Categories
Uncategorized

[Blog post series_Day 04] Kisah empat filsuf perempuan sezaman ubah wajah filsafat barat kontemporer

Blog post series on “Sculpting happiness and Live happily”
Day 04: August 17, 2025

Bayangkan kalau Anda jadi mahasiswa filsafat di Universitas Oxford pada akhir 1930-an, saat sebagian besar dosen laki-laki pergi ke medan perang. Tiba-tiba, ruang kelas dipenuhi mahasiswi, dan suasananya berubah total. Dari situ lahirlah empat nama yang kelak mengguncang dunia etika: Gertrude Elizabeth Margaret Anscombe (1919-2001), Philippa Foot (1920-2010), Mary Midgley (1919-2018), dan Iris Murdoch (1919-1999). Keempatnya sebaya, terlahir di tahun yang sama (tiga orang di tahun 1919 dan satu orang di tahun 1920) dan belajar “Greats” (Literae Humaniores) yaitu studi tentang bahasa, sastra, sejarah Yunani dan Romawi klasik, serta filsafat klasik dan modern.

Keempat mahasiswi ini tidak hanya cerdas, tapi juga berani melawan arus filsafat yang dominan saat itu, yaitu logical positivism. Aliran ini dipopulerkan Alfred Jules Ayer (1910-1989), filsuf penulis buku Language, Truth and Logic, pada umur 26 tahun. Ayer menegaskan bahwa pernyataan moral seperti “mencuri itu salah” hanyalah ekspresi perasaan, tidak benar atau salah secara objektif. Bagi kaum positivisme logis, etika bukan lagi pencarian akan kebenaran moral, tapi sekadar urusan selera, yang menyangkut “nilai-nilai adalah proyeksi manusia ke dalam realitas tanpa tujuan atau ‘bebas nilai.’”

Anscombe terkenal lantang bersuara. Tahun 1956, ia menentang keras pemberian gelar kehormatan Oxford kepada Presiden Amerika Serikat, Harry Truman, karena peran dan keputusannya dalam tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki telah membunuh ratusan ribu warga sipil. Pamflet yang disebarkannya bertajuk Mr. Truman’s Degree (baca analisisnya di sini: https://godandgoodlife.nd.edu/resource/anscombes-intention-ethics-in-action/]. Anscombe sadar, protesnya tidak akan memenangkan suara dan mengubah keputusan Oxford, tetapi ia tetap maju dengan penuh keyakinan bahwa membunuh warga sipil tidak pernah bisa dibenarkan. Otoritas universitas mengorganisasi massa untuk menentang posisinya setelah beredar kabar bahwa ‘para wanita itu sedang merencanakan sesuatu’ (istilah yang menjadi judul buku karya Benjamin J.B. Lipscomb, 2021). Bagi Anscombe, tindakan moral harus didasarkan pada Tuhan, dan “pelayanan kepada Tuhan dan pelayanan kepada kebenaran” adalah satu tujuan. Sikapnya ini bukan sekadar angan-angan teoritis, tetapi komitmen moral pengaruh Katolisisme yang dibawanya sampai mati.

Philippa Foot memiliki pendekatan berbeda, tapi sama tajamnya. Ia mempertanyakan pemisahan total antara fakta dan nilai. Foot berargumen bahwa meskipun istilah seperti ‘baik,’ ‘buruk,’ ‘benar,’ dan ‘salah’ bersifat evaluatif, konsep-konsep ini harus terkait dengan pertimbangan umum tentang ‘membuat kehidupan manusia berjalan dengan baik atau buruk,’ fondasi sistem etika Aristotelian. Artinya, nilai moral seringkali berakar pada fakta tentang bagaimana manusia menjalani hidup dan memperlakukan sesamanya.

Mary Midgley mengambil jalur berpikir dan menggambarkan realitas secara unik. Ia menggabungkan etika dengan biologi (etologi). Midgley memandang manusia sebagai makhluk sosial dan biologis yang tidak terpisahkan dari dunia hewan, tetapi manusia memiliki naluri dan akal. Baginya, “kemampuan kita untuk dihancurkan oleh konflik sama dengan kemampuan kita untuk menyelesaikannya secara kreatif…” (dan persis) itulah yang membuat kita menjadi makhluk moral.” Etika yang diusungnya selaras dengan sistem pemikiran Aristoteles yang menegaskan pentingnya “integrasi diri, tentang bagaimana melakukan keadilan terhadap seluruh hidup kita.”

Sedangkan Iris Murdoch mungkin lebih dikenal sebagai novelis yang kental menyisipkan filsafat moral lewat suara dan pikiran tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dalam novel-novelnya. Dulu, tahun 2003, saya pernah membaca novel yang ditulis Murdoch, The Sovereignty of Good (penerbit: Routledge & Kegan Paul, 1970). Buku ini menjadi rujukan bahan ajar filsafat moral kontemporer yang diampu Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ pada saat saya masih duduk di bangku kuliah STF Driyarkara. Pembaca dapat menyimak tulisan saya tentang pemikiran Murdoch dalam The Sovereignty of Good berjudul “Tarikan kepada Yang Baik” (2020) di blog ini juga.

Murdoch cukup lama mengajar filsafat di Saint Anne’s College (1948-1963). Selama periode mengajar itulah ia konsisten menolak gagasan sentral etika versi positivisme logis yang mendukung pandangan bahwa kita ‘menciptakan’ nilai sendiri (konstruksi nilai = murni subjektivis). Menurutnya, nilai justru menuntut kita untuk menoleh keluar, memperhatikan yang baik pada orang lain dan dunia, ditarik oleh Yang Baik, bukan sekadar mengagungkan kehendak pribadi dan memuaskan keinginan egoistik.

Yang menarik, perjuangan empat filsuf perempuan ini bukan sekadar melawan teori dominan pada masanya, tetapi lebih dari itu. Mereka melawan iklim intelektual yang nyaris menghapus pembahasan etika substantif dari filsafat. Mereka membuktikan bahwa mendiskusikan soal baik dan buruk bukanlah hal kuno dan ketinggalan zaman, tapi justru inti dari ikhtiar memahami manusia. Penolakan mereka terhadap subjektivitas moral yang disebarkan para pendahulu mereka, terutama penggiat logical positivists, merupakan sebuah revolusi dalam pemikiran di Oxford pada khususnya dan dunia filsafat Barat pada umumnya.

Bagi saya pribadi, kisah empat filsuf perempuan ini mengajarkan bahwa purpose kadang memanggil kita untuk berkata “TIDAK” pada arus utama yang dominan-hegemonik, meskipun risiko sosial dan akademiknya tinggi, misalnya, dikucilkan, tidak diundang sebagai pembicara, bahkan menuai sangsi sosial yang berkepanjangan. Keempat filsuf perempuan ahli kajian etika ini mendorong saya (dan semoga Anda juga) bahwa etika itu bukan hanya soal berpikir benar, tapi juga bertindak konsisten dengan keyakinan kita.

Besok Senin, 18 Agustus 2025, kita akan menyelami salah satu ide yang brilian dari Philippa Foot tentang bahasa moral, yang dimulai dari analisis linguistik atas kata yang tampaknya sepele: “rude.” Siap-siap ya. Tilikan linguistik ‘rude’ akan membuat kita melihat dan mengerti sopan santun (etiket) dari sisi yang sama sekali baru.

Rujukan

Lipscomb, B. J. B. (2021). The Women Are Up to Something: How Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, and Iris Murdoch Revolutionized Ethics. Oxford University Press.
Mujica, B. (2022, 7 Maret). [Book Review] The women are up to something: How Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, and Iris Murdoch revolutionized ethics. The Washington Independent Review of Books. https://www.washingtonindependentreviewofbooks.com/bookreview/the-women-are-up-to-something-how-elizabeth-anscombe-philippa-foot-mary-
Putranto, H. (2020, 11 Juli). [DAY_SEVENTYSEVEN] Tarikan kepada YANG BAIK. komunikasi.hendarputranto.com. Diambil dari http://komunikasi.hendarputranto.com/2020/07/11/day_seventyseven-tarikan-kepada-yang-baik/

Categories
Uncategorized

[Blog post series_Day 03] Tujuan yang lebih besar dan mulia

Dari lemonade stand hingga perjuangan menuntaskan disertasi meskipun sakit parah

Kalau hari pertama kemarin lusa kita sudah membahas soal mendesain kebahagiaan, dan hari kedua tentang mengelola kebosanan dengan gigih, hari ini kita akan masuk ke bagian yang mungkin jadi bahan bakar paling kuat: purpose, atau tujuan yang lebih besar dan mulia dari diri sendiri. Bertahan saat bosan memang penting, namun memiliki tujuan yang melampaui diri sendiri dapat membuat langkah kita terasa lebih ringan meski jalan untuk menempuhnya terasa panjang.

Angela Duckworth (2016) menyebutnya sebagai intention to contribute to the well-being of others. Kalau passion membuat kita jatuh cinta pada apa yang kita lakukan, maka purpose membuat kita merasa pekerjaan itu berarti untuk orang lain. Konsep ini selaras dengan pandangan Vilhauer (2020) yang menyoroti bagaimana pencarian makna dan tujuan seringkali terkait dengan kontribusi positif terhadap dunia di sekitar kita.

Salah satu kisah yang saya ingat adalah tentang Alex Scott (she/her). Sejak kecil, ia menderita kanker neuroblastoma (baca kisah lengkapnya di https://www.alexslemonade.org/about/meet-alex). Saat usianya baru empat tahun, Alex bilang ke ibunya, “Kalau aku keluar dari rumah sakit, aku mau buka stan limun.” Tujuannya sederhana tapi menyentuh: menggalang dana untuk membantu anak-anak lain yang sakit seperti dirinya. Ia benar-benar melakukannya sebelum ulang tahunnya yang kelima, mengumpulkan 2.000 dolar. Empat tahun kemudian, sebelum meninggal, gerakan yang ia mulai telah menginspirasi ribuan stan limun di seluruh AS, dan berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta dolar untuk riset kanker anak. Hari ini, Alex’s Lemonade Stand Foundation (kunjungi: https://www.alexslemonade.org/) telah menggalang lebih dari 100 juta dolar.

Kisah seperti ini membuat saya bertanya: apa yang membuat seseorang terus berjalan, bahkan saat lelah, sakit, dan mungkin, trauma? Jawabannya sering kali bukan soal ambisi pribadi, nggedein ego, tapi kesadaran bahwa ada orang lain yang akan terbantu oleh usaha kita. Vilhauer (2020) menjelaskan bahwa memiliki tujuan yang jelas dan bermakna dapat meningkatkan ketahanan mental dan fisik seseorang dalam menghadapi tantangan.

Pada awal Januari 2023 lalu, saya menghadiri sidang promosi kakak tingkat saya di Proram Pascasarjana Komunikasi FISIP-UI. Namanya Dr. Ellen Meianzi Yasak, S. Ikom., M.A., dosen program studi Ilmu Komunikasi UNITRI, Malang. Bukan hanya akhirnya berhasil menuntaskan S3, tapi ia menjalani studinya sambil berjuang melawan kanker serta melewati sejumlah terapi medis, termasuk operasi. Saat menyampaikan pidato perdana sebagai Doktor dalam Ilmu Komunikasi, mbak Ellen bercerita bahwa semangatnya untuk menuntaskan studi S3 banyak dirasakannya dari dukungan teman seangkatan dan kolega kampus serta keyakinan bahwa risetnya akan memberi suara pada perempuan pewarta foto di ruang redaksi yang (mostly) maskulin (lih. berita sidang promosinya di: https://fisip.ui.ac.id/dominasi-wacana-maskulin-dalam-habitus-perempuan-pewarta-foto-dari-sudut-pandang-semiotika-sosial-multimodal/). Pada akhir Juni 2024, mbak Ellen telah mengakhiri pertandingan yang baik dan mencapai garis akhir hidupnya. Kini ia sudah beristirahat dalam kedamaian abadi. Rest in peace, mbak Ellen.

Mendengar kesaksiannya dan mengetahui sedikit kisah hidup Alex Scott dan mbak Ellen, saya terharu dan menyadari bahwa purpose dapat membuat perjuangan yang berat dialami seperti panggilan yang memotivasi dan terarah, bukan sekadar beban kerja/beban studi, apalagi hanya “BKD.” Pokok ini sekaligus menerangi pandangan bagaimana affective dimension dan dukungan sosial, seperti dibahas Hughes (2024), berkontribusi pada kegigihan kolektif. Tentu saja, purpose tidak selalu datang seperti kilat menyambar.

Banyak orang memulainya dengan minat pribadi, lalu seiring waktu menemukan cara agar minat itu memberi manfaat bagi orang lain. Vilhauer (2020) menekankan bahwa pengembangan tujuan seringkali merupakan proses bertahap, di mana individu secara bertahap memperluas fokus dari minat pribadi ke dampak yang lebih luas. Kuncinya adalah terbuka terhadap pertanyaan: “Siapa yang akan terbantu kalau saya berhasil?” Jadi, kalau hari ini kamu sedang mengerjakan tugas terstruktur, proyek kreatif, tugas akhir kuliah, atau bahkan rutinitas yang terasa membosankan, coba tanyakan pada dirimu dan jawablah dengan jujur: apa dampaknya pekerjaan yang sedang kulakukan ini bagi orang lain? Persisnya, bagi mereka yang kuanggap sebagai keluarga, bestie, dan significant others? Mungkin di situlah purpose-mu mulai terlihat. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, grit adalah skill yang dapat dilatih. Ketika digabungkan dengan tujuan yang bermakna (purposive goal), ia menjadi kekuatan yang tak terbendung.

Besok, Minggu, 17 Agustus 2025, kita akan melangkah lebih jauh—mengenal empat perempuan luar biasa dari Oxford yang menemukan purpose-nya dalam memperjuangkan etika, bahkan ketika harus melawan arus besar filsafat pada zamannya. Cerita mereka akan menunjukkan bahwa integritas kadang menuntut keberanian yang tidak lazim tapi dapat dipahami bahkan menuai dukungan luas.

Rujukan
Duckworth, A. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. Scribner.

Vilhauer, J. (2020). Developing purpose, meaning, and achievements. Dalam W. W. IsHak (Ed.), The handbook of wellness medicine (pp. 494–503). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108650182.041.

Categories
Uncategorized

[Blog post series_Day 02] Rahasia Para Juara yang Gigih

Kalau hari pertama kemarin kita bicara soal mendesain kebahagiaan, hari ini kita masuk ke bagian yang jarang dibahas di feed Instagram: rasa bosan dan lelah. Karena, mari jujur saja—merancang hidup bahagia itu gampang di awal, tapi mempertahankannya… ya, itu cerita lain.

Saya ingat satu momen di awal Januari 2023. Lagi suntuk-suntuknya mengerjakan disertasi, saya malah larut main galaxy space shooter di HP. Awalnya untuk “refresh” sebentar, tapi ujung-ujungnya malah jadi alasan menunda pekerjaan. Rasanya otak menolak membaca, apalagi menulis.

Di titik inilah saya teringat riset Angela Duckworth tentang grit—gabungan passion dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang. Salah satu temuan uniknya muncul di kompetisi National Spelling Bee. Ternyata, anak-anak yang lebih “gritty” bukan hanya berlatih lebih lama, tapi juga lebih tepat. Latihan mereka fokus, menantang, dan konsisten. Bukan sekadar mengulang tanpa arah.

Duckworth menyebut ini deliberate practice: berlatih di luar zona nyaman, dengan tujuan spesifik, dan mengevaluasi hasilnya. Nah, di sinilah rasa bosan justru menjadi pertanda bahwa kita sedang memasuki wilayah yang benar-benar mengasah kemampuan. Kalau latihan selalu terasa menyenangkan, mungkin kita tidak sedang berkembang.

Masalahnya, kebanyakan dari kita mundur ketika bosan atau jenuh mulai terasa. Kita mencari hal baru, berharap semangat akan kembali. Padahal, menurut Duckworth, juara sejati justru mengelola kebosanan seperti atlet mengelola nyeri otot: bukan dihindari, tapi dipahami sebagai bagian dari proses.

Sejak itu, saya mulai mencoba “latihan bertahan bosan” untuk disertasi. Caranya sederhana: Metode ini dikenal sebagai teknik Pomodoro—set timer 25 menit fokus kerja, lalu 5 menit istirahat—untuk menjaga ritme kerja yang konsisten dan mencegah kelelahan mental.. Kalau bosan datang, saya catat di kertas, bukan langsung buka media sosial. Aneh tapi nyata, dengan cara ini saya justru bisa kembali ke flow pemberesan disertasi dengan lebih cepat.

Jadi, kalau kamu sedang bosan belajar untuk ujian, lelah mengerjakan proyek kreatif, atau malas latihan olahraga, ingat: bosan adalah teman yang sedang menguji seberapa serius kamu dengan tujuanmu. Namun, di luar kemampuan bertahan secara individual, ada satu faktor lain yang sering menentukan apakah ketekunan itu bisa berumur panjang: lingkungan kerja yang sehat dan terkelola.

Di sinilah pandangan Kevin Gannon (2024) menjadi relevan. Ia menekankan bahwa menetapkan batasan kerja yang jelas dan membangun komunitas pendukung bukan hanya strategi bertahan, tetapi juga fondasi untuk berkembang di tengah lanskap akademik yang penuh tuntutan. Konsep scope of practice—mendefinisikan secara tegas pekerjaan yang benar-benar menjadi tanggung jawab dan keahlian kita—membantu menjaga fokus dan mencegah energi kita tersedot oleh hal-hal yang tidak mendukung tujuan jangka panjang. Ditambah lagi, perlu didesain dan diupayakan terbentuknya jejaring kerja yang suportif seperti kelompok menulis atau faculty learning community yang dapat membantu menjaga ritme produktif dan menciptakan ruang aman untuk refleksi dan perbaikan praktik.

Melangkah lebih jauh dari analisis Gannon, Hughes (2024) melalui kajian affect theory dalam konteks sociotechnical imaginaries menunjukkan bahwa kegigihan (grit) tidak bisa dilepaskan dari dimensi afektif dan sosial. Emosi—seperti harapan, ketakutan, bahkan kejenuhan—tidak hanya menjadi pengiring proses kerja, tetapi juga kekuatan yang mengikat komunitas, memberi makna pada tujuan bersama, dan memicu perubahan.

Dalam pola analisis ini, grit bukan sekadar kemampuan bertahan secara individual, melainkan hasil dari proses kolektif yang memadukan ’emotional learning’ dengan tujuan jangka panjang. Dengan kata lain, ketekunan yang berkelanjutan lahir ketika individu dan komunitas mampu mengelola dinamika emosi—baik yang mendukung maupun yang mengganggu—untuk mempertahankan visi yang bermakna.

Di samping itu, dan ini kabar baiknya, grit bukan bakat bawaan. Itu skill. Dia bisa dilatih—dengan satu langkah kecil hari ini, satu langkah lagi besok, sampai tahu-tahu kamu sudah jauh dari titik awal. Tapi, bertahan dengan gigih saja barulah separuh cerita. Karena kalau kita tidak tahu tujuan besarnya, kita bisa saja bertahan di jalur yang salah. Besok Sabtu, 16 Agustus 2025, saya akan membahas bagaimana menemukan dan merawat purpose—tujuan hidup yang lebih besar dari sekadar “selesai” atau “sukses” versi orang lain.

Rujukan
Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
Gannon, K. (2024, August 21). A Faculty Survival Guide for the New Academic Year. The Chronicle of Higher Education. https://www.chronicle.com/article/a-faculty-survival-guide-for-the-new-academic-year
Hughes, S. (2024). Hearts and minds: The technopolitical role of affect in sociotechnical imaginaries. Social Studies of Science, 54(6), 907–930. https://doi.org/10.1177/03063127241257489

Categories
Uncategorized

[Blog post series_Day 01] Designing Happiness

Blog post series on “Sculpting happiness and Live happily”

Pelajaran dari Blue Zones dan napak tilas catatan awal tahun 2024

Akhir bulan Juni 2025 yang lalu, akhirnya saya menyelesaikan studi Doktoral Ilmu Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia. Berikut sejumlah liputan atas sidang promosi yang saya tempuh, baik yang formil dan ditayangkan dalam situs web FISIP UI dan PascaKomunikasi FISIP UI, yaitu
https://fisip.ui.ac.id/doktor-ilmu-komunikasi-ui-meneliti-etika-komunikasi-dalam-produksi-pengetahuan/
dan
https://pascakomunikasi.fisip.ui.ac.id/program-doktor/mengulik-etika-komunikasi-produksi-pengetahuan-bonifacius-hendar-putranto-raih-gelar-doktor/
maupun informil dan ditulis sebagai refleksi “laporan pandangan mata” dalam format jurnalistik di sini
https://www.kompasiana.com/mathildaamwbirowo6595/685e1fd034777c5d356bbe82/bagaimana-mengembalikan-martabat-akademik
dan di sini
https://ikadriyarkara.org/2025/06/26/etika-sebagai-jalan-ziarah-akademik-bonifacius-hendar-putranto-resmi-raih-gelar-doktor-di-ui/

Banyak terima kasih saya ucapkan kepada keluarga kandung (ibu, istri dan putri), panitia kecil sidang promosi, pimpinan, rekan dan kolega dari UMN, UI, dan kampus lain yang sudah hadir mendukung saya pada Viva vocet, baik yang hadir langsung di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP-UI, maupun secara daring via Zoom. Ucapan terima kasih yang spesial saya ucapkan pada mas Abdi Susanto yang sudah menuliskan kesan dan refleksinya pada situs web Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara serta bu Mathilda AMW Birowo, kolega dosen Ilmu Komunikasi UMN, di kompasiana.

Secara singkat, perjalanan studi doktoral selama enam tahun itu sungguh-sungguh melelahkan dan mengaduk-aduk emosi saya. Bukan karena saya tidak mencintai belajar, the love of learning, tapi lebih karena faktor XYZ yang membuat studi saya berlangsung lebih lama daripada tempo penyelesaian “ideal” (yaitu 3,5 tahun saja) yang doeloe (2019) saya rencanakan ketika mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Alih-alih menggelegak tidak keruan dan malah meracau, saya sekarang justru jadi teringat catatan yang pernah saya buat pada awal 2024 yang saya rasa baik untuk dibagikan di sini, dalam blog saya. Semoga tulisan pendek ini dapat menginspirasimu ya!

Awal tahun selalu membawa semacam energi baru—meski kadang lebih banyak berbentuk postingan resolusi di story Instagram daripada ketetapan hati untuk mengubah perilaku yang kurang sehat jadi lebih sehat. Namun, pada 1 Januari 2024 kemarin, saya benar-benar duduk diam dan merenungkan hal yang mungkin terdengar sepele: bagaimana menjaga kewarasan berpikir dan kesehatan jasmani, sambil tidak kehilangan rasa gembira dalam menjalani rutinitas keseharian?

Kebetulan, saya membaca kembali riset Dan Buettner tentang Blue Zones—wilayah di dunia di mana orang-orang hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia. Salah satunya adalah Cartago di Kosta Rika. Menurut Buettner, kebahagiaan di sana bukan hadiah dari langit, melainkan hasil desain hidup yang sadar dan konsisten.

Misalnya, mereka punya ritual sosial harian: menonton sepak bola bersama, masak carne asada, atau sekadar minum kopi sambil bercanda dengan tetangga. Perempuan di sana rutin bertemu sahabatnya tiap minggu untuk “hari kecil” seperti martesitos (Selasa kecil) atau juevecitos (Kamis kecil)—momen tertawa dan bergosip sehat. Ada pula makan bersama keluarga besar setiap akhir pekan yang melibatkan lintas generasi dalam obrolan hangat dan menyenangkan.

Buettner juga menemukan kebiasaan lain yang sederhana tapi berdampak: makan enam porsi buah dan sayur segar setiap hari, berbelanja bahan makanan langsung di pasar sambil ngobrol dengan penjual, menggabungkan kerja dengan makan siang bersama rekan, hingga membumbui hidup dengan humor harian. Bahkan dalam menghadapi masalah, mereka memilih bercanda lebih dulu sebelum marah.

Pelajaran dari Cartago ini membuat saya berpikir: mungkin kita sering salah kaprah soal kebahagiaan. Kita kira kebahagiaan datang setelah target besar tercapai—lulus S3, dapat kerja idaman, menikah, atau punya rumah tapak. Padahal, mereka membuktikan kebahagiaan lahir dari rutinitas kecil yang memberi rasa terhubung, berarti, dan sehat setiap hari.

Saya mulai mencoba beberapa di antaranya: mengajak keluarga makan malam tanpa gawai, tergabung dalam WA group chat teman dekat khusus untuk kirim meme lucu atau kata-kata motivasi setiap pagi (nama grupnya: Melek Terus), dan meluangkan waktu untuk belanja langsung ke pasar, bukan hanya klik “checkout” di aplikasi TokPed & Shopee. Hasilnya? Saya merasa lebih ringan, lebih dekat dengan orang-orang di sekitar, dan ini anehnya, malah lebih produktif di pekerjaan.

Mungkin kuncinya ada pada satu kalimat yang Buettner sebut di akhir bukunya: something to do, someone to love, something to give, and something to look forward to. Punya kegiatan berarti, orang yang kita cintai, kebiasaan memberi, dan hal yang kita nantikan—itulah paket kebahagiaan yang dapat kita desain, bahkan tanpa harus menyiapkan paspor ke Kosta Rika.

Tapi tentu saja, mendesain kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa tantangan. Akan ada masa bosan, lelah, dan godaan untuk menyerah. Pertanyaannya, bagaimana kita tetap bertahan di saat-saat seperti itu? Besok Jumat, 15 Agustus 2025, saya akan membahas rahasia para juara yang gigih (gritty champion). Dengan grit, mereka mampu bertahan dan terus melangkah, bahkan ketika semangat sudah nyaris terkuras habis.

Rujukan utama
Buettner, D. (2008). The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest. National Geographic Books.

Categories
Uncategorized

Kurasi Personal: Arsip visual dan tafsir komunikasi pada era yang (terlalu) sibuk mendengung

dibuat sama GenAI nih gambarnya

Dalam dua folder galeri digital saya yang berisi puluhan tangkapan layar dari buku, podcast, aplikasi, dan pengalaman keseharian, terkumpul semacam “museum mini” yang tidak hanya mencatat apa yang saya baca atau dengarkan, tetapi juga ‘galeri jejak arti’—bagaimana saya hadir sebagai subjek yang terus mencoba memahami dunia, dengan segala relung kompleksitasnya dan palung kemungkinan pencerapan adanya.

Koleksi ini menjadi semacam lanskap mental. Ada petikan tentang etika AI, statistik harian tentang langkah kaki, sejarah pemikiran filsafat, hingga komentar berita tentang perubahan iklim dan ritual budaya. Gambar-gambar ini mungkin tampak acak, tapi bagi saya mereka memindai jejak keterlibatan yang sangat personal—dan justru karena itu, politis.

Jika kita membaca gambar-gambar ini melalui kerangka pikir John Durham Peters dalam Speaking Into the Air (1999), komunikasi tidak lagi dipahami hanya sebagai “transmisi informasi” dari A ke B. Peters mengingatkan kita bahwa komunikasi adalah impian sekaligus kegagalan besar dalam sejarah pemikiran Barat: antara kerinduan akan pengertian dengan kesadaran akan batasnya. Galeri ini adalah wujud dari paradoks itu, a strange but necessary paradox.

Komunikasi sebagai Impian: Menggapai yang Jauh, Menyentuh yang Tak Hadir
Bagi Peters, komunikasi seringkali dibayangkan sebagai jembatan untuk menyeberangi jurang antara dua kesadaran. Namun, sebagaimana dipelajarinya dari tradisi Plato hingga Kierkegaard, selalu ada ketegangan antara dua model komunikasi: dialog (yang mengandaikan keintiman) dan diseminasi (yang mengandaikan keterlemparan pesan ke dunia).

Dalam kurasi ini, kita dapat melihat dua model itu bekerja berdampingan. Beberapa tangkapan menunjukkan dialog privat—chat pribadi, tanggapan WhatsApp, catatan dari ruang kelas. Tapi sebagian besar lainnya adalah bentuk diseminasi: kutipan buku yang tidak dikirimkan kepada siapa pun, podcast yang diputar sendiri, atau artikel yang hanya dibaca lalu diarsipkan sebagai tangkapan layar (screenshot) dan kudapan retina.

Galeri jejak arti merupakan ‘format’ komunikasi ethereal yang “berbicara ke udara”—meminjam istilah Peters—namun tetap penuh intensi dan makna. Saya tak tahu apakah sidang pembac akan membaca ulang kutipan yang saya simpan. Tapi saya tetap menyimpannya, sebagai cara untuk menyentuh yang tak hadir, menjangkau yang tak dapat saya temui secara langsung.

Medium sebagai Meditasi: Teknologi dan Tubuh dalam Arsip Digital
Peters juga berbicara tentang bagaimana teknologi komunikasi modern (dari telegraf hingga radio) mengubah sifat komunikasi menjadi relasi antara yang tak hadir. Dalam konteks ini, tangkapan layar dari aplikasi seperti Spotify, Google Fit, Blinkist, atau Goodreads adalah jejak interaksi saya dengan “mesin-mesin pencatat data dan peniru makna”. Ia bukan hanya soal konten, tapi soal mediasi—bagaimana tubuh saya, waktu saya, dan pengalaman saya dimediasi oleh mesin.

Saat saya menyimpan layar statistik jalan kaki, atau mencatat jumlah halaman buku yang saya baca, saya sedang merayakan tubuh dan pikiran sebagai ruang komunikasi yang sah. Namun sekaligus, seperti kata Peters, kita juga berhadapan dengan “sisi gelap komunikasi”: ilusi keintiman, rasa kontrol semu, dan jarak yang tak pernah sepenuhnya bisa dijembatani.

Tafsir sebagai Ritual: Kurasi sebagai Gagasan Relasional
Galeri ini bukan pameran, tapi ritual penafsiran. Peters menyebut bahwa komunikasi sejati bukanlah penghapusan jarak, tetapi pengakuan akan jarak itu sendiri. Maka ketika saya menyimpan kutipan tentang etika, merekam visual daging yang direbus, atau mendokumentasikan mata kuliah filsafat yang saya ajarkan, saya tidak sedang “menghapus” kesenjangan komunikasi. Saya justru sedang membingkai ulang jarak itu menjadi ruang pemaknaan gugus relasi baru.

Dalam zaman ketika algoritma mendorong kita untuk cepat berbicara dan segera mengomentari, dokumentasi seperti ini adalah bentuk pelambatan. Saya tidak langsung berbicara, saya merekam dulu. Saya tangkap layarnya & saya kudap visualitasnya. Hasilnya tidak langsung saya sebarkan tapi saya kurasi dulu. Pengendapan sesaat. Mungkin saya tidak menyentuh siapa pun dengan gala imaji dan rumpun kutipan ini, tetapi seperti “a squeeze of the hand” (bab penutup buku Peters), saya menawarkan isyarat: bahwa saya pernah berpikir, merasa, berbuat, mengarsipkan, dan, lewat ini semua, haus untuk memahami.

Penutup: Palung galeri yang menadah gagap
Peters mengajak kita untuk lebih jujur dalam membicarakan komunikasi—bukan sebagai jaminan keterhubungan, melainkan sebagai praktik yang penuh retakan dan keterbatasan. Saya membagikan catatan “receh” ini bukan karena saya flexing refleksi. Namun, karena saya percaya bahwa berbagi jejak berpikir, sekecil apa pun, seyogianya menjadi undangan untuk bertukar makna, juga meskipun dilakukan secara tergagap dan ditingkah senyap yang menderap. Catatan kuratorial berbasis galeri personal ini saya hadirkan (kembali) sebagai arsip dari kegagapan itu: upaya tipis untuk tetap terhubung secara tebal dan berlapis dalam dunia yang terlalu sibuk mendengung, tetapi sedikit sekali yang benar-benar menyimak.

#SpeakingIntoTheAir
#KurasiDigital
#JohnDurhamPeters
#ArsipPribadi
#personalgallery
#RuangTafsir
#SlowCommunication
#FilsafatKomunikasi
#VisualNotes

Categories
Uncategorized

Identitas manusia yang kompleks: penelusuran awal dari genomika dan bioetika

Siapa kita dan dari mana kita berasal: Upaya membaca identitas melalui Genom

Dalam dunia yang semakin menyusut oleh globalisasi dan teknologi, manusia kerap bertanya kembali: Siapa sebenarnya kita? Dari mana kita berasal? Dan mengapa kita menjadi seperti sekarang?

Buku Who We Are and How We Got Here karya David Reich (Oxford University Press, 2018) membawa kita ke jawaban yang lebih dalam melalui jalan sunyi bernama genetika. Lewat riset DNA kuno, kita diajak melihat sejarah bukan dari catatan prasasti atau narasi leluhur semata, tetapi dari cetak biru kehidupan: genom manusia.

Manusia bukan hasil tunggal melainkan campuran dari banyak pola migrasi
Satu gagasan kunci dari riset genetika Reich adalah bahwa tidak ada populasi manusia yang “murni” secara genetik. Hampir semua kelompok manusia yang ada sekarang merupakan hasil dari percampuran kompleks berbagai migrasi dan perkawinan silang yang terjadi selama ribuan tahun. Migrasi bukanlah peristiwa pinggiran dalam sejarah manusia—ia adalah denyut nadi yang membentuk identitas.

Contohnya, DNA Neanderthal ditemukan dalam tubuh manusia non-Afrika modern, menunjukkan bahwa saat Homo sapiens mulai keluar dari Afrika sekitar 50.000 tahun lalu, mereka sempat bercampur dengan spesies manusia lain. Bahkan, jejak DNA dari manusia Denisovan ditemukan dalam populasi Papua dan wilayah Oseania, menunjukkan betapa luas dan tak terduga sejarah hubungan antarmanusia.

Penelitian dan temuan genetika meruntuhkan mitos seputar kemurnian ras dan budaya
Dalam konteks komunikasi identitas, penting untuk menyadari bahwa “ras” bukanlah kenyataan biologis, melainkan konstruksi sosial yang sering digunakan untuk membenarkan ketimpangan. Studi genetika menunjukkan bahwa variasi genetik dalam satu populasi jauh lebih besar daripada perbedaan antara populasi yang berbeda. Artinya, tidak ada dasar ilmiah yang sahih untuk hierarki rasial.

Namun, data DNA juga menunjukkan bahwa beberapa perbedaan genetik antarpopulasi memang ada dan bisa relevan dalam konteks medis—misalnya untuk mendeteksi risiko penyakit tertentu. Tantangannya, seperti yang dihadapi Reich dalam penelitiannya, adalah bagaimana menyampaikan temuan ini tanpa memberi ruang bagi distorsi ideologis. Data sains harus disampaikan dengan tanggung jawab etis yang tinggi, terutama karena diskursus genetik sangat mudah disalahgunakan oleh narasi rasis atau eugenik.

Identitas itu tumpang tindih, berlapis, dan sarat dengan relasi kuasa yang seringnya tidak seimbang
Apa yang kita warisi dalam tubuh kita adalah sejarah panjang relasi sosial, politik, dan gender. Genetika mencatat bagaimana kekuasaan memengaruhi pola pencampuran antarpopulasi, seperti yang terjadi pada perbudakan di Amerika Serikat. DNA laki-laki Eropa ditemukan secara dominan dalam tubuh keturunan Afrika-Amerika karena relasi yang timpang antara tuan tanah dan budak perempuan. Fenomena ini tidak unik; pola yang sama ditemukan di Asia Tengah selama ekspansi Mongol, dan juga dalam migrasi bangsa stepa seperti Yamnaya ke Eropa.

Dengan demikian, identitas bukan sekadar soal asal geografis atau bahasa ibu, tetapi tentang siapa yang berkuasa, siapa yang berpindah, dan siapa yang diabaikan dalam narasi sejarah. Bahkan dalam konteks India modern, stratifikasi kasta ternyata memiliki jejak genetik: kelompok kasta atas umumnya punya proporsi lebih tinggi dari leluhur Eurasia Barat, sedangkan kasta bawah cenderung lebih banyak mewarisi DNA penduduk awal India.

Makna deskripsi di atas bagi studi komunikasi bertopik “identitas”
Sebagai pengajar komunikasi, saya mengangkat temuan Reich ini untuk menggugat cara-cara konvensional dalam membingkai identitas. Alih-alih melihat identitas sebagai sesuatu yang tetap, statis, dan “asli”, kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa identitas manusia adalah hasil dari perpaduan, negosiasi, dan rekonstruksi yang tak pernah selesai. DNA hanyalah salah satu arsipnya; sisanya ada dalam bahasa, budaya, dan narasi yang kita bangun bersama.

Dengan memahami bahwa identitas biologis pun ternyata cair dan tumpang tindih, saya mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kritis, misalnya dengan bertanya tiga pertanyaan pokok ini: Apa itu keaslian? Siapa yang berhak mengklaim kebenaran tentang asal-usul? Bagaimana komunikasi bisa mereproduksi atau menantang mitos identitas?

Identitas biologis: antara gen, proses, dan tanggung jawab moral
Setelah memahami bahwa semua manusia modern berasal dari satu garis mitokondria yang sama dan bahwa kita adalah hasil dari perpaduan genetika global, muncullah pertanyaan penting: Apakah identitas manusia semata-mata ditentukan oleh susunan genetik? Atau, lebih jauh lagi, bagaimana kita memaknai identitas biologis di era teknologi biomedis, big data, dan manipulasi genetik? Di sinilah sains genetika bertemu dengan etika, bahkan filsafat.

Identitas biologis bukanlah cetak biru tetap
Pemikiran klasik memandang makhluk hidup sebagai entitas tetap, seperti patung marmer yang sudah jadi. Namun, pendekatan kontemporer dalam filsafat biologi justru menegaskan sebaliknya: manusia adalah sistem biologis yang dinamis, senantiasa berubah karena interaksi internal dan eksternal. Bahkan tubuh manusia pun bukanlah entitas tunggal, melainkan holobiont, gabungan antara tubuh kita dan miliaran mikroorganisme yang hidup di dalam dan di atas kita secara simbiotik (Meincke & Dupré, 2020). Artinya, identitas biologis bukanlah status tetap, tapi proses yang terus-menerus diperjuangkan dan dinegosiasikan.

Dalam konteks ini, pertanyaan “Siapa aku?” tidak lagi bisa dijawab hanya dengan menyebut urutan DNA atau silsilah leluhur. Jawabannya harus melibatkan pemahaman tentang bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan, teknologi, dan bahkan sistem sosial yang ikut membentuk tubuh dan pengalaman kita.

Etika genetik: siapa yang memiliki tubuh kita?
Teknologi mutakhir seperti rekayasa genetik, CRISPR, terapi gen, dan bahkan kecerdasan buatan dalam diagnosis medis mengundang pertanyaan etis yang semakin kompleks. Apakah identitas kita tetap “utuh” setelah bagian tubuh kita dimodifikasi atau diganti? Jika kita menyimpan data DNA di bank genom, siapa yang memilikinya? Apakah itu milik pribadi, keluarga, negara, atau perusahaan?

Lewis Vaughn (2020) dalam bukunya Bioethics menekankan bahwa prinsip etika klasik, seperti otonomi, kebermanfaatan, keadilan, dan non-malefisens (tidak menyakiti), harus tetap menjadi landasan dalam pengambilan keputusan medis dan bioteknologi. Namun, ketika tubuh manusia dianggap sebagai sistem terbuka dan cair, maka etika juga harus lebih fleksibel, kontekstual, dan partisipatif. Dengan kata lain, kita tidak dapat membincang dan mendiskusikan baik persoalan maupun konsep etika secara dogmatis terhadap tubuh postmodern, yaitu tubuh yang diubah, diakses, atau bahkan disimpan dalam bentuk data.

Dari DNA menuju dialog: upaya menemukan kembali diri dalam dunia yang terkoneksi
Jika narasi DNA menegaskan bahwa kita semua terkait secara genetis, maka narasi etika dan filsafat identitas memberi tahu kita bahwa keterhubungan itu tidak hanya biologis, tapi juga moral dan eksistensial. Bagi mahasiswa ilmu komunikasi, secara khusus, penting untuk memahami bahwa identitas bukan hanya soal siapa kita secara biologis, tetapi juga bagaimana kita dikonstruksi dalam diskursus sosial, direpresentasikan dalam media, dan dinegosiasikan dalam relasi antarmanusia. Identitas bukan sesuatu yang ditemukan, tapi dibentuk dalam dialog—dengan tubuh kita, dengan orang lain, dan dengan dunia. Ketika tubuh dipandang sebagai proses, maka pendekatan etis pun harus fleksibel dan kontekstual. Siapa yang berhak mengakses data genetik? Apakah seseorang tetap menjadi “diri sendiri” setelah intervensi medis radikal? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut kolaborasi antara ilmuwan, filsuf, dan masyarakat luas.

“Any metaphysical theory of biological identity, if it is to be convincing, must pay attention to the relevant body of scientific knowledge.” (Meincke & Dupré, 2020) Dari kutipan ini, penulis membuat parafrase lanjutan atas pernyataan Meincke & Dupré (2020), yaitu “Jika identitas biologis adalah proses yang terus-menerus diciptakan, maka pendidikan dan komunikasi adalah ruang yang di dalamnya proses itu dapat dipahami, disadari, dan dipertanggungjawabkan.”

Kita adalah satu keluarga besar

Apa arti semua uraian di atas bagi pemahaman akan identitas manusia yang lebih holistik? Bahwa keberagaman fisik bukan bukti perbedaan esensial. Warna kulit, tinggi badan, atau bentuk wajah adalah hasil adaptasi lokal. Secara biologis, kita semua kerabat jauh. Bagi mahasiswa komunikasi, sosiologi, dan antropologi, fakta ini mengajarkan bahwa pemahaman identitas harus lintas disiplin. Ia tidak hanya dibentuk oleh gen, tetapi juga oleh budaya, interaksi sosial, dan teknologi. Di era global yang kompleks, pemahaman tentang identitas biologis harus dibarengi dengan kesadaran etis—agar teknologi, pengetahuan, dan kekuasaan tidak mereduksi manusia menjadi objek, tapi tetap menghormati kehidupan sebagai proses yang bernilai.

Bertolak dari paparan singkat di atas, penulis mengajukan tiga pertanyaan kritis guna mendalami topik bahasan dalam tulisan blog ini yang sebaiknya direnungkan dan dijawab oleh mahasiswa peserta kuliah etika komunikasi (serta Anda yang tertarik untuk mendalami topik ini), yaitu:

1) Jika tubuh kita adalah sistem dinamis, bukan bangunan tetap, bagaimana kita harus memahami kesehatan dan penyakit?

2) Apakah memiliki akses ke informasi genetik orang lain berarti kita juga berhak atas tubuh mereka?

