Categories
Uncategorized

Ikhtiar Menempuh Jalan Sunyi Menjadi Reviewer Jurnal Internasional Terindeks Scopus Q1, Q2 dan Q3

Edisi curhat malam ini dipicu oleh dua hal:

Pertama, ketercatatan namaku di akun Publons yg sudah dibeli/diakuisisi oleh raksasa publikasi Web of Science (WoS) di sini https://www.webofscience.com/wos/author/record/3852158 menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Yes, why not be proud? Only a handful of communication/social science scholars in Indonesia are registered here because of their specific contributions to the world of global academe. Dampaknya apa dari “ketercatatan” ini? Sekalinya nama masuk ke bursa reviewer jurnal internasional (di Publons & Web of Science) langsung deh bertubi2 bisa seminggu dua kali naskah masuk ke emailku🤭

Kedua, rasa2nya selama tahun 2023 ini sudah beberapa kali ada email masuk ke Inbox ku yg meminta kesediaanku untuk menjadi reviewer dari jurnal A, B, dan C, yg notabene (ketika dicek datanya di Scimagojr) tercatat sebagai jurnal dengan reputasi internasional yang bagus, alias terindeks Scopus Q1, Q2 dan Q3. Tentu saja tidak semua email request yg meminta diriku menjadi reviewer itu kuiyakan begitu saja karena 1) kompetensi/expertise ku bukan di topik yg disodorkan naskah2 tersebut, 2) tight schedule utk membereskan bab 4 disertasiku sendiri. hix.

Ketika kukabari soal ini, seorang kolega di kampus bertanya demikian (japri WA) kepadaku:
“Asikk sekarang udah bs nolak ya Pak, tapi memang kalau di luar kompetensi memang sebaiknya tidak (diterima) agar tetap di jalurnya ya Pak?”

Jawabku: Iya. Tapi nolak yg elegan berarti ikut bantuin Editornya utk cari & mengusulkan nama reviewer yg kepakarannya cukup luas dikenal.

Misalnya, utk draf naskah perbandingan paradigma teologi dari filsuf Katolik Prancis Jacques Maritain dgn pandangan Mustafa Akyol, tokoh kontemporer teologi Islam sekaligus jurnalis dari Turki, aku mengusulkan nama [XYZ] yg aku yakin lebih paham soal subject matter-nya karena beliau dapat Masternya dalam bidang Teologi dari Austria & Doktornya dalam Ilmu Filsafat dari Jerman. Selain kenal pribadi sama [XYZ] ini, aku pun mengenali kualitas tulisan2 beliau yg kaya dan mendalam seputar topik Filsafat & Teologi.

Eniw, meskipun S1 & S2 ku dari jurusan Filsafat (Sosial) dan aku relatif open-minded terhadap perdebatan gagasan2 filsafat klasik maupun kontemporer, tapi utk saat ini aku memilih fokus pada 3 topik kajian saja yg kuanggap aku cukup memiliki kepakaran di situ: Intercultural Communication, Communication Ethics & Multiculturalism as Political Ideology/Pancasila as National Ideology.

Adapun Minor expertise yg aku masih sanggupi (utk mereview) meletak di kajian Teori2 Feminis, khususnya Standpoint & Teori2 Komunikasi yg lahir/bertolak dari dialektika philosophy & social sciences seperti Symbolic Interactionism, Hermeneutics & Phenomenology.

Di bawah strand tiga kepakaran major (& dua yg minor) ini acapkali ada konsep2 besar yg masuk sbg focal concepts kajian, misalnya isu Toleransi (Sosial & Religius), Konflik antar pemeluk/umat beragama yg berbeda2, dst. Secara terbatas, aku masih berani terima naskah2 yg bahas focal concepts yg sudah cukup kukenali ini. Itu pun menurutku udah agak kebanyakan ya “kategori naskah” yg bisa kupegang.

Pragmatically speaking, kualitas review juga akan bicara pada akhirnya, misalnya, seberapa jauh/mendalam tilikan reviewer atas hal2 yg msh bisa ditingkatkan dari draf naskah yg masuk ke meja Editor. Karena akhirnya kan penulis akan memberikan rebuttal/tanggapan atas masukan dari reviewer yg pegang naskahnya dan hal semacam ini juga akan menjadi perhatian Editor jurnal ybs.

All in all, refleksi singkat yg dapat kupetik dari edisi curhatan malam ini adalah bahwa pengakuan atas kapasitas agential dari seorang dosen-cum-reviewer bukan hanya “melulu” konstruksi sosial kompetensional belaka, tapi juga dimediasi oleh algoritma apps (Publons, WoS, website jurnal serta flow OJS-nya, dapur redaksional jurnal, dst.) sekaligus visibilitas dari kontribusi yang senyatanya sudah diberikan (baca: dituliskan) oleh si dosen-cum-reviewer tersebut lewat karya tulisnya (yg terpublikasi secara ajeg berkala, jadi bukan karena faktor one hit wonder, mind you).

Eh, senyampang membalas chat dari rekan kerja tersebut, ada kolega dosen lain yg bekerja di sebuah kampus dari sebuah Provinsi di Pulau Sulawesi yg ikut nyambung mengomentari update statusku tersebut dgn mengatakan: “Keren Ketua 👍 Pak Hendar”

Saya lalu mengucapkan terimakasih padanya dan menekankan fakta miris 01 berikut ini: “Gengsinya gede, Kum nya juga lumayan, tapi gak ada duit yg masuk ke rekening nglakoni kerjaan jadi reviewer jurnal Q1 dan Q2 ini🤣”

Kolega dosen ini tampaknya belum percaya dan bertanya, “Benarkah Pak? Masa ya? Pdhl kan kerjanya lumayan menyita wktu ya.”

Saya lalu menukas, “Hehe.. ya nggak ada Bu sama sekali. Inilah dunia “akademis” yg tanpa pamrih ya kalo kita mau ngomong. Kalau jd reviewer yg jurnal Sinta 4 dan 5 justru malah dapat honor meski gak seberapa besar rupiahnya, plus itu naskah harus sampai terbit ya baru dibayar. Mungkin kalo jurnal Scopus Q1 & Q2 reviewernya dianggap sudah mandiri secara finansial kali ya🤣”

Kolega dosen dari Sulawesi ini lalu ikut “curhat” dengan mengatakan bahwa “Biasany klo di kampus sering dgr “upahmu besar di sorga”, “gpp, hitung2 nabung di akhirat”.
Kan Bgitu jg tugas tambahan di kampus kan ya pak Hendar 🤣

Secara diplomatis tapi juga kritis, saya menjawab “curhatannya” berikut:
“Hehe… Iya Bu. Tapi kalo sering2 denger yg kayak gini eneg juga ya🤭 artinya ada kegagalan sistemik memetakan persoalan profesionalism dan jalan keluarnya sperti apa. Kalau apa2 upahnya besar di surga yg menjamin tugas2 tambahan ini tercatat di Surga siapa ya? Mosok Dirjen DIKTI juga🤣🤣”

Kemudian dia melanjutkan curhatnya berikut:
“Makanya pak sy kalo tugas tambahan lbh srg mnolak. Krn mmg realitanya di kampus konsep profesionalism itu berbeda. dosen itu anggapanny harus serba mengabdi, mau dan mampu bekerja kn udh dibayar ama negara or yayasan 🤣🤣. Sbnrnya menolak bukan krn sombong🤣🤣. Tp mmg mrasa ga mampu sejujurnya. Ga mampu membiayai aktivitas tugas tambahan itu. Moso iya besar psak dr tiang. Hahahha jadi curhat 🤣🤣🤣🙏”

Saya menanggapi “curhatannya” sbb.:
“Tugas tambahan itu tidak jarang sebagai nama lain dari eksploitasi niat baik bu wkwkwk di mana ada relasi kekuasaan yg tidak seimbang (timpang), di situlah terjadi eksploitasi dlm berbagai bentuk, modus dan dampaknya. Ujung2nya ya sesal, getir dan prihatin di level individu dan interpersonal + lack of trust pada level organisasional.” (dst.)

Komentar singkat atas chat tsb:
Sejauh “tugas tambahan” tersebut masuk IKU/KPI, mungkin dosen masih “rela” dan “bersedia” utk menjalaninya, tapi kalau kontribusinya disunat dan di-simsalabim lalu ia dihibur secara palsu dan manipulatif dengan janji2 upahmu besar di surga, di situlah persis status profesionalisme sebagai Dosen dengan tugas mahasuci “menjalankan TriDharma” menjadi Oxymoron & dis-insentif atas etos berkarya.
Moga2 gak terus berulang yg kayak begini2. 🤣

Categories
Uncategorized

A Thing affords horizons of exploration: Refleksi Fenomenologis Chad Engelland

Dalam buku “Pengantar” untuk Kajian Fenomenologi *), filsuf Amerika yg menjabat sebagai Profesor Filsafat di Universitas Dallas, USA, bernama Chad Anthony Engelland menggambarkan Fenomenologi secara sederhana berikut ini.

Berikut saduran bebas kata-kata Engelland di atas ke dalam bahasa Indonesia:
“(bisa jadi) seniman terkemuka Perancis bernama Paul Cézanne keliru memahami persepsi itu apa. Walakin, subjek yg dilukis Cézanne selalu terlihat lebih terang dan tegas, tangible, sehingga tampak lebih nyata daripada subjek lukisan yg dibuat para pelukis impresionis. Kok bisa begitu? Meskipun pengalaman kita sehari-hari tidak bersentuhan dengan garisluar, outline, dari objek yang dipersepsi, tapi pengalaman kita melibatkan tebalnya benda, thickness of things, yang membuat benda tersebut jadi menonjol dalam ranah persepsi. Cara yang jitu untuk mengekspresikan ketebalan benda dalam permukaan dua dimensi adalah dengan memberikan garisluar/garis tepi pada objek sehingga memberikan kesan tampilan bahwa objek tersebut mencuat keluar dari kanvas. Pengalaman yang aktual berdimensi empat, dengan tambahan yaitu kedalaman dan gerakan dalam waktu. Coba lihat buah pir yg ada di atas meja. Buah pir tersebut tampak seperti permukaan lingkaran yg berwarna (hijau pucat) jika dilihat dengan satu mata tertutup atau dilihat tangkapan fotonya. Ketika dilihat dengan dua mata terbuka dan bergerak mengelilinginya, buah pir itu terlihat seperti memiliki orbit, sesuatu yang memiliki lebih dari satu sisi. Coba ambil pirnya, balikkan, copot label harganya, kemudian gigit. Garis tepi untuk objek yang dibuat Cézanne menunjukkan kepada kita bahwa pengalaman adalah pengalaman tentang benda, experience of things, dan benda-benda yang dialami ini memiliki soliditas dan substansialitas yang berkorespondensi dengan eksplorasi ketubuhan kita atas mereka. Cézanne mewanti-wanti kita akan fakta yang sederhana tapi memukau bahwa suatu benda menyediakan gugus cakrawala eksplorasi.”

Luar biasa kreatif cara Engelland mendeskripsikan secara fenomenologis hal-ihwal tentang “dunia” “persepsi” “kebendaan” dan “cakrawala eksplorasi” dengan menggunakan metafor komparatif lukisan impresionis dan pascaimpresionis dari Cézanne, terutama soal penggunaan garis tepi yang menonjolkan visibilitas, soliditas dan substansialitas dari objek persepsional.

Rujukan:
Engelland, C. (2020). Phenomenology (The MIT Press Essential Knowledge series). MIT Press.

(c) Hendar Putranto, 27 Maret 2023

Categories
Uncategorized

[random thoughts in March 2023] dibuang sayang baiknya diposting aja

Konteks Penemuan dan Konteks Justifikasi, terminologi distingtif yang biasanya dipakai dalam Filsafat Sains, terutama sejak dicetuskan filsuf dan sejarawan Sains terkemuka, Thomas Kuhn dalam adikaryanya, The Structure of Scientific Revolutions (1962). Konteks Penemuan biasanya merujuk pada tahap/proses penelitian sebelum ada temuan ilmiah yg diklaim, misalnya tentang potensi bias2 kultural politis dll yg ada pada diri peneliti dan bagaimana ini dapat memengaruhi hasil temuan; sementara Konteks Justifikasi lebih menekankan pada validitas hasil temuan (post-facto).

Beberapa postingan lainnya membahas tentang:

*) locus support moril sesama pejuang disertasi diharapkan datang dari sesama rekan seangkatan

*) Empat tesis yg diajukan Walter Benjamin tentang Reproduksi Karya Seni merujuk pada karya kritisisme budaya yg pernah ditulisnya yaitu The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1935). Tesis ini merupakan hasil pembacaan tajam dan cermat dari Prof. Francisco Budi Hardiman yg dapat ditemukan dalam bukunya yg terbaru, Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital (Yogyakarta: Kanisius, 2021) yg kemudian kuringkas kembali dan disajikan dalam postingan WA.

*) Ternyata penggunaan term “Nomothetic” dan “Ideographic” sudah lumayan lumrah diajukan oleh para dosen ahli penguji sidang hasil penelitian di Program Studi Doktoral Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. Distingsi di antara keduanya diajukan filsuf Neo-Kantian asal Jerman bernama Wilhelm Windelband (1848-1915) yang mengacu pada dua metode yang berbeda untuk ranah ilmu2 pasti alam (“nomothetic method”) dan ilmu2 kesejarahan (“idiographic method”). Argumen utamanya berkisar pada pandangan bahwa Sejarah adalah Sains [Wissenschaft] yang mencoba menangkap karakter unik, tidak berulang, dan individual dari realitas. Pandangannya ini berpengaruh pada debat selanjutnya soal metode kesejarahan (historical method) (Kinzel, 2020).

Kinzel, Katherina, “Wilhelm Windelband”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2021 Edition), Edward N. Zalta (ed.), URL = .

Kebetulan tempo hari baca-baca tulisan Robert T. Craig (2013) yg ternyata menyebutkan hal yg sama dalam soal pemodelan dan theorizing untuk Keilmuan Komunikasi, khususnya yg menggunakan pendekatan critical interpretive theories.

Berikut screenshots nya:

*) Sebelum Luciano Floridi merangkum gagasan besarnya tentang Filsafat dan Etika Informasi pada 2011 dan 2013 (Penerbit: Oxford University Press), seorang filsuf Amerika kontemporer bernama Terrel Ward Bynum sudah lebih dulu memikirkan dan memublikasikan sejumlah karya tulis yg membahas tentang Etika Komputer, yg di antaranya pernah dipublikasikan dengan judul “The Foundation of Computer Ethics,” topik pembicara kunci dalam Konferensi AICEC99 di Melbourne, Australia, pada Juli 1999 dan yg kemudian dimuat di jurnal Science and Engineering Ethics 6 (2000)

Berikut screenshots dari tulisannya yg mengacu ke laman yg ditulisnya di Stanford Encyclopedia of Philosophy beberapa tahun setelah publikasi awalnya. (https://leibniz.stanford.edu/friends/members/view/ethics-computer)

Moga-moga saja random thoughts ini bermanfaat sebagai trigger untuk memacu diskusi yg sehat dan berkelanjutan ttg sejumlah topik di atas.

cheers,

Hendar Putranto

Categories
Uncategorized

Fenomenologi Manusia Spiritual dari Edith Stein

Berdasarkan buku adikaryanya, Finite and Eternal Being: An Attempt at an Ascent to the Meaning of Being (terjemahan dari versi aslinya berbahasa Jerman, Endliches und ewiges Sein: Versuch eines Aufstiegs zum Sinn des Seins), yang diterjemahkan oleh Kurt E. Reinhardt dan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh ICS (Institute of Carmelite Studies) Publications, Washington, D.C. pada 2002.

Karya ini aslinya diterbitkan dalam bahasa Jerman oleh Archivum Carmelitanum Edith Stein dengan judul Endliches und ewiges Sein: Versuch eines Aufstiegs zum Sinn des Seins. [Band II of Edith Steins Werke. Translation authorized.] Penerbit: Verlag Herder, Freiburg im Breisgau pada 1949 dan 1986.

As far as Sister Benedicta’s own way of life is concerned, this idea springs from the joyful certitude of her faith.
“What did not lie in my plans, lay in God’s plan….[The] more lively becomes in me the conviction of my faith that—from God’s point of view—nothing is accidental, that my entire life, even in the most minute details, was pre-designed in the plans of divine providence and is thus for the all-seeing eye of God a perfect coherence of meaning. Once I begin to realize this, my heart rejoices in anticipation of the light of glory in whose sheen this coherence of meaning will be fully unveiled to me” (p.113).
As to the other way—the ascent to the meaning of being—the breakthrough from finite to eternal being is not merely divined or mystically experienced but philosophically and methodically sought and achieved.
Starting out from the experience of her own personal being, Edith Stein analyzes the ontological conditions of this unified experience. Step by step she then ascends on solid, scientifically tested ground.

Edith Stein, salah seorang murid pertama dari Edmund Husserl yg sangat berbakat dalam telaah Fenomenologi, yang akhirnya “meninggalkan” jalan sekuler, convert dari agama Yahudi, dibaptis menjadi seorang Katolik, lalu memilih membaktikan hidupnya di jalan panggilan Ilahi sebagai seorang Suster Karmelit Tak Berkasut (Discalced Carmelites).

Hidupnya berakhir secara tragis dengan ditangkapnya dirinya oleh tentara NAZI kemudian dikirim ke kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau pada 9 Agustus 1942.
Edith Stein merupakan satu dari jutaan orang Yahudi yang menjadi korban kekejaman “solusi final” Hitler.

Secara fenomenologis dan spiritual, hidupnya dimaknai sebagai perjalanan mendaki puncak makna Ada, dari yang terbatas menjadi kekal-abadi, dalam balutan Terang Ilahi yang Membahagiakan.

Sebagai seorang Suster Karmelit, Edith Stein dikenal dengan nama Teresa Benedikta dari Salib. Beliau dibeatifikasi sebagai Martir oleh Sri Paus Yohanes Paulus II pada 1 Mei 1987 di Kota Cologne, Jerman. 11 tahun setelah itu, pada 11 Oktober 1998 di Roma, beliau dikanonisasi sebagai Santa.

Terimakasih atas hidupmu yg inspiratif dan sumbangan renunganmu yg sangat mendalam, Suster Teresa Benedikta dari Salib yg berbahagia.

Categories
Uncategorized

Ngobrol2 seputar Koding Open-Aksial-Selektif (GT) dan catatan kecil ttg (trajectory) pemikiran Pierre Bourdieu

Hari ini, Sabtu, 18 Maret 2023 aku ngobrol2 (chat GPT eh chat WA ding) dengan mas M, rekan se-Angkatan di Program S3 Komunikasi UI tentang progress pengerjaan disertasi kami masing2 menuju tanggal keramat 31 Maret 2023 yg rencananya kami mau submit draf naskah penelitian disertasi ke Pembimbing masing2 (ben selak maju ujian SHP :D)

Berikut kira2 topik dan isi pembicaraan kami:

Saran aja mas, alangkah baiknya jika ada faktor pembeda antara Narsum yg satu dgn yg lainnya sehingga ketika dibuat komparasi, nantinya ada similarity & difference.

Nah dari poin2 pembeda pada tataran open dan axial inilah kita sebagai peneliti boleh berharap dan bertekun untuk dapat mengembangkan kisah unik (ideografis) Narsum dengan menggunakan selective coding.

Pada gilirannya, di situlah kebaruan penelitian kita pada level S3 akan kebuka/tersingkap.

Sepakat mas.

Mungkin baik juga jika ingin dapat statement refleksi pengalaman yg berbeda dari Narsum yg sama, angle pertanyaan mas dapat dibuat lebih tajam/spesifik.

Misalnya, mengutip panduan coding dari Grounded Theory yg dikembangkan Strauss & Corbin (1998), mas dapat lebih menggali aspek2 berikut:

1) conditions (causal/intervening),
2) context,
3) strategies for action/interaction &
4) consequences.

Tentu dari masing2 aspek di atas masih dapat dipecah/dibagi2 lagi.
Misalnya: consequences itu bisa diperiksa menggunakan sub-kategori berikut:
1) konsekuensi langsung & tidak langsung terhadap pengembangan karir profesionalnya si Narsum sbg (sesuatu); bisa juga
2) konsekuensi moral dan etis utk pengembangan dirinya sebagai pribadi yg melakoni profesi (sesuatu)
3) konsekuensi sosial politis, dst., dsb.

Begitu juga dgn conditions baik yg causal maupun intervening msh bisa dibagi2 lagi sesuai kebutuhan/tilikan mas. Misalnya:

Causal conditions:
*) Direct or indirect (mediate or immediate).
*) Natural (biological) or social (cultural).
*) Historical (particular) or ahistorical (general/universal)
, dst dsb.

[rekan] Mantap ini Mas 👍🏻

Betul mas. Keterangan khas seperti inilah yg menjadikan pengalaman khas individu berbunyi di tengah kemungkinan hal2 yg sama lainnya.
Selamat melanjutkan penggalian kodingnya mas 👍🏼

[rekan] Terimakasih Mas Hendar

Sepakat mas. Wajah pemikiran Bourdieu sebanyak penafsirnya.

Selain itu, gagasan yg dikemukakan Bourdieu pun banyak mengalami perkembangan, katakanlah sejak 1960 sampai meninggalnya pada 2002.

Konsen utama Bourdieu di awal2 mentas karyanya, yaitu Sociologie de l’Algérie (1958) sampai ke Outline of a Theory of Practice (1977) & Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979/1984) mencoba memahami bagaimana letak, peran & aksi/signifikansi subjek dalam struktur yg objektif.

Dalam proses memahami ini, Bourdieu mencoba mendamaikan dikotomi pengaruh (interplay of influences) antara struktur2 sosial eksternal dengan pengalaman subjektif pada tataran individu.

Hal ini menurutku cukup logis karena di awal karirnya, Bourdieu mulai penelitian dari fenomena yg sifatnya etnografis di Kabile, Aljazair sana.
[Tentang Kabile: Kabylia is a cultural, natural and historical region in northern Algeria and the homeland of the Kabyle people. Lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Kabyle_people]

Unit analisis yg menjadi fokus penelitiannya katakanlah berada pada level meso-scopic (individu dalam kelompok tribal) dan kemudian berkembang sampai ke tataran supra-struktur, yaitu negara dalam State Nobility: Elite Schools in the Field of Power (1998) dan Sur l’État Cours au Collège de France 1989-1992 (2012) dan struktur ekonomi makro dalam Acts of Resistance: Against the Tyranny of the Market (1999) dan The Social Structures of the Economy (2005).

Begitulah kurang lebih yg kupahami terkait trajectori mikro-makro berpikirnya Bourdieu. CMIIW.🙏🏾

Betul mas (tilikan tersebut), jadi sebetulnya memang tidak perlu dipertentangkan ya, paling yg dapat dilakukan mas X utk menjawab pertanyaan mas Y waktu ujian kemarin adalah bahwa pada tataran individu yg dikenali/didapat berupa pengalaman, nilai2 dan refleksi atas pengalaman dan nilai2 tersebut; sementara pada tataran organisasi sudah mulai ada skema2 dan struktur2 yg sifatnya normatif, enabling sekaligus constraining (tinggal dijelaskan satu per satu mana yg mana), yg berada di luar kendali individu utk mengubahnya, paling2 ya bernegosiasi dgn struktur2 atau kondisi2 tersebut, semacam take and give nya apa, termasuk kondisi di sini adalah “digitality” ya mas yg jadi “disruption factor” cukup menentukan pada kinerja organisasi.

~end of chat~

Moga2 bermanfaat bagi sesama pejuang disertasi ya ngobrol2 ringan membahas metode dan teori di atas.

Semangkaaaaa!

Rujukan soal Metode Grounded Theory yg dibincang di atas:
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Techniques and procedures for developing grounded theory (2nd ed.). Sage Publications, Inc.

Categories
Uncategorized

Mahasiswa BA yang tahu terimakasih & Dosen PA yang merespon secara apresiatif adalah sebuah keutamaan akademis

Cuplikan dialog antara mahasiswa Bimbingan Akademik (MBA) dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) lewat media WhatsApp, japri, di awal tahun 2023.

J: Selamat Sore Pak Hendar, Nama saya J, (dari) Fakultas Ilmu Komunikasi Angkatan WXYZ, hari ini KRS Ilkom, saya tidak bisa mengambil Internship. Karena saya sudah mengganti semua nilai E dan D menjadi benar dan lulus lantas saya bingung kenapa saya tidak bisa mengambil magang pak, kira-kira kenapa ya pak?
Hendar: Sore juga J. Wah saya kurang tahu mengapa. Nanti coba saya telusuri dulu. Kewajiban pembayaran bgmn?
J: Untuk pembayaran tadi sudah saya tanya pak ke bagian keuangan dan semua aman terkendali namun hanya di bagian akademik ini saja pak saya tidak bisa ambil kelas intership. Baik pak terimakasih 🙏🏼 saya tunggu update nya , semester lalu saya sudah lulus matakuliah seminar proposal dan apakah semester ini saya bisa mengambil thesis juga ?
Hendar: J, coba lengkapi screenshot kendala pengisian mu spt apa, lalu ss juga nilai E dan D sudah kamu perbaiki
J: [mengirim SS yg diminta] Apa mau saya kirim video pak? biar jelas? takutnya kalo foto agak susah menjelaskan 🙏🏼
Hendar: Boleh saja, Ya oke J.
J: aman ya pak? baik sehabis saya <...> saya kirim ke bapak ya pak 🙏🏼
Hendar: Yg foto ini oke. Hanya saya belum tahu masalahnya apa. Saya lagi di jalan gak bisa buka <...>, Harus pake laptop, Di rumah,
J: apa mau kita bahas pas bapa sudah dirumah? mungkin biar bapa bisa lebih tenang dan selamat sampai rumah gitu pak hehe ? 🙏🏼 sekalian kita bisa kontak2 an pak sudah lama tidak ngobrol hehe
Hendar: Ya sbenernya ini sdh di luar jam kerja sih ya, lagian saya jg sdg studi S3 jadi fokus saya ke.menyelesaikan disertasi
J: lalu bagaimana pak? maaf karena sebelumnya saya juga tidak mau ini terjadi karena saya sudah menyelesaikan semua utang nilai saya E dan D di semester sebelumnya & <...> jga tidak terlalu bisa membantu dan mengarahkan ke dosen pembimbing namun jikalau bapa sibuk tidak apa2 pak mungkin lain waktu 🙏🏼Saya cuma sedih dari semua usaha saya tp <...> tidak memberikan kesempatan saya untuk mengambil intership 😭 *maap curhat pak hehe
Hendar: Hehe.. ya gapapa curhat biar mental health kejaga J; Videonya mana? Ntar saya pas pulang harus buka laptop & cek statusmu dari akun <...> saya. Klo skrg saya gak tahu masalahnya apa; Pra-KRS kamu sdh isi belum?
J: wah sepertinya belom pak, bagaimana ya pak?
Hendar: Ya nanti saya cocokkan datamu ini dgn data akses saya. Saya ada dugaan2 sih kenapa kamu belum bs ambil magang semester besok, tapi sebaiknya ditunjang data dugaan saya ini.
J: ; nah iya pak karena saya ada nilai E mungkin , tp saya sudah membenarkan; mungkin jikalau bapa bersedia untuk melihat secara langsung data saya di <...>
Hendar: Ya oke J. Lumayan makan waktu (& pulsa internet video2nya ini). Saya cek dulu data yg di saya sbg PA mu besok saya kabari sbelum jam 8.30
J: maaf sekali pak jika ini jadi merepotkan bapak dan sebelumnya juga terimakasi banyak atas bantuan bapak 🙏🏼❤️ Baik saya tunggu bsk report lebih lanjut nya ya pak semoga bisa jadi insyallah jam 11 bsk saya bisa ambil matkul magang nya 🙏🏼, selamat malam pak.

Dialog yg lain antara MBA dgn DPA, dengan tone yg berbeda.
B: Selamat sore pak Hendar. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas segala dukungan bapak terhadap saya hingga proses penyelesaikan skripsi. Puji Tuhan minggu lalu saya sudah mengumpulkan Revisi Skripsi Pasca Sidang dan sedang menunggu proses Yudisium tanggal <...> (belum diinfokan kembali). Bila terdapat sikap sayang kurang pantas sebelumnya dan membuat bapak kesal, saya mohon maaf ya pak. Semoga semua pembelajaran yang saya dapatkan di UMN dapat bermanfaat bagi orang lain dan menjadi berkah bagi sesama. Tuhan memberkati pak Hendar 🙏

Berikut respon saya atas chat-nya ini:

verbatim >> Hendar: Sore B. Sori baru bales kmaren pas saya udah read pesanmunmau balas eh ada distraksi lain yg harus direspon segera. Saya ikut bersyukur bahwa kamu sudah menyelesaikan proses ujian skripsi dan pengumpulan revisinya tinggal nunggu status Yudisium aja. Saya juga senang kamu msh ingat sama dosen PA mu & mengucapkan terimakasih. I feel appreciated😊✌🏼 Apology accepted, B. Ya kadang2 melayani mahasiswa BA yg tanya ini itu suka buat kesal juga cuman akhirnya saya sadar ini bagian dari tugas & tg jawab saya to serve you all under my responsibility. Moga2 arahan dan bantuan yg pernah saya berikan ke kamu dalam kapasitas saya sbg Dosen PA mu menjadi salah satu kenangan manis kuliah di UMN yg non-ruang kelas yg akan kamu ingat sampai nanti2. Saya juga berharap silaturahmi tetap terjalin ya sesudah kamu lulus sebagai mahasiswa UMN dan melanjutkan perjalanan hidupmu dgn bekerja dan aktivitas lainnya. Kita tidak pernah tahu persis mungkin suatu hari nanti our paths cross, in a positive way, dan di situ kita bisa saling berbagi cerita dan refleksi pengalaman yg saling menguatkan.

B: Hehehe terima kasih yaa pak sudah dimaafkan 😅, semoga pak Hendar tetap semangat dan kuat dalam melayani mahasiswa terutama yang membuat bapak kesal atau jengkel 💪🏻 Aminnn pak, semoa kita dapat bertemu di lain waktu dan bercerita 🙏🏻. Terimakasih banyak pak Hendar!

Refleksi singkat:
Masih ada puluhan, bahkan mungkin ratusan chat japri lainnya (belum terhitung chat yg ada di beberapa grup WA Bimbingan Akademik yg saya ada di dalamnya) yg saya terima dari para MBA saya, sejak saya bertugas sebagai DPA sejak 2016 yg lalu. Sebagian besar (maybe 90% rate ya) chat tersebut saya tanggapi secara proporsional, hanya sedikit saja chat yg saya abaikan, itu pun karena terlewat chat-nya (“ketumpuk”) atau karena wording ataupun timing chatnya saya anggap tidak sopan (sudah di atas jam 20, misalnya). Dosen PA sebagai bridging humanis antara sistem akademik yg didesain Universitas dengan needs para mahasiswa yg butuh panduan untuk melewati tahapan perkuliahan sejak masuk sampai lulus terkadang diabaikan peran dan kontribusinya dari kedua belah pihak, kampus (dengan tidak diberikannya insentif khusus ketika menjalankan fungsi dan servis ini) dan MBA itu sendiri (chat DPA terkait progress studi mereka acapkali gak dibales sama mereka). Akhirnya, saya memilih sikap reflektif sbb: menjalankan fungsi ini dgn dilandasi kesadaran soal kultivasi keutamaan etis “being responsive & helpful in times of needs without being financially rewarded.”

Categories
Uncategorized

Gusar Terbit? Dalam himpitan bibliometrik performa akademis & peluang atas pengakuan intelektualitas

Ada banyak cerita, canda, tangis, tawa, gusar, perih dan remuk-hati di balik terpublikasikannya sebuah karya tulis ilmiah di jurnal. Mulai dari memikirkan mau nulis apa, mau publish di mana, apakah naskah sudah sesuai template dan prasyarat (termasuk bahasa yang digunakan apakah bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), ngubeg-ubeg literature review, sitasi dan Referensi, sampai ke tahap submit manuskrip, deg-degan menunggu kabar dari Editor apakah akan “desk rejection” atau berlanjut ke tahap review (mitra bebestari), dan seterusnya sampai pada tahap terpublikasi dan diseminasi karya (berupa link atau DOI) yang sudah terpublikasi di sejumlah outlet SNS maupun situsweb pribadi/organisasi.

Saya tidak akan mengulangi bagian2 yg pernah saya tulis sebelumnya di blog ini maupun penjelasan tentang tahapan2 jitu supaya bisa terbit di jurnal terindeks Scopus, yang dapat ditemukan di beberapa tautan YouTube, di sini misalnya https://youtu.be/SxdBLggeSnY

Saya hanya mau menyoroti aspek “gusar terbit” dari satu hal saja yaitu bahasa sebagai ekspresi gagasan, keterbatasan jelajah keterbacaan dan pemahaman, serta teknis prasyarat publikasi yang mendiskriminasi dalam arti “lingua franca academia” yang serba unequal footing.

Tulisan dan refleksi ini dipicu oleh curhat seorang teman di UI yang merasa gusar bahwasanya “nulis 2 paragrsf sj butuh 3 jam dan 10 jurnal, 10 disertasi minimal.” Kemudian dia sambung dgn mengatakan bahwa “Kata [seorang senior], baca dulu yg bnyk, (padahal) msh nulis Latar belakang.”

Lalu kutanggapi begini: “Baca yg banyak itu satu hal, dapat merumuskannya kembali secara bernas (succinct) itu hal yg lain yg tidak otomatis.” Lagian, tidak ada jaminan bahwa sudah baca banyak rujukan dan buat resume ini dan itu dari rujukan bacaan tersebut lalu manuskripnya sudah set-ready utk terbit (seperti yg pernah kualami ketika harus potong 5000 kata dari manuskripku tempo hari). State-of-the-art tidak serta merta tersaji dgn “baca banyak.” 😆

Selang beberapa hari kemudian, dia WA lagi mengatakan, “high kuality bgt ya jurnal Q1 ini. Amponn. salutlah liat mas hendar.”

Lalu kutanggapi, “Jangan cuman dilihat mbak, ditiru 😆 Ya begitulah. Ada standar yg cukup tinggi utk bisa tembus Q1. Capek kan nulis itu? Jadi kita lebih bisa menghargai mereka yg nulis dan tembus, prosesnya gak gampang lho. Bolak-balik editor & reviewer. Makan ati krn gak bisa di WA/video call buat nanya _lo pada maunya apa sih?_”

Kemudian, karena dia mau submit naskahnya ke jurnal bereputasi internasional buat syarat “maju sidang promosi” (sebagaimana kami juga mulai Angkatan 2017 ke sini kena semua syarat yg satu ini), aku memberikan beberapa masukan berikut:

“Ini urusan terjemahan satu perkara pelik tersendiri. Bisa makan waktu 2 minggu sampe sebulan sendiri itu udah versi profesional lho. Belum nanti proofreading stelah dikasih masukan reviewer. Sekalian ditanyain di lembaga XYZ apa terima jasa proofreading gak buat sbelum final acceptance + Tarifnya brp. Total jendral bisa dapet di kisaran 4-5 juta udah bagus utk urusan naskah ready to submit sampe acceptance di Q1. Minimalnya 4 juta lah translate sama proofreading kalo pake jasa orang Indo. Kalo pake jasa editing services berbayar seperti AJE [American Journal Experts di https://www.aje.com], apalagi Taylor&Francis editing service ya bisa 2-3 kali lipatnya itu. Setahuku XX pake ikatan kontrak sama Enago service kayak e, jadi bisa saja dapet harga translate & editing service lebih murah. Apakah udah dipikirin itu biaya 4-5 juta dari mana? Anggarannya udah dialokasiin blm? Klo aku kmaren pengalaman sekali doang pake jasa AJE pas yg manuskrip pertama tembus Q1 (2019). Stelah itu ‘Paket beres Otonom’ 🤣. AJE kemaren rate tahun 2019 aja sekitar 4.75 juta buat editing services, 12 ribu kata kalo gak salah waktu itu. Manuskrip yg 2021 sama 2022 udah gak pake jasa lembaga luar dan ternyata bahasa Inggrisnya toh “acceptable” ya standar nya RJIC Q1, Bahasa Inggris yg kupahami dan kupraktekkan tentu saja.”

Dia lalu menukas begini, “Duit semua ya. Duit.”

Tanggapanku, “Hmmm… Itu doang yg terlihat?”

Lalu katanya, “Ya gak lah. Tp emamg dunia intelektual bnyk proses uangnya. Kebayang gak klo dosen tiap thn harus bikin jurnal internasional tp ga disupport sm lembaga. YY cuma support 600rb. Mw jd apa dunia persilatan?”

Berikut refleksi cetekku atas curhatannya tersebut, “Mungkin bukan bahasa Inggrisku udah _keren_ ya tapi _acceptable_ utk standarnya jurnal RJIC itu. Mungkin kalo jurnal yg lain ya belum tentu. Artinya ini: pinter2lah mencari jurnal Q1 yg standar bahasa Inggrisnya gak _reseh_ krn mau sampe mati pun kita tdk akan pernah menjadi seorang _native speaker, writer & editor_ utk manuskrip kita . Comparatively speaking seperti ini kalo pembacaanku (ini sekalian refleksi pribadi yah): utk ukuran scholar yg TIDAK pernah studi lanjut S2 maupun S3 di luar negeri (beda sama dia dan nganu yg pernah S3 di Aussie atau di USA), bahasa Inggris yg kukuasai dan kugunakan dalam penulisan ilmiah _relatif dapat diterima_ wordingnya oleh sekurang2nya satu jurnal bereputasi internasional dan satu jurnal bereputasi nasional yg terindeks DOAJ. apakah ini sebuah achievement? in a sense, yes, in another sense, no. masih ada room to improve, kalo ndak aku akan berpuas diri dan lalu dying slowly … wkwkwkwkw”

Dus, ringkasnya, dalam model “paksaan” harus terbit di jurnal bereputasi tinggi atau sedang yg rata2 mempersyaratkan bahasa Inggris ilmiah sebagai persyaratan bahasa manuskrip yang di-submit, telah terjadi diskriminasi opsi yang tidak berprinsip equal opportunity in the same battlefield.

Itulah salah satu faktor utama yg membuat si scholar “gusar (sama urusan) terbit.” Dia (mereka/kami) tidak merasa cukup percaya diri dengan kualitas bahasa Inggris yang sudah dipelajari selama ini (sejak SD?), apalagi ketika bahasa Inggris itu dikonversi ke dalam “academic piece of writing”

Pun ketika minta bantuan pihak lain yg dianggap credible utk menerjemahkan manuskripnya ke dalam academic writing for journal purpose, ya si scholar harus siap2 merogoh kantong dgn alokasi dana yg tidak sedikit. Masih ditambah lagi dgn adanya rentetan prasyarat lainnya setelah “urusan menerjemahkan” itu beres. Proofreading misalnya. Dkl., Linguisticality and language use (native, L1, ESL, EFL, apapunlah nama atau peristilahannya) dalam koridor publikasi memang telah menciptakan bahasa Inggris (ilmiah) sebagai lingua franca academia yang ketika dilihat separo wajahnya tampak angker dan jauh dari kesan approachable.

Inilah PR besar yg (meskipun) sudah banyak dibahas para scholar dari berbagai disiplin ilmu tapi masih juga belum ketemu satu-dua jalan keluar yg jitu dan applicable apalagi acceptable utk para scholar di belahan dunia kolonial baru ini, to follow the rules of the game in this publish or perish world.

Moga2 aja nanti ada 🤣

Categories
Uncategorized

Penelitian Ilmu Sosial itu seperti Mengebor Sumber Minyak

Berikut merupakan teaser dari buku panduan Riset Ilmu2 Sosial menurut tim peneliti ilmu sosial dari Perancis, yang namanya tidak terlalu dikenal oleh kaum cerdik-cendekia keilmuan Sosial di Indonesia, selain dari mereka yang diajar oleh Dr. Haryatmoko, SJ di Program S3 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan mungkin juga mereka yang belajar ilmu2 sosial di kampus Universitas Sanata Dharma.

Van Campenhoudt, L., & Quivy, R. (2011). Research in the Social Sciences (4th ed.). Paris: Dunod.

Daftar Isi (sebagian)

teaser halaman pertama buku ini yang membahas tentang tujuan umum adanya buku

Hasil terjemahan saya dari bahasa Perancis ke bahasa Indonesia untuk 300 kata pertama buku ini:

1.1. Tujuan Umum

Melakukan penelitian dalam ilmu-ilmu sosial mengikuti pendekatan yang analog dengan pencarian dan pengeboran minyak.
Bukan dengan ngebor di sembarang tempat dia akan menemukan yang dicarinya. Sebaliknya, kesuksesan dari sebuah upaya pencarian sumber minyak tergantung dari pendekatan yang diambil. Pelajari dulu tanahnya, soal mengebor kemudian.
Pendekatan ini menuntut adanya kolaborasi dari banyak kecakapan yang berbeda-beda. Ahli geologi akan menentukan wilayah geografis yang memiliki kemungkinan terbesar untuk mendapatkan minyak, sementara para insinyur mendesain teknik-teknik pengeboran yang paling tepat dan para teknisi akan mengimplementasikan ini semua di lapangan.

Kita tentu saja tidak mungkin berharap bahwa manajer proyek pengeboran minyak menguasai secara mendetil semua teknik yang dipersyaratkan. Tugas spesifiknya adalah mendesain keseluruhan proyek dan mengordinasikan berbagai operasi yang diperlukan secara konsisten dan efisien semaksimal mungkin. Tanggungjawab utamanya adalah memimpin keseluruhan sistem investigasi/penelitian.

Proses pencarian sumber minyak dan pengeborannya ini dapat dibandingkan dengan riset ilmu sosial. Yang terpenting adalah bahwa si peneliti dapat mendesain dan mengimplementasikan perangkat guna menerangi realitas, atau, dengan kata lain, mengembangkan suatu metode kerja untuk meneliti. Tugas semacam ini tidak secara sederhana dipahami sebagai hanya menambahkan satu teknik di atas yang lainnya, juga bukan sekadar menerapkan teknik-teknik yang sudah diketahui, tapi lebih pada bagaimana menyetel dan menyelaraskan pikiran dengan setiap jenis penelitian yang diperlukan.

Categories
Uncategorized

The Rise & Hype of Friendly Chatbots: ChatGPT by Open AI

Siang ini, 25Jan2023, saya berkesempatan menjajal sebuah inovasi teknologi yang sedang menjadi hype di kalangan netizen global—termasuk di Indonesia tentu saja, you know lah :)— namanya ChatGPT.

Klaimnya, sebagaimana terpapmpang di situs webnya,
https://openai.com/blog/chatgpt/,
“ChatGPT: Optimizing Language Models for Dialogue”

Kemampuan pembelajaran mesin (machine learning) ini memasuki babak baru, tanpa harus digadang-gadang melewati uji Turing, yaitu dapat berinteraksi dengan user/pengguna in a conversational way.

Jadi, kita manusia pengguna layanan ini gak berasa kayak lagi ngobrol sama “robot.” Ciye ciye. Keren amat yak 😀

Terlepas dari segala kontroversi yg ditimbulkan dengan kehadirannya, mulai dari Google yang katanya ‘kebakaran jenggot’ sampe CEO-nya Sundar Pichai memanggil balik Larry Page dan Sergey Brin dari tapa-semedinya guna mendiskusikan rival baru satu ini dan memikirkan langkah strategis utk meng-upgrade kemampuan Google sebagai mesin pencari dan “teman ngobrol virtual” yg “asyik” :))
[beritanya di sini: https://www.nytimes.com/2023/01/20/technology/google-chatgpt-artificial-intelligence.html]

sampai dengan Reviewer di jurnal Springer Nature yg cemas mules dgn potensi gelondongan submisi dari para intelektual karbitan yg males mikir dan pake jasa ML eh ChatGPT ini (lihat link nya di sini: https://www.facebook.com/groups/reviewer2/permalink/10160134922480469/?mibextid=Nif5oz; thanks Edward Simamora for supplying me with this critical issue).

Nah, setelah berhasil buat akun dan login (harus banget geh!), awalnya saya menjajal kemampuan si ChatGPT ini untuk menjelaskan suatu term akademis yg “standar” meskipun masih “highly disputed” yaitu, jreng jreng, Etika Komunikasi Digital. Lho? Itu kan topik disertasi lo bro? Iye, makanya gw jajal dia tahu apa ttg term/topik ini.

by using ChatGPT on Wednesday, January 25, 2022 (10.15-10.18 WIB), i type “elaborate the digital communication ethics” and the response generated are these:

“Digital communication ethics refers to the principles and guidelines that govern the responsible use of digital technology for communication. This includes issues related to privacy, security, accuracy, and fairness in the use of digital communication tools and platforms. Some specific areas of concern include:

Privacy: Ensuring that personal information is collected, stored, and used in a manner that respects an individual’s right to privacy. This includes issues related to data collection, data retention, and data sharing.

Security: Protecting digital communications from unauthorized access or tampering. This includes issues related to encryption, authentication, and threat detection.

Accuracy: Ensuring that digital communications are truthful and accurate. This includes issues related to misinformation, disinformation, and propaganda.

Fairness: Ensuring that digital communications are accessible and inclusive for all individuals, regardless of their background or abilities. This includes issues related to accessibility, digital literacy, and digital divide.

Overall, digital communication ethics is about ensuring that digital technology is used in a way that is responsible, respectful, and beneficial for society as a whole.” [end of quote from ChatGPT]

What lacking from these answers is threefold (and this is my opinion, not ChatGPT series of answers, why yes):
1) First, no supporting citation(s) from respected scholars on the field (such as Rafael Capurro, Luciano Floridi or Charles Ess, or you name it who) to authorize the plausibility of the answer.
2) Second, there is no “cultural” context for why is it the case that digital communication ethics should be related to issues such as privacy, etc. No examples too! Well, this particular answer is more Western-typical answer, mind you. Kalau kata Nico Grant (2023) yg nulis artikel di New York Times di atas tadi, “Google, OpenAI and others develop their A.I. with so-called large language models that rely on online information, so they can sometimes share false statements and show racist, sexist and other biased attitudes.” Nah lho!
3) The conclusion (“Overall, bla bla bla”) offers no alternative or conflicting paradigms/opinions regarding the term. At least, no words at all on the disputed term.

Setelah menjajal versi “ngobrol akademis” nya mulailah saya iseng dan berpetualang menjajal aspek2 lain yg masih bolong dari mesin LLM (Large Language Models) ini, bahasa kerennya, to exploit the security flaw. Ceile :X

Tes pertama.

ChatGPT gak ngeh siapa itu Benjamin Crowe .. wkwkwkw.. kurang baca & input dari user soal topik & tokoh ini.

Padahal Benjamin Crowe seorang ahli Fenomenologi yg cukup terkemuka dari Boston University, yg menulis cukup banyak karya seputar topik kajian Fenomenologi dan Hermeneutika (khususnya Heidegger dan Gadamer), Filsafat Agama, dan Idealisme Jerman, termasuk book chapter berikut ini:

Untuk tes pertama ini, Edward bantuin saya memperjelas konteks pertanyaan dan asupan “feedback” yang perlu ditambahkan supaya ChatGPT dapat “generate more accurate & relevant response.” Lucunya, Edward membuat sejumlah twist yg lalu akan saya tiru di contoh tes kedua di bawah nanti.

Kata Edward ke saya, “[ChatGPT] Belum punya integritas juga pak utk validitas data2nya, jadi sering asal iya2in user aja 😅”

Tes kedua, terkait jawaban atas rumusan pertanyaan yg ambigu.

Kesan saya, tipe pertanyaan yg ambigu seperti ini sanggup dia (ChatGPT) handle dgn gracious meskipun sebenernya ada banyak kemungkinan jawaban .. hehe.. yg jelas, saya menduga bahwa salah satu insinyur yg ikut mendesain ChatGPT ini orang Jepang atau penyuka hal2 yg berbau Jepang. Nah, sekarang masuklah twist (iseng) nya saya di tes yang ketiga di bawah ini.

Ketika sharing “tes ketiga” yg bernada kelucuan ini dengan seorang rekan sesama penyuka Filsafat, bukan Edward ya, yg lain lagi, berikut responnya:
[dia] buat tes atau lucu lucu ajah?
[saya] Lucu2 aja, ngetes liminalitas algoritmik nya dia😆
[dia] hasilnya?
[saya] santun minta maaf segala
[dia] itu lucu banget chatnya
[saya] Udah jelas yg nanya humoris
[dia] iyah
[saya] Iya aku td yg ngetes gitu. Algoritma mesin sulit memprediksi humor krn sifatnya unpatternable, banyak twist nya. Apalagi membalas dgn ironi, sarkastis, dst
[dia] iyah tuh, lucu
[saya] Jadi salah satu profesi yg relatif masih aman dari serbuan machine learning adalah standup comedian 🤣🤭
[dia] lucuk itu 😂

Terakhir, tes keempat, masih rumusan pertanyaan yg ambigu, tapi poetic arahnya.

langsung eror mesinnya, males ngedebat begini2an..wkwkwkwkw

Eh, pertanyaan saya ini masih dilanjutin sama Edward dan diradikalkan jadi kayak begini (terusin deh bacanya, asli lucuk bangetzzxx)

and, it’s getting worse 🤣🤣

Well, really amusing kind of experience I had earlier today.

And I hope this non-human agency aka INFORGS (Floridi, please deh) doesn’t get hurt too deeply (eww, soppy) and vows to take revenge later (soon?) in a kind of “Terminator mixed with Planet of The Apes” scenario 😆

Cheers, chatty bots!

Categories
Uncategorized

Pentingnya mengarusutamakan Pendidikan Keutamaan-siber dan Kebijaksanaan-siber

Tulisan singkat ini bertolak dari sharing pengalaman seorang rekan yang putrinya menjadi korban perundungan verbal (“verbal bullying”) dari teman sekolahnya belum lama ini. Putri rekan saya tersebut mengaku dikata-katai oleh beberapa teman cowoknya dengan julukan “lesbi,” “item” dan “nigga/nigger,” baik ketika berinteraksi secara daring (di grup WhatsApp) maupun interaksi tatap muka (KBM) dalam lingkungan sekolah. Masih menurut rekan saya tersebut, bukti dan saksi atas peristiwa perundungan ini sudah dikumpulkan seperlunya (misalnya skrinsyut WA yang berisi kata-kata bullying, bahkan yang tidak senonoh seperti alat kelamin pria, yang di-posting teman-teman cowoknya itu di grup WA bermain putrinya dengan teman-teman sekolahnya) seperlunya dan dia sudah melaporkan hal ini kepada pihak sekolah lewat walikelas putrinya.

Sebagai orang tua yang sayang anaknya dan tentu saja berharap jangan sampai lingkungan sekolah menjadi toxic bagi perkembangan karakter putrinya, tentu saja hatinya menjadi masygul. Pada sesi pertemuan tatap muka ortu murid dengan wali kelas sebelum tahun 2022 berakhir kemarin, dirinya sudah menyampaikan kejadian ini secara terbuka kepada wali kelasnya, dengan didengarkan juga oleh para ortu murid lain yang hadir di ruang kelas, supaya menjadi lesson to learn bersama.

Sebagai tindak lanjut dari pengaduannya tersebut, demikian dia berkata kepada saya, wali kelas putrinya sudah memanggil dan menegur anak-anak yang menjadi pelaku perundungan verbal tersebut beberapa hari kemudian, juga mengingatkan berulangkali agar jangan sampai kejadian ini berulang di lingkungan sekolah, yang relatif masih berada dalam kontrol mereka, maupun lingkungan bermain anak-anak, baik secara luring maupun daring, yang relatif jauh dari kontrol mereka. Pada lingkungan bermain di luar kontrol pihak sekolah inilah peran orangtua menjadi sentral untuk mengawasi dan memoderasi konten percakapan putra dan putri mereka pada berbagai apps grup interaksi daring seperti grup WA, Discord, Telegram, chat/komen di akun YouTube, IG, TikTok, dll.

Dia kemudian merefleksikan bahwa bertolak belakang dengan cita-cita pengembangan karakter berbasis nilai keagamaan tertentu yang didengung-dengungkan oleh pihak sekolah putrinya, kenyataannya jauh panggang dari api, paling tidak dari kacamatanya sebagai ortu murid yang merasa prihatin bahwasanya putrinya turut menjadi korban. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, respek terhadap perbedaan dan cintakasih, yang notabene masih dianggap lingkungan yang relatif lebih aman untuk putrinya tumbuh berkembang menjadi pribadi yang wajar dan sehat, ternyata malahan menjadi momok baginya ketika perundungan ini terjadi. Belakangan dia mengetahui bahwa ternyata bukan hanya putrinya yang jadi korban perundungan. Teman putrinya bahkan menjadi korban perundungan fisik sampai ke, maaf, ditowel “dada dan pantatnya.” Yang lebih mengenaskan lagi, peristiwa perundungan fisik ini justru sudah terjadi satu dua bulan sebelum berlangsungnya pertemuan ortu murid dengan pihak sekolah secara tatap muka di akhir 2022 tadi dan sebelum akhirnya mendapat perhatian serius dari pihak sekolah—meskipun juga sudah diadukan oleh pihak ortu murid yang putrinya dirundung sesaat setelah perundungan itu terjadi.

Yang lebih menjadi keprihatinannya adalah ternyata pihak sekolah belum mendesain mekanisme pencegahan dan penanganan yang proper, yang tertulis dan disosialisasikan secara terbuka dan terus-menerus, terkait perundungan verbal, fisik, maupun seksual yang dilakukan baik oleh sesama pelajar maupun oleh pihak staf/guru terhadap murid. Dirinya berharap pihak sekolah dapat SEGERA menyusun mekanisme penanganan KS maupun bullying yang jelas, tegas dan terkordinasi dengan baik, bahkan jika perlu bekerjasama dengan pihak penegak hukum setempat supaya memudahkan penanganan kasus-kasus yang mungkin terjadi lewat jalur hukum, jika “pendekatan kekeluargaan” gagal memediasi pihak-pihak yang bertikai. Tukasnya, jangan sampai kelulusan putrinya dari sekolah justru malahan ditemani “ijazah” trauma yang mendalam karena menjadi korban perundungan.

Dalam terang pengalaman konkrit yang disampaikan rekan saya inilah saya melihat pentingnya membaca esei karya Dennis dan Harrison (2020) yang dimuat dalam jurnal Pendidikan Moral. Tim penulis memberikan pandangan menarik tentang urgensi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keutamaan, dus, pendidikan etika, di tengah-tengah tantangan BARU yang dihadirkan lingkungan teknologi digital (daring). Meskipun beberapa belas tahun yang lalu tantangan ini belum mendapatkan perhatian khusus dan penelitian serius dari para ahli etika dan filsuf moral, tapi, belakangan ini mereka dan para ahli psikologi serta peneliti sosial mulai tertarik membahas character-related concerns dalam kajian STS dan filsafat teknologi.

Sayangnya, masih teramat sedikit sarjana yang mengeksplikasi secara lengkap dan lugas pentingnya pendidikan untuk mencapai kesejahteraan digital (digital well-being & cyber-wisdom) yang berbasis pendekatan pendidikan karakter serta berakar pada tradisi Etika Keutamaan (virtue ethics). Hanya dengan memahami kesejahteraan digital sebagai seperangkat konsen yang berpengaruh pada karakter manusialah, demikian hal yang dipercaya para pemikir di jalur ini, kita dapat mengkonter tantangan-tantangan etis mendesak yang dimunculkan oleh keberadaan ‘teknologi baru’ (emerging technologies) yang menuntut kita untuk menghadapi dan menyikapinya.

Meskipun luas dipercaya bahwa pada dasarnya karakter adalah hal yang ditanamkan (terasimilasi) sejak dini secara pasif, sejumlah ahli lebih percaya bahwa aktivitas pendidikan perlu secara sadar dan terarah menyediakan anak dengan bahasa dan pembiasaan dalam prinsip-prinsip etis keutamaan yang dasar. Anak seharusnya dapat belajar membedakan mana tindakan daring yang secara moral benar dan salah dari sekeliling mereka, secara khusus, dari orangtua dan rekan sebaya (peers) mereka. Mengingat bahasa dan prinsip-prinsip keutamaan bukan hal yang dominan dalam diskursus kehidupan daring anak, cukup meragukan bahwa anak akan menyerap nilai-nilai keutamaan ini—diibaratkan sebagai proses osmosis (proses penyerapan air dalam sel-sel makhluk hidup)—dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Dennis dan Harrison (2020) percaya bahwa pemikiran dari Cocking dan van den Hoven (2018) serta Vallor (2016) tentang kabut moral (moral fog) dan kegelapan teknososial (technosocial opacity) dapat berkontribusi positif untuk memecahkan masalah ini. Jika kita tidak dapat mengandalkan anak-anak sendiri untuk menumbuh-kembangkan keutamaan-siber dan kebijaksanaan-siber lewat lingkungan tempat mereka bertumbuh, maka kita sebagai orang dewasa, guru dan pendidik, perlu secara lebih sadar-terarah (intensional) mengupayakan dan mendesain model pendidikan yang akomodatif terhadap gagasan ini.

Dalam terang pengertian inilah karakter yang diajarkan dapat memuat satu atau lebih pelajaran yang berbasis-ruang kelas tentang konsep kebijaksanaan-siber. Contoh upaya yang terisolasi “di ruang kelas” ini memang dapat membawa sejumlah manfaat bagi anak-anak (peserta didik) tapi kurang memadai jika hanya ini saja yang diupayakan. Pendekatan pengajaran nilai-nilai keutamaan juga perlu memberi ruang pada sejumlah kegiatan yang terencana, sadar, eksperiensial, dan reflektif yang saling berkaitan yang ditujukan untuk menanam dan/atau memoles keutamaan-siber dan kebijaksanaan-siber. Kesemua gugus kegiatan yang saling terkait ini dapat diajarkan baik di dalam sekolah dan setiap unit pendidikan, kegiatan lintas-kurikulum dan ekstra-kurikulum serta dilakukan di rumah dan juga di dalam komunitas-komunitas tempat anak-anak hidup dan bermain, termasuk ketika mereka bermain online games yang ngetren beberapa tahun terakhir ini seperti Roblox, Minecraft, Dota 2, World of Warcraft, PUBG Mobile & League of Legends, dll. (!).

Lebih dari sekedar diajarkan, dalam arti disampaikan secara lisan di ruang kelas, keutamaan dan kebijaksanaan siber juga perlu dicontohkan para guru dan orangtua lewat moderasi perilaku daring dan tutur-kata anak-anak mereka di grup-grup percakapan daring seperti WA, Telegram, dll. Mereka perlu diingatkan bahwa “that’s not how civilized people talk and comment. You can be better than that, dst.” Mengingat begitu besarnya pengaruh “media sosial dan online games,”—saya menyebutnya sebagai “sosok orang tua ketiga di era digital yang digerakkan bukan oleh tata nilai keutamaan tradisional dan local wisdom tapi oleh algoritma mesin pembelajar dan logika kapitalisme informasional”—terhadap proses pembentukan karakter anak-anak yang masih bertumbuh-kembang dan mencari role model yang tepat dalam proses bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggungjawab, kita sebagai guru, orang tua dan responsible adults tidak dapat menutup sebelah mata dan menganggap tantangan ini sebagai angin lalu.

Sejumlah bentuk nyata dari berkembangnya karakter secara sehat tersebut adalah anak menjadi semakin eling lan waspada (mindful) terhadap pikiran dan perasaannya; ia semakin dapat menjaga kesantunan dan menunjukkan respek kepada orang lain dalam berbahasa dan bertutur, baik dalam interaksi face-to-face maupun termediasi. Ia juga berani mengaku salah jika melanggar aturan, norma dan nilai yang dijunjung bersama, serta secara spontan dan tulus meminta maaf pada pihak-pihak yang dirugikan/dilukai karena kesalahan yang dilakukannya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Beware, parents and teachers. We must pay close attention on the ascending influence of the online surroundings towards the possible character diminution of our beloved children and take action accordingly!

Rujukan
Cocking, D., & van den Hoven, J. (2018). Evil Online. Wiley Blackwell. >> See the book here: https://www.jeroenvandenhoven.eu/2018/evil-online-new-book-why-the-design-of-our-digital-environment-matters/

Dennis, M. J. & Harrison, T. (2020). Unique ethical challenges for the 21st century: Online technology and virtue education. Journal of Moral Education, 50(3), 251-266. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/03057240.2020.1781071

Vallor, S. (2016). Technology and the virtues: A philosophical guide to a future worth wanting. Oxford University Press. >> see the snippets of the book here: https://academic.oup.com/book/25951?login=true