Kalau hari pertama kemarin kita bicara soal mendesain kebahagiaan, hari ini kita masuk ke bagian yang jarang dibahas di feed Instagram: rasa bosan dan lelah. Karena, mari jujur saja—merancang hidup bahagia itu gampang di awal, tapi mempertahankannya… ya, itu cerita lain.
Saya ingat satu momen di awal Januari 2023. Lagi suntuk-suntuknya mengerjakan disertasi, saya malah larut main galaxy space shooter di HP. Awalnya untuk “refresh” sebentar, tapi ujung-ujungnya malah jadi alasan menunda pekerjaan. Rasanya otak menolak membaca, apalagi menulis.
Di titik inilah saya teringat riset Angela Duckworth tentang grit—gabungan passion dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang. Salah satu temuan uniknya muncul di kompetisi National Spelling Bee. Ternyata, anak-anak yang lebih “gritty” bukan hanya berlatih lebih lama, tapi juga lebih tepat. Latihan mereka fokus, menantang, dan konsisten. Bukan sekadar mengulang tanpa arah.
Duckworth menyebut ini deliberate practice: berlatih di luar zona nyaman, dengan tujuan spesifik, dan mengevaluasi hasilnya. Nah, di sinilah rasa bosan justru menjadi pertanda bahwa kita sedang memasuki wilayah yang benar-benar mengasah kemampuan. Kalau latihan selalu terasa menyenangkan, mungkin kita tidak sedang berkembang.
Masalahnya, kebanyakan dari kita mundur ketika bosan atau jenuh mulai terasa. Kita mencari hal baru, berharap semangat akan kembali. Padahal, menurut Duckworth, juara sejati justru mengelola kebosanan seperti atlet mengelola nyeri otot: bukan dihindari, tapi dipahami sebagai bagian dari proses.
Sejak itu, saya mulai mencoba “latihan bertahan bosan” untuk disertasi. Caranya sederhana: Metode ini dikenal sebagai teknik Pomodoro—set timer 25 menit fokus kerja, lalu 5 menit istirahat—untuk menjaga ritme kerja yang konsisten dan mencegah kelelahan mental.. Kalau bosan datang, saya catat di kertas, bukan langsung buka media sosial. Aneh tapi nyata, dengan cara ini saya justru bisa kembali ke flow pemberesan disertasi dengan lebih cepat.
Jadi, kalau kamu sedang bosan belajar untuk ujian, lelah mengerjakan proyek kreatif, atau malas latihan olahraga, ingat: bosan adalah teman yang sedang menguji seberapa serius kamu dengan tujuanmu. Namun, di luar kemampuan bertahan secara individual, ada satu faktor lain yang sering menentukan apakah ketekunan itu bisa berumur panjang: lingkungan kerja yang sehat dan terkelola.
Di sinilah pandangan Kevin Gannon (2024) menjadi relevan. Ia menekankan bahwa menetapkan batasan kerja yang jelas dan membangun komunitas pendukung bukan hanya strategi bertahan, tetapi juga fondasi untuk berkembang di tengah lanskap akademik yang penuh tuntutan. Konsep scope of practice—mendefinisikan secara tegas pekerjaan yang benar-benar menjadi tanggung jawab dan keahlian kita—membantu menjaga fokus dan mencegah energi kita tersedot oleh hal-hal yang tidak mendukung tujuan jangka panjang. Ditambah lagi, perlu didesain dan diupayakan terbentuknya jejaring kerja yang suportif seperti kelompok menulis atau faculty learning community yang dapat membantu menjaga ritme produktif dan menciptakan ruang aman untuk refleksi dan perbaikan praktik.
Melangkah lebih jauh dari analisis Gannon, Hughes (2024) melalui kajian affect theory dalam konteks sociotechnical imaginaries menunjukkan bahwa kegigihan (grit) tidak bisa dilepaskan dari dimensi afektif dan sosial. Emosi—seperti harapan, ketakutan, bahkan kejenuhan—tidak hanya menjadi pengiring proses kerja, tetapi juga kekuatan yang mengikat komunitas, memberi makna pada tujuan bersama, dan memicu perubahan.
Dalam pola analisis ini, grit bukan sekadar kemampuan bertahan secara individual, melainkan hasil dari proses kolektif yang memadukan ’emotional learning’ dengan tujuan jangka panjang. Dengan kata lain, ketekunan yang berkelanjutan lahir ketika individu dan komunitas mampu mengelola dinamika emosi—baik yang mendukung maupun yang mengganggu—untuk mempertahankan visi yang bermakna.
Di samping itu, dan ini kabar baiknya, grit bukan bakat bawaan. Itu skill. Dia bisa dilatih—dengan satu langkah kecil hari ini, satu langkah lagi besok, sampai tahu-tahu kamu sudah jauh dari titik awal. Tapi, bertahan dengan gigih saja barulah separuh cerita. Karena kalau kita tidak tahu tujuan besarnya, kita bisa saja bertahan di jalur yang salah. Besok Sabtu, 16 Agustus 2025, saya akan membahas bagaimana menemukan dan merawat purpose—tujuan hidup yang lebih besar dari sekadar “selesai” atau “sukses” versi orang lain.
Rujukan
Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
Gannon, K. (2024, August 21). A Faculty Survival Guide for the New Academic Year. The Chronicle of Higher Education. https://www.chronicle.com/article/a-faculty-survival-guide-for-the-new-academic-year
Hughes, S. (2024). Hearts and minds: The technopolitical role of affect in sociotechnical imaginaries. Social Studies of Science, 54(6), 907–930. https://doi.org/10.1177/03063127241257489