Dari lemonade stand hingga perjuangan menuntaskan disertasi meskipun sakit parah
Kalau hari pertama kemarin lusa kita sudah membahas soal mendesain kebahagiaan, dan hari kedua tentang mengelola kebosanan dengan gigih, hari ini kita akan masuk ke bagian yang mungkin jadi bahan bakar paling kuat: purpose, atau tujuan yang lebih besar dan mulia dari diri sendiri. Bertahan saat bosan memang penting, namun memiliki tujuan yang melampaui diri sendiri dapat membuat langkah kita terasa lebih ringan meski jalan untuk menempuhnya terasa panjang.
Angela Duckworth (2016) menyebutnya sebagai intention to contribute to the well-being of others. Kalau passion membuat kita jatuh cinta pada apa yang kita lakukan, maka purpose membuat kita merasa pekerjaan itu berarti untuk orang lain. Konsep ini selaras dengan pandangan Vilhauer (2020) yang menyoroti bagaimana pencarian makna dan tujuan seringkali terkait dengan kontribusi positif terhadap dunia di sekitar kita.
Salah satu kisah yang saya ingat adalah tentang Alex Scott (she/her). Sejak kecil, ia menderita kanker neuroblastoma (baca kisah lengkapnya di https://www.alexslemonade.org/about/meet-alex). Saat usianya baru empat tahun, Alex bilang ke ibunya, “Kalau aku keluar dari rumah sakit, aku mau buka stan limun.” Tujuannya sederhana tapi menyentuh: menggalang dana untuk membantu anak-anak lain yang sakit seperti dirinya. Ia benar-benar melakukannya sebelum ulang tahunnya yang kelima, mengumpulkan 2.000 dolar. Empat tahun kemudian, sebelum meninggal, gerakan yang ia mulai telah menginspirasi ribuan stan limun di seluruh AS, dan berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta dolar untuk riset kanker anak. Hari ini, Alex’s Lemonade Stand Foundation (kunjungi: https://www.alexslemonade.org/) telah menggalang lebih dari 100 juta dolar.
Kisah seperti ini membuat saya bertanya: apa yang membuat seseorang terus berjalan, bahkan saat lelah, sakit, dan mungkin, trauma? Jawabannya sering kali bukan soal ambisi pribadi, nggedein ego, tapi kesadaran bahwa ada orang lain yang akan terbantu oleh usaha kita. Vilhauer (2020) menjelaskan bahwa memiliki tujuan yang jelas dan bermakna dapat meningkatkan ketahanan mental dan fisik seseorang dalam menghadapi tantangan.
Pada awal Januari 2023 lalu, saya menghadiri sidang promosi kakak tingkat saya di Proram Pascasarjana Komunikasi FISIP-UI. Namanya Dr. Ellen Meianzi Yasak, S. Ikom., M.A., dosen program studi Ilmu Komunikasi UNITRI, Malang. Bukan hanya akhirnya berhasil menuntaskan S3, tapi ia menjalani studinya sambil berjuang melawan kanker serta melewati sejumlah terapi medis, termasuk operasi. Saat menyampaikan pidato perdana sebagai Doktor dalam Ilmu Komunikasi, mbak Ellen bercerita bahwa semangatnya untuk menuntaskan studi S3 banyak dirasakannya dari dukungan teman seangkatan dan kolega kampus serta keyakinan bahwa risetnya akan memberi suara pada perempuan pewarta foto di ruang redaksi yang (mostly) maskulin (lih. berita sidang promosinya di: https://fisip.ui.ac.id/dominasi-wacana-maskulin-dalam-habitus-perempuan-pewarta-foto-dari-sudut-pandang-semiotika-sosial-multimodal/). Pada akhir Juni 2024, mbak Ellen telah mengakhiri pertandingan yang baik dan mencapai garis akhir hidupnya. Kini ia sudah beristirahat dalam kedamaian abadi. Rest in peace, mbak Ellen.
Mendengar kesaksiannya dan mengetahui sedikit kisah hidup Alex Scott dan mbak Ellen, saya terharu dan menyadari bahwa purpose dapat membuat perjuangan yang berat dialami seperti panggilan yang memotivasi dan terarah, bukan sekadar beban kerja/beban studi, apalagi hanya “BKD.” Pokok ini sekaligus menerangi pandangan bagaimana affective dimension dan dukungan sosial, seperti dibahas Hughes (2024), berkontribusi pada kegigihan kolektif. Tentu saja, purpose tidak selalu datang seperti kilat menyambar.
Banyak orang memulainya dengan minat pribadi, lalu seiring waktu menemukan cara agar minat itu memberi manfaat bagi orang lain. Vilhauer (2020) menekankan bahwa pengembangan tujuan seringkali merupakan proses bertahap, di mana individu secara bertahap memperluas fokus dari minat pribadi ke dampak yang lebih luas. Kuncinya adalah terbuka terhadap pertanyaan: “Siapa yang akan terbantu kalau saya berhasil?” Jadi, kalau hari ini kamu sedang mengerjakan tugas terstruktur, proyek kreatif, tugas akhir kuliah, atau bahkan rutinitas yang terasa membosankan, coba tanyakan pada dirimu dan jawablah dengan jujur: apa dampaknya pekerjaan yang sedang kulakukan ini bagi orang lain? Persisnya, bagi mereka yang kuanggap sebagai keluarga, bestie, dan significant others? Mungkin di situlah purpose-mu mulai terlihat. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, grit adalah skill yang dapat dilatih. Ketika digabungkan dengan tujuan yang bermakna (purposive goal), ia menjadi kekuatan yang tak terbendung.
Besok, Minggu, 17 Agustus 2025, kita akan melangkah lebih jauh—mengenal empat perempuan luar biasa dari Oxford yang menemukan purpose-nya dalam memperjuangkan etika, bahkan ketika harus melawan arus besar filsafat pada zamannya. Cerita mereka akan menunjukkan bahwa integritas kadang menuntut keberanian yang tidak lazim tapi dapat dipahami bahkan menuai dukungan luas.
Rujukan
Duckworth, A. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. Scribner.
Vilhauer, J. (2020). Developing purpose, meaning, and achievements. Dalam W. W. IsHak (Ed.), The handbook of wellness medicine (pp. 494–503). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108650182.041.