Categories
Uncategorized

Commnews 2021: Digital Communication in an era of Uncertainty

COMNEWS is an international conference on communication and new media studies. Organized by Universitas Multimedia Nusantara in Indonesia, COMNEWS is a forum for scholars and practitioners to share their concepts, experiences, knowledge, models, research findings, theories, and thoughts on digital communication
(retrieved from https://comnews.umn.ac.id/2021/index.php)

Here is the short reportage of my engagement as a Moderator in parallel session šŸ™‚

Guest speakers including the current Minister of Communication and Information Technology, Mr. Johnny G. Plate

Opening Ceremony and UMN Rector’s Opening Remarks:

Dr. Ronny Adhikarya addressed the current challenges for Communication Studies in Indonesia (worldwide) & its Higher Education curriculum: Society 5.0

Parallel Session II, Room C schedule:

Moderator in action:

Moderator resume:

All in all, am enjoying this international conference back home after attending abroad at Kyoto’s NGGW 14th.

See you again at Commnews 2023!

Categories
Uncategorized

Kyoto Workshop NGGW 14th, 2021_ International Webinar Experience

Some of the interesting points from the sessions (presentation)

Photo sessions:

Constructive inputs for my paper from Prof. Bjƶrn-Ole KAMM (Transcultural Studies, Kyoto University):

credit photo: Prof. Billy Sarwono, MA. (co-author & Promotor)

Overall: it is worth an experience for me to present my research in an international forum (workshop).

Categories
Uncategorized

Forum Diskusi JLS_ Etika Nilai Max Scheler

Diskusi JLS pada 21 September yang baru saja berlalu dibawakan oleh rekan dan kawan saya, Alexander Aur, M. Hum., alumnus Program Magister STF Driyarkara (2014).

Aur pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) STF Driyarkara periode 2001-2002.
Dia juga pernah mengajar di UMN (2014-2017), Matakuliah: Religiositas, KWN, dan Pancasila.
Saat ini, Aur mengajar di UPH untuk mata kuliah Etika, Filsafat Ilmu, dan Sejarah Pemikiran;
& sedang melanjutkan studi S3 di sebuah kampus ternama di Jawa Tengah.

Aur seorang penikmat sastra (puisi dan prosa) dan penulis beberapa puisi yang sudah dibukukan, di antaranya: Pohon Telanjang yang Mencium Laut-Kumpulan Puisi (Penerbit: Excellent Group), 2019; dan Sastra dan Jendela-jendela Diri Manusia: Kumpulan Catatan Kecil tentang Karya Sastra (Penerbit: Jivaloka Mahacipta, Yogyakarta, 2020).

Saya sendiri, Hendar Putranto, mengajukan diri menjadi moderator diskusi JLS kali ini, karena saya juga meminati dan pernah “sedikit” mencicipi tulisan/pemikiran Scheler khususnya tentang Ordo Amoris & the nature of sympathy beberapa tahun lalu, yang sebagian keciiilnya dimuat dalam buku yg saya tulis, Ideologi Pancasila berbasis Multikulturalisme: Sebuah Pengantar (Penerbit: Mitra Wacana Media, 2016), juga karena saya berkawan dengan presenternya sudah sejak lamaaaa (mungkin sekitar tahun 2000/2001, ketika kami sama2 menempuh studi program sarjana di STF Driyarkara, Jakarta).

Berikut flyer kegiatan diskusi JLS—Jangan Lupa Selasa—nya

Berikut screenshots beberapa moments yang terekam pada waktu sesi diskusi berlangsung:

Menarik sekali menyimak perdebatan Etika Nilai yg diusung Scheler ini vis-a-vis Etika Deontologi Kant (terutama), “metode” Fenomenologi yg dipelopori Husserl, aliran Psikologi Individualis (berbasis Ego), Pragmatisme Amerika, dan masih banyak lagi aliran2 Filsafat maupun antropologi yang dikritiknya.

Menurut Scheler sendiri—dalam bagian Pengantar bukunya yg kesohor itu, Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values: A New Attempt Toward the Foundation of an Ethical Personalism—terjemahan dari versi berbahasa Jerman yang terbit pada 1913, Der Formalismus in der Ethik und die materiale Wertethik

“Setiap bentuk individualisme palsu, dengan konsekuensi2nya yang sarat kekeliruan dan membahayakan, saya kecualikan dalam teori Etika yang saya ajukan (karena) teori Etika saya membahas tanggungjawab-bersama yg asali dari setiap pribadi demi keselamatan moral seluruh realitas pribadi-pribadi (prinsip solidaritas). Yang bernilai secara moral dalam pandangan saya bukanlah pribadi yang ‘terisolasi’ namun pribadi yang secara asali & sadar bersatu dengan Tuhan, terarah pada dunia dalam cinta, dan merasa disatukan dengan keseluruhan dunia rohaniah dan kemanusiaan. Proposisi yang paling esensial dan mendasar yang saya ajukan dalam buku ini, dan yang akan saya letakkan pondasinya serta komunikasikan sesempurna mungkin, adalah proposisi bahwa makna final dan nilai dari keseluruhan semesta pada akhirnya akan diukur secara eksklusif melawan ada murni (dan bukan keefektifannya) dan hal-hal yang mungkin ada secara sempurna…”

Categories
Uncategorized

Eh kata siapa Media Theorists gak bicarain Ethics?

INTERMEZZO ADZA:

Saya gemes pas mendengar ada sejumlah dosen Ilmu Komunikasi & Media yg bilang klo Media Theorists itu gak ngurusin Ethics, gak membahasnya dalam karya2nya, apalagi sampai mengelaborasinya.

Eh, saya mau tunjukin satu dulu yah, klo mau ditambahin ntar bisa nyusul msh ada beberapa kok di kantong.

Let the image speak a thousand words.

Halooooo? Any comment(s)?

Categories
Uncategorized

ONLINE Course Masyarakat Filsafat Indonesia Periode September 2021: Kita versus Pandemi

One of my proud moments in 2021 is joining this group of well-known thinkers and participating to perform some timely reflections on the public discourse of Covid-19, (Mass) Death and its dire consequences. Facilitated by the creative work of Masyarakat Filsafat Indonesia, mas Agus, mas Arif and I would bring the audience to a higher level of consciousness on the complex social construction of Covid-19, (mass) death and public policies related to its particular context.

Here’s the flyer of the overall event!

Here’s the teaser for the first session delivered by me on Friday, Sept. 7, 2021.

Hey, we’ve got two more sessions coming up, today (Friday, Sept 24, 2021) [flyer below]

and next week on Friday, Oct. 1, 2021.

Please come and join us, gaess!

Categories
Uncategorized

Renungan tentang Masukan saat sidang Proposal: The Stimmungs’ Moment

Semoga rekan2 cendekia sekalian yang pernah menerima masukan dari Penguji/Pembimbing saat proses sidang proposal/hasil dapat melewati momen2 dan moods (Stimmung) seperti di bawah ini dan tidak stuck di satu momen/Stimmung saja tapi terus mengalir ke momen2 berikutnya yg lebih emansipatoris. Berikutnya, dalam proses revisi proposal/hasil temuan penelitiannya, si cendekia boleh mengalami resurgensi semangat yg berulang agar sampai pada momen kesepahaman berkat adanya fusi cakrawala2 (Gadamer).

Cheers,

Hendar

credit gambar (foto) kedua: Mbak Ikrima

Categories
Uncategorized

Tanggapan tentang Teori Interaksionisme Simbolis (TIS)

[berdasarkan salindia presentasi kelompok 4, nomor 8]
Dari tiga premis yang diajukan Herbert Blumer, murid dari G. Herbert Mead, tentang teori interaksionisme simbolis, yaitu:

1) ā€œManusia bersikap terhadap orang/benda lain berdasarkan makna yang mereka berikan kepada orang / benda tersebutā€ (makna)
2) ā€œMakna muncul dari interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya.ā€ (bahasa) [Meaning is negotiated through the use of languageā€”hence the term symbolic interactionism], dan
3) ā€œInterpretasi simbol dalam diri seseorang dimodifikasi oleh proses di dalam pikirannya.ā€ (pikiran)

Maka, saya memberikan tiga butir tanggapan sebagai berikut:
1. Pada era informasi (ICT, tepatnya) seperti sekarang ini, ketika sikap, makna, dan interpretasi terhadap simbol maupun isi pikiran orang ā€˜sedikit banyakā€™ (dan ini lebih dominan terjadi pada generasi yang lahir tahun 2000 ke atas) dipengaruhi oleh media dan informasi dijital, maka sikap, makna, interpretasi dan isi pikiran kita sudah termediatisasi secara dijital, alih-alih interaksi sosial secara langsung face-to-face. Bahasa—yang di antaranya dipahami sebagai konvensi sosial yang terpahami secara kontekstual—yang digunakan oleh generasi sekarang pun relatif berbeda dari bahasa yang digunakan oleh, katakanlah, generasi pada masa hidup dan produksi pengetahuan yang dicetuskan Mead dan Blumer, yaitu rentang tahun 1930-1940-an di Amerika Serikat. Perbedaan bahasa yang menjadi rujukan masyarakat ini pada gilirannya akan membentuk isi kesadaran dan sikap pada serta interaksi yang terjadi antara individu-individu yang menggunakannya, yang juga berbeda.

2. Siapakah ā€˜akuā€™ pada saat lahir? Jika merujuk pada pandangan Mead (dalam Griffin, et.al., 2019, h. 59), ā€œthere is no ā€˜meā€™ at birth. The ā€˜meā€™ is formed only through continual symbolic interactionā€”first with family, next with playmates, then in institutions such as schools,ā€ identitas ā€˜akuā€™ adalah konstruksi sosial yang dibatasi oleh konteks sosio-politis-bahasa-dst. Pertanyaan kritisnya, jika memang ā€˜konstruksi diri akuā€™ ini terbatasi oleh konteks sosio-politis-bahasa dan lainnya, mengapa tetap ada gagasan serta diskursus universal tentang ā€˜parentingā€™ (meskipun isi dan caranya berbeda-beda dari satu budaya ke budaya lainnya)? Bukankah dengan adanya universalitas pemahaman soal parenting ini kita dapat menemukan sejumlah pokok yang sama (sekurang-kurangnya: mirip) tentang parenting lintas budaya? Misalnya, bahwa orang tualah (entah single parent atau sepasang) pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pengasuhan anak mereka sampai ia cukup mandiri untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

3. Dalam tulisannya, Robinson (2007) menyoroti soal tren kajian pascamodern yang ā€˜hanyaā€™ memotret persoalan internet self-ing berdasarkan permainan peran dalam Multi-User Domains (MUD) pada masa-masa awal lahir&berkembangnya internet saja (1990-an). Berbagai kajian tersebut ternyata didasarkan pada populasi pengguna internet (saat itu) yang sebagian besar terdiri dari young technically proficient males, yang di dunia luringnya mungkin saja mengalami stigma sosial, sehingga mereka terdorong untuk menciptakan ā€˜diri mereka yang lainā€™ di dunia daring. Profil pengguna internet seperti ini sudah tidak lagi menjadi mayoritas dari total populasi pengguna internet sekarang (2007, pada saat tulisan Robinson dipublikasikan). Karenanya, penjelasan pascamodern tentang fenomena cyberself-ing tidak lagi meyakinkan bagi para pengguna internet masa kini dikarenakan perubahan tren populasi pengguna internet dan kegiatan2 yang mereka lakukan selama terhubung (daring). Dari bukti-bukti yang dikumpulkannya, Robinson justru menguatkan kesimpulan soal tesis sebaliknya yaitu ā€˜socializedā€™ online selves yang mengambil insight dari perspektif interaksionisme simbolik Mead dan Blumer. Sebagaimana konsep diri luring terbentuk berdasarkan tahapan the ā€˜I,ā€™ the ā€˜meā€™ and the ā€˜generalized otherā€™ (Mead, 1934), maka diri daring juga ternyata menempuh tahapan yang sama, hanya saja konstruksi jati diri daring tersebut didefinisikan ulang dalam lingkungan daring (in online venues that preserve the dynamics of interactional cuing).
Kesimpulan Robinson, interaksi di ranah siber melanggengkan proses pembentukan jati diri daring yang sudah terlebih dulu ada di dunia luring.

[Ā© Hendar Putranto, 2019]

Rujukan Utama:
Mead, G. H. (1934). Mind, Self & Society. Chicago: University of Chicago.

Rujukan Tambahan:
Robinson, L. (2007). The cyberself: the self-ing project goes online, symbolic interaction in the digital age. New Media & Society, 9(1), 93ā€“110. DOI: 10.1177/1461444807072216

Categories
Uncategorized

Refleksi tentang Dialektika Bahasa menurut Walter Benjamin (1892-1940)

Pada pemikiran Walter Benjamin, bahasa dipahami sebagai momen generatif [dengan Nabi Adam sebagai Filsuf pertamanya], yang dalam perjalanan sejarah manusia, ketunggalan bahasa ini lalu tercerai-berai dalam peristiwa menara Babel (kejatuhan bahasa yang kedua kalinya yang merusak cita-cita manusia untuk menunggalkan bahasa) sehingga lalu tugas kita adalah di satu sisi menafsirkan keragaman bahasa itu, dengan tujuan membuat kita jadi saling memahami; di sisi lain mencari makna asalinya yang sudah “hilang ditelan waktu” (kairos)— sebagaimana pencarian Marcel Proust (1871-1922) dalam karya seminalnya ƀ la recherche du temps perdu (1906-1922).

Menurut Husnan (2021), mengutip verbatim paper singkatnya yang disampaikan saat Webinar, “Benjamin menyatakan bahwa bahasa yang dianalisis berdasar pandangan arbitrer menandakan Kejatuhan (Fall). Benjamin meyakini adanya Ursprache atau bahasa asli dan murni. Ketika manusia tersingkir dari surga, bahasa juga mengalami suatu kejatuhan. Bahasa tercerai-berai ke dalam keanekaragaman bahasa yang tidak murni lagi dan menjadi tugas sang penerjemah untuk memurnikan atau mengemansipasikannya kembali. Dengan begitu, Benjamin mengkritik teori tanda dari bahasa, yang menjadi basis bagi filsafat bahasa Saussure, untuk kemudian dielaborasi ulang, didekonstruksi, seraya menganggapnya sebagai satu konstruksi borjuis. Tema mendasar dari filsafat bahasa Benjamin ialah bagaimana bahasa mengalami kehancuran dan tercerai-berai ke dalam aneka bahasa manusia, yang dianggapnya telah tercerabut dari asal-muasalnya yang bersifat ilahi.” Jadi, motif Dialektika Bahasa Benjamin adalah selain Genesis, juga Redemption (Penebusan).

Sementara, pada pemikiran Bourdieu dalam Outline of a Theory of Practice (terjemahan Richard Nice, 1977), bahasa ditegaskan dialectic moment-nya: antara constitutive powernya yg membentuk skemata-skemata berpikir, norms, grammars, etc & practices moment dlm habitus para pengguna/penuturnya.

Anehnya, Bourdieu tidak pernah merujuk satupun karya-karya Walter Benjamin terkait bahasa ini, melainkan merujuk ke konseptualisasi tentang bahasa dari pemikir strukturalis Ferdinand de Saussure (1857-1913) dalam Cours de linguistique gƩnƩrale (1916) maupun Fundamentals of Language (terjemahan Morris Halle, 1956) karya seorang pionir kajian bahasa struktural & polisemis, Roman Jakobson (1896-1982).

Terimakasih bung Khudori Husnan utk paparannya yang jenial tentang pemikiran Walter Benjamin bertajuk, “Dialektika di Halte; Mengusut Gaya Filsafat Walter Benjamin” dalam Webinar Diskusi “Jangan Lupa Selasa”, 7 September 2021, 7-9 PM, persembahan Alumni S2 STF Driyarkara.

Flyer menyusul ditampilkan di bawah ini.

Categories
Uncategorized

Studium Generale Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Selasa, 31 Agt 2021

Resume singkat Kuliah Umum dari Prof. Alwi Dahlan untuk membuka Masa Perkuliahan Semester Baru Gasal 2021-2022

Prof. Alwi Dahlan:
“Komunikasi tidak hanya utk mencaci orang, (menggunakan teknologi komunikasi, mereka) kerjanya mencaci, menyalahkan siapa2. (Komunikasi berfungsi ketika/di mana) org bisa mengembangkan pemikiran, inovasi shg masyarakat betul2 menggunakan teknologi utk melompat ke depan.” (jam 10.00 WIB)

Dr. Sunarto (FISIP UNDIP)
“(Ketika mengikuti Kuliah Umum ini, saya) mendengarkan yg lama tapi tetap terasa baru bagi saya.
Ketika belajar perspektif ini kita dibantu utk mendapatkan cara yg lebih mudah utk memahami fenomena komunikasi (yg tdk tunggal), lekat diskusi kita ttg Robert T Craig dgn 7 tradisinya itu.
Kita ikuti Littlejohn yg terbaru, saya dapat kenyataan bahwa Littlejohn dkk di edisi yg sekarang menyerahkan (tongkat penilaian) silakan jika Anda mau menggunakan perspektif Anda sendiri.
Jujur saja, saya msh dalam situasi yg mencoba utk memahami mengapa Littlejohn spt itu.
Saya ini contoh yg tdk bagus utk org Komunikasi, saya kesulitan utk bs tune in dgn perkembangan teknologi skrg ini, saya punya WA ini sdh luar biasa.
Saya mengalami persoalan Etika tiba2 skrg ini dgn perkembangan teknologi terbaru, (masalah yang dimunculkan perkembangan teknologi komunikasi sekarang ini) tapi jg tdk relevan dgn Etika yg baru.
Saya masih berusaha utk tune in, ada persoalan2 Etika yg menghambat saya bisa tune in dgn perkembangan teknologi komunikasi terkini.
Etika baru belum siap utk mewadahi apa yg menjadi aktivitas kita semua.”
>> tanggapan dari Prof. Lusi: Persoalan etika setuju pak Sunarto.

*) [tanggapan Hendar] Bgmn dgn “Etika Informasi” dari Luciano Floridi, apakah memadai sebagai kerangka “Etika baru”?

Dr. Ronny Adhikarya (closing statement)
“Perkembangan ilmu Komunikasi di USA & Eropa sdh kabur, berubah, ada pergeseran.
Persuasive communication yg digunakan di banyak di Asia dirasakan memanipulasi publik.
Sdh mulai tdk populer, Fakultas2 Komunikasi di Amerika sdh lain sama sekali kurikulanya,
dibajak knowledge management, business school, business management.
Skrg sudah berubah lg: di berbagai tempat di private sectors di perusahaan2 Pricewater House Coopers, dasarnya Komunikasi tapi tdk (dipraktikkan dan didalami dlm lingkaran akademisi).
(Saya diundang dan terdorong untuk) Daripada melakukan penelitian2 yg akademis, utk kerjasama dgn berbagai Univ., utk melakukan penelitian ttg perusahaan2 besar startup di berbagai negara yg luar biasa hebatnya, (kinerjanya) terbukti menguntungkan masyarakat juga, monetization itu dilakukan oleh perusahaan2 swasta, unicorn decacorn, teliti business modelnya, apa sih kiat2nya, apa strateginya.
stelah itu kompetensi skills nya apa yg diperlukan oleh SDM utk menangani perusahaan2 spt itu.
Kurikulum hrs berubah berdasarkan kebutuhan perusahaan2 spt itu.
Modal mereka satu: penerapan komunikasi yg efektif dan efisien.
Pendidikan >> perubahan kurikulum >> seberapa agresif fakultas2 komunikasi2 di Indonesia utk ambil alih knowledge brokery.”

Categories
Uncategorized

Menata Kesadaran setelah Disrupsi Pandemi: Untuk Papa yg dicinta dan kini sudah tiada

Papa, semoga diriku dapat mengikhlaskan kepergianmu dengan semangat cinta yg transendental. Amin.