
Dalam dua folder galeri digital saya yang berisi puluhan tangkapan layar dari buku, podcast, aplikasi, dan pengalaman keseharian, terkumpul semacam “museum mini” yang tidak hanya mencatat apa yang saya baca atau dengarkan, tetapi juga ‘galeri jejak arti’—bagaimana saya hadir sebagai subjek yang terus mencoba memahami dunia, dengan segala relung kompleksitasnya dan palung kemungkinan pencerapan adanya.
Koleksi ini menjadi semacam lanskap mental. Ada petikan tentang etika AI, statistik harian tentang langkah kaki, sejarah pemikiran filsafat, hingga komentar berita tentang perubahan iklim dan ritual budaya. Gambar-gambar ini mungkin tampak acak, tapi bagi saya mereka memindai jejak keterlibatan yang sangat personal—dan justru karena itu, politis.
Jika kita membaca gambar-gambar ini melalui kerangka pikir John Durham Peters dalam Speaking Into the Air (1999), komunikasi tidak lagi dipahami hanya sebagai “transmisi informasi” dari A ke B. Peters mengingatkan kita bahwa komunikasi adalah impian sekaligus kegagalan besar dalam sejarah pemikiran Barat: antara kerinduan akan pengertian dengan kesadaran akan batasnya. Galeri ini adalah wujud dari paradoks itu, a strange but necessary paradox.
Komunikasi sebagai Impian: Menggapai yang Jauh, Menyentuh yang Tak Hadir
Bagi Peters, komunikasi seringkali dibayangkan sebagai jembatan untuk menyeberangi jurang antara dua kesadaran. Namun, sebagaimana dipelajarinya dari tradisi Plato hingga Kierkegaard, selalu ada ketegangan antara dua model komunikasi: dialog (yang mengandaikan keintiman) dan diseminasi (yang mengandaikan keterlemparan pesan ke dunia).
Dalam kurasi ini, kita dapat melihat dua model itu bekerja berdampingan. Beberapa tangkapan menunjukkan dialog privat—chat pribadi, tanggapan WhatsApp, catatan dari ruang kelas. Tapi sebagian besar lainnya adalah bentuk diseminasi: kutipan buku yang tidak dikirimkan kepada siapa pun, podcast yang diputar sendiri, atau artikel yang hanya dibaca lalu diarsipkan sebagai tangkapan layar (screenshot) dan kudapan retina.
Galeri jejak arti merupakan ‘format’ komunikasi ethereal yang “berbicara ke udara”—meminjam istilah Peters—namun tetap penuh intensi dan makna. Saya tak tahu apakah sidang pembac akan membaca ulang kutipan yang saya simpan. Tapi saya tetap menyimpannya, sebagai cara untuk menyentuh yang tak hadir, menjangkau yang tak dapat saya temui secara langsung.
Medium sebagai Meditasi: Teknologi dan Tubuh dalam Arsip Digital
Peters juga berbicara tentang bagaimana teknologi komunikasi modern (dari telegraf hingga radio) mengubah sifat komunikasi menjadi relasi antara yang tak hadir. Dalam konteks ini, tangkapan layar dari aplikasi seperti Spotify, Google Fit, Blinkist, atau Goodreads adalah jejak interaksi saya dengan “mesin-mesin pencatat data dan peniru makna”. Ia bukan hanya soal konten, tapi soal mediasi—bagaimana tubuh saya, waktu saya, dan pengalaman saya dimediasi oleh mesin.
Saat saya menyimpan layar statistik jalan kaki, atau mencatat jumlah halaman buku yang saya baca, saya sedang merayakan tubuh dan pikiran sebagai ruang komunikasi yang sah. Namun sekaligus, seperti kata Peters, kita juga berhadapan dengan “sisi gelap komunikasi”: ilusi keintiman, rasa kontrol semu, dan jarak yang tak pernah sepenuhnya bisa dijembatani.
Tafsir sebagai Ritual: Kurasi sebagai Gagasan Relasional
Galeri ini bukan pameran, tapi ritual penafsiran. Peters menyebut bahwa komunikasi sejati bukanlah penghapusan jarak, tetapi pengakuan akan jarak itu sendiri. Maka ketika saya menyimpan kutipan tentang etika, merekam visual daging yang direbus, atau mendokumentasikan mata kuliah filsafat yang saya ajarkan, saya tidak sedang “menghapus” kesenjangan komunikasi. Saya justru sedang membingkai ulang jarak itu menjadi ruang pemaknaan gugus relasi baru.
Dalam zaman ketika algoritma mendorong kita untuk cepat berbicara dan segera mengomentari, dokumentasi seperti ini adalah bentuk pelambatan. Saya tidak langsung berbicara, saya merekam dulu. Saya tangkap layarnya & saya kudap visualitasnya. Hasilnya tidak langsung saya sebarkan tapi saya kurasi dulu. Pengendapan sesaat. Mungkin saya tidak menyentuh siapa pun dengan gala imaji dan rumpun kutipan ini, tetapi seperti “a squeeze of the hand” (bab penutup buku Peters), saya menawarkan isyarat: bahwa saya pernah berpikir, merasa, berbuat, mengarsipkan, dan, lewat ini semua, haus untuk memahami.
Penutup: Palung galeri yang menadah gagap
Peters mengajak kita untuk lebih jujur dalam membicarakan komunikasi—bukan sebagai jaminan keterhubungan, melainkan sebagai praktik yang penuh retakan dan keterbatasan. Saya membagikan catatan “receh” ini bukan karena saya flexing refleksi. Namun, karena saya percaya bahwa berbagi jejak berpikir, sekecil apa pun, seyogianya menjadi undangan untuk bertukar makna, juga meskipun dilakukan secara tergagap dan ditingkah senyap yang menderap. Catatan kuratorial berbasis galeri personal ini saya hadirkan (kembali) sebagai arsip dari kegagapan itu: upaya tipis untuk tetap terhubung secara tebal dan berlapis dalam dunia yang terlalu sibuk mendengung, tetapi sedikit sekali yang benar-benar menyimak.
#SpeakingIntoTheAir
#KurasiDigital
#JohnDurhamPeters
#ArsipPribadi
#personalgallery
#RuangTafsir
#SlowCommunication
#FilsafatKomunikasi
#VisualNotes