Categories
Uncategorized

Kisi-Kisi sebagai Produksi Pengetahuan dalam Ujian Etika Komunikasi

Refleksi dosen tentang kisi-kisi sebagai produksi pengetahuan dalam desain ujian, peran AI, dan etika penilaian di pendidikan tinggi.

Tulisan ini merefleksikan kisi-kisi sebagai produksi pengetahuan dalam konteks penyusunan acuan untuk memeriksa jawaban ujian tengah semester.

Dalam diskursus kontemporer tentang pendidikan tinggi, muncul satu judgmental assumption yang rasa-rasanya semakin banal: jika sesuatu dapat dihasilkan oleh GenAI, maka nilainya menjadi tereduksi. Gak otentik ah bikinan lo, demikian rumusan kasual dan konversasional dari asumsinya (tentu saja, ini versi banal). Sayangnya, asumsi ini problematis, terutama ketika diterapkan pada desain penilaian (assessment), khususnya dalam konteks ujian tertulis closed book.

Pertanyaan yang jauh lebih tepat bukanlah apakah kisi-kisi jawaban “dibuat oleh AI”, melainkan apa yang membuat sebuah kisi-kisi memiliki daya diskriminatif, konsistensi evaluatif, dan legitimasi epistemik? Dalam konteks ini, AI tidak berfungsi sebagai pengganti penalaran, melainkan sebagai amplifikator dari struktur berpikir yang telah dimiliki oleh penggunanya.

Lazimnya, sebuah sistem penilaian yang baik tidak berhenti pada enumerasi konsep. Ia harus mengandung apa yang dapat disebut sebagai embedded grading logic: aturan implisit yang membedakan antara jawaban yang sekadar benar secara terminologis dan jawaban yang menunjukkan integrasi konseptual, kedalaman refleksi, serta sensitivitas terhadap konteks. Namun, penting untuk ditegaskan bahwa ekspektasi ini tidak bersifat abstrak-universal, melainkan dikalibrasi terhadap subjek yang dinilai.

Dalam konteks yang terbatas ini, subjek yang dimaksud bukanlah mahasiswa filsafat tingkat lanjut, melainkan mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 2 di sebuah perguruan tinggi swasta di wilayah Jabodetabek. Mereka baru memasuki tahap awal pembentukan literasi konseptual dan belum terbiasa dengan penalaran filosofis yang kompleks. Oleh karena itu, desain kisi-kisi tidak diarahkan untuk menguji kedalaman spekulatif, tetapi kemampuan dasar yang lebih fundamental yaitu memahami konsep secara tepat, menghubungkan konsep secara sederhana namun logis, serta mengilustrasikannya dalam konteks komunikasi yang konkret.

Pengalaman saya dalam menyusun kisi-kisi menunjukkan bahwa ketajaman instrumen justru lahir dari klarifikasi terhadap hal-hal yang tampak sepele. Misalnya, dalam membedakan karakteristik komunikasi antarpribadi, awalnya terdapat asumsi umum bahwa aspek atau ciri irreversibility dan interdependence merujuk pada hal yang sama. Jika asumsi ini dibiarkan, maka kisi-kisi akan kehilangan presisi analitis.

Namun setelah ditelaah lebih lanjut, keduanya ternyata berada pada dimensi yang berbeda: irreversibility berkaitan dengan sifat temporal tindakan komunikasi yang tidak dapat ditarik kembali, sedangkan interdependence menunjuk pada struktur relasional yang saling mempengaruhi antar subjek. Perbedaan ini bukan ornamen tambahan. Ia menentukan bagaimana implikasi etis dirumuskan, serta bagaimana mahasiswa pada semester awal diarahkan untuk mulai membedakan antara konsekuensi tindakan dan dinamika relasi.

Dalam ujian bersistem closed book, isu kejujuran akademik sering dianggap selesai karena tidak adanya akses ke sumber eksternal (no cheating policy). Namun asumsi ini keliru. Tantangan utama bukanlah akses terhadap informasi, melainkan kualitas transformasi pengetahuan. Mahasiswa tetap dapat mereproduksi hafalan atau pola jawaban yang tidak menunjukkan pemahaman substantif. Oleh karena itu, desain kisi-kisi atau acuan jawaban soal ujian harus mampu menutup celah ini, bukan dengan memperbanyak kompleksitas, tetapi dengan memperjelas struktur penalaran yang diharapkan sesuai dengan tahap perkembangan akademik mereka.

Dalam kerangka etika komunikasi, penilaian (assessment, grading) bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan praktik normatif. Assessment melibatkan pertanggungjawaban terhadap keadilan (fairness), kejelasan standar (transparency), dan konsistensi (accountability). Dalam posisi sebagai koordinator mata kuliah, tanggung jawab ini menjadi lebih struktural. Saya perlu memastikan bahwa penilaian berlangsung secara konsisten lintas dosen pengampu (8 kelas), isinya dapat dipertanggungjawabkan, dan rubriknya tetap proporsional terhadap kemampuan mahasiswa yang dinilai. Di sinilah literasi terhadap AI menjadi relevan—bukan sebagai pengganti kerja intelektual, tetapi sebagai alat untuk menguji ketepatan, mengidentifikasi ambiguitas, dan memperhalus desain instrumen evaluasi secara iteratif dan reflektif.

Dengan demikian, perdebatan tentang apakah AI, terutama GenAI apps, dapat menghasilkan kisi-kisi pemeriksaan jawaban ujian yang oke dan dapat dijadikan acuan bersama terlihat kurang menggigit. Yang jauh lebih penting sebenarnya mengerucut pada soal siapa yang mengendalikan arah berpikir dalam proses tersebut, dan dalam kerangka tanggung jawab apa proses ini dijalankan, misalnya, dalam kerangka modalitas etis akuntabilitas atau fairness, dst.

Tidak diragukan lagi bahwa GenAI dapat menghasilkan struktur kisi-kisi, tetapi perannya tetap tidak dapat menggantikan penilaian pedagogis tentang apa yang layak dianggap sebagai jawaban yang memadai pada tingkat perkembangan tertentu. Di sinilah peran dosen tetap tidak tergantikan (irreducible): dosen bekerja bukan sebagai penyedia jawaban, tetapi sebagai arsitek standar pengetahuan yang kontekstual, yang proses dan luarannya dapat dirujuk (traceable), dan memiliki kapasitas tanggung jawab akademik yang khas sesuai peran dan kompetensinya.

Tabik!

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *