Categories
Uncategorized

Valentine, Feb. 14, 2022: Is LOVE blind? Or is it hatred that “blind”?

Seems like we have to revise the popular tagline surrounding “love” in Valentine’s Day commemoration this year: “LOVE is blind” 🙂

Moga2 aja penggalan quote dari saya ini (lumayan) mencerahkan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pesannya akan dijalankan/diadopsi sebagai pandangan hidup 😀

Oia, satu lagi. Perayaan Valentine yg “bener & pener” dlm arti mencintai perbedaan dan bukan malahan “menghabisi”/”meniadakan” perbedaan juga perlu lebih dibudidayakan dalam masyarakat kita yah.
Soalnya tuh aku sedih banget pas baca buku di bawah ini:


Salamon, G. (2018). The Life and Death of Latisha King: A Critical Phenomenology of Transphobia. New York: New York University Press.

dan mengetahui fakta pilu bernama transphobic di negara (yg dianggap banyak orang) keren, maju (advanced) & demokratis kayak USA (FYI: peristiwa ditembaknya Latisha King sama temen sekolahnya sendiri terjadi di USA pada 12 Februari 2008, pas lagi jam pelajaran komputer … duuuuh).

Klo mau dapat gambaran kronologis peristiwanya cek di sini dulu yah gaess: https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_of_Larry_King


(pas searching di google kemaren aku tuh nemu fakta bahwa transphobic & homophobic ini jd perhatian dan agenda global, PBB pun ngasih perhatian khusus utk fenomena ini)

Rest in peace Latisha King, may your “coming out” & “staying cool” amidst waves of hatred & transphobic culture quench our sensitivity and loving gaze towards “differences” (whatever that entails)

Hendar Putranto (c) 2022

Categories
Uncategorized

Persaingan dan Pertarungan Etis Agensi Manusia & Mesin: Jangan Kasih Kendor!

Kata-kata kunci:
Aligning (fine-tuning) machines with human values; moral agency: autonomy & responsibility, moral thinking, and moral progress; programming our (human) ethics into machines: craftwork; the process of moral decision-making: human flourishing; from failure to act ethically to designing AI that assists us to advance our moral agency.

Kunci pemahamannya ada 5:
1) Manusia itu agen, termasuk agen moral, jadi jangan sampai ia melepaskan/mendelegasikan kapasitas ini kepada mesin.
2) Manusia itu makhluk yang penuh kekurangan, flawed; ia mudah menyalahkan pihak lain, misalnya. Kekurangan lainnya: permisif dan nggampangke persoalan; ia juga acapkali terkecoh hal yg wow dan emosinya diaduk2 pesan2 yg menyentuh kalbu (meskipun itu hoax).
3) Tugas kita dalam merumuskan dan menjalankan etika belum selesai; masih banyak lubang2 kekeliruan yang ke dalamnya manusia masih sering jatuh. Persis di sinilah kita perlu mengembangkan alat dan konsep/pemahaman terkait AI & Etika AI yang dapat menopang/menjaga/membantu kita supaya tidak mudah jatuh ke “lubang yang sama.”
4) Kunci mengatasinya ada pada kolaborasi lintas-bidang keilmuan & mengembangkan komunikasi yang (lebih) efektif lewat berdialog dengan berbagai pendekatan dan cara-pandang.
5) Salah satu perbedaan besar antara manusia dengan kecerdasan mesin adalah “level kemudahan dan kecepatan berbagi informasi.” Dalam arti tertentu, kecerdasan mesin lebih unggul daripada (kecerdasan natural) manusia untuk dua hal ini. Karenanya, kita tidak perlu bersaing dengan mesin dalam dua aspek ini. Yang perlu kita kembangkan adalah seni kriya dalam pengertian “craftwork.” Mengapa seni kriya? Karena dalam seni kriya, manusia bukan hanya mengembangkan penguasaan terhadap alat yang diciptakannya namun ia juga mengasah/menempa dirinya untuk memiliki sejumlah keutamaan (karakter), seperti kesabaran, ketekunan, kegigihan, kecermatan, dan keluwesan.

Berikut kutipan-kutipan langsung dari artikelnya (dalam format .jpeg):

Catatan kritis:
Esei pendek yang ditulis Boddington ini, dalam sejumlah arti kurang memerhatikan perkembangan diskursus dalam Filsafat dan Etika Informasi yang sudah berlangsung sejak akhir 1990-an dan awal tahun 2000 yang dipelopori oleh, di antaranya, Rafael Capurro, Charles Ess, Luciano Floridi, James Moor, Deborah Johnson, Terrell Ward Bynum, Herman T. Tavani, Mariarosaria Taddeo, Richard Volkman, dan beberapa lainnya. Dua pokok yg diabaikan Boddington adalah soal paradigma “moral patience” alih2 moral agency (Floridi) & (inter-)cultural sensitivity towards information and Internet (Capurro, Ess).

Ringkasan ini diambil dari jurnal AI and Ethics
DOI: https://doi.org/10.1007/s43681-020-00017-0
Judul artikel: AI and moral thinking: how can we live well with machines to enhance our moral agency?
Penulis: Paula Boddington
Tahun publikasi: 2020
Profesi penulis: Researcher from New College of the Humanities, London.

Categories
Uncategorized

[Webinar] How to Publish in Reputable International Journal

Silakan bergabung yah teman2 sesama akademisi yg berminat mengetahui langkah2 supaya artikelnya (bisa) tembus di jurnal internasional bereputasi (terindeks Scopus).
Sekadar mau berbagi pengalaman saja pernah tembus di Journal of Intercultural Communication Research (RJIC) pada 2019 dan 2021 lalu.

Berikut link artikel jurnalnya:

terbit 2019: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17475759.2019.1639535

terbit 2021: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17475759.2021.1898450?src=recsys

Ini flyer kegiatannya:

salam,

Hendar

Categories
Uncategorized

[Seri 01 dari 15] Ada dan Sekitarnya: Jejak Pembacaan atas karya filsuf Gianni Vattimo bertajuk “Being and Its Surroundings” (2021)

60 jejak pembacaan & penafsiran + 60 kutipan dari karya terbaru filsuf Italia, Gianni Vattimo,
berjudul: “Being and Its Surroundings”
(secara paralel, tulisan ini juga dimuat di situs web Ikatan Alumni STFT Driyarkara,
dengan alamat pemuatan artikel di: https://ikadriyarkara.org/2022/01/06/being-its-surroundings-60-jejak-pembacaan-dan-penafsiran-karya-gianni-vattimo/

Tim Penyunting: Giuseppe Iannantuono, Alberto Martinengo, dan Santiago Zabala,
Diterjemahkan dari bahasa Italia ke dalam bahasa Inggris oleh Corrado Federici,
dari teks aslinya yang berjudul Essere e dintorni Š 2018
Penerbit dalam bahasa Italia: La nave di Teseo Editore, Milano
Penerbit dalam bahasa Inggris: McGill-Queen’s University Press , Š 2021

Pembacaan ditandai dengan angka Arab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dst.
Quotes ditandai dengan angka numerik Romawi i, ii, iii iv v vi vii viii. ix. x. xi. xii. xiii. xiv. xv, dst.

Being and Its Surroundings: A Theological-Philosophical Breviary, Rather than a Treatise (h. 1-4)

1) Dalam kumpulan esei ini, Vattimo mengembangkan sebuah Filsafat Peristiwa “A philosophy of occasions” yang bercirikan tiga hal berikut:
(*) FORMA: filsafat yang (ber-)terwujud dalam tulisan berbentuk kumpulan esei yang lebih cenderung menyerupai percakapan alih-alih argumentasi yang koheren dengan dipandu logika yang ketat.
(*) MATERIA: bahan mentah yang terbuka untuk diolah dan dinikmati, tanpa berpretensi lengkap dan paripurna (“sampai”)
(*) TELOS: tulisan yang bertujuan untuk membuat hidup pembacanya jadi terasa (sedikit) lebih baik tanpa gembar-gembor untuk menjadi “(traktat) filsafat yang mengubah dunia”; model kumpulan esei ini lebih mirip dengan pengalaman “estetik” (experiencing the truth of art, menurut Gadamer), si pembaca sekaligus penikmat mengalami sesuatu: suatu perubahan wawasan, suatu awal untuk memulai. Intinya, pembaca “mulai” mengalami relasi dengan Ada: tahu-tahu kita berjumpa dengan pembukaan tanpa ada kejelasan mana bagian tengahnya, apalagi ujungnya.

2) Sebuah tanggapan terhadap krisis yang bercorak Heideggerian sekaligus melampaui tafsir ontologis radikal ala Heidegger (“Heideggerianism”) yang dipicu oleh terbitnya “Black Notebooks” karya Heidegger (anumerta) dan Kongres yang membahas pemikiran Heidegger dalam “Black Notebooks” tersebut bertajuk “I ‘quaderni neri’ di Heidegger 1931–1948” yang berlangsung di kota Roma pada 23–25 November 2015.

(i) “Kita tidak ‘sampai’ ke manapun, kita sudah selalu mengembara di sekitar dan selalu tinggal dalam cakrawala yang terbatas. Bagaimanapun juga, inilah ciri relasi kita dengan Sang Ada; kita menemukan diri kita di sebuah hamparan keterbukaan, yang sama sekali tidak terstruktur secara sistematis dengan ditandai Pendahuluan, Tengah, dan Akhir” (Vattimo, 2021).

Bab 1: What Need, What Metaphysics? (h. 5-10)

3) Dalam dunia yang semakin ditandai kecenderungan untuk menguasai kehidupan para warganegara dengan beragam mekanisme kontrol—seperti tampak dalam politik HAM, politik rasa aman global, dll.—kita perlu mempertanyakan perlunya pendasaran metafisis (dalam pengertian tradisional) untuk aneka kebijakan publik yang ada. Contoh: isu global soal penerapan versi demokrasi (Barat) untuk menumbangkan diktator (seperti Khadafi dan Assad) atau untuk mengintervensi politik sebuah negara demi penegakan HAM dan koreksi terhadap pemerintahan anti-demokrasi tidak jarang dipakai sebagai topeng pembenaran untuk kepentingan ideologis (sempit) sejumlah pihak. Klaim kebenaran metafisis seharusnya lebih ditekankan pada pengertian dasariah (Yunani kuno)-nya yaitu meta (μετὰ): artinya (rasa) kebutuhan akan sesuatu yang melampaui hal-hal fisikawi, dengan kata lain, yang melampaui kepastian saintifik.

Padahal, kita ingat jelas bahwa sejarah peradaban Barat ditandai oleh pertarungan dua klaim metafisis yaitu metafisika transenden Gerejani (berupa kuasa absolut Ajaran dan Tradisi Kepausan Roma) dan metafisika Sekuler pencerahan (yang kemudian diteruskan oleh Sains Modern). Mentas dan mapannya Sains Modern tidak dapat dilepaskan dari perebutan kekuasaan pada tataran metafisis dari tangan para pejabat Gereja (Katolik Roma) ke tangan para saintis. Lima ratus tahun terakhir ini (di Dunia Barat) semakin terlihat tren bahwa pelbagai klaim metafisis, baik yang disampaikan para petugas dari agama terlembaga yang mendaku menyuarakan Kehendak Tuhan maupun para pemikir ilmiah yang dengan bangga menepuk dada dan menyatakan diri sebagai ‘bebas nilai,’ ternyata hanyalah selubung ideologis yang menyembunyikan pertarungan kekuasaan yang acapkali tidak seimbang baik amunisinya maupun lapangan bermainnya.

4) Metafisika sekarang lebih tepat dipahami dalam kelindan dualitas arti: “entah sebagai kebenaran yang melampaui dunia yang tampak dan pengetahuan umum, yang pentung pengukurnya dipegang barisan otoritas lawas, the auctoritates, atau kebenaran yang diproyeksikan yang tidak berlandaskan pada fakta dan data namun melulu pada kekuasaan yang didaku oleh dan berpihak pada proyek kaum marjinal.” Dalam rentang pilihan antara Metafisika auctoritates dan Metafisika Kaum Terpinggir, saya, Vattimo, di dalam kumpulan esei ini, lebih mengakui, memilih, dan mengundang Sidang Pembaca untuk mendukungnya sebagai ‘Metafisika yang Baik,’ bukan hanya karena alasan cinta atau belaskasihan pada Kaum Proletar (term metafisis dari Marx) yang karena sudah ditelanjangi habis-habisan kepemilikannya, maka mereka tidak punya selubung ideologis, sehingga justru dapat melihat kebenaran sesungguhnya. Di jantung preferensi pilihan pada Metafisis Kaum Marjinal ini meletak kedekatan emosional dan ontologis Vattimo pada karya Heidegger, Sein und Zeit, yang jelas-jelas menantang ide bahwa Ada adalah struktur yang terberi dan stabil yang tentangnya pikiran kita seyogianya dapat mencerminkan dan yang kepadanya kita perlu perlakukan secara hormat sebagai norma.

Dalam pandangan Heidegger muda, Metafisika objektivis yang digagas semacam inilah yang
(a) pada gilirannya mengeksklusi kebebasan, historisitas, dan struktur terbuka eksistensi, dan
b) menghasilkan objektivikasi universal tentang manusia sekaligus membuka jalan bagi terbentuknya masyarakat yang total Verwaltung alias masyarakat yang terdominasi paradigma rasionalistik totaliter—sebagaimana didaulat demikian oleh para pemikir dari Mazhab Frankfurt.

(ii) “Dalam dunia yang di dalamnya kendali atas hidup para warganegara dan politik rasa aman jadi semakin opresif, kebenaran yang diklaim metafisika tradisional bukanlah pokok yang kita perlukan lagi. Justru yang lebih kita butuhkan adalah sikap kritis yang menyingkap borok-borok absolut dari masa lalu dan semua implikasi sosial tragisnya…Sains dapat dilihat sebagai inkarnasi dari kekuasaan sekuler yang dulunya menantang kekuasaan tradisional Gereja dan auctoritates, kekuasaan yang mendasarkan dirinya pada ide transenden…sains modern lahir dan tumbuh berdampingan dengan mentasnya kekuatan ekonomi dan politik: para ilmuwan sekarang membutuhkan mesin yang terlampau rumit dan laboratorium yang teramat mahal yang memaksa mereka (jadi) tergantung pada pendanaan privat maupun publik, yang entah bagaimana caranya harus bisa mereka justifikasi” (Vattimo, 2021)

Categories
Uncategorized

Fenomenologi Komunikasi dalam Analisis Eksistensial Tindak-Tutur Subjek

Cukup menarik untuk menggali topik fenomenologi komunikasi dengan merujuk pada analisis eksistensial tindak-tutur subjek komunikasi menurut pandangan seorang tokoh besar Filsafat Komunikasi, Richard L. Lanigan berikut ini.

Semoga bermanfaat!

salam,

Hendar

Categories
Uncategorized

Jelajah Praktik Mobilitas Dalam Keseharian

Sebuah Pembacaan atas karya Michel de Certeau, The Practice of Everyday Life

See here for the teaser:

Categories
Uncategorized

Algoritme Media Sosial yg tidak bebas nilai: Polarisasi & Politisasi Teknologi

Berawal dari flyer yg disebarkan Kaprodi Pasca Ilkom UI semalam di grup WA Pengumuman S3,

saya tertarik mengikuti kuliah umum yang dibawakan Prof. Merlyna Lim (Canada Research Chair in Digital Media & Global Network Society, Carleton University, Ottawa, Canada) terkait topik “Algoritme & Politik Media Sosial.”

Topik ini sebelumnya pernah disampaikan beliau lewat pidato yg impresif dalam Event Pidato Tahunan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2021 (dapat dilihat di sini videonya https://youtu.be/mh9nydACB1U).

Topik yg kurang lebih mirip juga pernah beliau sampaikan setahun sebelumnya (di sini: https://www.youtube.com/watch?v=zboFFpzX1ys).

Setelah mencermati beberapa pokok gagasan yang beliau bagikan, seperti tergambar berikut ini:

saya mengajukan pertanyaan berikut ini lewat Room Chat (menggunakan bahasa Inggris bukan karena gagah2an tapi memang karena Kuliah Umum ini dibawakan beliau menggunakan bahasa Inggris jadi saya act accordingly to respect her & the Committee)

Thank you Prof. Merlyna Lim for your thoughtful sharing. I want to ask a question regarding the nature of the Algorithm which is binary. Can we, as scholars, do something about it, such as counter-act or other things? Is the social networks of hope, as you mention, be realizable within the algorithmic social media environment?

Prof. Merlyna Lim kemudian menjawab secara cukup elaboratif (dalam waktu sekitar 2 menit). Berikut adalah resume yang saya buat untuk jawaban beliau:

“I believe that researchers should have a moral compass considering the common code that binds us & our research to be objective & scientific, I am not biased on regards with data, but I am morally biased, … it is our responsibility as scholars to be in, like a public engagement with the socio-political issue at hand, therefore we may avoid perpetuating the reductionist side of knowledge to justify any views that are perpetuating the polarization. It is our responsibility to make social networks of hope become possible such as collaborating with policymakers, academist counteracts/counter-movement. academics working with activists and policymakers, alone we can’t do anything. we can influence the discourse to be more democratic, we can demand corporations to be more transparent, or to be a watchdoc in terms of social media misuse.”

Demikian sekilas hasil pengamatan & catatan pribadi saya untuk kuliah umum yang dibawakan Prof. Merlyna Lim pagi ini.

Terimakasih Prof. Merlyna Lim.

Terimakasih juga kepada Panitia Penyelenggara dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, khususnya kepada Moderator Dr. Kunto Wibowo.

salam sehat & produktif!

Hendar Putranto

Categories
Uncategorized

[ResensiBuku] Urban Zen: Tawaran Kejernihan Untuk Manusia Modern karya Reza A. Wattimena (Karaniya, Okt. 2021)

Resensi dengan judul Heneng, Hening, Hanung: Dari Dukkha Menuju Bahagia ini sudah pernah dimuat di blog Rumah Filsafat milik Reza Wattimena pada 3 November 2021, persisnya di sini:

Heneng, Hening, Hanung : Dari Dukkha Menuju Bahagia

Resensi direproduksi di blog ini untuk kepentingan memperluas akses pembaca tentang buku yang diresensi tersebut.

Terkait buku Urban Zen, dapat dibaca lebih mendetil di

Urban Zen: Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

dan

Melukis Cover Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Berikut book cover dari Urban Zen sebagaimana tergambarkan dalam flyer yang didesain oleh penerbit Karaniya:

juga saya sertakan satu dua foto yang langsung diambil dari halaman bukunya (bukti bahwa saya sudah baca lengkap bukunya..hehe)

Pengantar
Dalam gerak cepat pertumbuhan kota dan mobilitas akseleratif yang mewarnai dinamikanya, acapkali warga kota terengah-engah untuk mengimbangi. Saat motor dan mobil berhenti di perempatan lampu merah, atau di jalur antrian pom bensin, atau sekadar menunggu kedatangan moda transportasi publik, warga kota tetap menyibukkan dirinya dengan gawai sekadar meng-update berita, atau postingan viral di medsos mereka. Sebagian sosok urban mengambil peran sebagai commuter, yang terus meruangwaktu bolak-balik, tidak jarang dalam seruak sesak kemacetan di jalan tol (sebuah ironi!), manakala yang lainnya terjepit himpitan tubuh-tubuh keringatan di gerbong KRL Commuter Line atau TransJakarta. Serba semrawut, sumpek bertumpuk, dan riuh centang-perenang bukan pemandangan luar biasa di tengah dan pinggiran kota. Sesekali, selinap pikir dan selirih peluh tentang Ada dan Makna lamat-lamat menyapa: untuk apa ini semua? Senyampang tikungan kesadaran ini, Reza datang menawarkan suaka bernama Urban Zen. Ini bukan Fatamorgana, juga bukan Panacea, tapi “tawaran kejernihan untuk manusia modern.”

Tiga Pilar Pesona Urban Zen

Urban Zen memiliki tiga pilar pesona ini.

Pertama, topik pembahasannya sangat mengena dengan rentang dan relung pengalaman manusia modern yang serba sibuk menjalani hidup dalam kompleksitas yang akseleratif. Bahkan, sebagiannya sangatlah kekinian, seperti bagaimana move on (h. 40, dst), seputar Pornografi (h. 61-68), dan jenaka, seperti “Yoga bukan hanya jalan untuk tante seksi supaya makin seksi dan sehat” (h. 146), dan “Crazy Wisdom…jangan-jangan Jason Ranti adalah seorang Master Zen HAHAHAHA” (h. 184, 188).

Kedua, Urban Zen terartikulasikan dalam bahasa yang sederhana, tidak berbelit-belit dengan anak cucu kalimat. Ini memudahkan pembaca untuk mengunyah-ngunyahnya tanpa harus berkerut-kening dan sedikit-sedikit buka kamus. Begitu sederhana cara pembahasannya sehingga pembaca dapat membaca cukup 1-2 esei saja per hari sehingga pesannya lebih nancep. Bahasa yang sederhana dan mendalam ini bukan jenis Gerede (obrol-obrol ringan tanpa makna).

Ketiga, sebagai buku pertama tentang tema ini dalam bahasa Indonesia, cover Urban Zen terlihat menarik. Sejauh diketahui dari postingan Penerbit Karaniya di Medsos, mereka melibatkan audiens secara partisipatoris untuk mendesain covernya. Cover Urban Zen menyiratkan nuansa kabur (blur) orang yang sedang menyeberang jalan dengan latar lalu-lintas dan gedung-gedung pencakar langit. Sepertinya Reza mengibaratkan ikhtiar pencarian manusia ke dalam inti dirinya, “batin yang mampu menyentuh keabadian” (h. 20), yang tidak selalu gamblang. Terkadang samar, acap siwur, juga ngawur. Wujud samar ini juga sepertinya menandai postulat Reza bahwa Rasionalitas, Identitas Subjek, dan The Idea of Progress yang menjadi Trisula bendera penanda Modernitas tidaklah setegas dan sekokoh yang disangka, dipercayai, dan dijalani banyak orang.

Dari 28 esei yang dimuat dalam buku ini, minus Pengantar & Epilog, saya menemukan tiga tema kajian yang mendasar dalam pengalaman hidup manusia, yang dituliskan secara menarik, dan memiliki benang merah keterhubungan.

Pertama, tentang kebosanan dan kesepian (Esei ke- 5, Aku Ada, … maka Aku Bosan, h. 27-34). Kedua, tentang Duka, Trauma, Derita dan Kebencian (Esei ke-8, Ketika Duka Berkunjung, h. 48-53; Esei ke-9, Menyiasati Trauma dan Kebencian, h. 54-60; Esei ke-12, Karya dan Derita, h. 73-79; dan Esei ke-21, Trauma, Derita, dan Kebebasan, h. 124-129), dan Ketiga, tentang kematian dan kedukaan yang menyertainya (khususnya pada esei ke-24, Dekonstruksi Kematian, h. 148-158 dan esei ke-28, Senada dengan Duka, h. 175-179).

Ketiga tema ini merupakan bentuk-bentuk pengalaman eksistensial yang di satu dan lain waktu pernah menyergap setiap manusia di muka bumi ini, tidak terkecuali manusia modern. Dalam jelujur trajektoris Filsafat Barat, Reza seperti mengorkestrasi pendekatan Fenomenologi Edmund Husserl dan Martin Heidegger, Eksistensialisme Søren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre, Hermeneutika Hans-Georg Gadamer dan Paul Ricoeur, dan Dekonstruksi Jacques Derrida. Impresif!

Berikut penafsiran saya sebagai pembaca terkait keterhubungan tiga tema kajian mendasar di atas.

Manusia dalam peziarahan hidupnya mau tidak mau berhadapan dengan retakan-retakan kecemasan eksistensial (Angst). Ia niscaya mengalami rasa sakit dunia (Weltschmerz, h. 166). Contohnya, ketika mengalami kebosanan, “kita berusaha membunuh waktu…hidup terasa hampa, semua nilai tampak sia-sia belaka … (dan) pelariannya pun beragam, mulai dari gaya hidup konsumtif, penggunaan narkoba, sampai bergabung dengan kelompok radikal” (h. 30-31). Keterjebakan manusia pada peristiwa yang melukai hidupnya dan menyinggung harga dirinya, akan mendatangkan duka dan derita. Jika ini terus-menerus berlangsung, manusia terperangkap dalam kebencian yang berlarut-larut, dus, traumatis. “Akar dari kebencian adalah trauma…trauma adalah jejak dari peristiwa masa lalu yang belum lenyap, sehingga membekas dan mempengaruhi sikap orang di masa kini” (h. 56-57).

“Berada bersama trauma,” demikian Reza berefleksi, “berarti orang tak hanyut di dalamnya, sekaligus tidak menolaknya sebagai musuh. Sikap ini menghasilkan ketenangan batin, sekaligus kejernihan…dengan sikap ini, trauma pun tidak berbuah menjadi sebentuk kecanduan atau kebencian yang merusak” (h. 59). Ketika ditarik lebih jauh, kematian menjadi puncak dari kengerian, horror vacui, ketakutan akan kekosongan, padahal “kekosongan adalah inti dari batin manusia” (h. 142).

Secara lebih khusus, Reza curhat mendalam dan membuka dirinya yang memroses rasa kehilangan orang-orang yang dicintainya, Nenek, Bapak dan Ibunya yang sudah meninggal dunia (h. 175-176). Refleksinya menyergah, “Pada akhirnya, kita semua harus belajar hidup senada dengan duka. Tak perlu membenci dan mengusirnya. Ia tak akan pergi. Jika diusir dengan paksa, ia justru akan semakin menyengat” (h. 178). Kematian orang yang dicintai, betapapun berat untuk diterima akal sehat, seyogyanya tidak melumpuhkan ziarah batin manusia modern.

Konstruksi dan Konstriksi

Saya menengarai tiga kekurangan dari buku ini.

Pertama soal teknis seperti typo [bsia (seharusnya: bisa, h. 42)], inkonsistensi antara tawaran dengan realisasi, seperti terlihat pada “empat sebab dari krisis empati” (ternyata yang tertulis ada lima, h. 85-86), dan ketiadaan Daftar Pustaka (siapakah: Burton, 2014, Fisher, 2014, dan Foreman, 2015?).

Kedua, sebagai sebuah buku populer ilmiah berupa kumpulan esei-esei yang ditulis dari 2018-2020, sebagian isi buku ini sifatnya redundant, mengulang-ulang pesan yang sama, dengan Reffrain: (kecanduan) uang, seks, jabatan, kelekatan, dll sebagai sumber derita, emosi dan pikiran cukup amati dan sadari saja jangan beri penilaian, ego adalah ilusi, Dharma adalah jalan pembebasan, perhatikan “pengalaman sadar” dari saat ke saat. Klaim yang diulang-ulang Reza dalam buku ini arahnya praktis, artinya: saran-saran yang dapat dilakukan dengan sederhana oleh sidang pembaca. Tapi lalu muncul pertanyaan: apakah jalan dan saran ini sudah terbukti efektif in large scale for a large number of people? Reza belum menampilkan survey & big data yang menunjukkan seberapa bahagia dan berhasil “terbebas dari dukkha” (h. 161) mereka yang pernah dan masih memilih menekuni jalan Urban Zen ini.

Ketiga, gagasan untuk mengubah ‘diri’ dengan cara “masuk ke dalam diri” memang “diajarkan & dicontohkan” Reza, tapi bagaimana diri yang sedang dalam proses ditemukan ini berhadapan dengan keseharian, rutinitas, formalitas, normativitas, dan aturan-aturan yang ada, itu yang belum diuraikan tahapan-tahapan modus operandinya. Tentu tidak semudah mengatakan “Langit biru. Pohon hijau. Semua sudah sempurna sebagaimana adanya” (Koan Zen, h. 168), bukan? Juga tidak mungkin sedikit-sedikit kesulitan hidup yang praktis dan nyata, seperti di-PHK, dibegal, difitnah, dikejar-kejar debt collector, ringkasnya: segenap gugus ikhtiar untuk “jatuh kemudian bangun lagi,” lalu di-brush off dengan mengatakan “coba lagi sampai seribu tahun lamanya” (h. 106-111).

Ajakan untuk masuk dan menemukan kebahagiaan di dalam diri “sebelum konsep ada” berpotensi menjadi pedang bermata dua bagi sidang pembaca yang belum siap disposisi batinnya. Tanpa bimbingan konstan dan kehadiran fisik yang antisipatif dari, katakanlah, seorang Pembimbing Rohani yang berpengalaman dan mumpuni, bagaimana jika ada partisipan yang justru menemukan onggokan sampah dan luapan trauma yang tidak tertanggungkan ketika mereka mencoba masuk ke dalam inti diri? Tidakkah ini justru membahayakan dirinya (misal: ia lalu memutuskan bunuh diri karena tidak sanggup melihat kemurnian batinnya dan mengalami kedamaian yang tersamarkan semak-semak dukkha dan trauma) karena tidak adanya pembimbing yang membantunya melakukan ‘pembedaan roh’ (discretio spirituum dalam Tradisi Latihan Rohani Ignasian)?

Beauty lies in details. Senar keindahan sebuah lagu terngiang dalam detil notasinya, bukan judul lagunya. Semoga generalisasi ajakan dan singularitas temuan “batin yang jernih, teduh, dan damai” “bahagia dari dalam, tanpa syarat” tidak memudarkan pesona keindahan yang ditemukan dalam kegigihan daya juang “pemaknaan” yang beragam bentuk, pola, moda, dan hasilnya.

Peresensi:
Hendar Putranto (Kandidat Doktor dalam bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia; Alumnus Program Magister Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta; Dosen tetap Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara)

Categories
Uncategorized

Parodi Zaman Baru: Merdeka Belajar?

Sumber repro gambar:
https://artsandculture.google.com/asset/zwei-angekettete-affen/WAHc3JWW3F7kQA?hl=en-GB

“Bruegel’s Two Monkeys”
sebuah puisi karya Wislawa Szymborska (1957)
yg terinspirasi lukisan “Two Chained Monkeys” karya Pieter Bruegel the Elder (1562)

“Inilah yang kulihat dalam mimpiku tentang ujian akhir:
Dua ekor monyet, dirantai ke lantai,
duduk di selasar jendela,
Langit di belakang mereka meningkah lincah
dan segara sedang mandi.
Mata Ujiannya adalah Sejarah Umat Manusia.
Aku tergagap dan mengelak.
Seekor monyet menatap tajam dan mendengarkan dengan pandang mengejek,
Yang lainnya tampak sedang melamun,
Namun ketika sudah menjadi jelas aku tak tahu apa yang harus kukatakan
Ia menyenggolku dengan lembut ditingkahi bunyi dencing rantainya.”

Pesan: Dalam setting sebuah lembaga pengetahuan & ujian akhir semester, si tokoh gagal menjawab sebuah pertanyaan besar ttg sejarah manusia, namun ia berhasil mendapatkan “contekan jawaban” dari salah satu dari dua ekor kera yg dirantai. Satir atas kebebasan yang terbelenggu dan paradoks ketidaktahuan ternyata tidak melulu antropomorfis melainkan primatologis. Siapa memerdekakan siapa? Sungguh Ironis!

Rujukan:
Blazina, J. (2001). Szymborska’s Two Monkeys: The Stammering Poet and the Chain of Signs. The Modern Language Review, 96(1), 130-139. https://doi.org/10.2307/3735721
Putranto, H. (2010). Mencari, Menemukan, dan Mengomunikasikan Nilai-nilai Bermain dalam Konteks
Pendidikan. Ultimacomm: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 52-63. Retrieved from
https://ejournals.umn.ac.id/index.php/FIKOM/article/view/406

Categories
Uncategorized

[Once upon a Time] Sensus Religiosus AKA Menuju Religiusitas yang Sejati

Dalam bukunya Psychoanalisis & Religion [Fromm, E. ([1950] 1978). Psychoanalysis and Religion. New Haven & London: Yale University Press.], seorang psikolog terkemuka sekaligus filsuf sosial abad ke-20 bernama Erich Fromm mengatakan bahwa yang menjadi persoalan pelik pada zaman ini adalah kekacauan dan kebingungan spiritual yang menjurus pada keadaan kegilaan tertentu, semacam schizophrenia, di mana kontak dengan realitas batin sudah lenyap dan pikiran diceraikan dari perasaan. Kita mengajari anak-anak kita tentang kebahagiaan hidup dan prinsip-prinsip keutamaan, tapi mereka dijejali oleh beraneka macam imaji kekerasan dan omong kosong yang bertaburan di media cetak, radio dan televisi. Orang lalu bertanya-tanya, apakah segala macam kebingungan ini dapat dicari solusinya? Ada yang mengatakan bahwa kembali ke ajaran agama tradisional dapat menjadi pegangan yang pasti, penjamin rasa aman, di tengah badai kebingungan ini. Namun, benarkah demikian?

Persoalannya bukanlah pada apakah manusia itu beragama atau tidak beragama, tetapi pada jenis atau level apakah keberagamaannya itu. Pada level yang rendah atau yang tinggi. Yang dimaksud dengan level yang rendah di sini adalah ‘religiusitas yang melekat pada objek pujaan’ (idolatry), yang cenderung destruktif dan narsis (narcisistic). Sementara, religiusitas pada level tinggi terjadi ketika manusia mampu mengatasi sekedar kebutuhan ragawinya, tidak mengalami gangguan kejiwaan (neurosis) ketika melakukan laku-praktik penghayatan ajaran agamanya, dan gigih mengembangkan kemampuannya untuk mencintai (bdk. Vacek, E. V. (1982). Scheler’s Phenomenology of Love. The Journal of Religion, 62(2), 156-177. https://www.jstor.org/stable/1203179 ]). Definisi yang diajukan Fromm membuat kita semakin sadar bahwa agama adalah suatu sistem berpikir dan bertindak yang dihayati oleh sekelompok manusia dan yang memberi pada individu-individu dalam kelompok tersebut sebuah kerangka orientasi dan objek devosi. Pemahaman akan agama seperti ini mengandaikan bahwa manusia memang mempunyai kebutuhan dasariah akan sebuah kerangka atau bingkai yang dapat memberi kepadanya orientasi hidup sekaligus menyediakan objek devosi, dan kerangka ini diterima bukan melulu dalam pengertian secara kognitif, namun juga afektif (perasaan dan kehendak).

Dalam perkembangan pemikirannya, Fromm membedakan dua jenis agama yaitu agama otoriter dan agama humanistik. Dalam agama otoriter, Tuhan adalah simbol dari kekuasaan dan kekuatan. Tuhan agung karena Ia mempunyai kekuatan super, dan juga karena, paralel dengan itu, manusia tidak berdaya. Agama otoriter ini bisa saja mempunyai kerangka teologis (seperti ditemukan dalam sejumlah denominasi Kristen), namun bisa juga sekuler (seperti NAZISME dan kepatuhan terhadap Der Führer). Dalam agama otoriter, ada pandangan yang implisit bahwa manusia dikendalikan oleh kekuasaan yang lebih tinggi di luar dirinya, kekuasaan yang tidak kelihatan. Kekuasaan ini “berhak meminta atau memaksa” manusia untuk tunduk, patuh, hormat dan memujanya. Kurangnya rasa hormat dan kepatuhan terhadap kekuasaan ini akan menimbulkan dosa. Dalam model agama otoriter, manusia dipandang sebagai makhluk yang tak berdaya dan pribadinya tidaklah signifikan. Kepasrahan dan kepatuhan terhadap otoritas kekuasaan ini berarti manusia menyerahkan sebagian kebebasan dan integritasnya sebagai individu agar ia tidak merasa kesepian, rapuh dan tak berdaya, melainkan merasa aman dan terlindung.

Sementara itu, agama humanistik mempunyai ciri-ciri yang bertolak belakang dengan agama otoriter. Agama humanistik berpusat pada manusia dan kekuatannya. Manusia harus mengembangkan kemampuan akal budinya agar dapat memahami dirinya sendiri, relasinya dengan sesamanya dan letaknya dalam tatanan semesta. Manusia harus mengenali kebenaran, baik yang terkait dengan keterbatasannya maupun dengan segala potensinya. Kemampuannya untuk mencintai manusia lain pun harus berkembang pula, seiring sejalan dengan kemampuannya mencintai dirinya sendiri dan pengalaman solidaritas dengan setiap insan yang lain.

Dalam kerangka agama humanistik, pengalaman religius adalah pengalaman kebersatuan dengan semua unsur di alam ini. Keutamaannya adalah realisasi diri, dan bukan kepatuhan. Atmosfir yang kuat terasa dalam diri para penghayat agama kemanusiaan adalah sukacita dan pembebasan, sementara dalam agama otoriter rasa sedih dan rasa bersalah. Fromm menegaskan keyakinan ini dengan mengatakan bahwa “Inasmuch as humanistic religions are theistic, God is a symbol of man’s own powers which he tries to realize in his life, and is not a symbol of force and domination, having power over man” (Fromm, 1978: 37).

Ancaman terhadap sensus religiosus manusia bukan berasal dari kemajuan dan pencapaian sains, namun terletak pada praktek hidup sehari-hari yang didominasi oleh pengejaran uang dan keuntungan ekonomis. Dengan menjadikan uang dan pengejaran keuntungan (ekonomis) sebagai pusat hidupnya, manusia cenderung berhenti untuk mencari dalam dirinya sendiri tujuan hidup yang lebih tinggi. Manusia menghamba dan menjadikan dirinya sebagai alat (bahkan ‘budak’!) untuk melayani mesin-mesin ekonomi yang dibuat oleh tangannya sendiri. Dia terobsesi pada efisiensi dan sukses yang sebagian besarnya ‘diukur’ secara materiil, alih-alih kebahagiaan dan pertumbuhan serta pemeliharaan jiwanya. Dalam perspektif Fromm, orientasi yang mengancam sikap hidup religius manusia pada zaman sekarang disebutnya ‘the marketing orientation’ (Fromm, 1978: 100).

Selain itu, ancaman yang juga bisa meninabobokan kesadaran menuju religiusitas yang sejati adalah pengidolaan sesuatu (idolatry). Esensi dari idolatry adalah ‘penuhanan benda-benda’ (deification of things). Artinya, sesuatu yang parsial dijadikan sesembahan dan kepadanya manusia berserah atau memasrahkan diri dan hidupnya. Idolatry ini bisa terwujud ke dalam beraneka macam bentuk seperti uang, negara, bangsa, partai politik, kekuasaan, jabatan, ketenaran, sains, opini majalah, olahraga, kesehatan, ilmu pengetahuan, kecantikan, karya seni, dll.

Dalam artikelnya “Existential Insecurity and New Religiosity: An Essay on Some Religion-Making Characteristics of Modernity” [van Harskamp, A. (2008). Existential Insecurity and New Religiosity: An Essay on Some Religion-Making Characteristics of Modernity. Social Compass, 55(1), 9-19. https://doi.org/10.1177/0037768607086494], Anton van Harskamp bertanya mengapa ada cukup banyak religiusitas baru yang muncul dalam masyarakat modern? Satu jawaban yang mungkin masuk akal adalah karena agama atau religiusitas menawarkan cara-cara atau instrumen dalam menghadapi ketidakpastian dan kekurangnyamanan eksistensial menyangkut diri. Kita bisa berasumsi bahwa dalam masyarakat atau budaya yang lebih memberikan prioritas pada individu (budaya yang individualis), fakta sosial dan kultural yang sifatnya kolektif seperti kematian, kebosanan hidup yang mendalam (ennui), kejahatan, dan waktu, membuat individu merasa tertekan dan tak berdaya untuk menjawab, memahami, apalagi mengatasinya. Lewat religiusitaslah, salah satunya, individu merasa menemukan ‘sampan penyelamat’ untuk sampai ke pantai yang menjanjikan rasa aman dan kebahagiaan.

Dengan demikian, dari beberapa pokok pemikiran di atas, kita bisa menyimpulkan sebagai berikut: Jika didekati secara psikologis, fenomena agama (religion) dan religiusitas (religiosity) bukanlah fenomena yang asing dalam sejarah hidup manusia. Manusia mengembangkan cara-cara yang khas untuk memperoleh religiusitas yang sejati—yang dibedakan dari religiusitas yang palsu atau tiruan. Otentisitas religiusitas menjadi tolok ukur dari kebermaknaan hidup seseorang. Religiusitas yang sejati, demikian Fromm, tidak bisa tidak harus mengindahkan dimensi kemanusiaan (baca: agama humanistik), yang menawarkan kebebasan dan sukacita yang besar dalam laku-praktik penghayatan agamanya sekaligus realisasi diri dan potensi-potensi para pengikutnya, bukan hanya tunduk pasrah bongkokan. Para pemuka agama yang mengemas agama hanya sebagai barang dagangan dan warta ketakutan serta dengan gampangnya menabuh genderang perang terhadap agama lain yang berbeda darinya, menampilkan agama sebagai objek ketakutan dan kengerian. Inilah agama dengan ciri otoriter yang tinggi, yang jelas tidak menunjukkan atau mengarahkan para penganutnya pada hakikat religiusitas yang sejati.

Religiusitas yang sejati seyogianya menawarkan kepastian, atau kompas, panduan dan orientasi, di tengah lautan kebingungan spiritual dan badai keterombang-ambingan dalam hidup ini (van Harskamp, 2008). Karenanya, religiusitas yang sejati sudah selalu meletak dalam tarikan antara dua hal yang terkadang bisa saling bertolak-belakang, yaitu di satu sisi ia harus menghargai kemajemukan ekspresi keberagamaan namun di sisi lain ia juga wajib menawarkan pegangan, arah dan kepastian hidup.

Pertanyaan evaluatif yang layak kita renungkan: Sudahkah kita, yang mengaku sebagai para penghayat agama ini, berayun dalam ketegangan itu dengan nyaman dan mantap?