Categories
Uncategorized

[DAY_SEVENTEEN] Industri TV di Indo ditinjau dari persp. Industri Budaya (response)

1304 kata.
Semoga mencerahkan.

Tabik!

Hendar

Categories
Uncategorized

[DAY_SIXTEEN] Memori Sosial Pasca-Bencana (nonalam) Covid-19

Ini edisi preview 1106 kata. Untuk edisi lengkapnya sekitar 5000 kata, nunggu diterbitkan di jurnal aja yah Lur 🙂

Tabik!

Hendar

Categories
Uncategorized

[DAY_FIFTEEN] Two questions for online journalism seen from Cultural Industry perspective

Semoga dua pertanyaan ini bermanfaat utk melanjutkan diskusi kita dari dalam ruang kelas ke luar ruang kelas (di dunia virtual) ini … (741 kata)

Tabik!

Categories
Uncategorized

[DAY_FOURTEEN] Kaum Cendekia Khalayak: Peran dan Tantangan di Era Digital (1 of 2)

Semoga bermanfaat tulisan 900 kata ini!

Categories
Uncategorized

[DAY_THIRTEENTH] TERHUBUNG dan TERPUTUS dalam RANAH KAJIAN SOSIO-POLITIK DIGITAL

Semoga kajian ringkas 1620 kata ini dapat membantu kita untuk memahami makna terhubung dan terputus dalam ranah kajian sosio-politik digital (mediatisasi). Terimakasih mbak Merlyna Lim untuk tulisannya!

Categories
Uncategorized

[DAY_TWELVE] Mosok dibuang aja alat perekamnya pas lagi wawancara?

Rujukan Utama:
Celia Lury dan Nina Wakeford. Tim Penyunting. (2012). Inventive Methods: The Happening of the Social. Abingdon: Routledge.

Rujukan Penyerta:
[Socio_Res_Online_bookrev]Inventive_Methods_D.Happening_ofD_Social_by_Lury&Wakeford,Eds,2014(Lulle,2018)
[Sociology,V48_bookrev]Inventive_Methods_D.Happening_ofD_Social_by_Lury&Wakeford,Eds,2014(Crow,2016)

Categories
Uncategorized

[DAY_ELEVEN] Fenomenologi TIK (bagian Kedua dari Tiga)

Semoga tulisan ini bermanfaat meskipun ini baru secuplik saja, belum masuk ke perdebatannya karena sudah terlampau malam, capek atiku … ambyar, RIP mas Didi Kempot (hix…)

Categories
Uncategorized

[DAY_TEN] Industri Musik (Global-Lokal) ditinjau dari Perspektif Industri Budaya

Semoga bermanfaat dan mencerahkan tulisan 2099 kata ini.
Tabik!

Categories
Uncategorized

[Day_NINE] Konsep emik dan etik dalam Penelitian Kualitatif

Semoga bermanfaat telaah 1500 kata ini!

Categories
Uncategorized

[Day_EIGHT] Kritik terhadap Kritik Pemikir Post-Mo terhadap (Kuasa) Media

Harms dan Dickens (1996) menyampaikan tiga buah kritik terhadap kritik para pemikir post-mo terhadap media:

1) Masihkah analisis media berperspektif Marxis (dengan tokohnya seperti, untuk menyebut beberapa saja yang cukup terkenal, Douglas Kellner, Fredric Jameson, Herbert Schiller, dan, to a lesser degree than those three figures already mentioned, Colin Sparks, lihat di Dapus) relevan untuk memeriksa bias-bias media? Bagaimana dengan perspektif post-modern, sanggupkah ia membongkar bias-bias media juga? Altheide dan Snow (1991, h. 11) menunjukkan bahwa baik perspektif Marxis maupun post-mo yang terlalu “mediacentric” sama-sama “cupet” (one-sided) untuk mengkritik bias media. Mengapa demikian? Teknologi informasi yang meletak di jantung kondisi pasca-modern ternyata sami mawon. Ia BU (butuh uang), ia berkembang (dan dapat dikembangkan) dalam kerangka logika kapitalisme, dan ia diproduksi oleh perusahaan2 yang kepentingan utamanya ya akumulasi kapital. Jadi, sami mawon tho?

2) Betul diakui bahwa kaum post-mo menyediakan sejumlah pencerahan yang penting menyangkut gugus format, kode, dan struktur dari media-massa dan komunikasi kontemporer. Tapi disadari bahwa komunikasi itu melibatkan lebih dari sekadar bentuk atau format belaka. Konten dan intensi serta kepentingan yang ada di balik konten itu juga tidak kalah penting dibandingkan unsur-unsur proses komunikasi. Dalam arti ini, kritik ekonomi-politik, entah yang berparadigmakan Marxis/Neo-Marxis maupun post-strukturalis, sudah paling pas untuk menyingkapkan borok2 intensi dan kepentingan kapitalistik di balik pilihan produksi dan distribusi konten media, betapapun dari luar “tampak” beragam.

3) Kombinasi palsu dari idealisme linguistik dan determinisme teknologi membuat kajian media beraliran post-mo keteteran karena tidak lagi ada basis yang kokoh dan memadai untuk mengkritik juga mengevaluasi bentuk+konten media kontemporer sekaligus praktik-praktik komunikasi.

Tambahan kritik dari Hendar dengan melihat historisitas kondisi maupun power interplay dari media pada waktu itu:
Perlu disadari bahwa pada tahun 1996, meskipun Internet sudah mulai digunakan secara massal oleh pelaku bisnis, akademisi dan pelaku media, namun media sosial belum ada bentuknya. Jadi, kritik post-mo berhaluan Foucauldian, katakanlah, yang mengatakan (kurang lebih) bahwa “power is dispersed, thus, critique of power should also be dispersed,” belum sangat berlaku, karena kekuasaan media (baik media massa jurnalistik maupun media entertainment) masih terlalu memusat pada beberapa nama media companies saja (sebagai misal: Time, CNN, Walt Disney, Viacom, Gannett, ITV, JCDecaux, Hearst, Warner). Waktu itu belum dikenal yang namanya kekuasaan selebgram atau selebriti internet yang dapat “sway the public opinion on certain things/issues,” sehingga belum begitu kentara resistensi dari budaya populer ‘arus bawah’ (user-centric) terhadap ‘budaya populer’ yang dikampanyekan media massa maupun media entertainment arus (modal) utama.

Rujukan utama:
Harms, J. B. dan Dickens, D. R. (1996). Postmodern media studies: Analysis or symptom? Critical Studies in Mass Communication, 13(3), 210-227. DOI: 10.1080/15295039609366976

Rujukan penyerta:
Altheide, D. L. dan Snow, R. P. (1991). Media Worlds in the Postjournalism Era. Aldine de Gruyter.
Sparks, C., Scannell, P., Schlesinger, P. dan Garnham, N. (1992). Culture and Power: A Second Critical Reader from Media, Culture and Society. London: Sage.
Dahlgren, P. dan Sparks, C. (1993). Communication and Citizenship: Journalism and the Public Sphere (Communication and Society). London dan New York: Routledge.
Sparks, C. dan Reading, A. (1997). Communism, Capitalism and the Media in Eastern Europe. London: Sage.