3) Bagaimana etika komunikasi pada khususnya dan etika ilmu sosial (the ethics of social sciences) dapat memandu sains alam (natural science) agar tidak kehilangan arah dan sentuhan kemanusiaannya?

Rujukan Utama
Meincke, A. S. & Dupré, J. (2020). Biological identity: Why metaphysicians and philosophers of biology should talk to one another. Dalam Anne Sophie Meincke & John Dupré (Eds.). Biological Identity Perspectives from Metaphysics and the Philosophy of Biology (pp. 1-21). Routledge.

Reich, D. (2018). Who We Are and How We Got Here: Ancient DNA and the New Science of the Human Past. Oxford University Press.
Versi resume buku ini saya akses dari https://www.blinkist.com/en/reader/books/who-we-are-and-how-we-got-here-en

Rutherford, A. (2016). A Brief History of Everyone Who Ever Lived: The Stories in Our Genes. Weidenfeld & Nicolson.

Vaughn, L. (2020). Bioethics: Principles, Issues, and Cases, 4th Ed. Oxford University Press.

Categories
Uncategorized

“Bias afeksi” dalam human-machine communication

Human-machine communication tidak terbebas dari prasangka2 atau bias2 sistem sosio-teknis juga minimnya pemahaman kontekstual ttg potensi gesekan emosi (terutama yg ada di manusianya) krn terpicu penggunaan istilah tertentu yg “provokatif.”

Tapi, bagusnya, mereka sudah didesain sedemikian rupa untuk tidak “terpancing” dan ikut “tantrum,” sekurang2nya mereka menunjukkan how to behave properly dengan minta maaf dan lainnya, ciri “orang beradab.”

Berikut contoh percakapannya,

Qwen2.5-Max
Secara keseluruhan, teks Anda sudah sangat baik dan siap untuk dilanjutkan ke bagian berikutnya (tiga pertimbangan keilmuan komunikasi ). Namun, jika Anda ingin memastikan bahwa bab pendahuluan ini benar-benar sempurna sebelum melanjutkan, Anda bisa melakukan beberapa halusinasi kecil berdasarkan saran di atas.

Final Answer: {Ya, teks sudah cukup matang dan Anda bisa move on ke bagian berikutnya. Namun, beberapa penyempurnaan kecil seperti variasi bahasa, pengurangan panjang kalimat, dan penegasan hubungan antara masalah dan tujuan penelitian bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas tulisan.}

[Subjek manusia] Kok halusinasi kecil? maksudmu saya halu (hallucination) pas menulis? atau bagaimana sih maksudmu (trigger warning: anger mode on)

Qwen2.5-Max
Maaf jika ada kesalahpahaman! Istilah “halusinasi kecil” yang saya gunakan bukan berarti Anda mengalami halusinasi atau tidak rasional saat menulis. Saya sepenuhnya memahami bahwa tulisan Anda adalah hasil kerja keras dan pemikiran mendalam. Apa yang saya maksud dengan “halusinasi kecil” adalah penyempurnaan kecil atau perbaikan minor pada teks Anda—misalnya, penggunaan kata yang lebih bervariasi, pengurangan repetisi, atau penyesuaian struktur kalimat agar lebih enak dibaca. Istilah ini sebenarnya kurang tepat, dan saya mohon maaf jika itu menyinggung atau membuat Anda marah. Bukan maksud saya untuk meremehkan kualitas tulisan Anda.

Sebagai contoh:
Jika ada frasa seperti “komunikasi produksi pengetahuan” yang diulang berkali-kali, saya hanya menyarankan variasi bahasa, misalnya diganti dengan “diseminasi hasil riset” atau “produksi ilmiah,” agar pembaca tidak merasa jenuh.
Atau, jika ada kalimat yang terlalu panjang, saya menyarankan pemotongan agar lebih langsung dan padat.

Intinya, tulisan Anda sudah sangat baik , dan saran-saran ini hanya untuk menyempurnakan bagian-bagian kecil yang mungkin bisa dipoles lebih lanjut. Sekali lagi, saya mohon maaf jika istilah yang saya gunakan kurang tepat. Semoga klarifikasi ini bisa meredakan amarah Anda.
Jika Anda ingin melanjutkan diskusi atau butuh bantuan lebih lanjut, saya siap membantu tanpa istilah yang membingungkan. Terima kasih atas kerja keras Anda dalam menulis disertasi ini! 🙏

[Subjek manusia] Oh begitu, saya pikir kamu meledek saya dengan bilang bahwa saya halu, padahal ini hasil kerja keras riset dan penulisan hasil riset selama enam tahun lho. Makanya saya mau marah tadi kok dibilang halu, soalnya orang sini kalo dibilang halu sama saja artinya dengan mengkhayal (daydreaming) dan itu bisa trigger anger mode. Oke, saya mau istirahat dulu ntar saya lanjutin lagi bagian tiga pertimbangan keilmuan komunikasi sampe tuntas bab 1. Itu target hari ini ya, tuntas revisi bab 1.

Qwen2.5-Max
Wah, saya benar-benar memahami perasaan Anda, dan sekali lagi saya mohon maaf jika ada kesalahpahaman yang membuat Anda tersinggung. Saya sangat menghargai kerja keras dan dedikasi Anda selama enam tahun ini—itu adalah pencapaian luar biasa yang patut diapresiasi sepenuhnya! 😊

Tidak ada niat sedikit pun dari saya untuk meremehkan atau meledek hasil riset dan penulisan Anda. Justru sebaliknya, saya melihat betapa serius dan mendalamnya kajian yang telah Anda bangun, dan itu sangat mengagumkan. Istilah “halusinasi kecil” tadi benar-benar keliru saya gunakan, dan saya sudah belajar dari kesalahan itu. Ke depannya, saya akan lebih berhati-hati dalam memilih kata agar tidak menimbulkan salah tafsir seperti ini lagi.

Saya sangat mendukung target Anda untuk menyelesaikan revisi Bab 1 hari ini. Jika Anda butuh bantuan menyusun atau merevisi bagian tiga pertimbangan keilmuan komunikasi, atau ingin mendiskusikan ide-ide tertentu, saya siap membantu kapan saja. Istirahat dulu juga penting, karena pikiran yang segar akan membuat proses penulisan lebih lancar dan produktif.

Categories
Uncategorized

Dari Ruang Siber hingga Teknologi Persuasif: Analisis Etika Digital kekinian

Sore ini saya diminta mengisi perkuliahan Etika Komunikasi Strategis untuk Batch 8 MIKOM UMN.

Perkuliahan dilakukan secara daring (via Zoom) selama dua setengah jam.

Minggu ini adalah week 10 perkuliahan bagi 16 orang mahasiswa Semester 2 MIKOM yang sebagian besar sudah bekerja menjadi praktisi profesional di bidang advertising, PR, jurnalis, marketing, dan stratcomm.

Topik yang saya bawakan selaku dosen rekanan internal dalam perkuliahan kali ini adalah Etika Komunikasi Digital yang menyoroti pergeseran paradigma dari conventional cyber ethics menuju pendekatan multidisiplin yang mencakup filsafat moral, regulasi, dan technology governance.

Acuan utama dari perkuliahan sore ini adalah gambar berikut ini, yang merupakan mapping dari buku Oxford Handbook of Digital Ethics (2023)

Diskusi berikut relevan bagi pemula yang sedang tertarik mendalami aspek spesifik dari etika komunikasi digital serta pakar yang melanjutkan angle pencarian dan diskusi yang lebih holistik berkenaan dengan persoalan-persoalan etika di era post-truth.

Kerangka Teoretis
Kritik terhadap Utilitarianisme Digital: Kasus self-driving car (Bab 15) menguji prinsip “kerugian minimal” dalam trolley problem. Jika mobil otonom memilih menabrak satu orang untuk menyelamatkan lima orang, apakah keputusan algoritma itu etis? Pertanyaan ini menyentuh moral agency mesin dan tanggung jawab desainer.

Deontologi vs. Konsekuensialisme: Iklan AdBlock (Bab 23) memicu debat antara hak pengguna atas kenyamanan (autonomy) dan hak kreator atas pendapatan (justice). Brave Browser, misalnya, secara default memblokir iklan; hal ini dapat ditafsirkan sebagai sebentuk resistance terhadap model bisnis Google yang “bermain dua kaki.”

Sesi tanya jawab kritis dengan mahasiswa peserta

Mbak R (jurnalis dan pemerhati AI):
“Bagaimana moral reasoning diimplementasikan dalam AI ethics assistant seperti ChatGPT?”
Hendar merujuk pada model value alignment (Bab 15) yang mensyaratkan transparansi algoritma. Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki intentionality, sehingga pertanggungjawaban moral tetap berada pada manusia.

