Categories
Uncategorized

Terlalu cepat mendaku “Mitos”?

Upaya Mengembalikan Spirit Semiologi Roland Barthes dalam Membaca Artefak Budaya Populer

Dr. Hendar Putranto, M. Hum.
Pendidik, Penggiat, dan Pemerhati Budaya Digital

Ada satu kecenderungan yang belakangan semakin sering saya temukan dalam draf dan juga catatan laporan bimbingan skripsi analisis film dan media: mahasiswa terlalu cepat “mendaku mitos”, tetapi abai menunjukkan bagaimana mitos itu dibangun secara sosial dan diskursus melalui tanda. Dalam sesi bimbingan skripsi terbaru dengan seorang mahasiswa, sebut saja inisialnya MA, persoalan ini kembali muncul dan, latahnya, menarik untuk saya telusuri.

Draft Bab IV yang MA susun sebenarnya sudah jauh lebih rapi dibanding versi sebelumnya. Struktur denotasi, konotasi, dan mitos ala Roland Barthes sudah mulai terlihat. Akan tetapi, saya menemukan satu problem metodologis klasik: deskripsi audiovisual mulai mengambil alih analisis. Adegan dipaparkan terlalu panjang, shot demi shot dijelaskan, tetapi rantai signifikasinya belum sepenuhnya click and tick. Padahal, justru di titik inilah semiologi Barthes bekerja untuk menyingkap lapis-lapis makna yang tersembunyi.

Tidak sedikit orang keliru memahami semiologi Barthes seolah-olah hanya bicara “simbol” atau “makna tersembunyi”. Langsung, tanpa tedeng aling-aling. Faktanya, Barthes memulai justru dari detail yang sangat konkret: rambut, gesture, pose tubuh, ekspresi wajah, kostum, hingga benda-benda banal dalam keseharian. Dalam esai The World of Wrestling (Barthes, 1957) misalnya, ia menulis:

“Each sign in wrestling is therefore endowed with an absolute clarity, since one must always understand everything on the spot […] The virtue of all-in wrestling is that it is the spectacle of excess.”

Bagi Barthes, tubuh pegulat bukan sekadar tubuh. Ia adalah sistem tanda moral. Penderitaan, kemarahan, kekalahan, dan keadilan dipentaskan sebagai “bahasa visual” yang berlebihan dan lewatnya penonton ‘membaca’ sesuatu yang ‘jauh lebih besar’ dari keringat (dan darah) yang menetes dari tubuh pegulat. Di sini saya (dan semoga mahasiswa yang saya bimbing juga) belajar langkah pertama: analisis budaya memang harus dimulai dari detail konkret.

Barthes tidak berhenti di sana. Dalam esei The Romans in Films, Barthes menganalisis film Julius Caesar (1953) yang disutradarai Joseph L. Mankiewicz untuk menggambarkan bagaimana Hollywood menciptakan imaji ke-Romawi-an (Roman-ness) lewat tanda-tanda artifisial. Barthes menunjukkan bagaimana rambut poni para aktor film Julius Caesar dipakai Hollywood untuk memproduksi Roman-ness: “We therefore see here the mainspring of the Spectacle — the sign — operating in the open.”

Artinya, kostum, hairstyle, lighting, framing, atau properti film bukan ornamen teknis yang bersifat netral. Semua bekerja sebagai praktik signifikasi. Detail visual diproduksi, diatur, dan dipampangkan agar tampak natural, padahal sesungguhnya (sarat muatan) ideologis. Inilah langkah kedua: tanda-tanda audiovisual harus dibaca sebagai konstruksi budaya, bukan realitas apa adanya.

Dalam The Writer on Holiday, Barthes menunjukkan bagaimana media membangun mitos tentang “penulis jenius” melalui citra banal seorang penulis yang sedang berlibur. Ada keseolah-olahan yang diproyeksikan media ketika mengglorifikasi “bahkan penulis pun butuh berlibur dan menjauh dari kerja keseharian menulisnya.” Hal ini disebutnya sebagai “…one of these cunning mystifications…”

Pada simpul ini, Barthes bergerak lebih jauh: dari tanda menuju mitos.

Persis di sinilah langkah ketiga yang acapkali diabaikan mahasiswa yang menulis skripsi dengan menggunakan pendekatan semiologi Barthes: menunjukkan bagaimana rangkaian tanda audiovisual akhirnya menaturalisasi nilai-nilai tertentu — tentang gender, kelas, nasionalisme, religiusitas, heroisme, atau bahkan moralitas. Dalam eseinya, Barthes acap menyebutnya sebagai sistem nilai sosial borjuis (bourgeoise).

Yang menarik, juga meskipun sudah bersirkulasi lebih dari 50 tahun, semiologi Barthes ternyata masih tetap “laku dan tajam” untuk membaca artefak budaya kontemporer. Adegan film, potongan iklan YouTube, Instagram Reels, TikTok, meme, thirst trap, daily vlog, sampai unboxing video sesungguhnya bekerja dengan logika yang sama: memproduksi tanda, membangun konotasi, lalu menaturalisasi mitos tertentu tentang gaya hidup, identitas, kebahagiaan, produktivitas, kegagahan, kecantikan, relasi sosial, bahkan makna diri.

Mungkin sebagian dari kita sering mengira media digital hanya menghadirkan cultural diversity in motion. Padahal, pada saat yang sama, keberagaman itu juga terus diapropriasi, diatur, dan dimonetisasi oleh kekuatan dominan kapitalisme platform, sebut saja misalnya 5 giant techs: Google, Meta, Apple, Amazon, dan Microsoft. Dunia digital tampak cair, personal, highly engaged, dan partisipatif, tetapi sesungguhnya penuh proses naturalisasi ideologi melalui algoritma, interface, engagement metrics, dan ekonomi atensi.

Julian McDougall (2013) menyebut warisan Mythologies Barthes tetap hidup karena budaya kontemporer masih terus menghasilkan new mythologies melalui media dan budaya populer. Di hulu kita tergagap mengeja, di hilir kita terendam banjir tanda. Sayangnya, meskipun sudah ada tanda-tanda bahaya, kita justru semakin jarang membaca the abundance of signs secara semiologis.

Karena itu, persoalannya hari ini bukan kekurangan tontonan, melainkan kurang tekun membaca dan menggali ‘makna di balik tanda-tanda yang berserakan.’ Saya termenung dan menghela napas sejenak. Jangan-jangan, dengan adanya gelontoran imaji dan aneka tanda audiovisual yang wira-wiri dalam beragam digital apps, saya (dan mungkin Anda?) condong membaca film, iklan, media sosial, atau budaya populer hanya sebagai “cerita yang mengalir dan membetot secuil perhatian.” That’s it, nothing more.

Padahal, yang lebih serius, tampaknya kita abai membaca bagaimana tanda-tanda bekerja menyembunyikan underlying ideologies. Seperti diingatkan Barthes sejak 1957, mitos modern selalu tampil paling efektif justru ketika ia tampak natural, diterima begitu saja. Barangkali problem terbesar budaya digital hari ini bukan berlimpahnya informasi (infobesity) dan meruapnya tanda-tanda (les signifiants, meminjam Ferdinand de Saussure), melainkan kelumpuhan semiologis. Dahlah.

References
Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Farrar, Straus and Giroux. (Original work published 1957).
Bennett, P., & McDougall, J. (Eds.). (2013). Barthes’ Mythologies today: Readings of contemporary culture. Routledge.
de Saussure, F. ([1916] 1972). Cours de linguistique générale. Payot. versi terjemahan bahasa Inggrisnya >> Saussure, Ferdinand de. (2011). Course in general linguistics. Eds. Charles Bally & Albert Sechehaye. Trans. Wade Baskin, subsequently edited by Perry Meisel & Haun Saussy. Columbia University Press.

By Hendar Putranto

Just recently, I completed my doctoral pursuit in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia. I stand for hope that this blog fulfills my studious passion to communicate, even when someone from the past whispered "one cannot not communicate"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *