Categories
Uncategorized

Belajar Phenomenology dari Max van Manen dan Clark Moustakas [01]

Fenomenologi dalam bidang Pedagogi dan Psikologi

[Mekanisme Pembelajaran Jarak Jauh alias online class yah ini gegara Pandemic Covid-19]

Setelah menyimak paparan presentasi di atas, seorang teman kuliah bertanya, sebut saja inisialnya NT, sebagai berikut: “Dalam paparan tertulis keterbatasan studi pendekatan fenomenologi versi van Manen dengan Moustakas salah satunya adalah belum terlihat mengakomodasi bahasa non-text seperti sign-language dan body-language dalam tahap analisis data dan refleksi fenomenologis. Ini maksudnya bagaimana ya? Apakah jika kita menggunakan pendekatan salah satu dari mereka saat melakukan penelitian fenomenologi, kita tidak perlu menganalisa bahasa non-text nya?”

Jawab:
Sejauh terpantau dalam buku van Manen (1990) dan Moustakas (1994), analisis data dalam pendekatan Fenomenologis bertumpu pada hasil transkrip wawancara mendalam dengan partisipan atau co-researcher(s). Dari transkrip itulah, yang didominasi oleh bahasa verbal (verbalized language), peneliti pengguna pendekatan fenomenologi membuat refleksi pedagogis (van Manen) atau deskripsi tekstural dan struktural (Moustakas).

Berikut contohnya:
The experience of “really feeling understood” is a perceptual-emotional Gestalt: A subject, perceiving that a person co-experiences what things mean to the subject and accepts him, feels, initially, relief from experiential loneliness, and, gradually, safe experiential communion with that person and with that which the subject perceives this person to represent, (Van Kaam, 1966, h. 325–326 dalam Moustakas, 1994, h. 12)

Tidak tampak dalam tutur refleksi atas data fenomenologis yang dilakukan Van Kaam di atas disebutkan secara eksplisit bahasa tubuh atau sign-language yang muncul dari partisipan penelitiannya.

Pada van Manen, memang disarankan langkah-langkah verbal untuk mendeskripsikan lived experience (van Manen, 1990, h. 64-65), sebagai berikut:

(1) You need to describe the experience as you live(d) through it. Avoid as much as possible causal explanations, generalizations, or abstract interpretations. For example, it does not help to state what caused your illness, why you like swimming so much, or why you feel that children tend to like to play outdoors more than indoors.
(2) Describe the experience from the inside, as it were; almost like a state of mind: the feelings, the mood, the emotions, etc.
(3) Focus on a particular example or incident of the object of experience: describe specific events, an adventure, a happening, a particular experience.
(4) Try to focus on an example of the experience which stands out for its vividness, or as it was the first time.
(5) Attend to how the body feels, how things smell( ed), how they sound( ed), etc.
(6) Avoid trying to beautify your account with fancy phrases or flowery terminology.

Van Manen bahkan menambahkan/menandaskan bahwasanya the primacy of (descriptive) writing di atas non-textual atau body-language/sign-language dengan mengatakan bahwa “It is important to realize that it is not of great concern whether a certain experience actually happened in exactly that way. We are less concerned with the factual accuracy of an account than with the plausibility of an account-whether it is true to our living sense of it. Once we know what a lived-experience description looks like, we can go about obtaining such descriptions of individuals who have the experiences that we wish to study. To gain access to other people’s experiences, we request them to write about a personal experience. We ask: Please write a direct account of a personal experience as you lived through it. [cetak miring dari van Manen sendiri]

Akan tetapi, penelitian terbaru (tesis di Universitas Lancashire, UK) tentang “A PHENOMENOLOGICAL STUDY INTO BRITISH SIGN LANGUAGE USERS’ EXPERIENCES OF PSYCHOLOGICAL THERAPIES: yang menginvestigasi hubungan para pengguna BSL dengan terapis mereka dengan cara mengeksplorasi pengalaman mereka therapy alliance dalam sesi Deaf/Deaf therapy dan Hearing/Deaf/Interpreter therapy.” (Hulme, 2016) [lihat: BRITISH SIGN LANGUAGE USERS’ EXPERIENCES OF PSYCHO-THERAPY] menemukan hasil temuan yang menarik yaitu bahwa para pengguna BSL mengalami sejumlah problem yaitu ‘problem terjemahan dan mereka melihat pihak penerjemah kurang memiliki kompetensi budaya yang cukup akan bahasa tanda yang mereka gunakan sehingga para penerjemah tersebut tidak menangkap esensi penyingkapan makna diri mereka.”

Dengan demikian, melampaui hal yang mungkin belum disampaikan secara eksplisit oleh van Manen (1990) dan Moustakas (1994), sangat dimungkinkan menggunakan pendekatan Fenomenologi dalam penelitian tentang sign-language atau body language karena 1) sejauh memang ada pengalaman yang dihayati (lived experience) tentang defisiensi inderawi, dan ini memang banyak kita temukan dalam ruang kehidupan kita, dan 2) sejauh ada literatur pembanding yang memadai sebagai bahan komparasi (dan sudah cukup banyak buku yang ditulis yang membahas tentang sign-language atau body-language). Bukankah komunikasi verbal dan non-verbal (anekdotnya) lebih menyingkapkan intensi si penutur lebih besar pada bahasa yang non-verbal (30%:70%)? Pada titik ini, ada harapan bahwa para ahli Fenomenologi yang menekuni bidang Ilmu Komunikasi dapat masuk mengisi kekosongan celah penelitian 🙂

Selamat belajar Fenomenologi!

Tabik!

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *