirnya memilih untuk menyerahkan dirinya ke dalam pelukan Bapa (konsep Trinitas dalam agama Katolik Roma) alih-alih meneruskan telaah rasionalnya dan (dapat berdampak pada) mengiyakan Tuhan para filsuf dan cendekia Abad Pencerahan.

Adegan kedua terjadi 126 tahun kemudian pada Juli 1870 di Wolfenbüttel, bertempat di rumah Gotthold Ephraim Lessing, seorang penganut Freemason.

Suatu hari Lessing dikunjungi Friedrich Heinrich Jacobi, pedagang muda dan penulis berhaluan Freemason.

Lessing menyodorkan puisi Goethe, “Prometheus” *) kepada Jacobi untuk dibaca.

Penasaran dengan isinya, Jacobi mencoba berdialog dengan Lessing tentang topik “ketuhanan” di Abad Pencerahan.

Lessing mengakui bahwa “Konsep ketuhanan ortodoks tidak lagi dapat kupegang dan kupercayai. Hen kai Pan (Ἓν καὶ Πᾶν)! [Satu dan Semua] Setelah kubaca puisi Goethe ini aku menyukainya dan isinya menyiratkan apa yang sekarang kupercaya.”

Jacobi menukas, “Kalau begitu dirimu setuju dengan (pandangan tentang ketuhanan yang diajukan) Spinoza, dong?”

Lessing berkata, “Jika ada satu orang yang pandangannya kusetujui tentang ketuhanan, Spinozalah orangnya.”

Dari penggalan percakapan ini, tampak bahwa Lessing menolak ide “Tuhan sebagai Bapa” sejauh kita dapat mengidentifikasi dan menafsirkan ucapan “konsep ketuhanan ortodoks”-nya sebagai sama dan sebangun dengan ide Tuhan (kekristenan) dan, karenanya, dirinya mendaku sebagai pengikut pandangan Tuhan para Filsuf.

Konflik batin dan tegangan disposisional sensus religiosus yang dialami para tokoh Pencerahan di atas, yang diruap dengan pandangan dikotomis “ini-atau-itu” tentang Ketuhanan, antara agama alamiah dan agama pewahyuan, meninggalkan bekas yang mendalam sepanjang bergulirnya sejarah pemahaman agama versi Barat Pencerahan.

*) Salah satu bait dari puisi Prometheus karya Goethe tersebut berbunyi sbb.:
Ich dich ehren? Wofür? [Aku menghormati-Mu dan mengapa?]
Hast du die Schmerzen gelindert [Pernahkah Engkau meringankan kesedihan]
Je des Beladenen? [mereka yang berbeban berat?]
Hast du die Tränen gestillet [Pernahkah Engkau menyeka]
Je des Geängsteten? [tangis mereka yang berduka?]
Hat nicht mich zum Manne geschmiedet [Tidakkah aku dilahirkan dan dibentuk menjadi manusia]
Die allmächtige Zeit [dalam tempaan Waktu abadi]
Und das ewige Schicksal, [dan oleh Nasib yang juga abadi]
Meine Herrn und deine? [menjadi Tu(h)an atas diriku dan Engkau?]

Categories
Uncategorized

Namanya bukan provokator, tapi tukang berpolemik

Belakangan ini “ruang publik” [dalam arti Res Publica sekaligus political affairs] di Indonesia kembali diramaikan oleh sejumlah isu politik yg mengerucut pada soal “bagi-bagi kue,” “pemanjangan periode kekuasaan,” dan “ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan berunjuk rasa.”

Ada tokoh-tokoh yg menjadi center of gravity terkait isu politik di atas, sebagian sudah kita kenali sebagai politisi (praktisi), sebagian lagi aktivis (HAM, sosial, dan lainnya), sebagian lainnya merupakan pengamat/komentator politik (akademisi). Ada segelintir yg boundaries-crossing: akademisi cum aktivis (media) sosial, misalnya.

Dari sejumlah berita yg saya baca dan cermati, termasuk komentar2 yg dimuat utk menanggapi berita2 tersebut, saya menangkap kesan bahwa khalayak pembaca, khususnya netizen, cenderung passing judgment “tukang membuat gaduh” bagi siapapun yg terlibat dan dimuat media massa/media sosial/menjadi viral berkenaan dgn isu politik di atas.

Khalayak tampaknya mengalami kesulitan utk membedakan antara provokator (qua demagogue) dengan tukang berpolemik. Bagi sebagian besar netizen, tukang membuat gaduh sama dengan provokator. That’s it. Tidak ada elaborasi distingtif tentang dua kategori ini. Mungkin karena isunya sudah jenuh dan polarisasi semakin terasa menebal (lagi).

Bagi saya, yang lebih sering tinggal di menara gading studi alih-alih turun langsung ke jalan utk berdemonstrasi dan menyuarakan aksi-aksi perubahan, ini suatu hal yg menarik utk direfleksikan. Dari pembacaan ringkas saya atas situasi dan rujukan teks, provokator mungkin lebih berkonotasi negatif (dan destruktif) daripada tukang berpolemik. Polemik lebih menyiratkan makna diskursus yg serius dan terbatas (secara spasial maupun jumlah partisipannya) alih-alih provokator yang dipersepsi sebagai teriak-teriak yang tidak jelas juntrungannya, yang memancing emosi massa-posting dan massa-aksi utk melakukan perisakan (dlm arti daring) maupun perusakan (dalam arti luring).

Upon further reflection, benarkah pandangan ini?

Berikut saya ajukan satu pemikiran yg mengkarakterisasi tukang berpolemik. Mudah2an pandangan ini dapat menjernihkan satu bilik berpikir dan tidak sekadar menjadi “echo chamber” sbg dampaknya. Saya memberikan tajuk pemikiran di bawah ini sebagai “Apa itu polemik dan siapakah tukang berpolemik (polemicist)?”

Menurut Prof. Paul Rabinow dari University of California at Berkeley—yang membaca dan membuat scathing review atas Postmodernism, Reason & Religion karya Ernest Gellner (1992)—kita dapat mengartikan polemik sebagai perbantahan yang tidak fair tapi terus menggelinding tanpa ujung-pangkal.

Menyitir pandangan Michel Foucault, Rabinow menggarisbawahi karakteristik tukang berpolemik sebagai berikut:

“Tukang berpolemik adalah mereka yang senengnya memandang diri secara istimewa/privilese dan mengajukan pokok-pokok kasus/isu di awal namun menolak untuk dipertanyakan. Pada prinsipnya, si tukang berpolemik merasa punya hak untuk memulai perang dan menjadi petarung sebagai alasan yang dapat dibenarkan; orang-orang yang diserang si tukang berpolemik ini tidak dianggapnya sebagai mitra pencari kebenaran, namun musuh bebuyutan yang keliru, berbahaya dan mengancam. Bagi si tukang berpolemik, arena permainan tidak menyertakan syarat untuk mengakui lawannya sebagai subjek yang memiliki hak untuk berbicara, namun musuh yang harus ditaklukkan dengan segala cara, interlokutor yang harus dibasmi dan jangan sampai dia berkesempatan memulai dialog. Tujuan akhir pertarungannya bukanlah sampai pada kebenaran sedekat mungkin, betapapun sulit jalan menuju ke sana, namun bersorak-sorai atas kemenangan yang premis dasar dan alasan pembenarnya sudah ia ajukan sejak awal mula … Berurusan dengan si tukang polemik tidak memunculkan ide baru bagi kita.”

Dalam terang pengertian di atas, demikian Rabinow, tidak mengherankan jika tukang berpolemik acapkali disebut sebagai barisan Enlightenment Fundamentalists yang gemar membuat kutipan-kutipan ciamik untuk meyakinkan lawan bicaranya, namun dirinya emoh terlibat dalam argumentasi rasional.

(to be continued)

Categories
Uncategorized

[Kolokium MFI 4 April 2022] Filsafat Komunikasi Pendidikan di Masa PJJ: Peluang atau Ancaman?

Materi disampaikan oleh Dr. Ririt Yuniar, S. Sos., M. Hum., seorang dosen Prodi Ilmu Komunikasi di Universitas Pancasila yang mengampu mata kuliah (di antaranya) Filsafat dan Etika Komunikasi. Mbak Ririt, demikian beliau biasa dipanggil, merupakan alumnus Program S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2011 dengan disertasi yang dipertahankan berjudul “REPRODUKSI REALITAS POLITIK DALAM FOTO JURNALISTIK PADA KAMPANYE PEMILIHAN PRESIDEN 2009 DI INDONESIA.” Promotor disertasi mbak Ririt adalah Prof. Dr. Irwan Abdullah. Mbak Ririt juga seorang alumnus PPRA 48 Lemhannas RI 2012.

Dalam kolokium ini, saya berperan sebagai Moderator dan rekan diskusi dari Narasumber beberapa hari sebelum hari-H pelaksanaan Kolokium.

Berikut flyer dan deskripsi singkat topik yang dibawakan Narasumber:

Filsafat Komunikasi Pendidikan di Masa PJJ: Peluang atau Ancaman?

Dunia pendidikan global diguncang digitalisasi dan Pandemi Covid-19. PJJ dan belajar daring menjadi mantra baru proses belajar-mengajar menggantikan tatap-muka dan interaksi langsung di ruang kelas. Pendidik (guru dan orangtua) dan peserta didik mau tidak mau harus beradaptasi dengan situasi ‘kelaziman baru’ ini dengan susah-payah dan penuh perjuangan. Dalam bukunya yang terbaru Race, Politics, and Pandemic Pedagogy: Education in a Time of Crisis (Bloomsbury Academic, 2021), tokoh pendidikan kritis terkemuka Henry A. Giroux menyatakan bahwa munculnya krisis Covid-19 berarti krisis pendidikan di mana orang mulai memikirkan kembali sifat dasar politik dan kekuasaan sekaligus menandakan keruntuhan ekonomi yang mengungkapkan tingkat kemiskinan dan penderitaan massal yang sebelumnya tersembunyi di bawah retorika kapitalisme liberal. Pendidikan jadi tersandera karena para guru diminta untuk mempertaruhkan nyawa mereka dan nyawa siswa mereka untuk menjaga roda ekonomi tetap bergulir dengan menafikan peringatan dari para ahli kesehatan.

Pandemi Covid-19 menghasilkan zaman ketidakpastian, fragmentasi, keputusasaan, dan firasat buruk tentang masa depan. Kepastian telah digantikan oleh ketakutan bersama. Jika salah satu tujuan pendidikan adalah membebaskan manusia dari kelindan tri-matra belenggu ketakutan, kebodohan, dan kemiskinan, Covid-19 membawa gerbong pendidikan semakin mendekati jurang keputusasaan. Pedagogi pandemi bekerja secara tidak sadar sebagai mode afektif dari sabotase diri yang melegitimasi bahasa kebencian dalam percakapan sehari-hari, merendahkan orang kulit berwarna, mempromosikan kesembronoan melalui budaya selebritas di mana-mana, dan menghasilkan serangkaian praktik pedagogis otoriter yang berfungsi untuk mengeksploitasi, mendominasi, dan mendepolitisasi kita.

Pedagogi pandemi yang berlandaskan ketakutan dan kebencian seyogianya ditangkal dengan pedagogi kritis yang menjembatani interaksi sosial, keterlibatan dalam ruang publik, sekaligus praktik politik untuk memahami lebih jauh hubungan antara bagaimana belajar dan bagaimana bertindak sebagai agen individu dan sosial. Ini berarti merefleksikan secara tajam bukan hanya bagaimana individu belajar berpikir kritis tetapi juga bagaimana mereka menegaskan rasa tanggung jawab individu dan sosial sehingga litani ratapan dapat menjadi tabur harapan.

Dengan demikian, pedagogi kritis tidak hanya berhenti pada analisis tentang keadaan pikiran status quo dan inventarisasi masalah melainkan gugus praktik pemberdayaan yang berkelanjutan: suatu conditio sine qua non bagi perubahan sosial dan upaya transformatif tentang cara orang memandang diri mereka sendiri dan orang lain untuk kepentingan yang lebih besar, menjadi generasi yang cerdas berkarakter.

Dalam kolokium MFI kali ini, Dr. Ririt Yuniar menyulam analisis teoritis tentang pedagogi kritis sekaligus mengomunikasikan sejumlah rancang Kebijakan, Strategi, dan Upaya yang kontekstual guna menunjukkan arah Optimalisasi PJJ pada Era Kelaziman Baru untuk mencapai Hasil Didik yang Berkarakter. Selamat menyimak dan berpartisipasi!

(credit for flyer goes to Edward Daniel Simamora, Medical Interpreter at Propio Language Services & tutor at EF English First Makasar)

Berikut disampaikan tiga buah tangkapan layar saat mbak Ririt presentasi:

Adapun rekaman Kolokium di atas dapat ditonton kembali pada akun YouTube Masyarakat Filsafat Indonesia berikut ini:

Semoga Kolokium ini boleh menginspirasi para pembaca & pemirsa semua untuk menjadi Pendidik yang berani, bertanggungjawab, kritis dan kreatif!

Tabik!

Hendar Putranto

Categories
Uncategorized

Menguak Penyakit-penyakit Sosial (Laten) Masyarakat lewat Fenomenologi Kritis

Berikut Fenomenanya (dalam gambar):

Berikut Definisinya dan State of the Art persoalan:

Fenomenologi Kritis (FK) adalah cabang dari pendekatan fenomenologi yang merespon masalah-masalah yang sama yang dihadapi fenomenologi klasik sambil tetap mempertahankan fokus pada subjektivitas dan perbedaan sosial (Kinkaid, 2020). Sementara Sara Ahmed, salah seorang pemikir generasi awal dari FK dalam bukunya Queer Phenomenology Orientations, Objects, Others (2006), melihat bahwa FK berhutang budi pada jejak pemikiran dan tulisan para cendekia feminis, queer dan anti-rasis yang secara kreatif dan kritis bergulat dengan tradisi Fenomenologis. Di antaranya para filsuf feminis yang mengaji secara mendalam tentang tubuh & subjektivitas seperti Sandra Battky (1990), Iris Marion Young (1990, 2005), Rosalyn Diprose (1994. 2002), Judith Butler (1997a), dan Gail Weiss (1999), juga fenomenolog perempuan seperti Edith Stein (1989) dan Simone de Beauvoir (1997), fenomenolog queer seperti (Fryer 2003) dan fenomenolog ras seperti Frantz Fanon (1986), Lewis R. Gordon (1985), dan Linda Akoff (1999). Mereka berhasil menunjukkan kepada kita bahwa gugus perbedaan sosial merupakan dampak dari bagaimana tubuh memukimi ruang bersama-yang-lain dan bagaimana mereka memproblematisasi aspek interkorporeal dari ‘kebermukiman tubuh’ (bodily dwelling).

Mengambil inspirasi dari tulisan dan pengalaman Frantz Fanon, Lisa Guenther dalam Solitary confinement: social death and its afterlives (2013) mendefinisikan FK sebagai berikut: “Fenomenologi Kritis bergerak melampaui fenomenologi klasik dengan merefleksikan struktur2 sosial yang kuasi-transendental yang membuat pengalaman kita akan dunia menjadi mungkin dan bermakna. FK juga melibatkan diri dalam praktik material menstrukturkan ulang dunia agar dapat menghasilkan dunia yang lebih terbuka bagi pengalaman dan eksistensi bermakna. Karenanya, FK merupakan cara berfilsafat sekaligus aktivisme politik. Tujuan akhir dari FK—menggemakan suara kenabian Marx—bukan hanya menafsirkan dunia namun juga mengubahnya” (Guenther, 2013: 15-16).

Secara lebih filosofis, Marder dalam Phenomena—critique—logos: The project of critical phenomenology (2014) menyitir pandangan fenomenolog awal yang cenderung memandang berpikir kritis sebagai spekulasi abstrak dan kosong, ikhtiar ontologis dari selayang-pandang mata elang, pendekatan yang tidak mau repot-repot memerhatikan detil halus kesadaran manusia, eksistensi dan relasinya dengan dunia. Dus, FK merupakan triangulasi dari kritik dengan fenomena dan logos, sebuah ikhtiar menjembatani ketiganya. Kesatuan absolut dari fenomena dan logos hadir dalam deklarasi apophainesthai ta phainomena, atau “membiarkan ia yang menampakkan dirinya dilihat dari dirinya sendiri dengan cara sepersis-persisnya ia menampakkan dirinya dari dirinya.”

Tokoh kunci lain dari FK, Gayle Salamon, dalam artikel yang dimuat khusus dalam Puncta, Journal of Critical Phenomenology (2018) melacak asal-muasal FK dengan “bertolak dari hasil pertemuan tahunan Masyarakat Filsafat Fenomenologi dan Eksistensial pada 1984 dan 1985. Donn Welton dan Hugh Silverman kemudian memublikasikan buku Critical and Dialectical Phenomenology (1987) yang menjadi resume dari pertemuan tahunan tersebut. Istilah FK muncul sekali dalam buku ini dan membaharui pengertian fenomenologi klasik secara khusus yaitu Fenomenologi yang lebih dialektis dan kritis yang berakar pada tradisi fenomenologi klasik sekaligus bergerak melampaui batas-batasnya dalam hal konten, metode atau disiplin.”

Konteks kelahiran FK didedah Rasmus Dyring (2020), tokoh antropolog FK, dengan mengatakan bahwa semenjak pergantian Milenium ketiga, FK telah berkembang secara paralel dengan filsafat dan antropologi yang di dalamnya terjadi penyerbukan-silang. Sebagai aliran filsafat, fokus Fenomenologi meletak pada upaya menyingkap struktur transendental dari subjektivitas yang mengondisikan pengalaman yang dihayati secara konkrit, sementara FK mengombinasikan sensitivitas fenomenologi klasik ini secara lebih kritis dengan melihat bagaimana subjektivitas dibentuk di bawah kondisi2 sosiokultural dan ekonomi yang kuasi-transendental—-experientially accessible and ethico-politically mutable. Baik dalam filsafat maupun antropologi, FK terinspirasi dan diprovokasi oleh pemikiran feminis dan teori queer, dengan bertolak dari duniakehidupan kaum marjinal, mereka yang berada di pinggiran masyarakat, misalnya: orang kulit berwarna, LGBT, pecandu obat-obatan terlarang, tunawisma, serta mereka yang dianggap lali jiwa.

Beberapa buku “kanon” dalam tradisi FK:
1) Sara Ahmed (2006). Queer Phenomenology: Orientations, Objects, Others. Durham: Duke University Press.
2) Lisa Guenther. (2013). Solitary confinement: social death and its afterlives. Minneapolis, MN: the University of Minnesota Press.
3) Michael Marder (2014). Phenomena—critique—logos: The project of critical phenomenology. New York: Rowman & Little.
4) J. Aaron Simmons & J. Edward Hackett. Tim Penyunting. (2016). Phenomenology for the Twenty-First Century. London: Palgrave-Macmillan.
5) Mariana Ortega. (2016). In-Between: Latina Feminist Phenomenology, Multiplicity, and the Self. Albany: State University of New York Press.
6) Gayle Salamon. (2018). The Life and Death of Latisha King: A Critical Phenomenology of Transphobia. New York: New York University Press.
7) Gail Weiss, Ann V. Murphy, Gayle Salamon. Tim Penyunting. (2020). 50 concepts for a critical phenomenology. Northwestern University Press.
8) Kirsten Simonsen & Lasse Koefoed (2020). Geographies of Embodiment: Critical Phenomenology and the World of Strangers. London, Thousand Oaks, CA, New Delhi & Singapore: SAGE Publications.

Berikut Flyer acara yang membahasnya (JLS: Jangan Lupa Selasa)

Credit goes to Kang Alfathri Adlin for the flyer design

Berikut Screenshot Momen Pembahasannya:

Berikut 4 quotes penguat pentingnya menggunakan teropong Fenomenologi Kritis utk membahas penyakit2 sosial dalam masyarakat kontemporer:

Berikut link YouTube-nya untuk menonton (kembali) presentasi saya tentang topik ini secara menyeluruh:
Sesi Pemaparan (Part I): https://youtu.be/0G4gClXBYU8
Sesi Tanya Jawab (Part II): https://youtu.be/j6_Njs7-ui0

Semoga pengantar tentang Fenomenologi Kritis ini dapat membuka wawasan kita tentang kait-kelindan keragaman topik, pendekatan, perhatian, kajian dan dinamika pergumulan kekuasaan-dalam-perbedaan dan perbedaan kekuasaan di atas!

(Hendar Putranto, © 2022)

Categories
Uncategorized

Quid quæritis? Apa yang kamu cari? (sebuah renungan)

Generasi muda yang bersemangat, apa yang sedang kamu cari dalam hidup ini? Apakah harta kekayaan yg berlimpah-limpah sampai tujuh turunan tidak habis-habis? Menjadi crazy rich yang mengundang decak kagum dan memikat jutaan followers? Jadi Sultan yg dipuja-puji krn naik jet pribadi dan petantang-petenteng naik Lamborghini sambil nenggak Martini?

Saya mau berbagi skrinsyut deretan kisah kontroversial dari para “Crazy Rich” berikut ini yang mungkin dapat kamu jadikan kaca benggala sebelum melanjutkan “pencarian”-mu.

Saran-saran yg diberikan Prof. Rhenald Kasali berikut ini mungkin baik disimak sebagai guidance how to proceed in times of turbulence & uncertainty:

Kalau masih nekat juga, mungkin ada baiknya berdoa saja Doa Ketenangan Batin seperti di bawah ini:

Categories
Uncategorized

Gairah akan Kesempurnaan: Refleksi Michael J. Hyde dalam buku Perfection (2018)

Tuhan, alam, keindahan, dan keheningan secara harmonis bekerjasama menstimulasi pengalaman akan kesempurnaan.
Pengalaman ini amat indah dan menyenangkan.
Perasaan syahdu yang menyertai pengalaman ini membantu menumbuhkan gairah akan kesempurnaan.
Gairah ini memainkan peran mendasar bagi kita untuk menjalani hidup sosial dan politik terutama ketika kita berikhtiar untuk mempertahankan dan memajukan perjuangan untuk bertahan hidup, memahami dunia, menjadi orang yang lebih baik, dan menjalani hidup yang baik.
Gairah akan kesempurnaan itu hal yang patut dipuji;
ia mendefinisikan diri kita sebagai makhluk metafisik, ciptaan yang memiliki kerinduan, nostalgia, akan rasa aman, nyaman dan kepenuhan hidup.

refleksi Michael J. Hyde (Filsuf Komunikasi dan Ahli Retorika)
dalam buku terbarunya, Perfection: Coming to Terms with Being Human (Baylor University Press, 2018)

Berikut cover bukunya kalau Anda berminat mencari dan membacanya sendiri dan (moga2) mengalami pencerahan batin setelah membacanya.

salam,

Hendar

Categories
Uncategorized

Valentine, Feb. 14, 2022: Is LOVE blind? Or is it hatred that “blind”?

Seems like we have to revise the popular tagline surrounding “love” in Valentine’s Day commemoration this year: “LOVE is blind” 🙂

Moga2 aja penggalan quote dari saya ini (lumayan) mencerahkan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pesannya akan dijalankan/diadopsi sebagai pandangan hidup 😀

Oia, satu lagi. Perayaan Valentine yg “bener & pener” dlm arti mencintai perbedaan dan bukan malahan “menghabisi”/”meniadakan” perbedaan juga perlu lebih dibudidayakan dalam masyarakat kita yah.
Soalnya tuh aku sedih banget pas baca buku di bawah ini:


Salamon, G. (2018). The Life and Death of Latisha King: A Critical Phenomenology of Transphobia. New York: New York University Press.

dan mengetahui fakta pilu bernama transphobic di negara (yg dianggap banyak orang) keren, maju (advanced) & demokratis kayak USA (FYI: peristiwa ditembaknya Latisha King sama temen sekolahnya sendiri terjadi di USA pada 12 Februari 2008, pas lagi jam pelajaran komputer … duuuuh).

Klo mau dapat gambaran kronologis peristiwanya cek di sini dulu yah gaess: https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_of_Larry_King


(pas searching di google kemaren aku tuh nemu fakta bahwa transphobic & homophobic ini jd perhatian dan agenda global, PBB pun ngasih perhatian khusus utk fenomena ini)

Rest in peace Latisha King, may your “coming out” & “staying cool” amidst waves of hatred & transphobic culture quench our sensitivity and loving gaze towards “differences” (whatever that entails)

Hendar Putranto (c) 2022

Categories
Uncategorized

Persaingan dan Pertarungan Etis Agensi Manusia & Mesin: Jangan Kasih Kendor!

Kata-kata kunci:
Aligning (fine-tuning) machines with human values; moral agency: autonomy & responsibility, moral thinking, and moral progress; programming our (human) ethics into machines: craftwork; the process of moral decision-making: human flourishing; from failure to act ethically to designing AI that assists us to advance our moral agency.

Kunci pemahamannya ada 5:
1) Manusia itu agen, termasuk agen moral, jadi jangan sampai ia melepaskan/mendelegasikan kapasitas ini kepada mesin.
2) Manusia itu makhluk yang penuh kekurangan, flawed; ia mudah menyalahkan pihak lain, misalnya. Kekurangan lainnya: permisif dan nggampangke persoalan; ia juga acapkali terkecoh hal yg wow dan emosinya diaduk2 pesan2 yg menyentuh kalbu (meskipun itu hoax).
3) Tugas kita dalam merumuskan dan menjalankan etika belum selesai; masih banyak lubang2 kekeliruan yang ke dalamnya manusia masih sering jatuh. Persis di sinilah kita perlu mengembangkan alat dan konsep/pemahaman terkait AI & Etika AI yang dapat menopang/menjaga/membantu kita supaya tidak mudah jatuh ke “lubang yang sama.”
4) Kunci mengatasinya ada pada kolaborasi lintas-bidang keilmuan & mengembangkan komunikasi yang (lebih) efektif lewat berdialog dengan berbagai pendekatan dan cara-pandang.
5) Salah satu perbedaan besar antara manusia dengan kecerdasan mesin adalah “level kemudahan dan kecepatan berbagi informasi.” Dalam arti tertentu, kecerdasan mesin lebih unggul daripada (kecerdasan natural) manusia untuk dua hal ini. Karenanya, kita tidak perlu bersaing dengan mesin dalam dua aspek ini. Yang perlu kita kembangkan adalah seni kriya dalam pengertian “craftwork.” Mengapa seni kriya? Karena dalam seni kriya, manusia bukan hanya mengembangkan penguasaan terhadap alat yang diciptakannya namun ia juga mengasah/menempa dirinya untuk memiliki sejumlah keutamaan (karakter), seperti kesabaran, ketekunan, kegigihan, kecermatan, dan keluwesan.

Berikut kutipan-kutipan langsung dari artikelnya (dalam format .jpeg):

Catatan kritis:
Esei pendek yang ditulis Boddington ini, dalam sejumlah arti kurang memerhatikan perkembangan diskursus dalam Filsafat dan Etika Informasi yang sudah berlangsung sejak akhir 1990-an dan awal tahun 2000 yang dipelopori oleh, di antaranya, Rafael Capurro, Charles Ess, Luciano Floridi, James Moor, Deborah Johnson, Terrell Ward Bynum, Herman T. Tavani, Mariarosaria Taddeo, Richard Volkman, dan beberapa lainnya. Dua pokok yg diabaikan Boddington adalah soal paradigma “moral patience” alih2 moral agency (Floridi) & (inter-)cultural sensitivity towards information and Internet (Capurro, Ess).

Ringkasan ini diambil dari jurnal AI and Ethics
DOI: https://doi.org/10.1007/s43681-020-00017-0
Judul artikel: AI and moral thinking: how can we live well with machines to enhance our moral agency?
Penulis: Paula Boddington
Tahun publikasi: 2020
Profesi penulis: Researcher from New College of the Humanities, London.

Categories
Uncategorized

[Webinar] How to Publish in Reputable International Journal

Silakan bergabung yah teman2 sesama akademisi yg berminat mengetahui langkah2 supaya artikelnya (bisa) tembus di jurnal internasional bereputasi (terindeks Scopus).
Sekadar mau berbagi pengalaman saja pernah tembus di Journal of Intercultural Communication Research (RJIC) pada 2019 dan 2021 lalu.

Berikut link artikel jurnalnya:

terbit 2019: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17475759.2019.1639535

terbit 2021: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17475759.2021.1898450?src=recsys

Ini flyer kegiatannya:

salam,

Hendar

Categories
Uncategorized

[Seri 01 dari 15] Ada dan Sekitarnya: Jejak Pembacaan atas karya filsuf Gianni Vattimo bertajuk “Being and Its Surroundings” (2021)

60 jejak pembacaan & penafsiran + 60 kutipan dari karya terbaru filsuf Italia, Gianni Vattimo,
berjudul: “Being and Its Surroundings”
(secara paralel, tulisan ini juga dimuat di situs web Ikatan Alumni STFT Driyarkara,
dengan alamat pemuatan artikel di: https://ikadriyarkara.org/2022/01/06/being-its-surroundings-60-jejak-pembacaan-dan-penafsiran-karya-gianni-vattimo/

Tim Penyunting: Giuseppe Iannantuono, Alberto Martinengo, dan Santiago Zabala,
Diterjemahkan dari bahasa Italia ke dalam bahasa Inggris oleh Corrado Federici,
dari teks aslinya yang berjudul Essere e dintorni © 2018
Penerbit dalam bahasa Italia: La nave di Teseo Editore, Milano
Penerbit dalam bahasa Inggris: McGill-Queen’s University Press , © 2021

Pembacaan ditandai dengan angka Arab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dst.
Quotes ditandai dengan angka numerik Romawi i, ii, iii iv v vi vii viii. ix. x. xi. xii. xiii. xiv. xv, dst.

Being and Its Surroundings: A Theological-Philosophical Breviary, Rather than a Treatise (h. 1-4)

1) Dalam kumpulan esei ini, Vattimo mengembangkan sebuah Filsafat Peristiwa “A philosophy of occasions” yang bercirikan tiga hal berikut:
(*) FORMA: filsafat yang (ber-)terwujud dalam tulisan berbentuk kumpulan esei yang lebih cenderung menyerupai percakapan alih-alih argumentasi yang koheren dengan dipandu logika yang ketat.
(*) MATERIA: bahan mentah yang terbuka untuk diolah dan dinikmati, tanpa berpretensi lengkap dan paripurna (“sampai”)
(*) TELOS: tulisan yang bertujuan untuk membuat hidup pembacanya jadi terasa (sedikit) lebih baik tanpa gembar-gembor untuk menjadi “(traktat) filsafat yang mengubah dunia”; model kumpulan esei ini lebih mirip dengan pengalaman “estetik” (experiencing the truth of art, menurut Gadamer), si pembaca sekaligus penikmat mengalami sesuatu: suatu perubahan wawasan, suatu awal untuk memulai. Intinya, pembaca “mulai” mengalami relasi dengan Ada: tahu-tahu kita berjumpa dengan pembukaan tanpa ada kejelasan mana bagian tengahnya, apalagi ujungnya.

2) Sebuah tanggapan terhadap krisis yang bercorak Heideggerian sekaligus melampaui tafsir ontologis radikal ala Heidegger (“Heideggerianism”) yang dipicu oleh terbitnya “Black Notebooks” karya Heidegger (anumerta) dan Kongres yang membahas pemikiran Heidegger dalam “Black Notebooks” tersebut bertajuk “I ‘quaderni neri’ di Heidegger 1931–1948” yang berlangsung di kota Roma pada 23–25 November 2015.

(i) “Kita tidak ‘sampai’ ke manapun, kita sudah selalu mengembara di sekitar dan selalu tinggal dalam cakrawala yang terbatas. Bagaimanapun juga, inilah ciri relasi kita dengan Sang Ada; kita menemukan diri kita di sebuah hamparan keterbukaan, yang sama sekali tidak terstruktur secara sistematis dengan ditandai Pendahuluan, Tengah, dan Akhir” (Vattimo, 2021).