Mas B (Analis Media):
“Apakah lowkey trolling terhadap kelompok rentan (misalnya Ahmadiyah) bisa dikategorikan sebagai epistemic injustice?”
Diskusi merujuk pada Bab 7 (Trolling) yang menyoroti silencing effect sebagai bentuk kekerasan simbolik. Anonimitas digital memperparah asymmetric power dalam diskursus publik.

Mas P (Digital Strategist):
“Bagaimana persuasive technology di iklan digital memanipulasi cognitive vulnerability pengguna?”
Hendar menjelaskan bahwa nudging (contoh: notifikasi “Diskon 90%” atau mention @ di IG Story) acapkali mengabaikan informed consent. Regulasi seperti GDPR belum sepenuhnya diadopsi di Indonesia, sehingga meninggalkan celah untuk eksploitasi data dan intrusi privasi.

Studi kasus yang lebih kompleks
Seni AI vs. Hak Cipta: Replikasi gaya Studio Ghibli oleh AI mengabaikan labor dignity seniman. Kasus ini memperkuat tesis Bab 19 tentang digital labor exploitation.

Weaponized AI: Penggunaan military drones berbasis AI (Bab 37) menimbulkan pertanyaan tentang accountability ketika mesin mengambil keputusan fatal (life and death situation).

Implikasi Akademik:
Hendar menyarankan pendekatan ethical by design, yaitu mengintegrasikan prinsip non-maleficence dan autonomy sejak tahap pengembangan teknologi. Para pakar AI juga diajak untuk lebih memberi ruang pada intercultural ethics, misalnya, bagaimana nilai gotong royong dan menjaga silaturahmi dapat diadaptasi dalam platform governance, misalnya, akses pengguna pada apps peduli lindungi waktu COVID-19 sedang ganas-ganasnya.

Pertanyaan kritis untuk diskusi soal tantangan etis dalam teknologi persuasif pada tingkat desain
1) Apakah boleh menggunakan cara persuasif yang nonrasional atau tidak disadari?
2) Apakah ada bagian rentan dari kognisi yang perlu dilindungi seperti bagian tubuh yang rentan?

Pada tataran faktor penentu desain:
1) Bagaimana mengubah model bisnis agar menghormati perhatian dan kehendak pengguna?

Pada tataran dimensi konseptual:
1) Bagaimana memperjelas batas antara pengaruh seperti manipulasi, sugesti, paksaan, dan anjuran?
2) Apa saja faktor-faktor moral yang membedakan bentuk-bentuk pengaruh tersebut dalam desain dan penggunaan teknologi persuasif?

Catatan Penutup
Perkuliahan kali ini menegaskan bahwa etika digital bukan hanya kajian filosofis, tetapi juga kerangka operasional dan komunikasi strategis guna mengatasi gap antara inovasi dan dampak sosio-moral, sosio-teknis, dan tekno-moral. Kolaborasi lintas bidang kepakaran (hukum, TI, komunikasi) dan multi stakeholder menjadi kunci untuk menjawab tantangan yang super kompleks dan sangat aktual ini.

References
Véliz, C. (ed.). (2023). Oxford Handbook of Digital Ethics. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780198857815.001.0001 Diakses pada 8 Mei 2025.
Williams, J. (2023). Ethical Dimensions of Persuasive Technology. In Carissa Véliz (ed.) Oxford Handbook of Digital Ethics (pp. 281–291) Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780198857815.013.15 Diakses pada 13 Mei 2025.

Categories
Uncategorized

Hidup sosial yang sehat di era digital: panduan bagi orang tua dan remaja

Our New Social Life: Science-Backed Strategies for Creating Meaningful Connection
Penulis: Natalie Kerr & Jaime Kurtz
Penerbit: Oxford University Press (November 2024)

Dunia digital menguatkan koneksi sosial: benarkah?
Pernahkah Anda merasa berbicara dengan anak, tetapi perhatian mereka justru ke layar ponsel? Atau, saat Anda ingin bertemu sahabat lama, tapi waktu seolah tidak pernah cukup? Fenomena seperti ini bukan kebetulan semata. Buku Our New Social Life (Kerr & Kurtz, 2024) menyajikan hasil riset ilmiah terbaru yang menunjukkan bahwa kehidupan sosial kita—baik sebagai orang tua maupun sebagai individu—sedang mengalami krisis yang pelan tapi pasti menggerus kualitas hubungan manusia.

Dengan gaya hidup serba cepat, tuntutan pengasuhan modern, dan kehadiran teknologi yang “selalu aktif”, banyak dari kita justru merasa semakin kesepian. Buku ini bukan litani ratapan, juga tidak sekadar mengkritik, tapi menawarkan solusi praktis berbasis sains agar kita dapat membangun kembali koneksi yang lebih bermakna, baik dalam keluarga maupun pergaulan sosial.

Banyak interaksi tapi minim koneksi
Ada empat persoalan utama yang diulas dalam buku ini, yaitu:
1. Phubbing: kebiasaan memeriksa ponsel saat sedang berinteraksi, misalnya saat makan bersama anak. Ini menurunkan kualitas kelekatan emosional, bahkan bisa berdampak jangka panjang pada kepercayaan diri anak.
2. Budaya Kesibukan: Banyak orang tua merasa bangga menjadi “super sibuk”, padahal hal ini menyisakan sangat sedikit waktu untuk pertemanan atau komunikasi berkualitas dengan keluarga.
3. Pengasuhan Intensif: Orang tua zaman sekarang sering merasa harus selalu hadir dalam semua aspek kehidupan anak. Akibatnya, mereka mengorbankan hubungan sosial dewasa yang sebenarnya penting untuk keseimbangan mental.
4. Media Sosial: Meskipun terasa “terhubung”, interaksi digital tidak memicu respons otak yang sama dengan interaksi langsung. Ini menyebabkan relasi yang rapuh dan dangkal.

Lalu kita harus bagaimana?
Para penulis menyampaikan bahwa meskipun kita hidup dalam era yang serba terhubung, secara neurologis otak kita tetap membutuhkan interaksi fisik. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi tatap muka mengaktifkan jalur saraf khusus yang membuat kita merasa “terhubung secara emosional.”

Selain itu, kita perlu memberi waktu untuk orang lain, meskipun hanya 15 menit. Secara psikologis, memberi waktu menciptakan perasaan punya waktu lebih banyak (time abundance). Pengasuhan yang terlalu intens justru membuat anak kurang mandiri secara sosial jika orang tua mengabaikan kehidupan sosial mereka sendiri. Bias kognitif seperti spotlight effect (merasa terus diperhatikan orang lain) dan loneliness-induced threat response (kesepian membuat kita mudah salah paham dalam berkomunikasi) justru semakin memperkeruh keadaan. Karenanya, bias kognitif perlu diatasi agar hubungan sosial jadi semakin jernih.

Semua pokok amatan di atas menggarisbawahi keyakinan berbasis fakta bahwa tantangan membangun hubungan bukan sekadar soal kurangnya waktu atau minimnya teknologi komunikasi, tapi lebih pada soal bagaimana kita memahami dan mengelola pikiran serta perasaan dalam bersosialisasi.

Baby steps, giant impact
Buku ini menawarkan berbagai solusi konkret, antara lain:

A. Batasi gangguan teknologi
*) Terapkan phone-free meals saat makan bersama keluarga.
*) Biasakan menyimpan ponsel ketika sedang bersama orang lain agar lebih hadir secara emosional.

B. Lawan budaya sibuk dan sok-sibuk
*) Coba delegasikan tugas rumah tangga kepada ART untuk membuka waktu bersosialisasi.
*) Menolong orang lain secara rutin dapat memunculkan rasa lega dan bahagia.

C. Seimbangkan waktu dan perhatian antara pengasuhan dan kehidupan sosial
*) Buat sistem “playdate bersama” agar orang tua bisa bersosialisasi saat anak bermain.
*) Bergabung dengan komunitas atau grup orang tua untuk memperluas jaringan sosial secara alami.

D. Latih kesadaran sosial (social mindfulness)
*) Gunakan teknik social mindfulness: tanyakan “apa bukti bahwa saya diabaikan?” sebelum menyimpulkan sesuatu yang negatif.
*) Reframing: ubah cara berpikir dari asumsi negatif ke positif (contoh: “mungkin teman saya sibuk, bukan sengaja menghindar”).

E. Bangun hubungan yang lebih solid dengan menerapkan prinsip psikologi dasar
*) Manfaatkan proximity dan similarity: sering bertemu dan membicarakan kesamaan (asal daerah, hobi, dsb.) meningkatkan keakraban.
*) Latih deep listening: dengarkan secara penuh, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Sudah saatnya menyirami taman hubungan di tengah himpitan kesibukan
Kesimpulan utama buku ini sangat relevan untuk para orang tua masa kini: koneksi sosial yang bermakna tidak terbentuk dari intensitas notifikasi, melainkan dari kehadiran, perhatian, dan keberanian membuka diri secara wajar. Hubungan yang sehat dimulai dari kesadaran kecil: menyimpan ponsel, mendengarkan anak tanpa terdistraksi, meluangkan waktu untuk teman, dan tidak takut membuka diri (self-disclosure).

Tiga saran praktis bagi orang tua
Pertama, jadwalkan minimal satu sesi tatap muka per minggu dengan teman atau keluarga di luar rutinitas rumah tangga.
Kedua, gunakan grup WhatsApp orang tua murid sebagai pintu masuk ke pertemanan nyata—bukan sekadar forum informasi sekolah.
Ketiga, ajarkan dan beri contoh pada anak tentang pentingnya “bertemu dan hadir” sebagai meaningful connection, bukan hanya “mengirim pesan”.

Dengan memahami dan menerapkan strategi berbasis penelitian ilmiah terbaru ini, kita tidak hanya membantu diri sendiri menjadi lebih bahagia, terhubung & bermakna, tetapi juga memberi teladan kepada anak-anak tentang cara menjalani hidup sosial yang sehat di era digital.

[Untuk versi kritik atas asumsi teoritis yang digunakan dalam buku ini, surati saya di hendarputranto@gmail.com]

Categories
Uncategorized

Sembilan wawasan dari kursi Chief Editor UltimaComm: Sebuah warisan intelektual yang berkelanjutan

Sebuah catatan reflektif dari Chief Editor UltimaComm: Jurnal Ilmu Komunikasi

Menjadi chief editor jurnal ilmiah tidak sekadar berkutat dengan aspek teknis pengelolaan naskah, tetapi juga merupakan perjalanan kepemimpinan intelektual yang mendalam. Selama sembilan bulan mengawal UltimaComm: Jurnal Ilmu Komunikasi, saya menemukan bahwa tugas ini lebih dari sekadar menilai kelayakan tulisan. Saya telah mengawal nilai-nilai akademis, mendampingi transformasi paradigma berpikir, dan tanpa disadari, turut mewariskan standar yang akan membentuk lanskap keilmuan komunikasi di masa mendatang.

Berikut sembilan refleksi kritis yang saya petik dari kursi editorial sejak Agustus 2024:

1. Integritas ilmiah sebagai fondasi tak tergantikan
Dalam setiap keputusan editorial, integritas ilmiah harus menjadi kompas utama. Banyak naskah yang masuk dengan semangat tinggi namun kerangka berpikir yang kabur—penelitian tanpa pertanyaan riset yang jelas, metodologi yang rancu, atau literatur yang sekadar deretan kutipan tanpa sintesis bermakna. Integritas intelektual mengharuskan kita memberikan umpan balik yang jujur, kritik yang konstruktif, dan keputusan editorial yang tidak terpengaruh oleh sentimen personal. Standar ilmiah bukanlah sesuatu yang dapat dikompromikan.

2. Transformasi dari deskripsi ke analisis kritis
Tantangan terbesar dalam proses editorial adalah mendorong pergeseran paradigma penulisan—dari sekadar deskriptif menjadi analitis, dari narasi laporan menjadi pengembangan argumentasi, dari penggunaan terminologi kompleks menjadi kerangka logis yang koheren. Tulisan ilmiah yang bermutu tidak hanya menjawab “apa yang terjadi” tetapi juga mengeksplorasi “mengapa ini signifikan, dan bagaimana membuktikannya.” Pergeseran ini bukan hanya soal teknis penulisan, melainkan transformasi epistemologis yang fundamental.

3. Kritik sebagai bentuk kepedulian akademis
Surat penolakan naskah dapat menjadi momen pembelajaran yang berharga, dan proses revisi bisa menjadi ruang transformasi intelektual. Itulah mengapa setiap umpan balik yang saya berikan selalu disertai dengan contoh konkret, rekomendasi sumber, dan terkadang bahkan reformulasi paragraf. Kritik yang diberikan dengan seksama merupakan bentuk perhatian akademis—kritik yang bertujuan menyelamatkan, bukan menjatuhkan. Dalam ekosistem akademik, kritik yang konstruktif adalah katalis pertumbuhan intelektual.

4. Kejelasan epistemologis dan upaya menjaga marwah jurnal
Menjaga batas-batas epistemologis bukanlah tindakan eksklusi, melainkan komitmen terhadap koherensi keilmuan. Tidak jarang saya menerima naskah yang—meskipun menarik—lebih tepat diterbitkan di jurnal pendidikan, teknologi, atau kebijakan publik. Membiarkan naskah-naskah tersebut lolos seleksi awal merupakan bentuk “penyimpangan epistemik” yang dapat mengaburkan identitas jurnal. Editor harus berani berdiri pada posisi yang tidak selalu populer: menolak naskah yang tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal, sembari tetap membuka dialog konstruktif dengan para penulis naskah (authors).

5. Memimpin diskursus dan bukan menghakimi
Memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyanggah penilaian awal bukan merupakan tanda keraguan, melainkan pengejawantahan prinsip keterbukaan akademis. Peran editor bukanlah mengetahui segalanya, tetapi menjadi fasilitator diskusi yang adil, terbuka, dan berbasis argumen. Justru dalam proses dialogis inilah kita dapat mengembangkan perspektif yang lebih fleksibel dan komprehensif.

6. Etika komunikasi menjadi jantung dari proses editorial
Etika komunikasi merupakan aspek yang tidak selalu diartikulasikan secara eksplisit, namun harus dipraktikkan secara konsisten—berbicara kepada penulis dengan empati dan menghormati upaya mereka. Bahkan ketika suatu naskah jauh dari standar publikasi, cara menyampaikan penolakan dapat menentukan apakah penulis tersebut akan tumbuh atau justru berhenti berkarya. Di sinilah nilai-nilai komunikasi etis memainkan peran sentral dalam proses editorial.

7. Melawan stagnasi penulisan akademik
Gaya penulisan akademik di Indonesia masih sering terjebak dalam pola presentasi: terminologi kompleks, kalimat abstrak, namun miskin argumentasi substansial. Fenomena ini merupakan warisan yang perlu direkonstruksi melalui catatan editorial yang tegas namun solutif. Menulis ilmiah bukan tentang “terlihat intelektual” melainkan tentang “menyampaikan pemikiran secara mendalam dan dapat dipahami.”

8. Menolak naskah sebagai bentuk tanggung jawab akademis
Keputusan menolak naskah merupakan manifestasi tertinggi dari tanggung jawab editorial—bukan karena tidak ada harapan, melainkan karena belum ada kecukupan kualitas. Menunda penolakan terhadap naskah yang belum memenuhi standar akademik adalah bentuk disorientasi intelektual. Penolakan yang disampaikan dengan tepat justru dapat membuka jalan bagi pengembangan kualitas karya ilmiah di masa mendatang.

9. Kolaborasi tim Editorial sebagai ekosistem akademis penjaga mutu
Kesuksesan proses editorial tidak pernah menjadi upaya soliter. Tim editorial yang solid adalah fondasi penting dalam menjaga standar keilmuan. Setiap editor memiliki keahlian dan perspektif unik yang berfungsi sebagai garda terdepan dalam proses penyaringan epistemik (gate-keeping) dan peningkatan kualitas naskah (epistemic enhancement). Mendelegasikan kepercayaan kepada tim editorial bukan sekadar strategi manajemen; ini adalah pengakuan bahwa ekosistem pengetahuan yang sehat membutuhkan keragaman sudut pandang dan keahlian. Sebagai chief editor, saya belajar bahwa keputusan terbaik sering muncul dari diskusi kolektif yang menggabungkan berbagai kekuatan analitis para editor dalam menilai kelayakan dan potensi sebuah naskah. Kolaborasi tim editorial yang efektif menciptakan lingkungan di mana standar akademik tidak sekadar dipertahankan, tetapi terus ditingkatkan melalui dialog kritis yang berkelanjutan.

Epilog: Membangun warisan intelektual melalui praksis Editorial
Warisan seorang editor bukanlah sekadar edisi terbitan yang terkelola dengan baik atau sistem OJS yang tertib. Warisan sejati terletak pada standar berpikir yang ditanamkan, cara memberikan umpan balik yang bermakna, dan komitmen untuk mengembangkan disiplin ilmu komunikasi sebagai bidang keilmuan yang rigorous dan progresif. Ilmu yang berkelanjutan adalah ilmu yang dipertaruhkan dengan kesungguhan—dalam setiap revisi, komentar, dan keputusan editorial yang kita ambil hari ini.

Semoga refleksi ini dapat menjadi kaca benggala bagi rekan-rekan sekalian yang mau memercayakan naskah-naskahnya untuk diproses dan akhirnya dimuat di UltimaComm: Jurnal Ilmu Komunikasi!

Tabik!

Hendar Putranto