Categories
Uncategorized

[DAY 138] Mengulik Arkeologi Media

What is Media Archeology? (Jussi Parikka, 2012)
Cambridge (UK) & Malden, MA (USA): Polity Press.

Daftar Isi

1 Pengantar: Kartografi dari Yang Lama dan Yang Baru 1
2 Arkeologi Media terkait Rerasa: Audiovisual, Afektif, Algoritma 19
3 Media Imajiner: Memetakan Objek-objek yang Aneh 41
4 Teori Media dan Materialisme Baru 63
5 Memetakan Suara Berisik dan Hal-hal Cilaka 90
6 Dinamika Pengarsipan: Budaya Piranti Lunak dan Warisan Digital 113
7 Mempraktekkan Arkeologi Media: Metodologi Kreatif untuk Remediasi 136
Kesimpulan: Arkeologi Media dalam Budaya Digital

Pertanyaan mendasar dari kajian arkeologi media seperti menggemakan pertanyaan Foucault dalam karyanya Arkeologi Pengetahuan: kondisi-kondisi eksistensi seperti apa sampai bisa muncul barang yang ini, pernyataan yang itu, wacana yang ini dan kemajemukan praktik yang termediatisasi yang di dalamnya kita hidup? Pertanyaan semacam ini membidik aspek politis, etis, ekonomis, teknologis, ilmiah dan lainnya dan jangan sampai ada aspek yang dilewati pembahasannya (h. 18).

Manajemen objek “pengarsipan” biasanya tidak gamblang dilihat para pengunjung museum. Tapi sekarang, dengan mentasnya budaya digital, terjadi tren digitalisasi dari pengarsipan dengan menggunakan, misalnya RFID (Radio Frequency Identification). Pengarsipan digital merujuk pada sebuah dunia fantasi yang di dalamnya setiap objek dapat disematkan chip penanda (taggable), dapat dilacak, dan dapat dikelola. Dunia fantasi ini lantas menjadi gudang penyimpanan yang super besar: gudang arsip, database (h. 159).

Jangan berpikir bahwa media arkeologi itu cuman urusan kajian media atau kajian film di kampus. Arkeologi media dapat ditemukan di dalam dan di luar lembaga, orang-perorangan pun bisa. Misalnya di studio seni, di museum, gerobak sampah atau di TPA, lintas batas geografis dan institusi akademis yang berbasis negara-bangsa, dari Amerika Utara sampai Eropa, dari Amerika Latin sampai ke Australia, Jepang, Indonesia, dll. Dari wacana akademis ndakik-ndakik di Amerika Utara sampai ke puing-puing ideologi budaya teknologi bekas negara adidaya Uni Soviet di negara-negara satelitnya di Eropa Timur, sampai ke gunungan sampah elektronik di China, para seniman yang mendaur ulang ide-ide tentang hal usang dan budaya teknis di Berlin; ada beragam praktik yang dibahas, dengan berfokus pada praktik-praktik yang dilakukan kaum marjinal di periferi; lembaga-lembaga konkret yang berkelindan dengan agenda kaum intelektual dan aktivis kritis nlekutis. Ringkasnya, arkeologi media itu berkelana alias jalan-jalan (h. 160).

Buku Arkeologi Media ini bukan hanya membahas soal sejarah munculnya media lama dan media baru yang berkelindan dengan gugus praktik, aparatus (piranti/gawai) dan ide-ide yang datang dan pergi, namun juga bicara tentang sejarah, tentang waktu, dan tentang perngarsipan yang merupakan konsep kunci dalam budaya digital. Nah, yang namanya konsep juga berkelana lho. Terkait pengarsipan, ia bukan hanya berupa tumpukan kertas di dalam lemari-lemari besi, namun juga pengarsipan yang ada di awan (clouds) untuk menyimpan ratusan giga foto liburan; juga pengarsipan yang merupakan agregat dari platform medsos yang kita gunakan untuk mejeng, pamer dan belanja, perilaku daring pengguna yang diekstrak lewat datamining (kunci dari model bisnis dalam budaya jejaring); pengarsipan juga berlangsung di dalam mikrochip yang berfungsi memproses kerjanya komputer dan telpon pintar kita untuk jangka waktu yang sangat singkat, penyimpanan sementara yang biasa disebut RAM.

Karena itu, terkait media arkeologi yang lintas keilmuan serta batas ruang dan waktu seperti ini, pantas ditanyakan hal berikut: bagaimana cara agar kita tetap menjaga api semangat ‘kepo’ transdisipliner dan radikalitas berpikir dalam situasi terkini di mana gelar-gelar pemberian universitas tereduksi sedemikian rupa sehingga menjadi ‘syarat administratif’ (kualifikasi) saja untuk melamar pekerjaan? (h. 161)

Memberi tekanan pada TINDAKAN/PERILAKU/AKTIVITAS
Dalam buku ini saya menekankan kamu bisa apa/ngapain dengan arkeologi media, bukan cuman ngerti artinya apa. Sean Cubitt (2004: 11) menulis dalam majalah Cinema Effect: ‘Tugas teori sekarang bukan lagi negatif (menelanjangi kekuasaan, misalnya), apalagi tugas teori media, seharusnya ia memampukan: mengekstrak dari kumpulan teori yg ada dan bagaimana mendaur ulang ide-ide yang ada yang belum begitu dikembangkan dan cara-cara baru untuk memberdayakan ide-ide tersebut.’ Cara pandang seperti ini mendorong para media theorists untuk memetakan gugus potensi untuk masa depan alih-alih menggali-gali kubangan sejarah (doang). Dalam arti ini, arkeologi media dapat dipahami sebagai sebuah proyek politis karena ia membuka ruang eksplorasi tentang pengetahuan praktis (apa yang bisa dilakukan?)

Saya cenderung menghindari penggunaan model kritik ilmu-ilmu kemanusiaan tradisional dan lebih bertumpu pada penggunaan analisis media yang diusung Deleuze & Guattari untuk mengupas lapis-lapis terbentuknya sejarah media, suatu ‘sedentary point of view’ (Deleuze & Guattari, 2004: 25) yang dalam arti tertentu justru menghambat letupan-letupan kreatif dan kebaruan gagasan, sebuah metode yang disebut nomadologi: menelusuri dari dekat hal-hal yang terlihat kecil (fleeting, minor) tapi ternyata memiliki dampak besar, sebuah moda pengetahuan dan produksi pengetahuan yang menekankan terbentuknya hubungan-hubungan baru yang bukan melulu mereproduksi gagasan/hubungan/moda produksi yang lama atau yang sudah ada, tapi memproduksi “new modes of existing, thinking and creating.” Model kartografi pengetahuan secara nomadik yang diajukan Deleuze dan Guattari, juga Rosi Braidotti (2002) untuk telaah kajian kemanusiaan berjender abad ke-21, merupakan eksperimentasi yang menekankan pada ‘keterhubungan antara ranah’ (fields) sekaligus menyemenkan dimensi-dimensi baru telusur gagasan termasuk transformasi dan perubahan yang meletak di inti cipta-karya pengetahuan. Model berpikir seperti ini penting bagi pembentukan masa depan arkeologi media.

Yang saya lakukan dalam buku ini lebih dekat dengan yang disampaikan ahli media dari Jerman bernama Zielinski yang mendorong saya untuk menemukan aspek yang baru dalam artefak lama, juga hubungan-hubungan baru dari piranti media lama dalam kaitannya dengan praktik-praktik budaya; kebaruan itu juga muncul lewat pertanyaan: mau dibawa ke mana arkeologi media dan bagaimana membuat kajian ini tetap menarik lebih dari sekadar sub-bagian dari sejarah media? Media arkeologi dengan demikian bergerak dari telaah media lawas menuju “media baru” seperti kajian piranti lunak, aplikasi dan platform serta pokok-pokok perdebatan lain dalam budaya digital.

Memberi tekanan pada MATERI
Arkeologi media yang berparadigmakan konstruksionis-sosial di antaranya muncul dalam pandangan ahli media Lisa Gitelman yang mengatakan bahwa media adalah “socially realized structures of communication, where structures include both technological forms and their associated protocols, and where communication is a cultural practice, a ritualized collocation of different people on the same mental map, sharing or engaged with popular ontologies of representation” (2006: 7).

Persoalan media sebagai representasi tidak bisa dengan gampangnya direduksi sebagai obsesi pada kajian material media itu sendiri (medium is the message), namun perlu diperiksa lebih luas lagi, budaya media dan praktik desainnya, materi seperti apa yang disertakan dalam rancang prototipnya, telusur sejarah dan arkeologi mana yang bermakna sehingga menghasilkan wujud teknologi media tertentu, sekaligus konteks ilmiah, teknologis, artistik, sosial, ekonomis, termasuk pasar tenaga kerja dan alamiah/ekologis yang melingkupi kajian media, seni dan komunikasi.

Ulasan singkat:
Kekuatan buku ini terletak pada:
1) Kebaruan paradigma yang ditawarkan untuk memahami sejarah media yang tidak menggunakan paradigma positivistik, tapi lebih ke social constructionism dan ini mengubah lanskap pemahaman pembaca tentang sejarah dan unsur-unsur konstitutif penyusunnya.
2) Parikka berhasil menghubungkan aspek-aspek lama perkembangan sejarah media ke dalam wujud-wujudnya yang baru (disebut New Media) dan melacak jejak perkembangan teknologi media tersebut ke aspek kontekstualnya (disebut: conditions of existence). Terlihat bahwa pertarungan ideologi (makro), organisasi/kelembagaan (meso) dan orang-perorangan (sosok genius penemu, misalnya)
3) Pengarsipan bukanlah hal sederhana dalam budaya digital. Ada potensi preservasi warisan tapi ada juga unsur kehilangan aura dan eksklusivitas akses (terhadap warisan tersebut) membuat penghargaan pengguna terhadap karya-karya klasik sama nilainya dengan, katakanlah, membaca koran digital.

Hendar Putranto (c) 2020

By Hendar Putranto

I am a doctorate student in Communication Science, FISIP Universitas Indonesia, starting in 2019. Hope this blog fulfills my studious passion to communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.