Categories
Uncategorized

Logika Waktu Pendek dan Kapitalisme Luwes: Telaah Kritis Pemikiran Richard Sennett dalam The Culture of New Capitalism (2006)

Biografi Singkat Richard Sennett[i]

Richard Sennett lahir pada 1 Januari 1943 di Cabrini-Green Homes, Chicago, perumahan untuk kalangan menengah ke bawah yang menyimpan segudang masalah sosial seperti kekerasan antar gang, kejahatan, dan kemiskinan. Pada 2011, kawasan perumahan ini sudah tuntas digusur pemerintah. Sejak usia dini, Sennett tertarik bermain alat musik, khususnya cello. Ia sempat mendaftar dan diterima masuk sekolah musik bergengsi the Juilliard School di New York, dan berlatih di bawah bimbingan Claus Adam, cellist dari grup musik Juilliard Quartet. Sayang bahwa cedera tangan mengakhiri karirnya di bidang musik ini sehingga ia lalu meneruskan studinya di the University of Chicago, kemudian Harvard University. Minat keilmuannya multi-disipliner: ia mempelajari ilmu sejarah dari Oscar Handlin, sosiologi di bawah bimbingan David Riesman, dan filsafat dari John Rawls.

Selama lima dekade terakhir, Sennet produktif menulis tentang isu-isu sosial kemasyarakatan seperti hidup sosial di kota besar, perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia kerja, dan tentu saja teori-teori sosial. Sejumlah buku yang ditulisnya adalah Families Against the City: Middle Class Homes of Industrial Chicago, 1872-1890 (1970), The Uses of Disorder: Personal Identity and City Life (1970), The Hidden Injuries of Class (1972) yang ditulisnya bersama Jonathan Cobb, The Fall of Public Man (1977), Authority (1980, 1993), Flesh and Stone: The Body and The City in Western Civilization (1996), The Corrosion of Character: The Personal Consequences of Work in the New Capitalism (1998), Respect in A World of Inequality (2002), The Culture of the New Capitalism (2006), Practicing Culture (2007) kumpulan tulisan yang disuntingnya bersama Craig Calhoun, The Craftsman (2008), The Foreigner (2011), Together: The Rituals, Pleasures, and Politics of Cooperation (2012), dan Building and Dwelling: Ethics for The City (2018). Sennet juga menulis beberapa karya fiksi (novel) seperti The Frog who Dare to Croak (1982), An evening of Brahms (1984) dan Palais-Royal (1987). Semua karya tulisnya ini, baik yang fiksi maupun non-fiksi, terinspirasi dari passion-nya yang besar pada warisan pemikiran Marx bagi ilmu-ilmu sosial (pendekatan Marxis), lika-liku kehidupan orang biasa di kota besar, nasib pekerja (Labor) di tengah perubahan sosial dan ideologi politik nasional dan global, juga tentang musisi dan musik klasik.

Karir Sennett sebagai cendekiawan publik dimulai dengan ikut mendirikan the New York Institute for the Humanities (1976) bersama Susan Sontag dan Joseph Brodsky. Kemudian pada tahun 1980-an, Sennett diangkat sebagai President of the American Council on Work. Jabatan publik akademis yang pernah disandangnya antara lain Profesor Ilmu-ilmu Kemanusiaan di NYU, Profesor Sosiologi di LSE, dan sekarang masih menjabat sebagai Senior Fellow di Pusat Kajian Kapitalisme dan Masyarakat, Columbia University. Selama tiga dekade terakhir, Sennett banyak dipercaya sebagai konsultan untuk sejumlah badan yang bernaung di bawah PBB; yang paling baru, dia dipercaya menuliskan mission statement untuk Habitat III: UN Conference on Housing and Sustainable Urban Development, yang berlangsung pada 17-20 Oktober 2016. Pada 2012, Sennett membangun Theatrum Mundi (TM) di Somerset House, Inggris. TM awalnya sebuah lembaga riset (belakangan menjadi lembaga charity mandiri) yang berfokus pada kajian budaya dan ruang urban sekaligus ruang perjumpaan untuk diskusi antara para pemerhati tata kota, akademisi urban, dan seniman. Di TM, Sennett dipercaya menjadi salah satu pimpinan yayasannya (board of trustees).

Sebagai seorang akademisi sarat prestasi, Sennett mendapatkan banyak penghargaan. Di antaranya ia menerima the Hegel Prize, the Spinoza Prize, Doctor Honoris Causa dari the University of Cambridge, dan Medali Penghargaan (the Centennial Medal) dari Harvard University. Ritme akademis Sennett di kancah publik ternyata didukung penuh oleh istrinya, Saskia Sassen, yang dinikahinya pada 1987. Sassen seorang akademisi terpandang & sosiolog terkemuka dalam kajian Globalisasi dan teori sosiologi perkotaan.

 

Letak Pemikiran Sennett dalam Teori Sosial Kontemporer (Barat)

Dalam pengamatan Beilharz (1992, h. 4), fakta terpenting dalam teori sosial mutakhir dan itu membayang jelas pada sejumlah teori pascamodern adalah ’the turn away from grand theory to the celebration of contingency.’ Jika teori sosial besar (klasik) yang dimaksud adalah teori Durkheim, Marx, dan Weber, maka secara karikatural dapat dikatakan bahwa teori-teori sosial yang lahir setelah era Weber adalah ’setumpukan catatan kaki’ atas Durkheim, Marx dan Weber. Dalam arti sempit ini, kajian sosiologi pascamodern (yang masuk dalam teori pascamodern) juga memperkaya tumpukan catatan kaki tersebut dengan lebih memberi perhatian yang besar pada empat aspek berikut ini: (a) semua pengetahuan bersifat kontekstual dan lokal, (b) klaim validitas dari sembarang teori ilmiah tidak ditemukan pada kriteria yang abstrak dan universal melainkan hasil dari negotiated consensus or power struggles, (c) sebagai akibat dari poin (a) dan (b) tersebut, subjek penahu juga tidak bergantung pada kriteria universal untuk memastikan validitas dan kebenaran dari pengetahuannya; ia juga tidak ’otonom’ (dalam pengertian ’berada secara objektif dalam dunia yang terberi’) dikarenakan dirinya adalah ’produk dari gugus sirkumstansi sosial’ yang ikut membentuk sejarah keberadaan dirinya. (Preda, 2011, h. 11865)

Dalam peta teori sosial kontemporer (1980-2020), posisi pemikiran dan concern sosiologis Sennett dapat dikatakan sehaluan dengan jejak pemikiran para sosiolog ternama dari daratan Eropa seperti Anthony Giddens, Ulrich Beck, Zygmunt Baumann, Scott Lash, John Urry, Cornelius Castoriadis, Pierre Bourdieu, Manuel Castells, Norbert Elias, Nico Stehr, Niklas Luhmann, dan Jürgen Habermas. Bersama dengan Zygmunt Bauman—yang bukunya Liquid Modernity (2000) cukup sering dikutip dalam tulisan-tulisannya—Sennett dapat dikategorikan sebagai seorang sosiolog yang mempunyai perhatian khusus pada isu modernitas, kapitalisme, urban life character, dan kerja/pekerja (labor), dengan segala varian dan ambiguitas teoritis, juga implikasi-implikasi praktisnya. Pandangan Sennett tentang kegelisahan (anxiety) yang dialami para pekerja ’lawas’ di era Kapitalisme Luwes, juga hidup banyak orang yang terfragmentasi, senafas dengan pandangan Bauman dalam Liquid Modernity (2000) tentang risiko dan ketidakpastian. Bauman mengatakan bahwa, “sementara kepercayaan dan confidence adalah faktor konstitutif dalam modernitas awal, risiko dan ketidakpastian adalah penanda paling jelas dari modernitas cair (liquid modernity)…ketidakpastian masa sekarang adalah kekuatan individualisasi yang hebat. Ia memecah-belah dan bukan menyatukan.”[ii]

Yang membedakan pemikiran Sennett dengan pemikiran para sosiolog kontemporer lainnya adalah genealogi, kembara intelektual, dan perkembangan serta pematangan ide-idenya yang memadukan secara kreatif sejumlah gagasan besar tentang diri dan masyarakat, dilihat dari perspektif sosiologi, psikologi, psikoanalisis, ekonomi, dan filsafat. Paduan pemikiran kreatif yang dihasilkan Sennett berangkat dari gagasan besar tentang ’keadilan sosial’ (insight yang diperolehnya dari Rawls), karakter manusia modern (yang kesepian dan senantiasa berjuang mencari pegangan hidup yang pasti; insight dari Riesman terutama lewat karyanya The Lonely Crowd, 1950), sekaligus dualitas kerinduan kodratiah manusia yaitu pertama, kerinduan untuk bergerak melampaui diri-yang-terbatas guna menghasilkan objek yang berkualitas for its own sake (pengaruh ide tentang Craftsman yang digalinya dari studi sejarah sejak Abad Pertengahan) serta kedua, kerinduan untuk berakar dalam komunitas dan ruang hidup yang manusiawi di tengah segala perpindahan dan perubahan yang sangat mungkin dialami manusia-manusia modern (ide ’kerjasama’ dan ’solidaritas’ yang menjadi topik pembahasan Sennett dalam beberapa bukunya kental dipengaruhi oleh studi-studi tentang Imigran di Amerika dari gurunya, sejarawan Oscar Handlin). Kelindan gagasan-gagasan besar yang dipadukan secara kreatif ini lalu dikokohkan (grounded) pengalaman hidupnya sendiri yang lahir dan besar di lingkungan pemukiman kelas menengah ke bawah Chicago, dalam interaksinya dengan orang-orang sederhana, blue-collar workers & immigrants, yang menjadi living co-researchers-nya untuk penelitian etnografis isu Labor.

Sebelum masuk ke dalam kajian atas pemikiran Sennett, yang secara terbatas tecermin dalam bukunya The Culture of The New Capitalism (selanjutnya disingkat menjadi CNC), penulis mengajukan tiga pertanyaan yang akan dijawab dalam makalah singkat ini, yaitu: (menurut Sennet)

(the rest of the paper could be requested to me personally at my email hendarputranto@gmail.com) 

[i] Bagian ini merupakan saduran bebas dari https://www.richardsennett.com/site/senn/templates/general.aspx?pageid=8&cc=gb

[ii] Sebagaimana dikutip oleh Abrahamson, P. (2001). Review Essay Liquid Modernity: Bauman on Contemporary Welfare Society. Acta Sociologica, Vol. 47(2), h. 172.

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *