Blog post series on “Sculpting happiness and Live happily”
Day 04: August 17, 2025
Bayangkan kalau Anda jadi mahasiswa filsafat di Universitas Oxford pada akhir 1930-an, saat sebagian besar dosen laki-laki pergi ke medan perang. Tiba-tiba, ruang kelas dipenuhi mahasiswi, dan suasananya berubah total. Dari situ lahirlah empat nama yang kelak mengguncang dunia etika: Gertrude Elizabeth Margaret Anscombe (1919-2001), Philippa Foot (1920-2010), Mary Midgley (1919-2018), dan Iris Murdoch (1919-1999). Keempatnya sebaya, terlahir di tahun yang sama (tiga orang di tahun 1919 dan satu orang di tahun 1920) dan belajar “Greats” (Literae Humaniores) yaitu studi tentang bahasa, sastra, sejarah Yunani dan Romawi klasik, serta filsafat klasik dan modern.
Keempat mahasiswi ini tidak hanya cerdas, tapi juga berani melawan arus filsafat yang dominan saat itu, yaitu logical positivism. Aliran ini dipopulerkan Alfred Jules Ayer (1910-1989), filsuf penulis buku Language, Truth and Logic, pada umur 26 tahun. Ayer menegaskan bahwa pernyataan moral seperti “mencuri itu salah” hanyalah ekspresi perasaan, tidak benar atau salah secara objektif. Bagi kaum positivisme logis, etika bukan lagi pencarian akan kebenaran moral, tapi sekadar urusan selera, yang menyangkut “nilai-nilai adalah proyeksi manusia ke dalam realitas tanpa tujuan atau ‘bebas nilai.’”
Anscombe terkenal lantang bersuara. Tahun 1956, ia menentang keras pemberian gelar kehormatan Oxford kepada Presiden Amerika Serikat, Harry Truman, karena peran dan keputusannya dalam tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki telah membunuh ratusan ribu warga sipil. Pamflet yang disebarkannya bertajuk Mr. Truman’s Degree (baca analisisnya di sini: https://godandgoodlife.nd.edu/resource/anscombes-intention-ethics-in-action/]. Anscombe sadar, protesnya tidak akan memenangkan suara dan mengubah keputusan Oxford, tetapi ia tetap maju dengan penuh keyakinan bahwa membunuh warga sipil tidak pernah bisa dibenarkan. Otoritas universitas mengorganisasi massa untuk menentang posisinya setelah beredar kabar bahwa ‘para wanita itu sedang merencanakan sesuatu’ (istilah yang menjadi judul buku karya Benjamin J.B. Lipscomb, 2021). Bagi Anscombe, tindakan moral harus didasarkan pada Tuhan, dan “pelayanan kepada Tuhan dan pelayanan kepada kebenaran” adalah satu tujuan. Sikapnya ini bukan sekadar angan-angan teoritis, tetapi komitmen moral pengaruh Katolisisme yang dibawanya sampai mati.
Philippa Foot memiliki pendekatan berbeda, tapi sama tajamnya. Ia mempertanyakan pemisahan total antara fakta dan nilai. Foot berargumen bahwa meskipun istilah seperti ‘baik,’ ‘buruk,’ ‘benar,’ dan ‘salah’ bersifat evaluatif, konsep-konsep ini harus terkait dengan pertimbangan umum tentang ‘membuat kehidupan manusia berjalan dengan baik atau buruk,’ fondasi sistem etika Aristotelian. Artinya, nilai moral seringkali berakar pada fakta tentang bagaimana manusia menjalani hidup dan memperlakukan sesamanya.
Mary Midgley mengambil jalur berpikir dan menggambarkan realitas secara unik. Ia menggabungkan etika dengan biologi (etologi). Midgley memandang manusia sebagai makhluk sosial dan biologis yang tidak terpisahkan dari dunia hewan, tetapi manusia memiliki naluri dan akal. Baginya, “kemampuan kita untuk dihancurkan oleh konflik sama dengan kemampuan kita untuk menyelesaikannya secara kreatif…” (dan persis) itulah yang membuat kita menjadi makhluk moral.” Etika yang diusungnya selaras dengan sistem pemikiran Aristoteles yang menegaskan pentingnya “integrasi diri, tentang bagaimana melakukan keadilan terhadap seluruh hidup kita.”
Sedangkan Iris Murdoch mungkin lebih dikenal sebagai novelis yang kental menyisipkan filsafat moral lewat suara dan pikiran tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dalam novel-novelnya. Dulu, tahun 2003, saya pernah membaca novel yang ditulis Murdoch, The Sovereignty of Good (penerbit: Routledge & Kegan Paul, 1970). Buku ini menjadi rujukan bahan ajar filsafat moral kontemporer yang diampu Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ pada saat saya masih duduk di bangku kuliah STF Driyarkara. Pembaca dapat menyimak tulisan saya tentang pemikiran Murdoch dalam The Sovereignty of Good berjudul “Tarikan kepada Yang Baik” (2020) di blog ini juga.
Murdoch cukup lama mengajar filsafat di Saint Anne’s College (1948-1963). Selama periode mengajar itulah ia konsisten menolak gagasan sentral etika versi positivisme logis yang mendukung pandangan bahwa kita ‘menciptakan’ nilai sendiri (konstruksi nilai = murni subjektivis). Menurutnya, nilai justru menuntut kita untuk menoleh keluar, memperhatikan yang baik pada orang lain dan dunia, ditarik oleh Yang Baik, bukan sekadar mengagungkan kehendak pribadi dan memuaskan keinginan egoistik.
Yang menarik, perjuangan empat filsuf perempuan ini bukan sekadar melawan teori dominan pada masanya, tetapi lebih dari itu. Mereka melawan iklim intelektual yang nyaris menghapus pembahasan etika substantif dari filsafat. Mereka membuktikan bahwa mendiskusikan soal baik dan buruk bukanlah hal kuno dan ketinggalan zaman, tapi justru inti dari ikhtiar memahami manusia. Penolakan mereka terhadap subjektivitas moral yang disebarkan para pendahulu mereka, terutama penggiat logical positivists, merupakan sebuah revolusi dalam pemikiran di Oxford pada khususnya dan dunia filsafat Barat pada umumnya.
Bagi saya pribadi, kisah empat filsuf perempuan ini mengajarkan bahwa purpose kadang memanggil kita untuk berkata “TIDAK” pada arus utama yang dominan-hegemonik, meskipun risiko sosial dan akademiknya tinggi, misalnya, dikucilkan, tidak diundang sebagai pembicara, bahkan menuai sangsi sosial yang berkepanjangan. Keempat filsuf perempuan ahli kajian etika ini mendorong saya (dan semoga Anda juga) bahwa etika itu bukan hanya soal berpikir benar, tapi juga bertindak konsisten dengan keyakinan kita.
Besok Senin, 18 Agustus 2025, kita akan menyelami salah satu ide yang brilian dari Philippa Foot tentang bahasa moral, yang dimulai dari analisis linguistik atas kata yang tampaknya sepele: “rude.” Siap-siap ya. Tilikan linguistik ‘rude’ akan membuat kita melihat dan mengerti sopan santun (etiket) dari sisi yang sama sekali baru.
Rujukan
Lipscomb, B. J. B. (2021). The Women Are Up to Something: How Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, and Iris Murdoch Revolutionized Ethics. Oxford University Press.
Mujica, B. (2022, 7 Maret). [Book Review] The women are up to something: How Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, and Iris Murdoch revolutionized ethics. The Washington Independent Review of Books. https://www.washingtonindependentreviewofbooks.com/bookreview/the-women-are-up-to-something-how-elizabeth-anscombe-philippa-foot-mary-
Putranto, H. (2020, 11 Juli). [DAY_SEVENTYSEVEN] Tarikan kepada YANG BAIK. komunikasi.hendarputranto.com. Diambil dari http://komunikasi.hendarputranto.com/2020/07/11/day_seventyseven-tarikan-kepada-yang-baik/