Bab 1: What Need, What Metaphysics? (h. 5-10)

3) Dalam dunia yang semakin ditandai kecenderungan untuk menguasai kehidupan para warganegara dengan beragam mekanisme kontrol—seperti tampak dalam politik HAM, politik rasa aman global, dll.—kita perlu mempertanyakan perlunya pendasaran metafisis (dalam pengertian tradisional) untuk aneka kebijakan publik yang ada. Contoh: isu global soal penerapan versi demokrasi (Barat) untuk menumbangkan diktator (seperti Khadafi dan Assad) atau untuk mengintervensi politik sebuah negara demi penegakan HAM dan koreksi terhadap pemerintahan anti-demokrasi tidak jarang dipakai sebagai topeng pembenaran untuk kepentingan ideologis (sempit) sejumlah pihak. Klaim kebenaran metafisis seharusnya lebih ditekankan pada pengertian dasariah (Yunani kuno)-nya yaitu meta (μετὰ): artinya (rasa) kebutuhan akan sesuatu yang melampaui hal-hal fisikawi, dengan kata lain, yang melampaui kepastian saintifik.

Padahal, kita ingat jelas bahwa sejarah peradaban Barat ditandai oleh pertarungan dua klaim metafisis yaitu metafisika transenden Gerejani (berupa kuasa absolut Ajaran dan Tradisi Kepausan Roma) dan metafisika Sekuler pencerahan (yang kemudian diteruskan oleh Sains Modern). Mentas dan mapannya Sains Modern tidak dapat dilepaskan dari perebutan kekuasaan pada tataran metafisis dari tangan para pejabat Gereja (Katolik Roma) ke tangan para saintis. Lima ratus tahun terakhir ini (di Dunia Barat) semakin terlihat tren bahwa pelbagai klaim metafisis, baik yang disampaikan para petugas dari agama terlembaga yang mendaku menyuarakan Kehendak Tuhan maupun para pemikir ilmiah yang dengan bangga menepuk dada dan menyatakan diri sebagai ‘bebas nilai,’ ternyata hanyalah selubung ideologis yang menyembunyikan pertarungan kekuasaan yang acapkali tidak seimbang baik amunisinya maupun lapangan bermainnya.

4) Metafisika sekarang lebih tepat dipahami dalam kelindan dualitas arti: “entah sebagai kebenaran yang melampaui dunia yang tampak dan pengetahuan umum, yang pentung pengukurnya dipegang barisan otoritas lawas, the auctoritates, atau kebenaran yang diproyeksikan yang tidak berlandaskan pada fakta dan data namun melulu pada kekuasaan yang didaku oleh dan berpihak pada proyek kaum marjinal.” Dalam rentang pilihan antara Metafisika auctoritates dan Metafisika Kaum Terpinggir, saya, Vattimo, di dalam kumpulan esei ini, lebih mengakui, memilih, dan mengundang Sidang Pembaca untuk mendukungnya sebagai ‘Metafisika yang Baik,’ bukan hanya karena alasan cinta atau belaskasihan pada Kaum Proletar (term metafisis dari Marx) yang karena sudah ditelanjangi habis-habisan kepemilikannya, maka mereka tidak punya selubung ideologis, sehingga justru dapat melihat kebenaran sesungguhnya. Di jantung preferensi pilihan pada Metafisis Kaum Marjinal ini meletak kedekatan emosional dan ontologis Vattimo pada karya Heidegger, Sein und Zeit, yang jelas-jelas menantang ide bahwa Ada adalah struktur yang terberi dan stabil yang tentangnya pikiran kita seyogianya dapat mencerminkan dan yang kepadanya kita perlu perlakukan secara hormat sebagai norma.

Dalam pandangan Heidegger muda, Metafisika objektivis yang digagas semacam inilah yang
(a) pada gilirannya mengeksklusi kebebasan, historisitas, dan struktur terbuka eksistensi, dan
b) menghasilkan objektivikasi universal tentang manusia sekaligus membuka jalan bagi terbentuknya masyarakat yang total Verwaltung alias masyarakat yang terdominasi paradigma rasionalistik totaliter—sebagaimana didaulat demikian oleh para pemikir dari Mazhab Frankfurt.

(ii) “Dalam dunia yang di dalamnya kendali atas hidup para warganegara dan politik rasa aman jadi semakin opresif, kebenaran yang diklaim metafisika tradisional bukanlah pokok yang kita perlukan lagi. Justru yang lebih kita butuhkan adalah sikap kritis yang menyingkap borok-borok absolut dari masa lalu dan semua implikasi sosial tragisnya…Sains dapat dilihat sebagai inkarnasi dari kekuasaan sekuler yang dulunya menantang kekuasaan tradisional Gereja dan auctoritates, kekuasaan yang mendasarkan dirinya pada ide transenden…sains modern lahir dan tumbuh berdampingan dengan mentasnya kekuatan ekonomi dan politik: para ilmuwan sekarang membutuhkan mesin yang terlampau rumit dan laboratorium yang teramat mahal yang memaksa mereka (jadi) tergantung pada pendanaan privat maupun publik, yang entah bagaimana caranya harus bisa mereka justifikasi” (Vattimo, 2021)